Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Jodoh di kandang sendiri



Vio tampak cukup bingung saat bangun dari tidur nya tiba-tiba Edo meminta nya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.


Lalu tahu-tahu Seorang perempuan cantik tiba-tiba sudah ada di kamar uncle nya.


"Come"


perempuan itu bicara sambil tersenyum hangat ke arah dirinya.


"Kita akan mempercantik tampilan nya"


Bisik perempuan itu sambil mulai membenahi penampilan Vio.


"Aku tidak pergi ke sekolah uncle?"


Tanya Vio tiba-tiba, mencoba memecah kesunyian, dia melirik ke arah uncle nya yang tampak sudah berpakaian begitu rapi, menambah kesan tampan yang begitu luar biasa bagi Vio.


"Hari ini izin dulu, ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan"


Ucap Edo cepat, mendekati Vio lantas menyentuh lembut wajah cantik itu.


"Memang nya kita akan kemana? untie ini siapa?"


Vio masih tampak bingung, menatap bola mata Edo beberapa waktu lalu melirik ke arah perempuan yang masih terus sibuk membenahi pakaian Vio.


"Apa kita akan pergi ke acara pesta seseorang? kenapa aku harus berdandan cantik, uncle?"


Entahlah Vio jadi merasa sedikit aneh, sebab sejak kejadian malam panas kemarin uncle nya jadi terlihat aneh.


"Kamu bisa memanggil ku untie Ramira"


Bisik perempuan itu sambil tersenyum ke arah Vio.


"Oke semua sudah siap,kita pergi sekarang"


Ucap Ramira cepat.


Secepat kilat Edo menarik tangan Vio, membawa gadis itu menuju ke 1 tempat yang bahkan Vio pun belum tahu kemana.


*******


Vio terus menatap Cincin yang ada di hadapannya itu untuk waktu yang cukup lama, kemudian vio langsung beralih menatap Edo yang tampak menggenggam erat talapak tangan nya, menatap wajah nya dengan jutaan pandangan yang tidak Vio pahami.



Barisan ucapan yang di jelaskan Untie Ramira tadi mulai membuat Vio paham dengan maksud dan tujuan mereka datang ke Tempat ini.


"Kalian akan menikah secara ke agamaan lebih dulu untuk menjauhkan hal-hal buruk terjadi, karena kamu masih sekolah pasti cukup sulit mendapatkan izin untuk menikah kantor sebab kamu belum punya kartu tanda pengenal juga kan?, belum lagi mungkin akan sulit menyakinkan Mommy dan Daddy kamu untuk hubungan tidak masuk akal ini."


"Karena kamu masih sekolah, jadi kamu boleh merahasiakan pernikahan ini dari teman-teman kamu dulu, karena itu cincin pernikahan untie rekomendasi kan warna putih, agar tidak mencolok di mata teman-teman kamu hmm"


"Dan ingat pakai pengaman, atau tidak minta uncle kamu untuk mengamankan diri setiap kali melakukan hal seperti kemarin"


Seketika Ramira menoleh ke arah Edo.


"Kemarin gimana?"


"Paginya langsung ke bidan"


Jawab Edo sambil menyentuh Tengkuk nya pelan.


Jelas saja dia harus bergerak cepat pagi kemarin, kalau tidak bisa mampus karena keteledoran yang dia buat.


Vio masih terlalu dini, belum lagi anak itu masih sekolah dan belum paham soal apapun. Ditambah lagi dia harus berfikir matang lebih dulu untuk menjelaskan hubungan ini kepada kakak dan kakak iparnya.


Dia tahu, mungkin perjuangan ini akan menjadi begitu berat, tapi bukan kah hidup memang seperti itu? tanpa perjuangan hidup manusia mana mungkin terasa sempurna.


"Saat ini fikirkan soal sekolah dulu, ketika tamat sekolah kita baru fikirkan bagaimana menjelaskan nya pada Mommy dan Daddy kamu hmm?"


"Kita baru umumkan pernikahan kita secara legal setelah kamu menyelesaikan SMA kamu, jangan bicarakan pada siapapun jika kita sudah menikah, sebab ini bisa merusak masa depan kamu di sekolah hmm?"


Ucap Edo sambil menyentuh pelan wajah Vio.


Vio tampak mengulas senyuman nya, dia menganggukkan kepalanya pelan tanda paham.


Sejenak Edo menarik panjang nafasnya, dia tidak menyangka pada akhirnya tindakan sang kakak menitipkan putri nya pada dirinya malah berakhir seruwet ini, bahkan bisa dibilang jauh-jauh mencari jodoh pada akhirnya jodoh Edo ada di kandang sendiri.