
Seketika Eden melesat keluar membàwa mobil nya, pergi dari mansion utama luck menuju ke mansion milik Farhan dimana perempuan itu berada.
"Yang mana?"
Ingatan nya soal pertanyaan dan jawaban gamblang yang di ucapkan vio tadi Seketika membuat Eden kehilangan kata-kata dan menggila.
"Soal malam jebakan yang dibuat sang nenek sihir mommy dari istri uncle atau soal kehamilan untie Ramira yang mengandung anak uncle?"
Mengandung? hamil? anak ku?.
Oh shi..t.
Eden meraup kasar wajah nya.
"Malam itu mertua uncle menjebak nya agar terlihat tidur dengan laki-laki lain tepat di depan mata uncle, kenapa tidak masuk? hajar mereka berdua jika untie ketahuan selingkuh saat itu?"
"Bahkan lebih menjijikkan lagi, mertua uncle beberapa kali memohon pada untie Ramira agar menjauhi uncle sejak berbulan-bulan sebelum nya, dengan menggunakan kata SAKIT yang diderita untie Asha, untie Ramira harus membohongi diri dan berkata dia telah tidur dengan banyak laki-laki selain uncle"
Seketika Vio terkekeh.
"Hebat bukan? pada akhirnya laki-laki manapun akan mencari wanita baik-baik untuk menjadi istri nya, sebab di mata Uncle bahkan laki-laki lain, sebejad-bejad nya seorang laki-laki mereka tetap mencari sosok yang pantas untuk menjadi ibu dari anak-anak nya"
"Dan apa uncle tahu bagaimana mengalah nya untie Ramira pada nenek sihir itu selama 1 tahun ini?"
Vio berjalan mendekati Eden.
Edo berusaha menarik tangan Vio dan memintanya untuk berhenti bicara.
"Dia sengaja mengabaikan uncle, grandma Burja bahkan Belle agar putri nya yang bisa menggantikan tugas untie famira menjaga keluarga uncle, kesan nya seolah-olah putri nyonya oh ha Ra yang banyak berjasa dan untie Ramira adalah seorang ja..lang yang hanya ingin uang, sek..s dan kenikmatan bersama uncle semata"
"Vio..."
Edo meminta sang istri untuk berhenti bicara.
"Kenapa? apa aku harus berhenti bicara? agar uncle Eden tidak tahu dengan semua kenyataan nya? bahkan dia pikir malam tragedi kecelakaan bertarung dengan Karl demi menyelamatkan Ailee, semua orang berfikir jika untie Asha yang mendonorkan darah nya pada uncle Eden, realitanya untie Ramira yang mendonorkan seluruh darah nya hingga akhirdan nyaris tidak berdaya di ruangan sempit dan gelap agar tidak dilihat semua orang, bahkan bisa jadi kala itu untie Ramira belum sadar ada benih yang mulai berkembang di dalam tubuhnya"
"Sayang"
Edo tercekat.
"Apa?"
Eden jelas semakin Bingung dengan ucapan vio.
Mereka bilang Asha yang menyumbang kan darah nya untuk Eden malam itu, golongan darah O Rhesus negative tidak gampang mencari nya, orang yang memiliki darah yang sama dengan nya hanya Asha dan Ramira, tapi sejak beberapa waktu sebelumnya Ramira mulai menghilang dari kehidupan Eden, satu-satunya orang yang mampu melakukan transfusi darah pada nya kemungkinan hanya Asha.
"Uncle tidak sadarkah? apa masuk akal orang sakit yang kekurangan darah merah bisa melakukan transfusi darah?"
Seketika Eden mundur kebelakang, dia berusaha berpegangan pada dinding, menyentuh keningnya dengan perasaan bingung.
"Berhenti lah vio, kau akan menyakiti banyak orang"
Edo berusaha memeluk sang istri sekuat nya.
Tapi Vio sekuat tenaga juga memberontak.
"Apa aku harus diam? uncle harus diam? uncle Farhan harus terus diam? agar manusia-manusia seperti mereka menjadi semakin tidak tahu terima kasih dengan pengorbanan untie Ramira?"
Vio melepaskan dirinya dengan begitu bersusah payah dari Edo.
"Oh god betapa jijik nya aku mendengar rekaman lamaran uncle pada Asha saat itu, seolah-olah gadis itu begitu pantas jadi ibu untuk anak-anak uncle tidak pada untie Ramira'
Ejek vio.
"Maafkan aku karena membenci nya, tapi seharusnya dia juga sadar diri kenapa uncle tiba-tiba membuat lamaran pada dirinya dan melepaskan untie Ramira tanpa kata-kata, seharusnya dia sadar ada yang tidak beres dari semua nya tapi sepertinya cinta nya telah menjadi buta dan harus pura-pura menutup mata Dengan segala kemungkinan buruk yang ada"
"Seharusnya dia tidak bohong soal transfusi darah pada malam itu, seolah-olah dia lah yang menyelamatkan uncle bukan untie Ramira"
"Oh shi.t aku menahan unek-unek ini keluar sudah lama, oh god betapa lega nya"
Ucap Vio lantas langsung menangis terisak sambil terduduk kelantai.
"Aku sudah tidak tahan lagi memendam nya, aku yang menyimpan rahasia merasa begitu tertekan, apalagi untie Ramira yang menjalankan nya"
Ucap perempuan kecil itu sambil memukul-mukul dadanya.
"Akhhhhhhh"
Seketika Eden memukul stir mobilnya dengan begitu kencang, kemarahan, rasa kecewa, kesedihan dan entah apalagi bercampur aduk menjadi satu saat ini.
Apa yang telah aku lakukan? bahkan bersama mu selama berpuluh-puluh tahun, aku masih tidak bisa memahami jalan pikiran dan hati mu, Ramira.
Laki-laki macam apa aku ini.
"Akkkhhhhh"