Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Rumit dan sulit



"Ngomong-ngomong kenapa kamu bertanya soal pernikahan dini? calon kamu masih dini? belum cukup umur?"


Tiba-tiba kakak nya menaikkan alis nya, menatap cukup curiga ke arah Edo.


Laki-laki itu jelas serba salah, jika dia bilang tidak itu artinya dia menjadi suami kurang ajar yang tidak mengakui keberadaan istri nya, jika dia bilang iya, pertanyaan nya bakal sepanjang rel kereta api.


Edo hanya tersenyum sambil menyentuh pelan tengkuknya.


"Bukan begitu kak"


Ucap Edo pelan.


"Bahasa tubuh yang Canggung dan suara yang tiba-tiba berubah, kamu tidak bisa berbohong, semua terlihat kentara do,kamu pacaran sama anak kecil? masih sekolah? baru kuliah?"


Tanya kakak nya menggebu-gebu.


"Gila... dia suka sama anak kecil, Vio kenal pacar kamu? keluarga nya kita kenal?"


"Kak"


Edo menelan Saliva nya.


"Fix dia pacaran sama anak yang usianya beda jauh"


"Yah kalau anak nya sudah siap nggak apa-apa sih sayang, sama-sama suka bukan masalah, Edo juga pasti tahu bagaimana harus bertindak meskipun pasangan nya anak-anak"


Kakak ipar Edo berkata cepat, laki-laki itu menyesap pelan minuman nya


Edo pada akhirnya ikut menyesap minumannya sejak tadi, bahkan dia lupa sudah menghabiskan berapa banyak minumannya,perasaan gelisah dan kacau balau jelas menghantam diri nya.


"Benaran pacaran sama anak-anak?"


Perempuan itu terus bertanya sambil menaikkan alisnya.


Pada akhirnya Edo mengangguk pelan, tapi yang jelas dia belum siap mengatakan soal perempuan itu adalah vio, bahkan bukan hanya dekat, mereka malah sudah menikah.


Ini jelas bukan waktu yang tepat.


Batin Edo.


"Edo..Edo..gadis seperti apa yang bisa menaklukkan laki-laki macam kamu, anak-anak pula? pacaran nggak pernah, ngenalin cewek nggak pernah lah tiba-tiba kecantol anak kecil"


Oceh kakak nya kemudian.


"Jangan-jangan di pelet kamu sama itu anak, bikin penasaran bagaimana rupa orang nya"


"Udah ah kepo banget sayang, nanti juga dikenalin Edo kalau sudah waktunya, iya kan do?"


Yang ditanya tampak kembali menyentuh tengkuknya.


Bagaimana kalau aku bilang itu vio?


Batin Edo.


laki-laki itu menghela nafas nya pelan.


Seketika rasa panas menghantam dirinya, Edo lupa saking paniknya dia minum terlalu banyak tadi.


"Kalau sudah siap mempertemukan nya dengan kami, jangan ditunda lagi, nanti baru kita bahas sama Mommy dan daddy"


Setelah bekata begitu perempuan itu menyelesaikan tugas nya menata perabotan dapur lantas secara perlahan menjau dari sana.


"Kamu kebanyakan minum"


Bisik sang kakak iparnya pada Edo.


"Istirahat lah"


Setelah mendengar kan kata-kata kakak ipar nya, Edo langsung melesat masuk ke kamarnya dengan kepala mulai berdenyut-denyut.


Oh shi..t.


Umpat laki-laki itu sambil menutup pintu kamar nya dengan cepat.


Edo berjalan menuju ke arah kasur nya, kemudian secara perlahan laki-laki itu naik ke atas kasur, sejenak dia baru ingat Vio berada di sini di kamar nya.


"Oh sayang"


Ucap Edo pelan, mendekati diri nya ke arah Vio lantas laki-laki itu mulai berbaring tepat di Belakang Vio, tangan nya secara perlahan menyentuh permukaan perut vio, merayap naik hingga bergerak masuk kedalam dada sang istri.