
Di masa Edo dan Vio.
Eden tampak mengulum senyuman nya sambil menatap cincin berlian yang ada di tangan nya, sebuah kotak beludru mendominasi berwarna merah tersebut menambah kesan elegan cincin bertahta kan berlian itu.
Dia fikir Belle cukup pintar memilih selera yang baik untuk seorang perempuan, dibandingkan Edo yang memberi saran dengan cincin yang bentuknya terlalu aneh siang tadi.
Sejenak dia menghela Kembali nafas nya, dia fikir Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan lamaran, dia menunggu gosip lama nya mereda lebih dulu agar tidak menciptakan kebingungan dihati Ramira.
Apalagi Eden belum berani untuk bilang betapa dia mencintai perempuan itu, Sebab dia takut kembali ditolak seperti sebelum-sebelum nya.
Ada sedikit saran yang Edo berikan untuk nya di masa kemarin, sebaiknya dia membuat trik agar membuat perempuan itu cemburu pada nya, yang jadi pertanyaan Eden siapa yang bisa dia gunakan untuk membuat Ramira cemburu.
Dan konyol nya dia menggunakan seorang gadis kecil yang usia nya mungkin belum 17 tahun untuk membuat Ramira cemburu.
Ini gila!
Dia ingat bagaimana cetus nya Ramira bicara pada nya siang kemarin saat dia tanpa sengaja bertemu gadis kecil itu dan tanpa sengaja Ramira melihat nya, mereka membicarakan soal gadis kecil itu cukup lama.
"Kau bertemu anak kecil itu lagi?"
Dia bisa melihat ekspresi Ramira yang mengerut kan dahinya menatap kesal ke arah Eden.
"Hanya kebetulan bertemu"
"Kebetulan?"
cihh
"Kau jika tanpa motif mana mau mendekati perempuan"
ejek nya kemudian.
"Apakah Terlihat dengan jelas?"
Eden terkekeh.
Wajah gadis itu berubah begitu saja, Ramira mencoba pura-pura tertawa, tapi jelas sekali kebohongan tercipta dan terlihat dari balik bola mata Ramira.
Eden terkekeh kecil, merasa geli saat melihat wajah cantik itu memerah.
"Yah terlihat sangat jelas jika kau menyukai bocah kecil itu"
Ramira merengut, membanting pintu mobil dengan perasaan kesal.
Eden berusaha menahan tawa nya, menatap perempuan itu yang langsung bersandar di kursi mobil.
Dia bisa melihat Ramira pura-pura tertawa, Eden menoleh lantas menggelengkan kepalanya secara perlahan.
Sedangkan Ramira tiba-tiba melepaskan tawanya saat menatap ekspresi wajah Eden yang tampak aneh tidak seperti biasanya.
"Jangan bilang kau sungguh-sungguh mencintai bocah ingusan itu, menginginkan nya bahkan berharap bisa menikahi nya?!"
Eden tampak diam, fokus dengan setir mobilnya.
Eden bicara sambil mengulum senyuman nya.
Ramira langsung menoleh ke arah Eden
"What? kau benar-benar sedang jatuh cinta?"
Ramira tampak melongok, menatap ekspresi Eden yang begitu bahagia.
Eden bisa menebak perempuan itu mungkin sedang mengumpat.
"Baik lah, tapi aku harap kau jangan lupa, menyingkirkan gadis picik itu dari kehidupan Murat secepatnya sesuai janji mu kemarin, kemudian biarkan aku menikah dengan Murat secepat nya"
ucap Ramira dengan perasaan dongkol, perempuan itu mulai membuang pandangan nya.
Eden tampak menaikkan sudut bibirnya.
Kau selalu saja menggunakan Murat untuk dalih berkata tidak mencintai ku,dasar!.
"Aku sedang menyusun rencana"
ucap Eden dengan senyuman nya.
"Kau bisa mendapatkan nya dalam beberapa hari ini, perlahan tanpa harus tergesa-gesa sayang"
Kemudian dia kembali fokus menyetir mobil nya.
Ah sayang, kau fikir aku peduli dengan urusan Murat? dia menikahi gadis itu, malah jadi keuntungan untuk ku.
Anggaplah setali tiga uang, kamu lepas dari Murat, Murat lepas dari kamu dan aku bisa membuat hubungan buruk antara Murat dan gadis kecil itu.
Batin Eden pelan.
Lagi-lagi Eden menggelengkan kepalanya jika dia ingat ekspresi Ramira kemarin, dia melangkah cepat menuju ke arah pintu apartemen perempuan itu, menekan nomor intercom apartemen Ramira, lantas berjalan Perlahan masuk ke dalam, kakinya mulai melangkah menuju ke arah kamar Ramira secara perlahan.
Seketika senyumannya mengembang saat melihat sosok Ramira yang telah terlelap dalam tidur nya, laki-laki itu berjalan mendekati Ramira, beranjak naik ke atas kasur lantas mulai merapatkan diri nya disana.
Oh sayang.... bagaimana aku mengatakan nya? kadang kamu benar-benar membuat aku mulai menggila.
Ucap Eden dalam hati, mencoba merapatkan tubuh Ramira hingga masuk kedalam dekapannya, laki-laki itu mencium lembut puncak kepala Ramira lantas ikut memejamkan matanya disamping perempuan itu.
*******
Catatan \=
Ingatan episode
Putri perawan milik Daddy season 1
Episode 120
menyusun rencana licik