
di sepanjang perjalanan mereka berdua tampak diam tidak saling bicara, disaat Luck fokus menyetir, Lea tampak fokus dengan handphonenya.
sudah makan
tanya Lucky cepat
"Ya?"
"Aku tanya apa kamu sudah makan?"
Luck mengulang pertanyaannya.
"Ah belum, kenapa uncle mau traktir?"
alih-alih menjawab pertanyaan Lea, luck langsung bertanya.
"mau makan apa?"
"Di saat hujan begini yang panas-panas itu lebih enak dan nikmat"
jawablah nya sambil menoleh ke arah depan tadi kembali fokus dengan handphonenya.
seketika telinga Luck mendengar kata hujan dan panas.
"What?
Tanya luck sambil menaikkan alisnya, dia fikir sepertinya telinganya salah mendengar.
Shi..t.
Ada apa dengan isi kepala ku?.
umpat laki-laki itu kesal.
Karena tidak mendapatkan Jawaban dari Lea, akhirnya Luck kembali fokus menyetir.
beberapa waktu kemudian tiba-tiba handphonenya terdengar begitu berisik, secepat kilat Lea langsung mengangkatnya.
"Halo? hmm..."
"Hmm"
"Benarkah? kapan? aku akan pergi besok"
"Aku? sekarang? dalam perjalanan pulang"
"Tentu saja, aku tadi ingin pulang bersama nya tapi keburu di jemput"
Lea tampak terus bicara dengan seseorang dari balik handphone nya, tidak tahu laki-laki atau perempuan tapi bagi Luck obrolan mereka semakin intim.
"Siapa? aku tidak tahu itu?"
"Ahhh dia bilang suka pada ku?"
Lea tampak terkekeh.
"Dia bisa gila karena menyukai aku, hahahhaha yang benar saja, nope aku akan memikirkan nya"
"Kekasih? tentu saja aku tidak punya kekasih"
Saat Lea berkata soal itu, seketika luck menoleh kearah Lea.
"Menikah? siapa? siapa bilang?"
Luck membuang pandangannya kemudian terus fokus menyetir ke depan.
"Tidak, aku belum menikah"
Lea bicara sambil menaikkan bahunya.
mendengar itu Luck langsung mengerem mobilnya secara mendadak, dia menoleh ke arah Lea dengan bola mata yang hampir keluar.
"What?siapa? yang telpon siapa?"
Luck bertanya sambil menahan suaranya.
Lea meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya seolah berkata tolong jangan bicara dulu.
Luck terus menatap Lea, dia memiringkan tubuhnya.
secepat kilat lea mematikan handphone-nya dan Luck merampas handphone Lea.
"Siapa yang telepon barusan?"
Tanya Luck ingin tahu.
"Teman"
Jawab Lea pelan.
Tanya Luck.
"Uncle itu tidak penting, aku hanya ...."
Belum juga Lea menyelesaikan kata-katanya, luck kembali bertanya.
"Aku tanya laki-laki atau perempuan?"
"Uncle..!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki"
Ucap Lea sambil menelan salivanya.
"Uncle aku fikir tidak mungkin aku bilang pada semua orang jika kita sudah menikah sebab..."
Alih-alih peduli ucapan Lea, luck kembali bertanya.
"Teman baik, teman dekat atau teman yang pernah menyukai kamu?"
"Kan kita menikah tidak sungguh-sungguh? tidak akan di umumkan di muka publik kan?"
Ucap Lea pelan.
"Apa aku pernah bilang begitu?"
Lea tampak berfikir.
"Nggg... tidak"
Gadis itu menggeleng pelan.
"Apa aku pernah bilang pernikahan kita kontrak? Apa aku pernah bilang pernikahan di pura-pura? Apa aku pernah bilang setelah ini kami akan bercerai?"
Luck bertanya sambil mengeratkan rahangnya.
Lea kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak"
Ucapnya pelan.
"Lalu itu tadi apa?mau coba berbohong kepada semua orang? jika kamu belum menikah? lalu kamu berpikir untuk berselingkuh begitu?"
Yah marah?.
Batin Lea.
"Yang mau selingkuh siapa?"
"Lalu kenapa bilang kalau kamu belum punya suami?"
Tanya Luck sambil melotot kesal.
"Kan tidak ada yang tahu kita menikah, masa aku harus bilang pada semua orang kalau kita sudah menikah? kan tidak lucu?"
Protes Lea Cepat.
Seketika Luck diam, dia menghela pelan nafasnya.
"Kita akan mengumumkan nya secepat nya"
Ucap laki-laki itu Kemudian.
Lea langsung terbelalak kaget.
"Ya?"
Tunggu dulu bukan begitu....!
Lea jelas panik.
"Lalu Mommy dan Daddy? aku bisa dibunuh jika ketahuan menikah!"
Seru Lea kemudian.
"Siapa bilang?"
"Yah aku yang bilang"
"Aku sudah memberitahu kan soal kita"
Seketika Lea membulat kan bola matanya.
"Hah? apa?"