
" Kabarkan saja kepada saya hal apa saja yang terjadi didalam mansion itu, atau hal apa saja yang berhubungan Nona Ava ",, kata seseorang kepada orang yang sedang ditelefonnya.
" Baik Tuan Rava ",, jawab orang tersebut kepada seseorang yang dipanggil Rafa.
Dan setelahnya sambungan telefon mereka akhirnya terputus juga.
Rava yang dimaksud adalah Dokter Rava, Dokter Rava setelah keluar dari dalam mansion Papah Zohan kemarin, dia lalu menyuruh seseorang untuk memata-matai kegiatan yang ada didalam mansion, terutama yang berhubungan dengan Ava.
Sungguh Dokter Rava seperti penguntit dan psikopat, karena dia terlihat sangat terobsesi sekali ingin memiliki Ava dan akan merebut Ava dari Derral.
Didalam ruang kerjanya yang ada dirumah sakit, Dokter Rava yang baru saja selesai bertelefonan dengan orang suruhannya, dia langsung saja menunjukkan wajah menyeramkan dibalik topeng ketampanannya itu.
" Kamu harus menjadi milikku Nona Ava, perlahan tapi pasti, aku akan merebutmu dari sisi suamimu ",, kata Dokter Rava sambil tersenyum miring.
" Kita tunggu saja tanggal mainnya, pasti suatu saat ada celah antara kamu dan suami kamu itu, dan aku akan memanfaatkan celah itu untuk masuk kedalam hatimu ",, kata Dokter Rava lagi sambil menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
" Ava, Ava, sungguh kamu adalah wanita pertama yang berhasil mencuri hatiku hingga sedalam ini ",, kata Dokter Rava lagi sambil mengusap lembut foto wajah Ava yang ada didalam ponselnya yang diambil candid dari orang suruhannya.
Dokter Rava benar-benar psikopat bukan??.
Sedang kita geser keChico dan Via lagi yuk readers.
" Woouuwww, yeaayy ",, kata Via dengan sangat senang sekali sambil mengendarai mobilnya menuju kebutiknya ketika dia sudah menjauh dari mall yang dia datangi dengan Chico tadi.
" Akhirnya aku bebas, yaaaa bebas dari rentenir itu ",, kata Via lagi dengan sangat senang sekali.
Dan mengatai Chico sebagai rentenir, Chico yang mendengar perkataan dari Via yang disamakan dengan rentenir, pastilah Chico akan marah sekali.
" Sungguh menyebalkan sekali siTuan Chico itu, kemana-mana kenapa mengikuti terus, dan aku tidak boleh pergi darinya, apa maksudnya coba?? ",, kata Via masih berbicara sendiri.
" Aku sebenarnya sudah mulai takut dengan sikap Tuan Chico, dia sudah beberapa kali aku kerjai, bagaimana kalau dia akan berbuat nekat kepadaku karena tidak terima?? ",, kata Via lagi dengan wajah yang benar-benar ketakutan sekali.
" Apa aku harus pindah keluar kota saja ya??, biar bisa menghindari Tuan Chico?? ",, kata Via masih berbicara sendiri.
" Iya sepertinya aku harus membeli apartemen atau rumah diluar kota, kira-kira dimana ya tempatnya?? ",, kata Via sambil berfikir.
Setelah beberapa menit berfikir akhirnya Via bisa juga menemukan jalan keluar untuk masalah yang sedang dia hadapi saat ini dengan Chico.
Via lalu memutuskan untuk pindah keluar kota dimana salah satu butiknya berada, dan disana Via akan menghindar sementara waktu hingga keadaan dengan Chico bisa mereda terlebih dahulu.
Dan mudah bagi Via untuk meminta ijin kepada kedua orang tuanya jika dia ingin pindah dikota baru yang dekat dengan salah satu butiknya.
Via yang sudah mempunyai ide seperti itu, dia langsung saja merubah niatnya yang ingin mengunjungi butiknya yang ada disitu.
Via langsung saja tancap gas untuk menuju kekota yang salah satu butiknya berada.
Dengan beberapa berhenti direst area karena capek berkendara, akhirnya Via sampai juga dibutik miliknya.
Disaat Via sudah sampai dibutik miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam sekali, bahkan jalanan sudah sangat sepi sekali.
Namun waktu itu tidak mengurungkan niat Via untuk menghubungi karyawannya yang dia tunjuk untuk mengurusi butiknya tersebut untuk mengantarakannya kunci butiknya.
Kira-kira cuma setengah jam menunggu akhirnya orang yang ditunggu oleh Via datang juga.
" Nona Via, kenapa malam sekali anda datang kesininya??, apa anda mau menginap dulu dirumah saya?? ",, kata karyawannya itu kepada Via.
" Boleh juga, untuk malam ini kalau tidak merepotkan kamu ",, jawab Via kepada karyawannya itu.
" Tapi sebentar, saya mau mengambil beberapa baju untuk saya pakai nanti, ayo antarkan saya kedalam dulu ",, kata Via kepada karyawannya.
" Baik Nona, mari, biar saya yang membukakan pintunya ",, jawab karyawannya itu kepada Via.
" Nama kamu siapa??, maaf saya lupa ",, kata Via kepada karyawannya.
Setelahnya mereka berdua sibuk mengambil baju yang ingin Via pakai nanti.
" Ok, sudah cukup banyak ini Tanisa baju yang saya pilih, ayo kita kerumah kamu ",, kata Via kepada Tanisa.
" Ayo Nona ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Ngomong-ngomong kamu kesini sendirian atau diantarkan seseorang Tanisa?? ",, tanya Via kepada Tanisa.
" Saya diantarkan oleh Kakak laki-laki saya Nona, tidak mungkin saya diijinkan mengendarai mobil dijam yang sudah cukup larut seperti ini ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Kamu ikut kemobil saya saja, biar Kakak kamu yang mengendarai mobil kamu ",, saran dari Via kepada Tanisa.
" Baik Nona, sebentar saya berbicara dulu sama Kakak saya, biar dia mengikuti mobil Nona dari belakang ",, jawab Tanisa kepada Via.
Dan Via hanya mengangguk saja kepada Tanisa.
Setelah Tanisa berbicara kepada Kakak laki-lakinya, dia langsung saja masuk kedalam mobil milik Via.
Sebagai petunjuk jalan, Tanisa pun mengarahkan stir mobil yang dikendarai Via kearah jalan yang ditunjuknya daritadi.
Dan ketika sudah mengendarai mobil sekitar dua puluh menitan, akhirnya mereka bertiga sampai juga dipelataran rumah yang bisa terbilang cukup mewah itu.
" Ini rumah kamu Tanisa?? ",, tanya Via kepada Tanisa.
" Bukan, ini rumah Kakak saya Nona, saya sudah lama tinggal disini, sebab disini lebih dekat dengan butik Nona, tempat kerja saya, sedangkan kedua orang tua kami masih berada dikota ini, namun hanya saja cukup jauh perjalanannya ",, jawab Tanisa kepada Via.
Dan Via hanya mengangguk saja, setelahnya mereka berdua langsung saja keluar dari dalam mobil.
Baik Via dan Kakak laki-laki Tanisa mereka berdua langsung saja saling pandang ketika sudah saling berhadap-hadapan ketika baru saja keluar dari dalam mobil.
" Perkenalkan Nona, dia Kakak saya, namanya Leon ",, kata Tanisa memperkenalkan Kakaknya kepada Via.
" Sesuai dengan badannya, besar seperti singa ",, celetuk Via ketika mendengar nama dari Leon.
Leon yang mendengar celetukan dari Via, dia tetap menampilkan wajah dingin dan garangnya namun padahal aslinya dia sedang menahan senyumannya untuk Via.
" Via Tuan, terimakasih sudah mengijinkan saya untuk menginap malam ini disini ",, kata Via memperkenalkan diri kepada Leon.
" Iya ",, jawab singkat dari Leon kepada Via.
Dan setelahnya Leon langsung saja berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan Via dan juga Tanisa.
Tanisa yang melihat sikap sang kakak yang selalu dingin dengan perempuan karena mempunyai masa lalu yang buruk, dia langsung saja meminta maaf kepada Via.
" Maafkan atas sikap Kakak saya Nona, mari masuk Nona, akan saya antarkan Nona kedalam kamar ",, kata Tanisa kepada Via dengan ramah.
" Tidak apa-apa ",, jawab Via kepada Tanisa sambil mengikuti langkah kaki Tanisa yang sudah masuk kedalam rumah.
Setelah masuk kedalam rumah dan sudah masuk pula kedalam kamar tamu yang ada dirumah tersebut, Via yang sudah sangat kecapean sekali karena baru saja melakukan perjalanan jauh, dia langsung saja merebahkan badannya tanpa bersih-bersih dahulu.
...π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ π¦ ...
Apakah Leon saingannya Chico??π€
Diantara dua laki-laki itu manakah yang akan dipilih oleh Via??π
Kita tunggu saja bab selanjutnyaπ€£
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...