Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
AARIC NAKAL



Dian yang sangat malu kepada Ava, dia langsung saja berpura-pura melihat kearah jam yang melingkar apik dipergelangan tangannya.


Sedang Via sendiri dia lebih memilih asik menikmati makanannya dan tidak mempedulikan Ava, Derral, dan yang lainnya termasuk Chico yang daritadi mencoba mengajaknya berbicara.


" Eemm, Ava ternyata sudah jam delapan malam, aku mau pulang dulu ya, besok aku kesini lagi ",, kata Dian mengalihkan rasa malunya kepada Ava.


" Ok, terimakasih Dian, dan untuk beberapa hari yang akan datang, kantor tolong handle kamu dulu ya ",, jawab Ava kepada Dian.


" Siap Ava ",, jawab Dian kepada Ava sambil menunjukkan ibu jarinya.


" Dan apakah Kak Aaric tidak mau mengantarkan Dian untuk pulang??, kan kasihan jika dia harus naik taksi sendirian malam-malam seperti ini....?? ",, kata Ava kepada Aaric.


" Bagaimana Dian??, apakah kamu mau aku antarkan pulang?? ",, tanya Aaric mencoba biasa saja kepada Dian dihadapan semua orang.


Dengan malu-malu Dian pun langsung saja menganggukkan kepalanya kepada Aaric.


" Itu Kak, Diannya sudah mau, tapi jangan berantem terus ya, yang akur seperti tadi, saling berbisik-bisik manjjah ",, kata Ava sambil menggoda Dian dan juga Aaric.


" Ava............ ",, kata Dian kepada Ava sambil melototkan matanya.


Ava langsung saja tertawa dengan cukup keras sekali ketika melihat wajah malu dari Dian.


Sedang Derral dia hanya diam saja sambil terus memperhatikan Ava dan Dian yang sedang saling berbincang.


Dian setelah itu dia langsung saja berpamitan kepada semua orang, bercipika-cipiki bersama Dian dan juga Via untuk pulang keapartemennya.


Dan Aaric pun dia juga langsung saja berdiri dari duduknya untuk mengantarkan Dian pulang.


Ketika Dian dan juga Aaric sudah berlalu keluar dari dalam ruang perawatan Ava, mereka berdua langsung saja saling bergandengan tangan dengan mesra, bahkan tidak segan Aaric juga terus tersenyum manis kepada Dian.


Padahal biasanya sebelum ada kejadian yang cukup panas diantara mereka berdua tadi, mereka saja jika saling memandang hanya tatapan maut yang mereka berikan.


Tidak berapa lama akhirnya Dian dan juga Aaric sampai juga diparkiran mobil dirumah sakit itu.


Dian serta Aaric mereka berdua langsung saja masuk kedalam mobil untuk pulang menuju keapartemen milik Dian.


Didalam mobil pun mereka saling pada diam, dengan fikiran mereka masing-masing.


Namun apa yang mereka fikirkan sama ketika sudah masuk kedalam mobil, yaitu mereka teringat dengan kegiatan panas yang mereka lakukan tadi didalam mobil ketika baru saja pulang membeli makanan.


" Lho Kak, ini bukan jalan menuju keapartemenku?? ",, kata Dian kepada Aaric ketika Dian melihat jalan yang berbeda dari yang biasanya dia lalui.


" Iya ini jalan menuju keapartemenku ",, jawab Aaric kepada Dian.


" Kenapa keapartemen Kakak??, aku kan mau pulang Kak?? ",, kata Dian kepada Aaric.


" Aku ingin mengulanginya lagi denganmu Dian ",, jawab Aaric kepada Dian sambil tersenyum m35um.


Dian pun langsung saja tersenyum juga ketika melihat wajah Aaric yang seperti itu.


" Tapi aku capek Kak dan aku tidak mau hamil sebelum ada kata sah diantara kita, walau Kak Aaric Kakak dari sahabatku sekalipun ",, kata Dian kepada Aaric.


" Bahkan aku pun belum mandi sejak tadi pulang dari kantor ",, lanjut lagi perkataan dari Dian kepada Aaric.


" Tenang saja, kamu bisa mandi didalam apartemenku nanti dan untuk urusan itu, aku siap bertanggung jawab jika kamu sampai hamil anakku ",, jawab Aaric kepada Dian dengan santai.


Yaps santai, karena Aaric sangat tahu apa konsekuensi dari semua perbuatan yang dia lakukan.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Aaric pasti harus mempertanggung jawabkannya, jika tidak.......... Aaric pasti akan menerima hukuman yang cukup menyeramkan dari Papah Zohan tentunya.


" Terserahlah ",, jawab Dian kepada Aaric.


Dan tidak terasa juga, setelah beberapa menit berkendara akhirnya mobil yang Aaric kendarai sampai juga diparkiran apartemen miliknya.


Aaric dan Dian langsung saja keluar dari dalam mobil ketika mereka sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi.


Masih saling bergandengan tangan, Aaric menuntun Dian untuk menuju keapartemen miliknya.


Dan ketika mereka sudah beberapa menit didalam lift, akhirnya Aaric dan Dian sampai juga dilantai kamar apartemen Aaric berada.


" Welcome my apartemen Dian ",, kata Aaric kepada Dian ketika sudah membuka pintu apartemennya.


" Kamar mandinya ada disana, dan jika tidak mau didalam kamar mandi itu, dikamar aku juga ada kamar mandi pribadinya ",, kata Aaric kepada Dian sambil menunjuk letak kamar mandi apartemennya.


" Sama saja bagiku, kalau begitu aku mau mandi dulu Kak, rasanya gerah sekali badanku ",, jawab Dian kepada Aaric.


" Tapi Kak apa aku akan semalaman menginap disini?? ",, kata Dian kepada Aaric.


" Iya jika kamu mau silahkan saja Dian ",, jawab Aaric kepada Dian.


Dian bingung mau menjawab apa kepada Aaric, dan Dian hanya diam saja, setelahnya Dian langsung saja memutuskan untuk masuk kedalam kamar mandi milik Aaric untuk menumpang mandi.


Sedangkan Aaric sendiri, dia entah kenapa mempunyai ide licik dengan membuatkan minum untuk Dian dan juga dirinya, namun sengaja Aaric campur dengan obat peran954ng dimasing-masing gelasnya.


Sebab Aaric ingin merasakan sensasi yang berbeda dari tubuhnya ketika sudah meminum obat itu yang selalu dia simpan selama ini.


Dian mandi hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja, dan dia langsung saja keluar dari dalam kamar mandi sambil menggunakan bathrobe milik Aaric.


Dan Aaric yang memang sudah menunggu Dian keluar dari dalam kamar mandi, dia langsung saja memberikan minuman yang tadi dia buat untuk Dian.


" Apa ini Kak?? ",, tanya Dian kepada Aaric ketika sudah menerima gelas minuman dari Aaric.


" Wine ",, jawab singkat dari Aaric kepada Dian sambil berjalan untuk duduk dishofa yang ada diruang keluarga.


" Dian tidak meminum minuman ini Kak ",, kata Dian kepada Aaric sambil mengikuti langkah kakinya Aaric.


" Cobalah saja, ini kan juga sedikit, pasti kamu ketagihan jika sudah meminumnya ",, kata Aaric kepada Dian sambil duduk dishofa.


Dian yang sudah ikut duduk bersama Aaric, dengan ragu-ragu dia langsung saja meminum satu gelas wine yang dipegangnya itu hingga habis.


Dan Dian yang sudah meminum satu gelas wine itu, dia langsung saja meringis merasakan sensasi aneh didalam mulutnya.


Sedangkan Aaric sendiri yang melihat Dian seperti itu, dia langsung saja tertawa dengan cukup keras sekali.


" Bagaimana Dian, enak kan rasanya ",, kata Aaric kepada Dian sambil tertawa.


" Rasanya aneh dimulutku Kak ",, jawab Dian kepada Aaric.


Aaric pun hanya tertawa saja mendengar perkataan dari Dian, dan Aaric pun langsung saja ikut meminum satu gelas wine yang sedang digenggamnya hingga habis.


Dan setelah beberapa saat, Dian mengalami sedikit pusing dikepalanya.


Ruangan dia duduki, Dian merasa seperti berputar-putar didepannya.


Dan Aaric yang melihat Dian seperti itu, dia hanya tersenyum miring saja sambil menikmati tontonan itu dengan senang.


" Kak kepalaku pusing ",, kata Dian kepada Aaric.


Namun Aaric tidak menyahuti perkataan dari Dian.


Dan disaat Dian sedang mencoba menyadarkan pandangannya yang berputar-putar itu, tiba-tiba saja tubuhnya merasakan gejala panas yang sangat berlebihan sekali.


Dian seperti cacing kepanasan sambil menggeliatkan badannya diatas shofa yang sedang dia duduki, dan Aaric pun semakin menikmati sekali pemandangan Dian yang sedang seperti itu.


" Kak kenapa dengan tubuhku?? ",, tanya Dian kepada Aaric.


" Tidak apa-apa Dian, itu hanya sensasi biasa ketika baru pertama kali meminum wine ",, bohong Aaric kepada Dian.


" Aaaah Kak Aaric, rasanya panas sekali ",, kata Dian sambil mencoba melepaskan bathrobe yang sedang dipakainya.


Dan Aaric yang melihat Dian sedang mencoba membuka ikatan tali bathrobenya, wajah Aaric terlihat semakin tidak sabaran ingin segera melihat apa yang ada dibalik bathrobe itu.


" Aaaah Kak aku sungguh tidak kuat sekali, panas sekali disini ",, kata Dian kepada Aaric, dan Dian pun akhirnya sudah bertelanjan9 bulat dihadapan Aaric.


Mata Aaric langsung saja terbuka dengan sangat lebar sekali, ketika sudah melihat pemandangan didepannya itu yang memang sudah ditunggu-tunggunya sejak tadi.


Dan untuk obat yang diminum oleh Aaric sendiri belum bereaksi sama sekali, sebab Aaric masih bisa sedikit menahannya didalam tubuhnya.


...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...


...***TBC***...