
Derral yang tadi sudah keluar dari dalam ruang meeting bersama Ava dan juga Egon, dia langsung saja mengajak Ava pergi dengan terus menggenggam tangannya Ava dengan saling mengaitkan jari-jari mereka berdua.
Bahkan tatapan dari semua karyawan kantornya Papi Alano tertuju semua kearahnya Derral dan juga Ava yang pada saling berpegangan tangan dengan begitu mesra sekali, dengan diikuti oleh Egon dibelakang mereka.
Derral dan Ava, serta Egon, mereka bertiga yang sudah sampai diloby kantor, mereka langsung saja masuk kedalam mobilnya Derral yang sudah disiapkan oleh anak buahnya Derral karena suruhannya Egon tadi melalui telefon.
Dan ketika Ava sudah duduk anteng dikursi belakang sampingnya Derral dia langsung saja menunjukkan wajah ketidaksukaannya dengan Derral.
Sebab Ava daritadi dia sudah menolak untuk masuk kedalam mobil, namun terus dipaksa juga oleh Derral.
" Sebenarnya kita mau kemana sih??!! ",, tanya Ava kepada Derral dengan nada yang sangat ketus sekali.
" Nanti kamu juga tahu ",, jawab singkat Derral kepada Ava tanpa melihat kearahnya Ava.
Sedangkan Egon, yang menjadi sopir mereka berdua, dia hanya diam saja sambil mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Derral dan juga Ava.
Empat puluh menit sudah Ava dan Derral berada didalam mobil, dan ketika mobil yang mereka tumpangi sudah sampai ditempat yang mereka tuju, Ava dibuat sangat kebingungan sekali.
Sebab Derral mengajaknya kesebuah Gereja yang cukup besar sekali yang ada dikota mereka.
" Kenapa kita berhenti diGereja ini?? ",, tanya Ava kepada Derral, sambil melihat Gerejanya dari dalam mobil sambil membuka kaca jendela mobilnya.
" Cepat keluar jika kamu ingin tahu ",, jawab Derral kepada Ava sambil berdiri disamping pintu mobilnya Ava, karena Derral dia sudah keluar terlebih dahulu daritadi.
" Tidak mau!!! ",, jawab Ava kepada Derral dengan nada cueknya.
" Baiklah kalau tidak mau.... ",, jawab singkat Derral kepada Ava.
" Egon, kunci pintunya, matikan mesin mobilnya dan juga acnya!! ",, perintah dari Derral kepada Ava.
Ava yang mendengar perkataannya Derral dia langsung saja memarahi Derral.
" Heh!!!, maksud anda itu bagaimana??, apa anda ingin membunuh saya didalam mobil ini!! ",, kata Ava dengan perkataan formalnya kepada Derral.
" Iya terserah saya, siapa yang ingin membunuh kamu, ini mobil, mobil saya, ya kalau saya sudah keluar dari dalam mobil ya itu artinya mesin mobil dan juga acnya harus saya mastikan dong ",, jawab Derral dengan seenaknya saja kepada Ava, namun daritadi Derral sudah tidak menggunakan Bahasa yang terlalu formal kepada Ava.
Ava yang mendengar jawabannya Derral, dia langsung saja menunjukkan wajah cemberutnya, dengan sambil turun dari dalam mobil.
Sedangkan Egon yang berdiri dibelakangnya Derral, dia berusaha menulikan telinganya karena harus mendengar atasannya yaitu Derral yang terus bertengkar dengan Ava.
Derral yang melihat Ava sudah keluar dari dalam mobilnya, dia langsung saja tersenyum devil.
" Ayo masuk ",, kata Derral kepada Ava sambil menggandeng jari jemarinya Ava lagi.
" Saya bisa jalan sendiri, dan aku tida buta, kenapa anda daritadi terus menggandeng tangan saya seperti ini Tuan Derral?? ",, kata Ava kepada Derral.
" Bisa tidakkah kita menggunakan bahasa aku, kamu bukan saya anda atau saya kamu?? ",, kata Derral kepada Ava ketika dia sudah tidak tahan mendengar Ava berbicara Bahasa formal terus kepadanya.
" Iya kalau begitu lepaskan tanganku Derral!! ",, kata Ava kepada Derral.
Perkataannya Ava yang kali ini membuat Derral langsung saja tersenyum tipis sekali, sebab Ava sudah mau memanggil namanya langsung tanpa embel-embel Tuan didepannya.
Setelah itu Derral langsung saja melanjutkan lagi langkah kakinya yang tertunda tadi yang ingin masuk kedalam gereja itu bersama Ava dan juga masih diikuti Egon dibelakang mereka.
Ternyata didalam Gereja itu sudah ada Pak Pendeta yang memang sudah menunggu Derral daritadi.
" Tuan Derral, dan Tuan Egon ",, sapa dari Pak Pendeta itu kepada Derral dan juga Egon dengan ramah, ketika Pak Pendeta sudah melihat kedatangan dari Derral dan juga Egon.
" Apakah ini calon istri anda Tuan Derral?? ",, kata dari Pak Pendeta itu lagi kepada Derral.
" Lebih tepatnya dia sudah sah menjadi istri saya secara Negara Pak Pendeta ",, jawab sopan dari Derral kepada Pak Pendeta tersebut.
Dan Pak Pendeta itu dia langsung saja tersenyum manis ketika mendengar jawabannya Derral.
" Itu artinya anda kesini, ingin meresmikannya secara agama dan meminta pemberkatan dari saya??, betulkah begitu Tuan Derral?? ",, kata Pak Pendeta lagi kepada Derral dengan ramah.
Dan Derral langsung saja mengangguk dengan sopan kepada Pak Pendeta tersebut.
Sedangkan Ava dia dibuat semakin bingung saja dengan percakapan dari Derral dan juga Pak Pendeta yang berdiri didepannya.
" Wait-wait-wait-wait " ( tunggu-tunggu-tunggu-tunggu ), sebenarnya apa maksud dari perkataan kamu Derral?? ",, kata Ava kepada Derral dengan sambil menampilkan wajah kebingungannya.
" Siapa yang sudah resmi menjadi istri kamu??, dan bisakah kamu menjelaskannya kepadaku?? ",, kata Ava lagi kepada Derral.
" Istri aku ya kamu Ava, kan kamu tadi sudah menandatangi semua berkas-berkas pernikahan kita yang secara Negara, itu artinya kita itu sudah sah menikah dan resmi secara Negara ",, jawab Derral kepada Ava.
" Tanda tangan mana?? ",, tanya Ava kepada Derral sambil mengerutkan dahinya.
Derral langsung saja mengkode Egon untuk memberikan map tadi kepada Ava.
Sedangkan map yang dibawa oleh Papi Alano tadi adalah salinan berkas yang juga sudah ditandangani oleh Ava.
Sebab Derral menaruh berkas pernikahannya yang asli dan copyannya didalam map yang sama dan juga sudah ditandangani semua oleh Ava tadi didalam ruang meeting.
Ava langsung saja menerima map itu dari Egon, dan betapa terkejutnya Ava ketika dia sudah membuka serta membaca semua isi berkasnya yang ada didalam map tersebut memang bukanlah berkas kerjasama antara Perusahaannya dan Perusahaan Papi Alano, melainkan berkas pernikahannya dengan Derral.
" Kamu menipuku Derral??!! ",, kata Ava kepada Derral ketika sudah membaca semua berkas-berkasnya.
Namun Derral dia hanya menampilkan senyum miringnya menanggapi perkataannya Ava.
" Kamu sungguh beren953k Derral, kemarin aku suruh kamu menikahiku tidak mau!!, tapi sekarang apa??............ kamu menggunakan cara licik untuk menjebakku untuk menjadi istrimu, sungguh perkataanku dan semua perkataan yang kamu katakan kemarin menimpa semua kepadamu!! ",, kata Ava lagi dengan panjang kali lebar kepada Derral.
Dan Derral yang mendengar perkataannya Ava dia langsung berjalan mendekati Ava untuk bisa semakin dekat dengan Ava.
Sedangkan Pak Pendeta dia hanya diam saja sambil terus memperhatikan perdebatan yang terjadi dengan Ava dan juga Derral.
Pak Pendeta sendiri, dia sudah terbiasa melihat pasangan yang bertengkar seperti itu ketika mereka akan menikah, jadinya Pak Pendeta dia akan sabar menanti hingga perdebatan diatara mereka sudah ketemu jalan keluarnya.
...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...
...***TBC***...