
Berpindah lagi keSpanyol, dan kita akan membahas Via, Leon, Tanisa dan juga Chico lagi.
Ketika Leon dan juga Tanisa yang sudah masuk kedalam mobilnya, Leon langsung saja menghubungi Via yang masih berada didalam mobil dan belum beranjak pergi dari parkiran Cafe.
Via yang masih merasa sangat marah sekali dengan sikap Chico tadi, dia yang mendengar ponselnya berdering, Via pun langsung saja mengangkatnya.
Terlebih lagi Via melihat jelas ada nama Leon dipanggilan masuk diponselnya.
" Halo Leon ",, kata Via kepada Leon.
" Halo Via, kamu ada dimana sekarang?? ",, tanya Leon kepada Via.
" Aku masih berada didalam mobilku belum keluar dari parkiran Cafe ",, jawab Via kepada Leon.
" Baiklah aku akan menuju kemobil kamu sekarang, dimana posisi mobil kamu parkir?? ",, kata Leon kepada Via.
" Eeehh jangan Leon, bahaya............ ",, cegah dari Via kepada Leon.
" Bahaya kenapa?? ",, tanya Leon kepada Via.
Sebelum Leon melanjutkan lagi perkataannya, dia dan Tanisa dari dalam mobil melihat Chico baru saja keluar dari dalam Cafe dan langsung saja masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi didepan Cafe.
" Aku yakin masih banyak anak buah Chico disekitar sini Leon, lebih baik kita kerumahku saja, disana kita aman dan bisa berbincang sepuasnya ",, jawab Via kepada Leon.
Sedang Tanisa yang duduk disebelah Leon dia hanya bisa diam saja sambil terus menunggu sang Kakak selesai menelfon Via.
" Baiklah aku setuju, ok kamu keluar dulu dari dalam parkiran nanti aku dan Tanisa akan mengikuti mobil kamu dari belakang ",, kata Leon kepada Via.
" Iya baiklah ",, jawab Via kepada Leon.
Setelahnya sambungan telefon mereka pun akhirnya terputus juga.
Via setelah itu dia langsung saja menyalakan mesin mobilnya untuk keluar dari dalam Cafe.
Dan Leon yang melihat mobil Via melewati mobilnya, dia langsung saja menyalakan mesin mobilnya juga.
Leon benar-benar mengikuti Via dari belakang, dan Via pun menyadari akan hal itu.
Setelah berkendara beberapa menit lamanya, tanpa terasa mobil mereka akhirnya sampai juga dipekarangan rumah Ayah Markus.
Ketika Via melihat Leon dan Tanisa yang baru saja keluar dari dalam mobil, dia pun langsung saja tertawa dengan sangat keras sekali.
Sebab penampilan dari Leon benar-benar persis seperti kakek-kakek yang sudah berumur enam puluh tahunan, sedang penampilan dari Tanisa sendiri dia bisa sama persis sekali dengan cewek cupu diluaran sana.
Dan sungguh penampilan dari Leon dan Tanisa, membuat Via masih tidak percaya jika orang yang berdiri didepannya adalah Leon dan juga Tanisa.
" Kenapa??!!, sepetinya kamu puas sekali Via mentertawakanku, semua ini aku lakukan juga demi kamu dan juga Tanisa ",, kata Leon kepada Via sambil menunjukkan wajah sebalnya.
" Tidak,............ hanya saja wajah kamu terlihat sungguh sangat imut sekali jika sedang dimakeup seperti itu, hahahahaha ",, kata Via berbohong kepada Leon sambil tertawa terbahak-bahak.
Via bawaannya ingin tertawa terus ketika melihat wajah tampan dari Leon yang sekarang berubah menjadi kakek-kakek seperti itu.
Tanisa yang melihat sang Kakak bahagia bersama Via, dia akhirnya terbuka mata hatinya jika Via adalah wanita yang memang benar-benar baik untuk sang Kakak.
Senyum tipis terpatri dibibir manisnya Tanisa yang sedang diam sambil terus memperhatikan sang Kakak yaitu Leon yang sedang bercanda bersama Via.
" Aku cium baru diam itu mulut, daritadi membuatku gemas!! ",, jawab Leon kepada Via sambil menggoda.
" No, ada Tanisa disini, nanti saja didalam ",, goda dari Via juga kepada Leon.
Leon hanya tersenyum senang saja menjawab perkataan dari Via tadi.
" Sudah yuk ayo kita masuk ",, kata Via kepada Leon dan juga Tanisa.
" Oh ya ngomong-ngomong, kalian berdua bisa berdandan seperti ini, siapa yang makeupin?? ",, tanya Via kepada Tanisa.
" Oh ya??, waaah kamu sungguh berbakat sekali Tanisa, jika kamu mau Kakak bisa menyekolahkanmu disekolah makeup ",, kata Via kepada Tanisa.
Tanisa dan Leon langsung saja saling pandang ketika mendengar perkataan dari Via tadi.
Dan Leon langsung menunjukkan wajah bangganya kepada Tanisa, karena apa yang difikirkan Tanisa tentang Via ternyata salah besar.
Sebab sifat Via jauh sekali dari pemikiran Tanisa yang masih abu-abu untuk menentukan mana yang baik dan mana yang benar.
" Sudah terima saja Tanisa, lagipula gratis kan dibayari sama Kakak ipar kamu yang cantik ini ",, kata Leon kepada Tanisa sambil duduk dishofa ruang keluarga.
Via langsung saja memukul pelan paha Leon ketika mendengar perkataan dari Leon tadi.
" Bagaimana Tanisa apa kamu mau??, jika kamu mau, Kakak punya kenalan pemilik sekolah makeup yang terbaik yang ada dikota ini ",, kata Via lagi kepada Tanisa.
" Eemm, boleh tidak Kak jika Tanisa memikirkannya terlebih dulu ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Iya boleh, silahkan fikirkan dulu secara matang, dan jika sudah menemukan jawabannya kasih tahu keKakak ya ",, kata Via kepada Tanisa sambil tersenyum manis.
" Iya Kak ",, jawab Tanisa kepada Via sambil tersenyum juga.
" Oh ya ini rumah kenapa sepi sekali sih, perasaan sebelum aku tinggal tadi, Mamah ada dirumah deh?? ",, kata Via kepada dirinya sendiri dan masih didengar oleh Leon maupun Tanisa.
Setelah berbicara sendiri seperti itu, Via langsung saja memanggil asisstan rumah tangganya untuk bertanya dimanakah sang Mamah berada.
" Oh Nyonya sedang pergi bersama Tuan Markus Nona, tadi Tuan pulang dari kantor untuk menjemput Nyonya dan langsung mengajak Nyonya pergi Nona ",, jawab asisstan tumah tangga itu kepada Via.
" Apakah Bibi tahu kemana Ayah sama Mamah pergi?? ",, tanya Via lagi kepada asisstan rumah tangganya.
" Tidak tahu Nona ",, jawab asisstan rumah tangga itu kepada Via.
" Oh ya sudah baiklah, terimakasih Bi ",, jawab Via kepada asisstan tumah tangganya.
Setelahnya asisstan rumah tangga itu langsung saja berpamitan untuk kembali lagi masuk kedalam dapur.
" Tanisa jika kamu capek kamu bisa beristirahat didalam kamar tamu kemarin, karena Kakak ingin ganti baju, gerah sekali rasanya ",, kata Via kepada Tanisa.
" Iya Kak ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Aku ikut ya sayang, dan tolong bersihin ini makeup yang ada diwajahku ",, kata Leon dengan manja kepada Via.
" Iya ayo Kakekku tersayang ",, jawab Via kepada Leon sambil tertawa menggoda.
Leon yang tidak terima dipanggil Kakek seperti itu oleh Via, dia langsung saja menggendong Via dengan secara tiba-tiba.
" Walau sudah Kakek-kakek, tapi saya masih kuat untuk menggendong anda anak muda ",, kata Leon kepada Via sambil menirukan suara Kakek-kakek.
Via langsung saja tertawa sangat keras sekali sambil memukul punggung Leon dengan membabi buta.
Karena Leon sedang menggendong Via seperti karung beras yang ditaruh dipundaknya.
Sedang Tanisa yang melihat kelakuan kedua Kakaknya yang seperti itu, dia langsung saja ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya saja.
Walau hati sedikit kecewa karena Chico, tapi setidaknya Tanisa lebih banyak bersyukur karena dia mempunyai Kakak yang begitu menjaganya dan juga menyayanginya.
Ketika Tanisa melihat Leon dan Via sudah menaikai tangga menuju kedalam kamar Via.
Tanisa pun langsung saja melangkahkan kakinya dengan tertatih menuju kedalam kamar tamu yang kemarin dia tempatin.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...