Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
PERHATIANNYA DERRAL



Kembali keAva lagi yang masih berjalan-jalan menyusuri lorong dimansion sang Papah.


Ketika Ava sedang berjalan sedikit melamun memikirkan masa kecilnya dulu bersama sang Kakak yaitu Aaric dimansion itu, tidak sengaja Ava bertabrakan dengan seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi yang ada didalam mansion Papah Zohan.


" Aaaa ",, teriak reflek dari Ava ketika dia akan terjatuh.


Namun ketika Ava tidak merasakan rasa sakit ditubuhnya, Ava lalu mencoba membuka matanya yang tadi terpejam.


Sungguh alangkah terkejutnya Ava ketika dia sudah membuka mata, dan berada didekapan seorang laki-laki yang baru saja ditabraknya tadi.


Dan orang itu adalah Dokter Rava.


Dokter Rava yang tadi sudah selesai memeriksa keadaan dari Aaric, dia yang sudah diantarkan pula oleh Papah Zohan hingga sampai turun kebawah tepatnya diruang keluarga.


Tiba-tiba saja Dokter Rava meminta ijin kepada Papah Zohan untuk pergi ketoilet sebentar.


Dan Papah Zohan pun langsung saja memberitahukan dimanakah kamar mandi untuk tamu yang ada dimansionnya.


Setelah itu Papah Zohan langsung saja meninggalkannya Dokter Rava untuk berlalu menuju kedalam kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Dan ketika Dokter Rava baru saja keluar dari dalam kamar mandi, sambil membenahi kemeja yang dipakainya tadi.


Dokter Rava juga dibuat sedikit terkejut, ketika dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dan disaat Dokter Rava sudah melihat siapakah orang yang bertabrakan dengannya tadi.


Sungguh jantung dari Dokter Rava langsung saja berdetak dengan sangat kencang sekali jika ternyata orang yang bertabrakan dengannya adalah Ava.


Ava yang sudah membuka matanya dan juga tersadar, dia langsung saja melepaskan pelukan tidak sengaja itu dari dekapannya Dokter Rava.


Dan Dokter Rava sendiri dia semakin terpesona, ketika bisa melihat wajah Ava berada didepannya tadi dengan posisi yang sangat dekat sekali.


" Maaf ",, kata Dokter Rava kepada Ava.


" Terimakasih ",, kata Ava kepada Dokter Rava.


" Kalau begitu saya permisi dulu Dokter ",, kata Ava lagi kepada Dokter Rava.


Dan Dokter Rava hanya bisa mengangguk formal saja kepada Ava.


Setelah itu Ava langsung saja berlalu meninggalkan Dokter Rava yang masih menatap kearahnya dengan tatapan yang memuja sekali.


" Sungguh sangat cantik sekali Nona itu ",, kata Dokter Rava didalam hatinya.


" Aku harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya, walau aku harus merebut dari suaminya sekalipun ",, kata Dokter Rava kepada dirinya sendiri sambil tersenyum penuh dengan misteri.


Sedangkan Ava sendiri, dia yang sudah berjalan menjauhi Dokter Rava, Ava berjalan sambil mengatakan sesuatu didalam hatinya.


" Sungguh tatapan dari Dokter tadi sangat membuatku takut sekali ",, kata dari Ava sambil terus berjalan menjauhi Dokter Rava.


" Laki-laki seperti itu harus aku jauhin sejauh jauhnya, karena aku sangat yakin sekali jika laki-laki seperti itu, malah akan menghancurkan hidupku ",, kata batin dari Ava sambil terus berjalan menuju kedalam kamarnya.


" Terlihat sekali dari tatapan dia yang seperti tadi kepadaku ",, kata Ava lagi dan masih didalam batinnya.


Ava bukanlah sok kecantikan, namun Ava mempunyai insting yang cukup tajam dengan tatapan para laki-laki yang seperti Dokter Rava tadi.


Itulah mengapa Ava merasa sangat tidak nyaman sekali berada didekatnya Dokter Rava tadi.


Dan ketika Ava sudah berjalan beberapa menit lamanya, akhirnya dia sampai juga didalam kamarnya.


Disaat Ava sudah masuk kedalam kamarnya, dia langsung saja melihat Derral baru saja selesai mandi.


Sedang Derral sendiri yang melihat Ava kembali masuk kedalam kamar mereka, dia langsung saja menatap sebal kearah Ava.


Namun Ava tidak mempedulikan tatapan Derral yang seperti itu kepadanya, sebab Ava masih memikirkan Dokter Rava dan juga merasakan rasa takut didalam hatinya dengan tatapan dari Dokter Rava tadi.


Walau wajah dari Dokter Rava cukup tampan, tapi jika Ava sudah melihat sendiri ada tatapan yang cukup mematikan bagi dirinya terlebih lagi bisa menghancurkan rumah tangganya.


Derral yang tadi melihat Ava masuk, sambil cemberut Derral tidak mempedulikan Ava sama sekali, dan Derral memilih langsung berlalu untuk berganti baju didalam ruang walk in closet milik Ava.


Sedangkan Ava sendiri ketika sudah sampai didalam kamar tadi, dia langsung saja melepaskan baju yang dipakainya hingga menyisahkan bra dan celana pendeknya saja.


Sebab Ava daritadi dia sudah merasakan rasa sakit dibekas lukanya yang belum kering itu.


" Aduh pantas saja rasanya sakit sekali perut aku ",, kata Ava sambil melihat luka yang ada didiperutnya yang sudah ada darah diperbannya.


Dan rembesan darah itu terjadi karena kejadian tabrakan tadi dengan Dokter Rava yang cukup kencang.


" Pasti ini karena tabrakan tadi dengan Dokter itu ",, kata Ava sambil mencoba membuka perbannya dengan perlahan.


" Aaaahh ",, kata Ava menahan rasa sakit diperutnya.


Derral yang sudah selesai berganti baju, ketika baru saja keluar dari ruang walk in closet, dia langsung saja melihat Ava sedang seperti itu dengan lukanya, dan itu membuat Derral reflek langsung berlari mendekati Ava.


" Apa yang kamu lakukan Ava??!! ",, tanya Derral dengan sangat tegas sekali kepada Ava.


" Aku ingin melihat lukaku yang entah kenapa rasanya sakit sekali, dan ketika aku melihat perbannya ternyata sudah ada darah cukup lumayan seperti ini ",, jawab Ava sambil meringis menahan rasa sakit diperutnya.


Seketika rasa jengkel dan sebal yang Derral rasakan untuk Ava sejenak hilang karena melihat Ava kesakitan seperti itu.


" Sebentar kamu diam saja, akan aku ganti perbannya dan akan aku obati juga luka kamu ini ",, kata Derral kepada Ava.


" Dimana tempat obatnya ",, tanya Derral kepada Ava.


Dan Ava langsung saja menunjuk letak kotak P3K miliknya kepada Derral.


Dengan segera Derral langsung saja mengambil kotak P3K itu, dan ketika kotak itu sudah ada ditangannya.


Dengan telaten Derral langsung saja mencoba mengganti perban milik Ava yang sudah terkena darah itu.


" Berbaringlah, supaya aku lebih nyaman dalam mengobatinya ",, kata Derral kepada Ava.


Dan Ava langsung saja berbaring diatas ranjang dengan hanya menggunakan bra dan celana pendeknya saja.


Ava sangat memperhatikan sekali, jika Derral begitu telaten dan penuh kehati-hatian dalam mengobati lukanya itu.


Serta Derral sendiri merasa ikut sakit juga ketika melihat sendiri bagaimana bentuk luka milik Ava yang ada diperutnya.


" Apakah sakit?? ",, tanya Derral kepada Ava dengan mata yang terus fokus kelukanya Ava.


" Sedikit ",, jawab Ava kepada Derral.


" Ditahan dulu sebentar lagi juga akan selesai ini ",, kata Derral kepada Ava sambil melirik Ava.


Dan Ava hanya diam saja tidak menanggapi perkataan dari Derral.


" Sudah selesai, lebih baik kamu istirahat saja, supaya cepat kering lukanya dan tidak mengalami pendarahan seperti ini lagi ",, kata Derral kepada Ava dengan lembut.


" Iya ",, jawab Ava kepada Derral.


Setelahnya Derral langsung saja berlalu lagi dari hadapan Ava untuk mengembalikan kotak P3K itu ketempatnya semula.


Sedangkan Ava sendiri, dia merasa sedikit terenyuh dengan sikap Derral yang begitu perhatian dan baik kepadanya ketika melihat lukanya terbuka lagi seperti itu, padahal tadi Derral sudah dia kerjai habis-habisan.


Akan tetapi Derral masih mau membantunya untuk mengobati lukanya.


Dan tiba-tiba saja dada Ava merasakan desiran lembut dan hangat didalam hatinya ketika mengingat perhatian dari Derral tadi kepadanya.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


...***TBC***...