Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
AKTING



Tadi pagi ketika Leon sudah mendapatkan telefon dari Via tentang rencananya untuk membuat Tanisa sadar, jika laki-laki yang disukainya itu masih menyukai Via.


Leon langsung saja memberitahukan rencananya itu kepada Tanisa.


" Kakak jangan membuat Tanisa menjadi marah kepada Kakak!!, ini pasti akal-akalan dari Kakak dan Kak Via saja kan, supaya Kak Via tidak cemburu kepada Tanisa!! ",, bantah dari Tanisa pada waktu itu kepada Leon.


" Cukup Tanisa!!! ",, kata tegas dari Leon kepada Tanisa yang daritadi terus membantahnya.


" Kamu itu tidak tahu apa-apa Tanisa!!, jangan kamu terus-terusan menyalahkan Via!! ",, kata Leon kepada Tanisa lagi.


" Kakak seperti ini juga karena Kakak sayang sama kamu dan tidak mau sampai kamu memilih laki-laki yang salah Tanisa!! ",, kata Leon terus kepada Tanisa.


" Kakak berani sampai membentak Tanisa, hanya karena Kak Via!!, apa yang sudah Kak Via berikan kepada Kakak??!!, tubuhnya?? ",, kata Tanisa dengan berani kepada Leon.


Dan Leon yang sudah geram dengan perkataan dari Tanisa, dia reflek sampai menampar pipinya Tanisa dengan cukup keras.


Tanisa yang ditampar oleh Leon seperti itu, dia langsung menatap Leon sang Kakak dengan tatapan kecewa dan juga marah secara bersamaan.


" Kakak tidak akan pernah menyesal karena sudah menampar kamu seperti tadi, karena mulut kamu memang perlu ditampar Tanisa!! ",, kata Leon kepada Tanisa dengan sangat tegas sekali.


" Fikirkan sekali lagi, jika sampai jam sembilan nanti kamu tidak datang menemui Kakak, Kakak anggap kamu memilih Chico, dan jika nanti suatu saat terjadi apa-apa sama kamu karena Chico, Kakak adalah orang yang paling terkahir yang akan membantu kamu Tanisa!! ",, kata Leon lagi kepada Tanisa.


Dan setelah itu Leon langsung saja berlalu pergi dari dalam kamar Tanisa sambil membanting pintu kamar Tanisa untuk berlalu menuju keruang makan untuk ikut sarapan bersama Keluarganya.


Tanisa sepeninggalan dari Leon dia langsung saja menangis sedih, karena bingung keputusan apa yang harus dia ambil.


Karena sejujurnya hatinya sangat ingin sekali memilih Chico, tapi dia juga takut jika dia memlih Chico itu artinya dia akan semakin jauh dengan Kakak yang selalu menjaganya.


Tanisa yang belum bisa berfikir jernih, dia memilih mengusap air matanya dan mengolesi makeup dipipinya yang sedikit lebam karena baru saja ditampar oleh Leon tadi.


Setelahnya Tanisa langsung saja keluar dari dalam kamarnya untuk ikut mengisi perutnya terlebih dahulu bersama yang lainnya.


Dimeja makan itu Leon dan Tanisa mereka berdua saling pada diam tidak mau berbicara sama sekali.


Selain Leon masih merasa marah karena Tanisa susah dikasih tahu, Leon juga merasa kecewa karena Tanisa sudah berani menjelek-jelekkan Via didepannya langsung.


Sebelum semuanya selesai, Leon yang sudah selesai terlebih dahulu tanpa banyak bicara kepada semua Keluarganya, dia langsung saja berpamitan kepada semua orang untuk berlalu pergi dari ruang makan itu menuju kedalam kamarnya.


Tanisa yang merasa Kakaknya masih marah kepadanya, dia tidak berani menyapa atau bahkan menatap wajah dari Leon.


Dan Leon sendiri ketika sudah sampai didalam kamarnya, dia langsung saja berfikir bagaimana caranya nanti dia bisa mendengar dan melihat dengan jelas percakapan dari Via bersama Chico.


Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa Leon ternyata sudah berfikir cukup lama namun belum mendapatkan ide sama sekali.


Dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, hanya tinggal beberapa menit saja waktu yang Leon berikan kepada Tanisa untuk berfikir sudah habis.


Leon yang melihat waktunya sudah hampir menunjukkan pukul sembilan pagi, dia langsung berfikir jika Tanisa memilih Chico sebagai pilihannya.


Alhasil Leon langsung mencoba menelfon Via untuk memberitahukan kabar tersebut.


Akan tetapi sebelum panggilan telefonnya terhubung dengan nomornya Via, pintu kamar Leon tiba-tiba terdengar ada yang mengtuk dari luar.


Leon pun langsung saja mengurungkan niatnya tersebut dan memilih membuka pintu kamarnya terlebih dahulu.


Tepat dijam sembilan pagi ternyata yang mengetuk pintu kamar Leon adalah Tanisa.


Leon sedikit terkejut ketika membuka pintu langsung melihat Tanisa didepan kamarnya.


" Kakak........ bolehkah Tanisa masuk dulu?? ",, kata dari Tanisa kepada Leon.


Leon hanya mengangguk saja untuk mempersilahkan Tanisa masuk kedalam kamarnya tanpa banyak berbicara kepada Tanisa.


Tanisa pun langsung saja duduk dishofa yang ada didalam kamar Leon.


" Ada apa kamu menemui Kakak Tanisa??, apakah kamu sudah berubah fikiran atau mau mengatakan jika kamu tetap memilih Chico dibandingkan Kakak?? ",, kata Leon kepada Tanisa.


" Eemm, Kak Leon......... ",, kata Tanisa dengan takut-takut kepada Leon.


" Maafkan Tanisa, mau bagaimanapun juga Kakak adalah Kakaknya Tanisa, dan Tanisa tidak mau jauh dari Kakak ",, kata Tanisa lagi kepada Leon.


" Jadi Tanisa mau mencoba membuktikannya sendiri apakah Tuan Chico beneran mencintai Kak Via atau tidak ",, sambung lagi perkataan dari Tanisa kepada Leon.


Leon yang mendengar perkataan dari Tanisa, dia langsung saja berbalik badan untuk menghadap kearah Tanisa.


" Ok, bagus dan tepat sekali pilihanmu Tanisa, dan mari sekarang kita cari cara bagaimana caranya supaya kita tidak ketahuan jika kita nanti sedang menguping dan memata-matai mereka berdua ",, kata Leon kepada Tanisa.


" Eemm bagaimana kalau kita menyamar saja Kak?? ",, kata Tanisa kepada Leon.


" Boleh juga, tapi mau menyamar menjadi apa?? ",, kata Leon kepada Tanisa.


Tanisa pun langsung saja mengeluarkan idenya kepada Leon.


" Ok aku setuju ",, jawab Leon dengan mantap kepada Tanisa.


Dan akhirnya Leon serta Tanisa pun menyamar menjadi Kakek-kakek buta yang sedang jalan berdua dengan cucu perempuannya yang sangat cupu sekali penampilannya dengan kaca mata tebalnya.


Disinilah Leon dan juga Tanisa yang sudah sampai daritadi diCafe yang sudah Via katakan.


Ketika Leon dan Tanisa melihat Chico sudah datang, mereka berdua langsung saja berakting sesuai dengan peran yang sedang mereka mainkan.


Dan beruntungnya Leon serta Tanisa, Chico memilih tempat duduk persis disamping meja yang mereka duduki.


Semua percakapan dari Chico kepada Via, baik Leon dan Tanisa mereka bisa mendengarnya dengan sangat jelas sekali.


Tanisa pun akhirnya sadar jika apa yang dikatakan oleh Leon sang Kakak benar adanya, jika Chico masih mencintai Via calon Kakak iparnya sendiri.


Terlebih lagi ketika Chico tiba-tiba saja mencium Via tadi tepat dibibirnya dihadapan semua orang, membuat Tanisa langsung saja begitu sangat terkejut sekali.


Bahkan Tanisa juga melihat jika kedua tangan sang Kakak yaitu Leon mengepal dengan begitu kuat sekali diatas meja.


Untung saja Leon memakai kaca mata hitam, jadi ketika mata Leon melotot karena melihat adegan Chico yang mencium Via, tidak terlihat oleh semua orang.


" Sekarang kamu sudah lihat dan mendengarnya sendiri kan Tanisa?? ",, bisik dari Leon kepada Tanisa.


Tanpa banyak berbicara, hanya air mata yang Tanisa tunjukkan kepada Leon sang Kakak, namun segera Tanisa hapus sebelum ketahuan oleh Chico


Setelah adegan ciuman tadi, Leon dan Tanisa yang melihat Via sudah berjalan keluar dari dalam Cafe tadi.


Leon dan Tanisa langsung juga ikut berdiri sambil berjalan sesuai dengan perannya masing-masing untuk menyusul Via, dan Tanisa dengan kakinya yang masih sakit terus berpura-pura menuntun Leon dengan perlahan-lahan hingga mereka sudah sampai didalam mobil mereka.


Sungguh apik akting serta makeup dari Leon dan juga Tanisa, hingga seorang Chico bisa ditipu dan tidak mengenali mereka berdua.


Bahkan Via pun juga sama halnya dengan Chico, dia sampai tidak mengenali Leon dan Tanisa yang duduk dimeja sebelahnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Yuk readers, Pietronya diramaikan🤗🤗.



...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


...***TBC***...