Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
BINGUNG



Pagi pun datang, Derral pagi ini tumben sekali dia bangunnya sekitar jam delapan pagi.


Ponsel yang dia senyapkan pun, daritadi sudah berdering dan bergetar terus tanpa dia sadari.


Derral yang sudah bangun dari tidurnya, dia langsung saja beranjak turun dari atas ranjang untuk menuju kedalam kamar mandi dan menunaikan rutinitas paginya dengan sedikit tidak bersemangat.


Ketika Derral sudah selesai dari rutinitasnya didalam kamar mandi, dia langsung saja keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuknya saja dan langsung juga masuk kedalam ruang walk in closetnya.


Didalam ruang walk in closet pun, Derral langsung saja mengambil asal baju kerjanya, yang penting pas dan cocok dengan dasi serta kemeja yang dia padupadankan dengan jas kerjanya.


Tidak lupa juga dengan sepatu fantovelnya yang super mengkilap sudah Derral pakai juga.


Dan setelah itu Derral langsung saja keluar dari dalam kamarnya untuk turun kebawah.


" Pagi Tuan Derral ",, sapa ramah dari Senon, kepala asisstan rumah tangganya Derral ketika dia melihat Derral sudah keluar dari dalam kamarnya.


Derral hanya mengangguk kecil saja kepada Senon, karena dia pagi itu sangat tidak mood sekali ingin berbicara.


" Sarapan anda sudah siap daritadi Tuan, apakah mau saya siapkan lagi untuk ada?? ",, kata Senon lagi dengan ramah kepada Derral.


" Saya tidak mau sarapan, simpan saja makanannya ",, jawab singkat Derral kepada Senon, tanpa menghentikan langkah kakinya dan langsung saja berlalu dari hadapannya Senon.


Dan Senon langsung juga menundukkan sedikit badannya, ketika melihat Derral pergi seperti itu.


Ketika Derral sudah keluar dari dalam mansionnya, dia langsung saja masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan juga oleh para anak buahnya.


" Kekantor ",, kata singkat dari Derral kepada anak buahnya yang menyopiri mobilnya.


" Baik Tuan ",, jawab sopan anak buahnya Derral kepada Derral.


Derral tadi yang sudah selesai bersiap-siap, dia langsung saja keluar dari dalam kamarnya, dan langsung mengantongi ponselnya kedalam saku jasnya, tanpa melihat terlebih dahulu apakah ada telefon dan pemberitahuan penting yang masuk kedalam ponselnya.


Dan ketika didalam mobil pun, Derral yang biasanya selalu mengecek ponselnya, dia sekarang hanya diam saja sambil menikmati pemandangan dari luar jendela mobilnya.


Ketika mobil yang ditumpangi oleh Derral kurang sepuluh menit lagi akan sampai diPerusahaannya, Derral yang daritadi melihat keluar jendela mobilnya, tidak sengaja melihat Ava yang sedang membantu seorang nenek yang ingin menyebrang jalan.


" Bukannya tadi itu Ava ya?? ",, kata batinnya Derral sambil menolehkan pandangannya kearah belakang kaca mobilnya.


" Iya itu Ava?? ",, kata Derral lagi sambil melihat keAva terus yang sudah semakin mengecil tubuhnya karena mobil yang dia tumpangi oleh Derral sudah semakin menjauh saja.


" Ternyata dia baik sekali orangnya ",, kata batinnya Derral lagi sambil menyandarkan lagi punggungnya kekursi mobil sambil sedikit melamun.


" Huh, semua ini memang salahku, bukan salahnya Ava ",, kata Derral lagi masih didalam hatinya sambil tersenyum miring untuk mentertawakan dirinya sendiri.


Dan tidak disadari oleh Derral mobil yang dia naiki akhirnya sampai juga didepan gedung Perusahaannya yang tinggi menjulang itu.


Derral langsung saja keluar dari dalam mobil, ketika pintunya sudah dibukakan oleh anak buahnya.


Dan disaat Derral baru saja keluar keluar dari dalam mobilnya, dia langsung saja didekatin oleh Egon yang memang sudah menunggunya daritadi.


" Tuan untung anda sudah datang, saya sudah menunggu anda daritadi Tuan ",, kata Egon kepada Derral dengan sedikit mengatur nafasnya karena baru saja berlari-lari kecil untuk mendekati Derral.


" Ada apa?? ",, tanya Derral kepada Egon dengan singkat sekali.


" Tuan Alano sudah menunggu anda daritadi Tuan, dan dia sangat marah sekali, karena sampai jam segini anda belum sampai juga dikantor, dan ketika dihubungi juga anda tidak menjawab panggilannya maupun panggilan dari saya Tuan ",, jawab Egon kepada Derral.


Derral langsung saja menunjukkan wajah malasnya ketika mendengar jawabannya Egon tadi.


" Tuan ada yang ingin saya sampaikan kepada anda dan ini mengenai tentang Tuan Alano Papi anda sendiri Tuan ",, kata Egon kepada Derral ketika mereka berdua sudah berada didalam lift.


"Jangan sekarang, karena sekarang saya sedang tidak ingin mendengar laporan apapun ",, jawab dari Derral kepada Egon.


" Baik Tuan ",, jawab Egon dengan sopan kepada Derral.


Dan setelah itu diantara mereka berdua terjadi kesunyian, sebab mereka saling pada diam.


Ting, bunyi lift berdenting yang menandakan jika mereka sudah sampai dilantai yang mereka tuju.


Derral langsung saja keluar terlebih dahulu dari Egon, dan langsung juga diikuti oleh Egon dari belakangnya.


Derral melangkahkan kakinya dengan tegap untuk menghadapi amukan atau marahan dari Papinya itu yang sudah menunggunya daritadi.


Dan ketika Derral sudah masuk kedalam ruang kantornya, dia langsung saja melihat sang Papi yang sudah duduk dikursi kerjanya sambil menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Derral maupun Egon yang masih mengikuti Derral dari belakang.


" Mau jadi apa Perusahaan ini jika atasannya saja jam segini baru saja datang??!! ",, sindir dari Papi Alano kepada Derral.


" Derral capek Pi semalam ",, jawab singkat Derral kepada Papinya.


" Apa kamu bertinju lagi semalam Derral?? ",, tanya Papi Alano kepada Derral, sebab luka memar yang ada diwajahnya Derral masih terlihat sangat jelas sekali pagi itu.


Dan Derral langsung saja mengangguk singkat kepada Papinya.


" Apakah kamu kekurangan uang Derral?? ",, tanya Papi Alano lagi kepada Derral, dan pertanyaan dari Papi Alano membuat Derral sedikit kebingungan sambil duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya.


" Maksud Papi?? ",, tanya Derral kepada Papi Alano sambil menunjukan wajah kebingungannya, begitu juga dengan Egon.


" Papi kira kamu kekurangan uang dan tidak bisa membeli ponsel kamu yang sudah rusak itu ",, jawab Papi Alano kepada Derral.


" Ponsel Derral tidak rusak Pi, dan Derral masih mempunyai banyak uang, jika cuma ingin membeli satu ponsel, bahkan pabrik ponselnya juga bisa Derral beli ",, kata Derral kepada Papi Alano.


" Oh tidak rusak ternyata, terus kenapa kalau tidak rusak daritadi Papi hubungi dan Egon juga menghubungi kamu tidak kamu angkat!! ",, kata Papi Alano lagi kepada Derral sambil berdiri dari duduknya.


" Malas saja Pi ",, sungguh jawaban dari Derral yang membuat Papi Alano menjadi gemas sekali kepada Derral.


" Iiih dasar anak ini ",, kata Papi Alano kepada Derral sambil menjitak kepalanya Derral ketika dia sudah berada didepannya Derral.


Namun Derral dia hanya diam saja ketika kepalanya dijitak cukup keras seperti itu oleh Papinya.


" Berdiri kamu!! ",, perintah tegas dari Papi Alano kepada Derral.


Dan Derral langsung saja berdiri didepannya Papi Alano dengan malas-malasan serta dia juga sudah siap jika Papi Alano akan menampar wajah tampannya atau memukulnya lebih keras lagi karena belum bisa mendapatkan seorang investor untuk Perusahaannya.


Namun dugaannya Derral salah ternyata, dan Derral juga dibuat sangat terkejut sekali oleh tindakannya Papi Alano.


Sebab Papi Alano tiba-tiba saja memeluknya dengan cukup erat sekali sambil juga menunjukkan wajah bahagianya sekali.


Dan hal itu membuat Derral sangat kebingungan sekali, karena dia fikir Papinya datang kePerusahaannya untuk marah-marah dengannya dan juga ingin mengambil saham yang dia miliki, tapi nyatanya dia malah melihat wajah dari sang Papi yang jauh berbeda dari ekspetasinya.


...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...


...***TBC***...