
Untuk mengisi kekosongan waktu, kita tidak akan membahas Ava dan Derral yang masih berada didalam pesawat.
Karena didalam pesawat ya begitu-begitu saja kegiatan yang bisa dilakukan, sebab ruang lingkup didalam pesawat hanya terbatas.
Papah Zohan, Mamah Gretl, Aaric, Ava dan juga Derral, mereka semua pada diam dengan fikiran mereka masing-masing sambil menikmati pemandangan awan yang ada diluar kaca jendela pesawat.
Ada juga yang mencoba memejamkan matanya, seperti Aaric contohnya.
Walau Aaric memejamkan matanya, tapi fikirannya melayang sampai kerumah Dian.
Perjalanan yang mereka tempuh akan membutuhkan waktu yang cukup lama, jadi yang bisa mereka lakukan ya cuma duduk sama tiduran saja.
Sedang dirumah Dian, setelah Dian memakan makan malamnya yang tadi diantarkan oleh Mamah Sherlly, dia lalu mencoba memejamkan matanya, namun sedikit susah, sebab dia tadi baru saja bangun tidur.
Rasa pusing, mual, dan tidak enak badan yang tiba-tiba menderanya membuat Dian seperti malas sekali ingin beranjak dari atas ranjang.
" Kepalaku rasanya pusing sekali ",, kata batin dari Dian sambil memijat lembut dahinya.
" Walau Mamah masih marah sama Ayah kamu, tapi Mamah tidak mungkin menggugurkan kamu sayang, kamu adalah darah daging Mamah ",, kata Dian sambil mengusap lembut perutnya.
" Jika Kakek dan Ayah kamu tidak mau mengakui kamu, Mamah akan tetap membesarkanmu seorang diri dengan tenaga Mamah, kita berjuang bersama-sama ya sayang ",, kata Dian lagi namun kali ini hanya didalam hatinya saja dengan mata yang manatap lurus kedepan.
Sedang bergeser didalam pesawat lagi, Aaric tiba-tiba saja dia bermimpi bertemu dengan seorang anak kecil yang cantik sekali dan berwajah mirip dengannya.
" Ayah............ ",, kata anak perempuan cantik itu kepada Aaric.
Membuat Aaric yang baru saja terlalap langsung saja terbangun dengan tiba-tiba yang membuat Papah Zohan mengalihkan pandangannya kearah Aaric.
" Apa gadis kecil yang ada didalam mimpiku tadi anakku?? ",, kata batin dari Aaric sambil memegangi dadanya.
" Rasanya aku semakin tidak sabar ingin segera melihat Dian ",, kata batin dari Aaric lagi dengan ekspresi yang berbeda.
Sedang geser lagi keVia dan Leon.
Keluarga Leon sudah pada bersiap-siap untuk menuju kerumah Via, sebab perjalanan yang mereka tuju tidaklah dekat.
Via sendiri juga sudah berkenalan dengan Kakek dan Nenek siLeon dan Tanisa.
" Cantik ya calon istrinya Leon, pintar Leon mencari calon istri ",, kata Nenek Leon pada waktu tadi kepada Via.
" Terimakasih Nek ",, jawab Via kepada Neneknya Leon dengan sopan.
Via juga dia sudah mengirimi pesan kepada Mamahnya tadi jika dia ikut Leon menjemput calon mertuanya.
Dan dirumah Via sendiri, Ayah Markus sengaja pulang lebih awal untuk mempersiapkan yang seharusnya dipersiapkan.
Serta Mamah Delfa sendiri ketika baru saja pulang dari arisan tadi, dia langsung menyuruh para asisstan rumah tangganya untuk menyiapkan hidangan dan lain-lainnya untuk menyambut calon besannya.
Hingga saat ini suasana didalam rumah Ayah Markus cukup sibuk sekali, untuk menyiapkan acara barbequean nanti malam bersama sang calon besan pertamanya.
Leon dan Via mereka satu mobil bersama Tanisa, sedang kedua orang tua Leon beserta Kakek dan Neneknya berada satu mobil yang sama.
Leon dan Via mereka selalu saling pandang dengan bibir yang terus tersenyum penuh arti.
Sebab mereka sedang merasa geli sendiri karena tidak bisa menyalurkan h45r4t mereka tadi, karena tertunda suatu hal.
Tanisa yang melihat kelakuan dari Kakak dan atasannya yang seperti itu, dia menjadi keheranan sendiri.
" Iya-iya yang sedang lagi pada happy, daritadi senyum terus membuat yang jomblo merasa iri ",, sindir dari Tanisa kepada Leon dan juga Via.
" Nona Via.......... ",, panggil Tanisa kepada Via.
" Sekarang kan kamu calon adik iparku, panggil saja Kakak sama seperti Leon, dan berbicaranya tidak perlu formal lagi ya Tanisa ",, kata Via menyela perkataan dari Tanisa tadi.
" Baiklah Kak Via ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Oh ya Kak, Tanisa cuma mau bilang, jika Kak Leon menyebalkan nanti jika sudah menikah, jangan beri dia jatah saja, biar tahu rasa!! ",, kata Tanisa kepada Via.
" Kamu anak kecil tahu apa tho Tanisa, ikut campur saja ",, jawab Leon kepada Tanisa.
Tanisa langsung saja tertawa lucu ketika mendengar jawaban dari Leon tadi.
" Umur kamu berapa sih Tanisa?? ",, tanya Via kepada Tanisa.
" Dua puluh tahun Kak ",, jawab Tanisa kepada Via.
" Berarti kamu seumuran dengan adikku Ozzie ",, jawab Via kepada Tanisa.
" Ko kalian berdua selisih umurnya jauh sekali, bukannya umur dari Tuan Jenderal ini sekitar empat puluh tahunan ya??, itu artinya aku sedang menikahi seorang om-om dong ",, kata Via kepada Tanisa dan juga Leon.
Tanisa langsung saja tertawa dengan cukup keras sekali ketika mendengar perkataan dari Via.
Sedang Leon dia langsung saja menjitak kepada Via dengan gemas.
" Memangnya wajah aku apa setua itu, hah?? ",, tanya Leon kepada Via.
" Iya, wajah kamu memang sudah tua, dan kamu beruntung mendapatkan wanita secantik dan semuda seperti diriku ",, jawab Via kepada Leon dengan gaya sok cantiknya.
Leon yang gemas dengan Via dia hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar jawaban dari Via tadi.
" Kak Leon dia baru berusia tiga puluh lima tahun Kak, memang Kak Leon wajahnya boros begitu, ya wajar saja jika dikira sudah berumur empat puluh tahun ",, kata Tanisa kepada Via sambil tertawa lucu.
Sebenarnya Leon tidak tua wajahnya, sesuai dengan umurnya, hanya saja Via dan Tanisa mereka berdua saat ini sedang menggoda Leon.
" Oh tiga puluh lima, aku dua puluh lima, sama saja aku menikahi om-om, dia sudah sekolah dasar aku baru lahir ",, jawab Via kepada Leon.
Tanisa pun langsung saja tertawa lucu lagi mendengar jawaban dari Via.
" Itu artinya kamu nyesel nih menjadi calon istriku?? ",, tanya Leon kepada Via.
" Tidak juga sih, soalnya aku sudah pernah melihat yang didalam yang big size .......... ",, kata Via langsung terpotong ketika mulutnya langsung dibekap paksa oleh Leon sambil mengendarai mobil.
" Kalian berdua bisa tidak sih, jangan bercanda dalam keadaan sedang menyetir seperti itu ",, kata Tanisa kepada Leon dan Tanisa.
Leon yang mendengar perkataan dari Via, dia langsung saja melotot garang kepada Via sambil memberi kode untuk jangan berbicara lagi, karena ada Tanisa diantara mereka berdua.
Namun Via malah tersenyum lucu kepada Leon, karena Leon sedang merasa malu, dan wajahnya terlihat memerah karena ada Tanisa diantara mereka saat ini.
Dan ketika mereka berbincang sambil mengobrol didalam mobil, tanpa disadari akhirnya mobil yang mereka semua naiki sudah sampai didepan pelataran rumah mewahnya Ayah Markus.
Mobil milik Ayah Cana pun yang daritadi mengikuti mobil milik Leon juga sudah berhenti tepat dibelakang mobil Leon.
Leon beserta keluarganya dan juga Via, mereka semua disambut ramah oleh Ayah Markus, Mamah Delfa dan juga Ozzie adik laki-lakinya Via.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...