
Dian sungguh sangat dibuat takut sekali dengan amukan dan amarahannya Ava nanti ketika dia tidak bisa mencegah Derral masuk kedalam ruang kerjanya.
Sedangkan Derral yang sudah masuk kedalam ruang kerjanya Ava, dia langsung saja mencari keberadaannya Ava.
Namun sebelum itu, Derral mengamati ruangannya Ava terlebih dahulu, yang ternyata sangat nyaman, bersih dan juga luas sekali, khas sekali kental dengan nuansa seorang perempuan, sangat pas sekali dengan seleranya.
" Nyaman juga ruangannya siAva, dan dia sangat mengerti sekali desain yang pas untuk dipadupadankan ",, kata Derral sambil mengamati ruangannya Ava.
" Tapi ini dimana Avanya?? ko dia tidak ada didalam ruangan sini?? ",, tanya Derral untuk dirinya sendiri, ketika Derral tidak melihat Ava sedang bekerja didalam ruang kantornya.
" Coba aku cari didalam kamar mandi ",, kata Derral lagi.
Dan Derral dia langsung saja berlalu mencari Ava kedalam kamar mandi.
" Kosong?? ",, kata Derral ketika dia sudah membuka pintu kamar mandi yang ada diruangannya Ava.
" Pasti dia sedang beristirahat didalam kamarnya yang ada disini??, tapi dimana pintunya?? ",, kata Derral lagi sambil mengamati dinding ruang kerjanya Ava.
" Ko aku curiga dengan rak buku yang ada disitu ya, karena posisi raknya seperti tidak sesuai dengan tatanan?? ",, kata Derral sambil menunjuk rak buku yang ada didalam situ.
Kemudian Derral mencoba berjalan mendekati rak buku itu, dan ketika Derral sudah sampai didepan rak buku itu, dia langsung saja meraba-raba semua badan dari rak buku itu, hingga kesudut-sudutnya juga.
Dan ketika Derral meraba-raba badan rak bukunya, dia tidak sengaja memencet sebuah tombol yang membuat rak buku itu bergeser menyamping, dan langsung menampilkan sebuah pintu yang terlihat sangat mahal sekali harganya.
Perlahan tapi pasti, Derral langsung saja membuka pintu itu dengan sangat pelan-pelan sekali.
Dan ketika sudah terbuka pintunya, Derral bisa melihat sendiri jika Ava sedang tertidur nyenyak sekali diatas ranjang mewah nan empuknya itu.
" Besar dan mewah, tipe aku sekali, dan sepertinya Ava ini dia seleranya sama sepertiku ",, kata batinnya Derral sambil mengamati kamar pribadinya Ava yang ada didalam ruang kerjanya itu.
" Dia kalau tidur begitu, sangat manis juga, dan cantik ",, kata Derral sambil melihat kearahnya Ava ketika Derral sudah berdiri disamping ranjangnya Ava.
Setelah berkata seperti itu, Derral langsung saja melangkahkan kakinya semakin mendekat saja dengan ranjangnya Ava.
Dan lalu Derral mencoba duduk diatas ranjang sebelahnya Ava, sambil menyandarkan punggungnya kesandaran ranjang.
Ketika Derral sudah berhasil duduk diranjang itu, Derral langsung saja memainkan ponselnya untuk melihat ada pesan serta email apa yang sudah masuk semua kedalam ponselnya.
Sedangkan Ava sendiri, dia yang sudah capek miring kekanan, dia lalu mencoba memiringkan badannya kekiri.
Dan disaat Ava memiringkan badannya kekiri, dia tidak sengaja memeluk pahanya Derral yang sedang terduduk diranjang sampingnya itu, hingga membuat Derral sangat terkejut sekali, sampai-sampai Derral menghentikan aksinya yang sedang membaca semua pesan masuk yang ada diponselnya itu.
Ava yang sudah berada diposisi seperti itu, dia malah semakin mendekatkan saja wajahnya kepahanya Derral.
Sebab Ava yang sedang tidak sadar, dan merasa sangat nyaman sekali, sedangkan Derral dibuat semakin tidak bisa bergerak saja karena tingkahnya Ava yang seperti itu.
Disaat Ava merasa nyaman dengan tidurnya, tiba-tiba dia merasa seperti memegang sesuatu.
Dan Ava langsung saja mencoba membuka kedua matanya, namun ketika Ava sudah membuka kedua matanya, dia dibuat sangat terkejut sekali.
" AAaaaaaaaaaaaa ",, teriak Ava dengan tiba-tiba dengan cukup kencang sekali dan sambil menjauhkan badannya dari Derral.
" Anda!!! ",, kata Ava ketika sudah bisa melihat dengan sangat jelas sekali wajah seseorang itu sambil menunjuk wajahnya Derral.
" Iya ini saya Nona Ava ",, kata Derral dengan sangat sopan sekali kepada Ava.
" Untuk apa anda disini??, dan bagaimana anda bisa tahu kamar ini??!! ",, tanya Ava kepada Derral dengan nada dinginnya sambil turun dari atas ranjangnya.
" Nona, maafkan atas semua kesalahan saya Nona, saya berjanji ingin merubah sikap saya yang kemarin kepada anda, dan tolong Nona bantu Perusahaan saya dan Papi saya ",, kata Derral mencoba merendahkan diri kepada Ava, dan menurunkan egonya demi kemajuan Perusahaannya serta Perusahaan Papi Alano.
Ava yang mendengar dan melihat sendiri wajah keputusasaan dari Derral, dia lalu tersenyum miring, sambil menyilangkan kedua tangannya diatas perutnya.
" Jika saya membantu anda, apa keuntungan yang saya dapatkan??!! ",, kata Ava kepada Derral dengan nada yang masih dingin.
" Tidak bisa menjawab kan anda?? ",, kata Ava lagi kepada Derral yang hanya diam saja.
Padalah Ava sudah sangat tahu keuntungan apa saja yang didapatkannya jika dia menjadi investor diPerusahaannya Papi Alano.
" Setahu saya dan anda sendiri pastinya, Perusahaan anda dan Perusahaan saya lebih besar Perusahaan saya, tapi kenapa anda lebih sombong daripada saya!!, harusnya yang pantas menyombongkan diri itu saya, bukannya anda!! ",, kata Ava lagi kepada Derral sambil menunjuk Derral, dan menampilkan wajah meremehkan Derral.
Derral pun dia hanya bisa diam saja, sebab apa yang dikatakan oleh Ava itu memang benar adanya.
" Tolong Nona, bantu Perusahaan saya, kalau anda tidak sudi menanamkan saham diPerusahaan saya, bantulah Perusahaan Papi saya yang sudah dia bangun sejak Papi saya menikah dengan Mami saya Nona ",, kata Derral lagi kepada Ava dengan langsung saja berlutut didepannya Ava.
" Biarlah Perusahaan saya hancur, yang terpenting jangan Perusahaan Papi saya Nona ",, kata Derral lagi kepada Ava dengan menampilkan wajah yang benar-benar sangat stress sekali.
Ava setelah mendengarkan perkataannya Derral, dia lalu berbalik badan dan berjalan menuju kearah jendela besar yang ada didalam kamar itu.
" Apapun akan saya lakukan asalkan Perusahaan dari Papi saya tidak mengalami kerugian seperti sekarang, karena ulah saya sendiri Nona ",, kata Derral lagi memohon kepada Ava dengan posisi masih sama, yaitu berlutut walau Ava sudah tidak berdiri didepannya.
" Saya akan menebus kesalahan saya demi Papi saya, dan saya akan melakukan apa saja asalkan Perusahaan dari papi saya tidak gulung tikar ",, kata Derral lagi dan lagi kepada Ava, dengan tulus dan benar-benar sekali Derral mengubur egonya yang sangat dalam sekali.
" Sungguh tidak saya sangka, seorang Derral Altezza yang sangat sombong, angkuh dan sok tampan, sekarang dia sedang mengemis kepadaku!! ",, kata Ava dengan tiba-tiba dengan posisi masih menghadap kearah jendela.
" Dimanakah Derral Atezza yang kemarin saya kenal, yang sombong dan angkuh itu??, jika kesombongan serta keangkuhan kamu itu bisa membantu Perusahaan Papi kamu yang sedang mengalami kerugian, sekarang sana bantu!!! ",, kata Ava lagi kepada Derral sambil berbalik badan menghadap kearahnya Derral.
Derral hanya bisa tertunduk pasrah dan malu akan sikapnya yang kemarin pernah dia tunjukkan itu kepada Ava.
Dan Derral juga baru kali itu berlutut kepada rekan bisnisnya, serta mengemis seperti itu, hanya demi saham besar yang ingin Ava tanamnkan kePerusahaan Papinya.
Jika tidak dalam kondisi mendesak, pastilah Derral sangat tidak mau dan tidak sudi untuk berlutut serta memohon seperti itu kepada Ava.
Apalagi perkataannya Ava gantian yang begitu merendahkannya sekali, membuat Derral merasa harga dirinya terinjak-injak, tapi mau bagaimana pun juga, itu semua karena ulah sikapnya sendiri.
...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...
...***TBC***...