Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
BERUNDING



Jika tadi kita sudah sampai diIndonesia, author akan mengajak kalian semua untuk terbang lagi keSpanyol.


Yaps Spanyol, karena kita akan membahas siChico.


Chico yang mendapat kabar dari anak buahnya jika malam itu dirumah Via begitu ramai sekali, dia merasa sangat tidak tenang sekali.


Iya malam, jika diIndonesia sudah jam lima pagi, itu artinya diSpanyol baru jam dua belas malam.


Namun kali ini author akan memajukannya lagi disekitar jam tujuh malam waktu Spanyol.


Chico sungguh merasa tidak tenang sekali, karena sang anak buah memberi laporan jika laki-laki yang mengaku sebagai calon suami dari Via datang bersama Keluarganya.


" B3r3ng53k, apa mereka akan menikah malam ini!! ",, begitulah yang tadi dikatakan oleh Chico kepada dirinya sendiri ketika berada didalam kamarnya.


" Tidak akan aku biarkan mereka bisa menikah secepat itu!! ",, kata Chico lagi kepada dirinya sendiri dengan rasa marah yang membuncah didalam dadanya.


Sedang geser dirumah mewah Ayah Markus.


Pesta barbequenan yang sudah dijanjikan oleh Ayah Markus pun berjalan dengan lancar.


Ayah Cana, Mamah Emma dan beserta kedua Kakek Neneknya Leon dan Tanisa mereka sangat menyukai sikap dari Ayah Markus dan Mamah Delfa yang sangat ramah dan humble kepada mereka semua.


" Apakah ini artinya kita akan menikahkan Leon dan Nak Via tiga hari yang akan datang?? ",, kata Ayah Cana kepada semua orang.


" Iya Tuan Cana, sesuai dengan kata Nak Leon tadi, karena hari lusa depannya dia sudah mulai sibuk mengurusi kasus yang akan dia tangani ",, jawab Ayah Markus kepada Ayah Cana dan masih didengar oleh semua orang yang ada disitu.


" Bukannya kata kamu, kamu mengambil cuti selama dua minggu Leon??",, kata Ayah Cana sambil menikmati hidangan yang ada.


" Leon memang mengambil cuti Ayah, tapi selama cuti itupun ponsel dan laptop Leon selalu bekerja terus, jadi makanya Leon putuskan untuk segera menikah terlebih dahulu dengan Via ",, jawab Leon kepada Ayahnya.


" Walau Leon bekerja dari rumah, tapi tetap saja Leon pasti akan sangat sibuk sekali ",, sambung lagi perkataan dari Leon kepada Ayah Cana dan masih didengar oleh semua orang.


" Tapi kita belum menyiapkan semuanya Leon, dari makanan, gaun dan lain-lainnya ",, kata Mamah Emma kepada Leon.


" Untuk urusan itu kita pesan yang simple dan sederhana dulu saja Mah, serta masalah gaunnya kita pesan yang sudah jadi saja karena ini kan cuma untuk pemberkatan saja ",, jawab Leon kepada Mamah Emma.


" Kita pesan yang lebih mewah nanti saja jika diwaktu acara resepsi, bagaimana Via, apakah kamu setuju dengan usul dariku ",, kata Leon lagi kepada semua orang dan juga Via yang duduk disampingnya.


" Iya Via menurut saja bagaimana baiknya, itu dibutik Via juga ada gaun pengantin sama jas pernikahan, kita bisa pakai itu dulu ",, kata Via kepada Leon dan semua orang.


" Apakah kamu mempunyai sebuah butik Nak Via??, kapan-kapan Mamah mau mampir juga dong dibutik kamu itu ",, tanya Mamah Emma kepada Via.


" Mah, butik yang Tanisa untuk bekerja itu juga milik Kak Via, dia memiliki banyak cabang butik diberbagai kota ",, kata Tanisa kepada Mamah Emma.


" Oh ya Tanisa, Mamah malah baru tahu untuk soal yang ini ",, jawab Mamah Emma kepada Tanisa dengan nada yang sedikit terkejut.


" Jika Mamah Emma mau mampir dan mengambil baju yang Mamah inginkan dibutik Via silahkan saja Mah, gratis tidak perlu membayar ",, kata Via kepada Mamah Emma.


" Eeeh jangan begitu dong, nanti kamu bisa rugi, kamu kan berbisnis Via ",, kata Mamah Emma kepada Via dan masih didengar yang lainnya.


" Iya kalau begitu bayar setengahnya saja ",, jawab Via lagi kepada calon Mamah mertuanya sambil tertawa lucu.


Selanjutnya mereka berbincang hangat dan membicarakan acara untuk pemberkatan pernikahan dari Leon dan juga Via.


Ketika mereka semua sedang pada asik mengobrol, Tanisa mencoba sedikit menjauh dan menyendiri dari mereka semua.


Ketika Tanisa sudah sedikit menjauh dari para keluarganya dan sudah juga duduk dikursi taman yang ada didekat kolam renang, dia lalu mencoba mengesave nomor siChico diponselnya.


Diumurnya yang masih dua puluhan, pastilah masih sangat membara dan sedikit tidak bisa mengontrol perasaan sukanya kepada seseorang.


Sedang Chico yang sudah menjadi pria dewasa karena dia seumuran dengan Derral, dia menganggap Tanisa masih seperti anak kecil.


Chico yang pada saat itu sedang uring-uringan sendiri didalam kamarnya, mendengar dering ponselnya yang berbunyi, dia pun langsung saja mengambil ponselnya untuk membuka ponselnya yang ternyata ada sebuah pesan masuk.


" Ini siapa sih??, tidak jelas dan aku tidak mengenal nomornya, dia juga tidak menyertakan namanya dipesan ini ",, gerutu Chico sambil berbicara sendiri ketika sudah membaca pesan yang dikirimkan oleh Tanisa tadi.


Selang beberapa menit Tanisa lalu mengirimkan pesan lagi kepada Chico.


" Saya gadis yang tadi anda tabrak Tuan ",, kata Tanisa didalam pesan yang dia kirimkan lagi kepada Chico.


Chico yang sudah menaruh ponselnya diatas ranjang, dia pun langsung saja membuka pesannya lagi.


" Oh ini nomor telefon dari gadis tadi yang aku tabrak ",, kata Chico ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Tanisa.


" Dia mengirimi pesan kepadaku, apa dia meminta pertanggung jawabanku lagi?? ",, kata Chico lagi sambil bertanda tanya kepada dirinya.


Sedangkan Tanisa diseberang sana, dia sedang menunggu dan berharap jika Chico mau membalas pesannya.


" Ko Tuan Chico belum membalas pesanku ya?? ",, kata Tanisa kepada dirinya sendiri.


Ketika Tanisa sedang memikirkan Chico, tiba-tiba saja ponsel yang dia pegang bergetar yang menandakan jika ada pesan masuk kedalam ponselnya.


" Iya Nona, saya masih ingat dengan anda, apakah ada yang bisa saya bantu, atau anda mau ingin meminta pertanggung jawaban saya lagi?? ",, begitulah balasan pesan yang Chico kirimkan kepada Tanisa.


" Berasa dia sedang menghamiliku saja untuk bertanggung jawab, eeh tapi kalau aku dihamili paksa oleh dia aku mau, walau dia tidak bertanggung jawab sekalipun, setidaknya aku mempunyai anak dari laki-laki tampan seperti dia ",, kata batin dari Tanisa dengan sangat senang sekali ketika sudah membaca balasan pesan dari Chico tadi.


" Bagaimana ya kata-katanya untuk membalas pesannya?? ",, kata Tanisa sambil melihat ponselnya.


" Aah begini saja ",, kata Tanisa lagi dan dia sudah mulai mengetik diponselnya.


" Jika saya ingin mengontrolkan kaki saya, apakah anda mau mengantarkan saya Tuan??, karena saya begini juga karena anda ",, begitulah balasan yang diketik oleh Tanisa.


" Iya Ok, akan saya usahakan, tapi waktunya jangan mendadak, karena takutnya akan bertabrakan dengan jadwal saya yang padat ",, balas langsung dari Chico kepada Tanisa.


Sungguh Tanisa sangat senang sekali ketika langsung mendapatkan balasan dari Chico, dia sampai tersenyum-senyum sendiri dengan ponselnya yang sedang dia dekap.


Via yang melihat Tanisa senyum-senyum sendiri seperti itu, dia langsung saja berjalan mendekati Tanisa dan bertanya kepada Tanisa.


" Sepertinya kamu sedang senang Tanisa, berbagi cerita dong sama Kakak ",, kata Via kepada Tanisa dan langsung ikut duduk dikursi samping Tanisa.


" Tuan Chico Kak, dia sudah tampan, dan sungguh dia juga baik, bahkan dia mau mengantarkan Tanisa untuk kontrol kakinya Tanisa Kak ",, jawab Tanisa dengan jujur kepada Via, dengan ekspresi yang terlihat sangat senang sekali.


Via sungguh sangat terkejut sekali mendengar jawaban dari Tanisa tadi.


Dan Via yang bingung mau menjawab apa kepada Tanisa, dia lalu berpura-pura ijin kekamar mandi sebentar.


Padahal aslinya Via ingin berbicara kepada Leon berdua saja tentang Chico dan juga Tanisa.


...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...


...***TBC***...