
Fara langsung saja berpura-pura sangat khawatir sekali ketika Dokter Rava yang menyamar sebagai Ayahnya terkena asma seperti itu.
" Ayaaaaaahhh!!!, Ayah kenapa Ayah, apa asma Ayah kambuh lagi?? ",, tanya Fara dengan nada yang sangat khawatir sekali.
Dokter Rava sambil memegangi dadanya dan dengan nafas yang tidak beraturan dia langsung saja mengangguk kepada Fara.
" Ambilkan obat asma Ayah Fara yang ada diatas meja didalam kamar Nak huh......huh......huh ",, kata Dokter Rava kepada Fara sambil terus berakting sesak nafas.
Derral dan anak buahnya yang ada disitu, mereka berdua masih diam saja sambil terus memperhatikan Dokter Rava dan juga Fara.
" Baik Ayah sebentar akan Fara ambilkan ",, jawab Fara kepada Dokter Rava.
Fara setelah itu dia langsung saja mencoba berlalu menuju kedalam kamar untuk mengambil obat sambil berjalan dengan pincang, padahal aslinya dia sedang merencanakan sesuatu lagi didalam kamar.
" Huh, sepertinya kamu sebentar lagi akan tamat Derral riwayat kamu, dan tubuh kamu itu akan sepenuhnya menjadi milikku ",, kata Fara ketika dia sudah berada didalam kamar sambil tersenyum miring dengan sangat licik sekali.
Fara yang sudah berkata seperti itu, dia langsung saja mengambil bungkusan obat asma yang sudah kosong yang sudah disiapkan sebelumnya.
Setelah itu Fara langsung saja berlalu keluar dari dalam kamar sambil memperlihatkan wajah sedih, marah dan juga khawatir secara bersamaan kepada semua orang.
" Ayah........... obat Ayah ini sudah habis, pasti Ayah belum minum obat kan seharian ini, makanya asma Ayah kambuh sekarang??, dan kenapa Ayah tidak bilang kepada Fara dari kemarin jika obat Ayah sudah habis ",, kata Fara kepada Dokter Rava sambil menunjukkan bungkusan obat asma yang sudah habis tadi.
" Ayah lupa bilang kepadamu Nak, tolong belikan obatnya sekarang!!, dada Ayah sudah sangat sesak sekali ",, jawab Dokter Rava kepada Fara dengan keadaan yang dia buat separah mungkin.
" Tuan, bolehkah saya meminta tolong belikan obat ini untuk Ayah saya, kaki saya mash sakit Tuan........... ini contoh obatnya ",, kata Fara memohon kepada Derral sambil menunjukkan bungkusan obat kosong tadi.
" Kamu segera belikan obatnya, pakai uang kamu dulu ",, perintah Derral kepada anak buahnya.
Fara dan Dokter Rava mereka berdua saling lirik dengan bibir yang tersenyum licik ketika mendengar Derral menyuruh anak buahnya.
" Baik Tuan ",, jawab anak buah itu kepada Derral sambil meminta bungkus obatnya tadi.
Setelahnya anak buahnya itu langsung saja berlalu keluar dari dalam apartemen tersebut untuk membelikan obat yang Fara minta tadi.
Setelah kepergian dari anak buah tadi, Dokter Rava langsung saja mengeluarkan jarum suntik yang sudah dia siapkan sejak tadi yang berisi obat bius.
" Ayah ayo kita pindah diruang Kelurga dulu biar lebih nyaman tempatnya ",, ajak Fara kepada Dokter Fara.
" Iya ayo Fara ",, jawab Dokter Rava kepada Fara.
Fara langsung saja mencoba menuntun Dokter Rava untuk berlalu menuju keruang Keluarga.
" Ayo Tuan, mari.......... ",, ajak Fara juga kepada Derral.
Akhirnya mereka bertiga saat ini sudah berada didalam ruang Keluarga apartemen tersebut.
" Fara akan ambilkan minum untuk Ayah dan Tuan itu dulu sebentar ya Ayah ",, ijin Fara kepada Dokter Rava.
" Iya Nak, jangan lupa camilannya juga ",, jawab Dokter Rava kepada Fara.
Tidak tahukah Derral, jika suntikan bius yang dibawa Dokter Rava sudah berpindah tangan ketangan Fara.
" Iya Ayah ",, jawab Fara kepada Dokter Rava.
Sedang Derral dia hanya diam saja sambil ikut duduk dishofa seberangnya Dokter Rava.
Dokter Rava hanya mengangguk saja kepada Fara, dan ketika Fara sudah berdiri serta berjalan sedikit menjauh dari mereka berdua.
Fara tiba-tiba saja langsung berbalik badan dan langsung juga menyuntikkan suntikan bius tadi ketengkuknya Derral.
Derral sangat terkejut sekali ketika ada sesuatu yang menembus tengkuk lehernya.
Dan ketika dia mencoba mencabut suntikan bius itu dia melihat Fara dan Dokter Rava sedang tersenyum licik kepadanya.
Namun Dokter Rava dan Fara mereka berdua hanya diam saja ketika Derral sedang menatap marah kepada mereka.
Setelah itu Derral mencoba berdiri dari duduknya untuk mencoba keluar dari dalam apartemen tersebut.
Dokter Rava dan Fara yang melihat Derral ingin pergi dari dalam apartemen mereka, mereka masih membiarkannya saja, sebab Dokter Rava dan Fara sangat tahu sekali jika Derral tidak akan bisa bertahan lebih lama.
Benar saja apa yang sudah mereka fikirkan, ketika Derral baru saja berjalan satu langkah, dia langsung saja jatuh tersungkur keatas lantai tersebut.
Fara dan Dokter Rava langsung saja tertawa terbahak-bahak melihat Derral sudah tidak berdaya seperti itu.
" Akhirnya aku bisa melumpuhkanmu Derral??!!!! ",, kata Dokter Rava sambil melepaskan semua penyamarannya.
" Dan aku sudah tidak sabar ingin segera bercinta dengannya Rava, sungguh dia sangat tampan sekali ",, kata Fara kepada Dokter Rava.
" Jadi menurut kamu aku ini kalah tampan dengannya Fara?? ",, kata Dokter Rava sambil berjalan mendekati Fara.
" Bukan seperti itu baby, kamu tetap yang utama untukku, tapi dia akan menjadi yang kedua setelah kamu ",, kata Fara kepada Dokter Rava sambil mencium sekilas bibir Dokter Rava.
" Kalau begitu sebelum kamu bermain-main dengannya, sekarang puaskan aku dulu Fara ",, kata Dokter Rava kepada Fara.
" Iya boleh, semua tubuhku adalah milik kamu Rava, tapi sebelum itu kamu kunci sajalah dulu pintu apartemennya ",, kata Fara kepada Dokter Rava.
" Ok........ ",, jawab Dokter Rava kepada Fara.
Dokter Rava langsung saja mengunci ganda pintu kamar apartemennya supaya tidak bisa dibuka dari luar.
Dan setelahnya dia langsung saja mendekati Fara serta langsung menggendongnya menuju kedalam kamar mereka untuk melakukan kegiatan panas mereka terlebih dahulu.
Dokter Rava dan Fara meninggalkan Derral begitu saja yang masih tergeletak tidak berdaya dilantai situ.
Sesampainya didalam kamar, Dokter Rava dan Fara langsung menciptakan permainan panas mereka dengan sangat ber941rah sekali.
Sedangkan anak buah dari Derral yang sudah kembali membeli obat, dia langsung saja bergegas untuk masuk kedalam kamar apartemen Fara.
Namun sayang seribu sayang, ketika dia sudah memencet bel pintunya cukup lama sekali, tidak ada yang membukakan pintunya sama sekali dari dalam.
Anak buah itu juga sudah mencoba menghubungi Derral, namun Derral tidak mengangkatnya sama sekali.
Iya wajar saja bagaimana Derral bisa mengangkat sambungan ponselnya, jika yang punya ponsel saja sedang pingsan karena efek obat bius yang diberikan oleh Dokter Rava tadi.
Ketika anak buah tadi yang tidak bisa menghubungi Derral, dia langsung saja mencoba menghubungi para temen-temannya yang masih berada diloby apartemen.
" Bro apakah Tuan Derral menyuruh kalian sesuatu atau meninggalkan pesan kepada kalian semua?? ",, tanya anak buah pertama kepada anak buah yang kedua.
" Tidak bro memangnya kenapa??, bukannya kamu sekarang sedang bersama Tuan Derral diatas?? ",, jawab anak buah yang kedua kepada anak buah yang pertama tadi.
" Justru ini aku sedang bingung, karena pintu apartemennya tidak segera dibukakan dari dalam, dan perasaanku merasakan tidak enak untuk Tuan Derral, bahkan ponselnya pun tidak bisa aku hubungi ",, jawab anak buah yang pertama kepada anak buah yang kedua.
" Tunggu kita disitu, dan kamu ada dilantai nomor berapa, kami semua akan segera menyusul kamu serta aku akan menelfon para anak buah yang lain untuk segera datang kegedung apartemen ini ",, jawab anak buah yang kedua kepada anak buah yang pertama tadi.
Anak buah yang pertama tadi dia langsung saja menyebutkan dilantai dan nomor berapa kamar apartemennya Fara berada.
Sedang anak buah yang kedua dia langsung saja meminta bantuan kepada anak buah yang lainnya termasuk mengabari Papah Zohan juga.
Sebab anak buah yang kedua itu tidak mau jika sampai terjadi apa-apa kepada Derral, karena nyawa mereka pasti akan melayang ditangan Papah Zohan.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...