
Chico memang sengaja memberikan kartu undangan itu kepada Ayah Markus dan juga Via.
Inti tujuannya cuma satu memberikan kartu undangan itu, supaya mereka tidak berfikir jika Chico belum bisa move on dari Via.
Terlebih lagi Chico ingin membuktikan kepada Leon, jika masih ada wanita yang bisa mengambil hatinya selain Via.
Dan supaya Leon juga bisa tenang dengan kehadirannya kelak jika bertemu secara tidak sengaja disuatu tempat nanti.
" Ben saya ada pekerjaan lagi untuk kamu ",, kata Chico kepada Ben.
" Iya Tuan ",, jawab Ben kepada Chico.
" Kamu awasi saja orang yang bernama Willy, dia adalah laki-laki yang kemarin ikut melamar Joyce namun Joyce menolaknya ",, kata Chico kepada Ben.
" Saya takut jika dia akan melakukan hal nekat seperti diriku kemarin diacara pernikahannya Via ",, sambung lagi perkataan dari Chico kepada Ben.
" Baik Tuan, nanti akan saya kerjakan ",, jawab Ben kepada Chico.
" Dan jangan lupa terus diperketat lagi penjagaan untuk acara pernikahanku nanti ",, kata Chico lagi kepada Ben.
" Beberapa anak buah anda yang berjaga dirumah anda yang dulu, dan juga yang ada dimarkas sudah saya ajak kesini Tuan, disana saya menyisahkan beberapa saja untuk berjaga disana ",, jawab Ben kepada Chico.
" Bisakah kamu mencari lagi anak buah untuk berjaga disini, sekalian untuk mengawasi Joyce ketika aku sedang tidak bisa bersamanya ",, kata Chico kepada Ben.
" Baik Tuan, nanti saya akan mencari anak buah lagi sesuai permintaan anda ",, jawab Ben kepada Chico.
" Ini kartu undangan yang akan kamu sebarkan kemana?? ",, tanya Chico kepada Ben.
Ben pun langsung saja menjelaskan kepada Chico untuk siapa sajakah kartu undangan tersebut.
" Ini artinya nanti kamu akan terbang lagi ke Spanyol Ben?? ",, kata Chico kepada Ben.
" Benar Tuan, dan saya akan tiba lagi disini sebelum hari H pernikahannya Tuan nanti ",, jawab Ben kepada Chico.
" Baiklah jika itu mau kamu, yang terpenting semua pekerjaan yang saya berikan kepadamu beres semua ",, kata CHico kepada Ben.
" Iya Tuan ",, jawab Ben kepada Chico.
Setelah mereka berbincang masalah pekerjaan, perusahaan dan juga persiapan pernikahan, akhirnya Ben berpamitan pergi kepada Chico untuk terbang lagi ke Spanyol untuk memberikan semua undangan yang dia pegang kepada rekan bisnisnya Chico.
Dan untuk Chico sendiri setelah kepergian dari Ben, dia langsung saja masuk ke dalam rumahnya untuk menemui sang Mamah.
Chico semenjak pindah ke London dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama sang Mamah.
Karena Chico ingin melihat sang Mamah sembuh seperti sedia kala.
Chico sangat berharap sekali dan selalu berdoa didalam hatinya, semoga Mamah Elsa akan segera sembuh dengan kedekatan yang dia berikan kepadanya.
Sedang beralih ke Spanyol lagi, lebih tepatnya diPerusahaan Altherr.
Aaric yang sedang ada pertemuan penting dengan Ava, dia pun saat ini sedang berada diPerusahaan Altherr yang dipimpin oleh Ava.
Senyum ramah dan sopan diberikan kepada semua karyawan yang tidak sengaja berpas-pasan bersama Aaric.
Sesampainya Aaric didepan ruang kerja Ava, dia langsung saja masuk ke dalam ruangannya Ava tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Ketika Aaric baru saja membuka pintu, dia langsung saja melihat Ava sedang sibuk menelfon seseorang menggunakan telefon yang ada diatas meja kerjanya.
" Baiklah nanti akan saya hubungi lagi ",, kata Ava yang didengar oleh Aaric.
Ava yang melihat sang Kakak datang kekantornya, dia langsung saja mematikan sambungan telefonnya.
Dan sedang Aaric dia langsung saja duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya Ava.
" Ada apa Kakak kemari??, apakah ada hal penting?? ",, tanya Ava kepada Aaric.
Ava langsung saja membaca semua berkas-berkas penting yang baru saja dibawakan oleh sang Kakak dengan sangat serius sekali.
Setelah beberapa menit membaca Ava pun langsung saja bertanya lagi kepada Aaric.
" Ko Kakak yang bawa, bukannya ini Ava sudah serahkan kepada Derral?? ",, tanya dari Ava kepada Aaric.
" Derral kemarin sudah mengurusnya, tapi karena berhubung dia tidak tahu alamat warisan yang diberikan Opa, dia meminta tolong kepada Kakak sekalian Ava ",, jawab Aaric kepada Ava.
" Kenapa Derral tidak bertanya saja kepadaku, kan Ava bisa memberitahukannya Kak?? ",, kata Ava kepada Aaric.
" Iya mana Kakak tahu Ava, itu suami kamu, kamu tanya saja kepadanya ",, jawab Aaric kepada Ava.
" Mungkin juga Derral tidak mau membuat kamu tambah pekerjaan dan kelelahan, jadi dia sengaja bertanya kepada Kakak ",, kata Aaric lagi kepada Ava.
" Iya mungkin juga ",, jawab Ava kepada Aaric.
" Dan map yang itu isinya apa Kak ?? ",, tanya Ava kepada Aaric sambil menunjuk map yang satunya lagi.
" Oh ini map tentang kerjasama kita Ava, dan juga kerjasama Perusahaan Altherr dengan Perusahaan mesin itu ",, jawab dari Aaric kepada Ava.
" Sini coba Ava lihat dulu Kak ",, kata Ava kepada Aaric.
Dan Aaric langsung saja memberikan kedua map tersebut kepada Ava.
Seperti tadi, Ava langsung saja membaca dengan sangat serius sekali semua berkas yang diberikan oleh Aaric.
Sedang Aaric sendiri sambil menunggu Ava mempelajari dan memahami semua berkas-berkasnya, dia memilih berjalan-jalan didalam ruang kerja Ava untuk melihat-lihat.
" Ruangan kamu sepertinya ada yang berubah ya Ava, tapi apa?? ",, kata Aaric kepada Ava.
Ava walau dia sedang sangat serius membaca, tetap saja Ava masih bisa menyahuti perkataan dari Aaric.
" Iya, ada yang sedikit dirubah sama Derral, katanya dia tidak suka ",, jawab Ava kepada Aaric dengan mata yang masih tertuju kepada berkas yang dibacanya.
" Oh ya itu shofa baru ya, terakhir kalinya Kakak kesini shofanya tidak berwarna itu?? ",, tanya Aaric lagi kepada Ava.
" Iya itu memang baru beli, pakai uang Derral sendiri, katanya dia kemarin waktu mengurus Perusahaan ini, dia jenuh dan tidak suka dengan warna shofa yang lama ",, jawab Ava kepada Aaric.
" Terus shofa yang lama dikemanakan Ava, itukan masih baru?? ",, tanya Aaric kepada Ava.
" Itu ada didepan, apa Kakak tidak melihatnya tadi waktu masuk kesini?? ",, jawab Ava lagi kepada Aaric.
" Masa sih??, nanti aku perhatikan lagi deh kalau sudah keluar ",, kata Aaric kepada Ava.
" Kakak,.......... Kakak bisakah diam dulu, Ava pusing daritadi Kakak mengajak berbicara terus sedang Ava ingin fokus membacanya ",, kata Ava kepada Aaric.
" Hehehe maaf, iya baiklah Kakak akan diam dulu, kamu teruskan saja membacanya ",, kata Aaric kepada Ava sambil tertawa seperti tanpa dosa.
Setelahnya Aaric langsung saja diam dan tidak mau banyak bertanya maupun menganggu Ava lagi.
Sedang Ava sendiri dia lalu melanjutkan membaca semua berkas-berkas penting itu untuk dia fahami isinya.
Dan ketika Ava sedang serius membaca, tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar.
Aaric langsung saja berinisiatif membukakan pintunya, yang ternyata yang mengetuk adalah sekretarisnya Ava yang sudah pulang dari membeli makanan.
Iyaps tadi, memang Ava menyuruh sekretarisnya untuk membeli makanan.
Karena tiba-tiba saja perut Ava terasa lapar setelah menandatangani berkas-berkas yang menumpuk dan mengerjakan semua file-filenya didalam komputer.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...