
Pagi pun menjelang, Derral dan Ava mereka berdua masih berpelukan mesra diatas ranjang nan empuk milik mereka walau waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Ava yang ingin berganti posisi dengan menghadap kearah Derral, membuat Derral langsung terbangun dari tidurnya karena pergerakannya Ava.
Dan si4lnya posisi Ava tidur sangat menantang sekali untuk Derral j4m4h lagi dibukit kleponnya itu.
Serta untuk kebiasaan para laki-laki dipagi hari pada waktu bangun tidur ya langsung onlah itu tongkat baseball milik Derral.
Semakin tegak pula tongkat baseball milik Derral ketika disuguhi pemandangan yang langsung memicu adrenalinnya.
Tanpa sepengetahuan dari Ava dan tidak membangunkan Ava sama sekali, sebab Derral sangat pelan-pelan sekali bergeraknya, Derral langsung saja men3n3n bagai seorang bayi lagi dibukit klepon milik Ava.
Ava yang sedikit kecapean karena kegiatannya semalam dengan Derral, dia tidak sadar jika Derral sedang mengh154p nikmat bukit kleponnya itu.
Derral yang sudah puas mengh154p bukit kleponnya Ava, dia lalu mencoba merubah posisi tidur Ava menjadi terlentang.
Dan tanpa sepengetahuan dari Ava lagi, Derral langsung membuka kaki Ava dengan lebar dan langsung juga memasukkan lagi tongkat baseball miliknya itu kedalam celah surga dunia milik Ava tanpa ada pemanasan sama sekali.
" Aaaaaaaaaaaaaa ",, teriak dari Ava karena terkejut dengan ulah dari Derral.
" Aaaassshhhh, sakit Derral apa yang kamu lakukan?? ",, tanya dari Ava sambil menikmati gerakan moonwalknya Derral.
" Sedang melepaskan sesuatu yang biasa para kaum pria alami ketika bangun tidur dipagi hari ",, jawab Derral sambil terus menggerakkan maju mundur dengan teratur tongkat baseballnya itu.
Ava yang terkejut, walau masih sakit dibagian inti bawahnya, dia tetap mencoba menikmati permainan dari sang suami yaitu Derral yang mengajaknya mengulangi kegiatan mereka untuk kedua kalinya dipagi hari.
Sedangkan pagi dimansion Papah Zohan, Aaric semalaman dia tidak bisa tidur sama sekali, sebab Aaric dia kefikiran dengan Dian yang sedang menghindar darinya dengan pergi dari Spanyol.
Entah kenapa perasaan Aaric menjadi kacau ketika ditinggal Dian dengan tiba-tiba seperti itu.
Bahkan orang suruhannya pun belum memberikannya kabar yang bagus dimana keberadaan dari Dian.
Aaric malam itu dia mencoba menemui Ava didalam kamar Ava untuk meminta maaf sekaligus bertanya kepada Ava dimana Dian berada.
Sebab Aaric sangat yakin sekali, jika Ava pasti tahu keberadaan dari Dian.
Aaric yang sudah mengetuk pintu kamar Ava sekitar lima menitan dan tidak dibukakan juga oleh Ava, dia lalu memutuskan melangkahkan kakinya lagi menuju kedalam kamarnya.
Namun ketika Aaric baru saja berjalan dua langkah dari depan pintu kamar Ava, dia langsung saja disapa oleh Bibi Brey sang kepala asisstan mansion Papah Zohan.
" Tuan Aaric apa sedang mencari Nona Ava?? ",, tanya Bibi Brey kepada Aaric.
Dan Aaric langsung saja menganggukkan kepalanya kepada Bibi Brey.
" Nona Ava tadi setelah makan malam, dia langsung diajak Tuan Derral untuk tinggal dimansion Tuan Derral Tuan Aaric ",, kata Bibi Brey lagi kepada Aaric.
Tidak seperti Aaric biasanya, dia setelah mendengar perkataan dari Bibi Brey, tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Bibi Brey, Aaric langsung saja berlalu pergi dari hadapan Bibi Brey.
Dan Bibi Brey yang dicuekin seperti oleh Aaric, dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja, sebab hal seperti itu sudah hal lumrah yang sering dia hadapi.
Sedangkan Mira anak Bibi Brey yang sangat dekat dengan Ava, dia saat ini sedang berada dirumah Neneknya, jadi Mira tidak tahu jika Ava sudah pindah kemansion Derral.
Aaric yang sudah kembali kedalam kamarnya, dia masih tidak bisa tidur dan memejamkan matanya hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Dan Aaric baru bisa tidur sekitar jam tiga pagi, sehingga membuatnya sedikit terlambat bangun pagi ini.
Dengan langkah lesu dan seperti mayat hidup, Aaric langsung saja bangun dari atas ranjang dan langsung juga menuju kedalama kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap berangkat kekantor.
Sedang kita geser kerumah mewah milik Leon Kakak dari Tanisa.
Via pagi itu bangun tidurnya dia sedikit kesiangan sekitar jam tujuh pagi, karena badan dia sangat capek sekali, itulah membuatnya jadi sedikit kesiangan bangunnya.
Padahal rencana dari Via semalam dia ingin bangun sekitar jam enam pagi, akan tetapi malah molor menjadi jam tujuh pagi.
" Ini dimana dapur milik Tanisa, haus sekali tenggorokanku ",, kata Via sambil terus berjalan dengan mata yang masih sedikit mengantuk.
Via yang berjalan dengan masih mengantuk, dia tidak sengaja menyandung anak tangga kecil penghubung antara satu ruangan dengan ruangan lainnya dan hampir saja terjatuh, jika tidak ada orang yang menolongnya.
Dan orang yang menolong Via adalah Leon.
Mata Via langsung saja terbuka dengan sangat lebar sekali ketika dia mengalami nasib yang hampir jatuh mencium lantai yang keras itu.
Via langsung saja melihat kearah orang yang sudah menolongnya, semakin terkejut pula ketika melihat wajah Leon begitu dekat dengannya.
" Emm, terimakasih Tuan Leon ",, kata Via kepada Leon dengan perasaan malu.
" Iya, dan anda mau kemana?? ",, tanya dingin tanpa ekspresi dari Leon kepada Via.
" Mau minta air putih, dan saya sedang mencari dapur anda ",, jawab Via kepada Leon.
" Ada disana ",, jawab Leon dengan singkat kepada Via sambil menunjuk kearah dapurnya.
'' Terimakasih Tuan Leon ",, kata Via kepada Leon.
Namun Leon tidak menjawab perkataan dari Via dan dia langsung saja berlalu pergi dari hadapannya Via.
Via yang melihat Leon terlalu bersikap dingin kepadanya, dia langsung saja menggerutui Leon.
" Sudah badannya kekar, dingin pula, aku bawakan lava gunung berapi baru tahu rasa, biar meleleh itu esnya ",, gerutu Via untuk Leon.
Setelahnya Via langsung saja mengambil segelas air putih untuk dia bawa kedalam kamar yang semalam dia tempati.
Via yang sudah minum segelas air putihnya didalam kamar, dia langsung saja mandi, dan langsung ingin bergegas pergi dari dalam rumah itu untuk mencari rumah yang akan dia tinggali sementara waktu dikota itu.
Ketika Via sudah selesai berdandan dan bersiap-siapnya, serta Via juga sudah berada diluar kamarnya, dia langsung saja mencari keberadaan dari Tanisa maupun Leon.
Namun yang Via temui cuma Leon saja, sebab Tanisa sudah berangkat kebutik miliknya sejak jam setengah tujuh pagi tadi.
Leon yang sedang membaca koran diruang keluarga, dia langsung saja didekati oleh Via.
" Eemm Tuan Leon ",, panggil Via kepada Leon sambil duduk dishofa seberangnya Leon.
" Hmm ",, jawab singkat dari Leon kepada Via tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari koran yang dibacanya.
" Bolehkah saya bertanya kepada anda Tuan?? ",, kata Via kepada Leon.
" Hmm ",, jawab hmm lagi dari Leon kepada Via.
Dan jawaban Leon yang hmm saja daritadi lama-lama membuat Via menjadi gemas sendiri, namun masih bisa Via tahan, supaya Via tidak sampai mencakar wajah dingin dari Leon.
" Apakah anda tahu dimana rumah yang sedang dijual disekitar sini Tuan Leon, karena saya ingin membeli rumah dikota ini yang dekat dengan butik milik saya ",, kata Via kepada Leon.
" Tahu ",, jawab Leon dengan singkat lagi kepada Via.
" Bolehkah antarkan saya untuk melihat rumah itu ",, kata Via kepada Leon.
" Nanti saja, karena sekarang saya sedang malas ",, jawab yang super dingin sekali dari Leon, tanpa melihat Via sama sekali, dan malah masih asik dengan koran yang sedang dibacanya itu.
Via yang gemas dengan Leon, dia langsung saja mengepalkan kedua tangannya didepan koran yang sedang dibaca oleh Leon.
Namun aksinya Via ketahuan oleh Leon, karena Leon langsung saja menurunkan koran yang dibacanya itu, dan membuat Via langsung tersenyum garing kepada Leon dengan kedua tangan yang sedang mengepal tepat didepan wajah Leon.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...