
Derral terus memajukan laju mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang sekali.
Sebab Derral sungguh sangat tidak sabar sekali ingin segera sampai ditempat yang cukup ramai tempatnya didaerah situ.
Karena daerah dekat vilanya Ava, benar-benar sangat sepi sekali tempatnya, jika malam, pastilah akan sedikit menyeramkan jika tidak terbiasa ditempat seperti itu.
Namun jika cuacanya cerah, akan sangat indah sekali pemandangan yang disuguhkan dari daerah vilanya Ava.
Makanya Ava sangat betah jika dia berada divilanya itu, dan Ava juga sangat senang bisa mempunyai vila pribadi didaerah pegunungan itu.
Sekitar satu jam lamanya Derral mengendarai mobilnya, akhirnya dia sampai juga dijalan raya yang sudah cukup padat kendaraannya.
Sambil melihat-lihat dan mencari sebuah restoran atau Cafe Derral terus melajukan mobilnya dengan sedikit mengurangi kecepatannya.
Hingga akhirnya Derral membelokkan stir mobilnya kesebuah restoran yang cukup mewah yang plang besar restorannya sudah terlihat dari kejauhan.
Setelah memarkirkan mobilnya diparkiran restoran, Derral langsung saja keluar dari dalam mobilnya untuk masuk kedalam restoran.
Ketika sudah sampai didalam restoran, Derral langsung saja didekati oleh karyawan restoran untuk menanyakan tempat atau kursi yang diinginkan oleh Derral.
Tentu saja Derral menginginkan tempat yang sedikit privasi karena dia ingin menelfon Ava, dan tempat yang dipilih Derral adalah ruang VIP yang ada didalam restoran tersebut.
Derral yang sudah sampai dan juga sudah duduk anteng dishofa yang ada didalam ruang VIP tersebut.
Derral dengan segera menyebutkan makanan dan minuman yang ingin dimakanannya itu kepada seorang waiter, supaya dia bisa segera menghubungi Ava.
Setelah kepergian dari waiter tadi, Derral langsung saja melihat kearah nomor ponselnya Ava lagi yang sudah dia simpan didalam ponselnya itu.
" Ava??, aku harus menelfonnya sekarang ",, kata Derral dan dia langsung saja segera memencet tombol telefon untuk menelfon Ava.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore tanpa terasa.
Dan Ava dia masih tidur cantik diatas kasurnya yang empuk dan mahal itu.
Mendengar suara dering ponselnya yang sungguh berisik dan sedikit mengganggu mimpi indahnya pun.
Ava langsung saja mengangkat sambungan telefonnya tanpa melihat lagi siapa yang sedang menelfonnya.
" Halo Bi Odet, Ava kan sudah bilang sepatunya disimpan saja didalam lemarinya Ava saja yang ada didalam kamar ",, kata Ava ketika dia mengangkat sambungan telefonnya Derral.
Sebab Ava berfikir dan masih mengira jika yang menelfonnya adalah pembantu yang ada divilanya.
Derral yang mendengar perkataan aneh, dengan suara orang yang seperti sedang tidur pun, dia langsung saja menjauhkan sedikit ponselnya sambil melihat kearah ponselnya.
Derral lalu menempelkan lagi ponselnya ketelinganya, dan dia langsung saja mengucapkan kata halo kepada Ava.
" Halo ",, kata Derral kepada Ava.
Dan gantian Ava yang sedikit terkejut, hingga dia langsung saja membuka matanya dengan sangat lebar sekali.
Karena Ava sedikit terkejut sebab dia fikir yang menelfonnya adalah pembantu yang ada divilanya.
" Siapa ini?? ",, tanya Ava kepada Derral.
" Apa kamu tidak mengenali suaraku Nona Ava?? ",, jawab Derral kepada Ava.
Ava langsung saja menjauhkan ponselnya untuk melihat siapakah yang sudah menelfonnya.
Dan Ava melihat ada nomor yang tidak dia kenali sedang menelfonnya.
" Kamu siapa sebenarnya, jika tidak ada kepentingan saya akan menutup telefonnya, kamu mengganggu waktu tidurku ",, kata Ava kepada Derral.
" Silahkan saja tutup telefonnya Nona Ava, namun saya tidak akan berhenti untuk menelfon anda terus ",, jawab Derral dengan sangat santai sekali kepada Ava.
Derral sungguh sangat tidak suka sekali dengan perkataannya Ava yang selalu menggunakan Bahasa Jawa seperti itu.
Hingga akhirnya Derral reflek mengucapkan perkataan kepada Ava yang mana membuat Ava menjadi tahu, siapa yang sedang menelfonnya saat itu.
" Bisa tidak sih Nona, kalau berbicara itu menggunakan Bahasa manusia ",, kata Derral kepada Ava dengan nada yang sedikit geram.
Ava yang mendengar nada serta perkataannya Derral, akhirnya Ava tahu sudah siapa yang sedang menelfonnya.
" Oh ternyata yang menelfonku adalah kamu tho Tuan Derral yang sombong ",, kata Ava kepada Derral.
" Tidak apalah sombong, memang kenyataannya saya ada yang disombongkan ",, jawab Derral dengan nada dan gayanya yang angkuh.
Ava yang tadi mengantuk dia langsung saja sadar seratus persen ketika mendengar perkataannya Derral yang sungguh sangat songong sekali menurutnya itu.
" Kuwe iku ki manungso podo karo aku, ora perlu sombong, sebab kesombonganmu iku kabeh sing ngawehi Gusti Allah "
" ( Kamu itu manusia sama seperti aku, tidak perlu sombong, sebab kesombonganmu itu semua pemberian dari Allah ) ", kata Ava kepada Derral.
Dan wajar saja jika Ava bisa berkata Gusti Allah seperti itu, sebab semua pekerja divila sang Opa dan Oma semuanya beragam Islam.
" Dasar gadis aneh!! ",, kata Derral kepada Ava.
Dan Derral yang gemas dia langsung saja mematikan sambungan telefonnya tanpa mau mendengar suara serta perkataannya Ava lagi.
Sedangkan Ava, dia langsung saja mencibir sebal kepada Derral yang tiba-tiba sudah mematikan sambungan telefonnya itu.
" Kamu itu yang laki-laki aneh, tahu-tahu menelfonku, dan mengganggu hidupku terus dari kemarin ",, gerutu Ava kepada ponselnya.
Derral yang sudah mematikan sambungan telefonnya Ava pun, dia malah langsung merasa menyesal, sebab ada yang ingin dia bicarakan kepada Ava, malah sudah keburu sebal duluan.
" Aaarrggghh, biar sajalah, nanti aku telefon dia lagi, sekarang aku sudah tidak mood lagi, gara-gara dia selalu menggunakan Bahasa yang sungguh membuat telingaku terasa gatal ",, kata Derral juga berbicara sendiri.
Setelah itu Derral langsung saja menikmati makanan dan minuman yang dipesannya yang sudah datang daritadi untuk meredakan rasa sebalnya kepada Ava.
Dan untuk Ava sendiri, dia yang sudah tidak mengantuk lagi gara-gara Derral.
Ava langsung saja beranjak berdiri dari ranjangnya itu untuk menuju kedalam kamar mandi miliknya.
" Aaaah sudah sore ternyata ",, kata Ava ketika dia melihat jam yang menggantung didinding kamarnya itu.
" Mandi dululah, merilaxkan otak sejenak, sebelum menghadapi amukannya Baginda Raja ",, kata Ava lagi sambil berlalu menuju kedalam kamar mandinya.
Dan didalam kamar mandi, Ava dia benar-benar memanjakan dirinya dengan sambil berendam didalam bathtubnya.
Ava sangat menikmati sekali masa berendamnya itu, sambil mendengarkan music dari ponselnya yang dia taruh cukup jauh dari jangkauannya, supaya tidak terkena air, dan tercebur kedalam bathtubnya.
Terlebih lagi bisa menyebabkan dia kesetrum, itu sangat Ava hindari sekali.
Sedang diluar kamarnya Ava, tepatnya dihalaman mansion, Aaric sang Kakak kandungnya Ava, yang melihat ada mobilnya Ava sudah terparkir rapi dihalaman mansion.
Dia langsung saja melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam mansion dan bertanya kepada pekerja mansion, apakah benar jika Ava sudah pulang.
" Benar Tuan muda, Non Ava dia sudah pulang daritadi, dan dia sedang tidur didalam kamarnya ",, jawab Mira kepada Aaric.
Sebab Aaric bertanyanya kepada Mira, yang kebetulan lewat didepannya untuk memanggil Ava didalam kamarnya.
Aaric hanya beroh ria saja menanggapi perkataannya Mira, dan setelahnya dia langsung saja melangkah kakinya untuk masuk kedalam kamarnya sendiri yang berada dilantai dua yang ada dimansion tersebut.
...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...
...***TBC***...