
Singkat cerita malam pun tiba, saat ini semua Keluarga Altherr sudah sampai dirumah mewah milik Ayah Chyou.
Tidak lupa sang Opa dan sang Oma mereka berdua juga ikut dalam bertamu kerumah Ayah Chyou malam ini.
" Mari-mari silahkan masuh Tuan Zohan dan semuanya ",, sapa ramah dari Ayah Chyou kepada Papah Zohan dan semua orang.
Untuk pertama kalinya Aaric bertamu kerumah Dian, dia sedikit merasa canggung walau sedang datang bersama Keluarga besarnya tidak sendirian.
Dan Aaric yang tidak melihat Dian untuk menyambutnya serta para Keluarganya, dia sedikit mengalihkan pandangannya kesemua ruangan.
Karena siapa tahu Dian ada disitu, namun Dian hanya duduk saja tidak ikut berdiri bersama para Keluarganya.
Namun ketika semua orang sudah pada duduk tenang diruang tamu rumah mewah Ayah Chyou, Dian pun masih tidak kelihatan batang hidungnya.
" Emm maaf permisi........ ini Diannya sendiri dimana ya Tuan, Nyonya?? ",, tanya dari Mamah Gretl kepada Ayah Chyou dan Mamah Sherlly.
Dan pertanyaan dari Mamah Gretl sudah mewakili pertanyaan yang sedang dipertanyakan oleh Aaric didalam hatinya.
" Mohon maaf sekali Nyonya, Tuan, Dian sedikit tidak enak badan, dan dia benar-benar tidak kuat untuk bangun dari atas ranjang, karena efek kehamilannya, bahkan Dian tadi baru saja pingsan karena rasa pusing yang dia rasakan ",, jawab sopan dari Ayah Chyou kepada Mamah Gretl dan masih didengar oleh semua orang.
Aaric sungguh sangat terkejut sekali ketika mendengar jawaban dari Ayah Chyou tadi.
Tidak cuma Aaric saja yang terkejut mendengar perkataan dari Ayah Chyou tadi, melainkan semua Keluarga Altherr.
Sebab mereka semua tidak menyangka, dimasa kehamilannya Dian sampai tepar tidak berdaya sama sekali.
Dan Aaric pun dia sampai reflek berdiri serta berteriak cukup keras hingga mengakibatkan semua orang langsung saja pada terkejut.
" Emm maafkan sikap saya Nyonya, Tuan, karena saya benar-benar sangat terkejut ketika mendengar Dian sedang sakit, dan bolehkah saya melihat Diannya Tuan, Nyonya?? ",, kata Aaric kepada Ayah Chyou dan Mamah Gretl.
Ayah Chyou sebelum menjawab perkataan dari Aaric, dia langsung saja mengalihkan pandangannya kearah sang Istri yaitu Mamah Sherlly.
Dan Mamah Sherlly yang ikut melihat kearah Ayah Chyou pun, dia langsung saja menganggukkan kepalanya kepada Ayah Chyou.
" Baiklah, silahkan Nak, mungkin dengan adanya kamu disisi Dian, Dian bisa menjadi lebih baik lagi keadaannya ",, kata Ayah Chyou kepada Aaric.
Dan perkataan dari Ayah Chyou reflek langsung saja dianggukin oleh semua orang yang ada disitu.
" Terimakasih Tuan ",, jawab Aaric kepada Ayah Chyou.
Ayah Chyou hanya mengangguk saja kepada Aaric.
" Kak Lii antarkan calon adik ipar kamu kedalam kamar Dian ",, kata Ayah Chyou kepada Kak Lii.
" Baik Ayah ",, jawab Kak Lii kepada Ayah Chyou.
" Sekali lagi terimakasih Tuan ",, kata Aaric lagi kepada Ayah Chyou.
" Iya sama-sama ",, jawab Ayah Chyou kepada Aaric.
" Mari saya antarkan kamu kekamar Dian ",, kata Kak Lii kepada Aaric.
Dan Aaric pun hanya mengangguk saja kepada Kak Lii, setelah itu mereka berdua langsung saja pergi dari dalam ruang tamu meninggalkan semua Keluarga mereka.
Kak Lii yang sudah merasa cukup jauh dari ruang tamu dan semua Keluarganya, dia tiba-tiba saja langsung berbalik badan dan langsung juga memberikan sebuah bogem mentah kewajah tampan Aaric.
Aaric yang tidak ada persiapan sama sekali, dia begitu terkejut hingga dia sampai tersungkur keatas lantai yang dingin itu.
" Bangun!! ",, kata Kak Lii kepada Aaric.
Aaric pun langsung saja bangun, dan ketika sudah bangun, Aaric langsung lagi diberikan bogem mentah oleh Kak Lii.
" Itu balasan dari kelakuan kamu yang sudah menghamili Dian sebelum menikah, dan kamu tidak tahu betapa terpuruknya Dian ketika dia dikasih tahu oleh Dokter jika dia sedang positi hamil hah!! ",, kata Kak Lii kepada Aaric.
Aaric tidak mau membalas pukulan dari Kak Lii, sebab Aaric mengakui jika dia memang bersalah.
" Dan ijinkan saya untuk memperbaiki semua kesalahan saya Tuan Lii ",, sambung lagi perkataan dari Aaric kepada Kak Lii.
" Sudah cepat temui Dian, kasihan dia seharian ini ",, kata Kak Lii sudah mulai tidak setegas tadi nada bicaranya kepada Aaric.
" Baik Tuan ",, jawab Aaric kepada Kak Lii.
Setelahnya mereka berdua langsung saja melanjutkan langkah kaki mereka menuju kedalam kamar Dian.
Ketika sudah sampai didepan kamar Dian, Kak Lii tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dia langsung saja masuk kedalam kamar Dian.
Dan disaat Kak Lii serta Aaric sudah masuk kedalam kamar Dian, mereka berdua langsung saja melihat Dian sedang tertidur dengan wajah yang terlihat sangat pucat.
Kak Lii hanya mengkode tangan saja kepada Aaric, jika dia akan meninggalkan mereka berdua saja supaya bisa berbincang dari hati kehati.
" Terimakasih ",, kata Aaric kepada Kak Lii dengan tanpa suara supaya tidak membangunkan Dian yang sedang tidur.
Kak Lii hanya mengangguk saja kepada Aaric, dan setelahnya Kak Lii langsung keluar lagi dari dalam kamar Dian serta menutup pintunya dari luar.
Aaric yang sudah ditinggal pergi oleh Kak Lii, dia langsung saja berjalan kearah ranjang dan langsung juga duduk dipinggir ranjang tempat Dian tidur.
Sebelum membangunkan Dian untuk dia ajak berbicara, Aaric langsung mengusap lembut perut Dian yang tertutup dengan selimut.
" Anakku ",, kata batin dari Aaric sambil terus mengusap perutnya Dian dengan lembut.
Dian yang merasa seperti ada seseorang yang menyentuh perutnya, dia pun akhirnya mencoba membuka matanya.
Dan alangkah terkejutnya Dian ketika dia sudah membuka mata ada Aaric sudah duduk didepannya sambil tersenyum manis kepadanya.
" Kak Aaric.............. ",, kata Dian dengan nada yang sangat terkejut terkejut sambil langsung duduk dari rebahannya.
" Halo Dian, apakah kamu masih ingin pergi lagi dari Kakak, dan menyembunyikan dia dari Kakak ",, kata lembut dari Aaric kepada Dian sambil tersenyum manis.
" Sejak kapan Kak Aaric berada disini?? ",, tanya Dian kepada Aaric, dan tidak menjawab perkataan dari Aaric tadi.
" Cukup lumayan, rasanya Kakak senang sekali bisa mengusap perut kamu seperti tadi ",, jawab Aaric kepada Dian.
Dian hanya diam saja tidak menjawab perkataan dari Aaric, namun Dian malah terus menatap lekat kearah Aaric.
Aaric yang tidak sengaja melirik kearah meja samping ranjang yang penuh dengan obat serta vitamin untuk ibu hamil, dia pun akhirnya ada bahan perbincangan bersama Dian.
Karena sebenarnya Aaric sedang bingung mau memulai darimana untuk berbicara kepada Dian.
" Apakah kamu sudah minum obatnya Dian??, karena Kakak tidak mau jika anak kita kekurangan gizi didalam sana ",, kata Aaric kepada Dian.
" Apa Kakak mengakui jika dia memang anak Kakak??, apa Kakak tidak curiga jika dia bukan darah daging Kakak, bisa jadi kan Dian melakukan hal itu lagi dengan orang lain selain Kakak ",, kata Dian kepada Aaric.
Aaric sebelum menjawab perkataan dari Dian, dia langsung saja tersenyum lucu.
" Tentu saja Kakak percaya seratus persen jika anak yang sedang kamu kandung itu adalah anak Kakak Dian ",, jawab Aaric kepada Dian.
" Kakak tahu jika Kakak yang pertama untuk kamu, dan walau kita baru dekat akhir-akhir ini, tapi Kakak sudah memperhatikan kamu sejak dulu ketika kamu awal berteman dengan Ava ",, sambung lagi perkataan dari Aaric kepada Dian.
" Dan Kakak juga tahu, jika kamu bukan wanita yang sembarangan mudah dekat dengan para laki-laki diluaran sana ",, lanjut lagi perkataan dari Aaric kepada Dian.
Dian sedikit bingung mau menjawab bagaimana perkataan dari Aaric tadi.
Karena bagaimana pun Dian mengelak, pastilah Aaric akan yakin jika anak yang sedang dia kandung adalah anaknya, bukan anak dari laki-laki lain.
...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...
...***TBC***...