
Derral dan Ava saat ini mereka berdua sudah berada didalam kamar mereka sendiri.
Dan Derral langsung juga membantu Ava untuk merebahkan badannya diatas ranjang.
" Istirahatlah, aku mau kedalam kamar mandi sebentar ",, kata Derral kepada Ava.
Ava hanya mengangguk saja menanggapi perkataan dari Derral.
Setelahnya Derral langsung saja melangkahkan kakinya menuju kedalam kamar mandi.
Sepeninggalan dari Derral, Ava yang belum ingin memejamkan matanya, dia lalu mencoba memainkan ponselnya.
Ternyata ada begitu banyak pesan masuk keponsel Ava dari Via yang Via kirimkan sejak setengah jam yang lalu.
" Dasar si Via, selalu suka sekali mengerjai laki-laki yang mencoba mendekatinya ",, kata Ava ketika dia sudah membaca pesan dari Via.
" Tapi aku lihat Tuan Chico dia berbeda dari laki-laki yang selama ini mengejar Via ",, kata Ava lagi sambil memikirkan sesuatu.
Setelah itu Ava mencoba membalas pesan dari Via yang tadi bercerita jika dia semalam baru saja mengelabuhi Chico yang ingin tahu alamat rumah dan apartemennya.
" Hati-hati Via, sepertinya Chico dia laki-laki yang sedikit berbahaya ",, balas Ava kepada Via.
" Berbahaya mana sama rentenir yang suka nagih hutang Ava?? ",, balas Via lagi kepada Ava dengan cepat, sebab Via ternyata sedang memegang ponselnya.
" Kamu ini ya Via dikasih tahu malah seperti itu balasannya, saya tidak bertanggung jawab lho jika Tuan Chico membalas perbuatanmu semalam ",, balas Ava lagi kepada Via.
" Biar sajalah, aku tidak takut ",, balas Via lagi kepada Ava sambil ditambahi emoticon tertawa.
Namun ketika Ava ingin membalas lagi pesan dari Via, pandangan Ava langsung teralihkan kepintu kamar mandi yang baru saja terbuka dari dalam.
" Belum tidur Ava?? ",, tanya Derral kepada Ava ketika Derral baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
" Lagi membalas pesan dari Via ",, jawab Ava kepada Derral.
" Via??......... ",, kata Derral kepada Ava.
Dan Ava hanya mengangguk pelan saja kepada Derral.
" Derral, bolehkah aku bertanya kepadamu?? ",, tanya Ava kepada Derral.
" Tanyalah ",, jawab Derral sambil melepaskan kemeja yang dipakainya itu, hingga akhirnya Derral bertelanjang dada didepan Ava.
" Tuan Chico dia itu laki-laki yang bagaimana Derral?? ",, tanya Ava kepada Derral.
" Kenapa kamu tanya tentang Chico Ava?? ",, tanya Derral kepada Ava dengan nada yang terlihat sedikit cemburu.
" Bukan untuk aku, tapi Via........ ",, jawab Ava kepada Derral.
" Apa terjadi sesuatu diantara mereka?? ",, tanya balik dari Derral kepada Ava sambil duduk dipinggir ranjang sebelahnya Ava.
" Iya ",, jawab singkat dari Ava kepada Derral.
" Hah...... pasti akan tamat riwayat dari Via diatas ranjang milik Chico, dan jika Chico serius dengan Via pasti Chico tidak akan melepaskan Via walau sejengkal sekalipun ",, kata Derral kepada Ava sambil tersenyum miring.
" Tapi Via tipe wanita yang tidak mudah ditakhlukkan Derral, dia sedikit keras kepala, dan sepertinya Tuan Chico harus sedikit berjuang untuk mendapatkan Via ",, sahut Ava kepada Derral.
" Iya seperti dirimu yang sulit ditakhlukkan juga ",, jawba Derral dengan cepat kepada Ava.
" Hah?? ",, kata Ava sedikit salah fokus dengan perkataan dari Derral.
" Tidak apa, ayo kita istirahat dulu Ava ",, kata Derral kepada Ava.
Dan Derral langsung saja merebahkan badanya diranjang sampingnya Ava.
Sedangkan dibeda tempat tepatnya didalam kantor milik Chico.
Chico saat ini dia sedang sangat uring-uringan sekali, sebab anak buahnya yang dia tugaskan untuk mencari alamat dari Via belum bisa menemukan juga hingga waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang.
Ketika Chico sedang uring-uringan sendiri seperti itu, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya diketuk lagi dari luar.
Dan orang yang mengetuk pintu itu langsung saja masuk ketika sudah mendengar kata masuk dari Chico.
Ternyata yang datang adalah sekretaris dari Chico yang bernama Ben.
" Bagaimana Ben?? ",, tanya Chico kepada Ben.
" Mohon maaf Tuan, saya belum bisa menemukan Nona Via yang anda maksud ",, jawab Ben kepada Chico.
" B0d0h!!, mencari satu wanita begitu saja kamu tidak bisa!!, kerja kamu apa saja Ben!! ",, kata Chico dengan nada yang sangat marah sekali kepada Ben.
" Maafkan saya Tuan ",, jawab Ben sambil menundukkan kepalanya.
" Keluar!! ",, kata Chico kepada Ben dengan sangat tegas sekali.
Sebelum keluar Ben langsung saja menundukkan sedikit badannya kepada Chcio.
Dan setelahnya Ben langsung saja berlalu keluar dari dalam ruang kerja Chico.
Chico yang sudah tidak fokus bekerja, dan kepala dia juga rasanya ingin pecah, Chico lalu mengambil mantel kerjanya untuk dia pakai dan berlalu keluar dari dalam ruang kerjanya.
Dengan wajah tegas dan dingin, Chico terus melangkahkan kakinya menuju kedalam mobil yang sudah terparkir rapi didepan pelataran kantor.
Dan Chico yang sudah masuk kedalam mobil, dia langsung saja mengendarai mobilnya sendiri menuju kesebuah Cafe mewah yang biasa dia datangi untuk mengopi sejenak dan untuk juga menghilangkan rasa suntuk yang ada didalam dirinya.
Ketika Chico sedang bersantai dalam mengendarai mobilnya, pandangan dia tiba-tiba teralihkan dengan seorang wanita yang sedang menyeberang jalan didepannya.
" Via??, iya itu Via?? ",, kata Chico sambil melihat kearah Via yang baru saja menyeberang jalan.
Yaps wanita yang menyeberang jalan itu memang Via, yang sedang disuruh untuk membeli roti ditoko roti seberang jalan oleh Mamahnya.
Via yang sedang mengendarai mobilnya untuk menuju kebutik miliknya dan sedang malas untuk berputar arah.
Alhasil Via memutuskan untuk memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan memilih menyeberang jalan untuk membeli roti ditoko roti yang ada diseberang jalan.
Chico yang melihat Via tadi dia langsung saja menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan langsung juga keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Via yang sedang menerima telefon berdiri disamping mobil mewah berwarna hitam itu.
" Mamah iih, kenapa tidak sekalian sih tadi bilangnya, ini Via sudah membelikan roti pesanan Mamah tadi ",, kata Via yang sekilas didengar oleh Chico dengan nada yang terdengar seperti merajuk.
Dan Chico yang sudah sampai dibelakang Via, dia berdiam diri untuk membiarkan Via menyelesaikan telefonnya dulu kepada Mamahnya.
Sedang Via sendiri dia tidak sadar jika sudah ada Chico dibelakangnya.
" Iya-iya baiklah, Via belikan lagi Mamahku tersayang, apa ada lagi Mah yang ingin dibeli, biar sekalian Via belikan?? ",, jawab Via kepada Mamahnya.
" Tidak ada ",, jawab Mamah Via kepada Via.
Dan setelahnya sambungan telefon mereka akhirnya terputus juga.
Setelah itu tanpa menoleh kebelakang dan sudah memasukkan ponselnya juga kedalam tas jinjingnya, Via langsung saja menyeberang jalan lagi untuk membelikan roti tambahan pesanan dari Mamahnya.
Sedangkan Chico dia masih terus mengikuti langkah kaki dari Via dari belakang hingga Via sudah masuk kembali kedalam toko roti yang tadi dia datangi.
...πΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈπΆβπ«οΈ...
Entahlah bagaimana reaksi dari Via ketika melihat Chico tiba-tiba sudah berada dibelakangnya seperti itu ketika Via sudah berbalik badan nantinyaπ€.
Lanjut part sebelah yaππ
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...