Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
SOMETHING



Dian yang baru beberapa langkah keluar dari ruang perawatan Ava, dia langsung saja menghentikan langkah kakinya itu, ketika dia mendengar ada suara seseorang yang memanggil namanya.


Dan orang itu adalah Aaric, Kakaknya Ava.


" Dian, ayo mari aku antar saja ",, kata Aaric kepada Dian.


" Tidak perlu Kak Aaric, Dian bisa sendiri ",, jawab simple dari Dian kepada Aaric.


Dan kali ini nada bicara dari mereka berdua sedikit berbeda dari biasanya.


Yang biasanya mereka akan saling beradu otot jika berbicara, sekarang, mereka berbicara seperti saling salah tingkah sendiri-sendiri.


" Sudah tidak apa-apa, ayo!! ",, kata Aaric sambil menarik pergelangan tangannya Dian.


Dian hanya bisa pasrah saja ketika pergelangan tangannya digenggam erat seperti itu oleh Aaric.


Dan Aaric pun sengaja memberanikan diri memegang erat pergelangan tangan Dian seperti itu, karena Aaric tidak mau berlama-lama menatap wajah Dian, sebab Aaric rasanya ingin mencium bibirnya Dian.


" Kenapa jantungku semakin berdegub kencang seperti ini ketika cuma memegang tangannya Dian ",, kata batin dari Aaric.


" Jangan bilang jika aku mulai tertarik bahkan mencintai Dian?? ",, kata batin dari Aaric lagi untuk Dian.


Dan saat ini Aaric dan Dian sudah berada didalam lift berdua saja untuk turun kebawah menuju keparkiran mobil.


Dian pun daritadi dia juga hanya diam saja, bahkan tangan dia ketika sudah dilepaskan oleh Aaric pun, Dian masih diam dan tidak mau mengajak berbicara kepada Aaric karena Dian sedang mencoba meredakan rasa malunya itu.


Aaric dan Dian langsung saja melangkahkan kaki mereka untuk menuju keparkiran mobil, ketika lift yang mereka naiki sudah sampai dilantai dasar.


Aaric reflek merangkul pundaknya Dian, ketika ada para suster dan juga Dokter sedang terburu-buru mendorong brankar pasien yang cukup darurat keadaannya.


" Maaf ",, kata Aaric kepada Dian sambil melepaskan rangkulannya itu.


Dian pun hanya tersenyum tipis saja kepada Aaric.


Setelah itu mereka berdua langsung saja melanjutkan langkah kaki mereka menuju kedalam mobil milik Aaric.


Aaric langsung saja tancap gas ketika dia dan juga Dian sudah duduk anteng didalam mobil.


Didalam mobil juga Aaric dan Dian mereka masih saling pada diam, karena mereka tidak tahu mau berbicara apa.


Padahal biasanya sebelum ada kejadian tadi, Aaric dan Dian jika berada didalam satu mobil.


Dian akan sering dibuat darah tinggi karena sikapnya Aaric yang suka menggodanya.


Tapi sekarang, bahkan untuk melihat pun mereka berdua harus saling curi-curi pandang.


" Eem Dian, kita mau cari makan dimana?? ",, tanya Aaric kepada Dian.


" Terserah Kak Aaric saja ",, jawab Dian kepada Aaric.


" Ok ",, jawab singkat dari Aaric kepada Dian.


Dan Dian hanya mengangguk saja kepada Aaric.


Setelahnya Aaric langsung saja tancap gas menuju kesebuah Cafe yang sering dia dan juga Ava datangi.


Cuma membutuhkan waktu tiga puluh menitan, akhirnya mobil yang mereka naiki sampai juga diparkiran Cafe.


Aaric dan Dian langsung saja keluar dari dalam mobil untuk segera masuk kedalam Cafe.


Didalam Cafe, Aaric memilih tempat duduk, sambil memesan minuman kepada waitress sambil menunggu makanan yang dipesan oleh Dian selesai dibuatkan.


Dan setelah sekitar tiga puluh menitan juga, semua makanan serta minuman yang dipesan Dian selesai juga dibuatkan.


Sekitar sepuluh macam jenis makanan dan juga minuman sudah berada ditangan Dian maupun Aaric.


" Kamu beli makannya banyak sekali Dian??, ini apa tidak terlalu kebanyakan?? ",, tanya Aaric kepada Dian.


" Tidak apa-apa??, jika kebanyakan bisa diberikan pada pengawal yang berjaga didepan kamar Ava ",, jawab Dian kepada Aaric.


" Ok baiklah ",, jawab Aaric kepada Dian.


Sedang kita geser sejenak kerumah sakit.


Ava yang melihat Kakaknya tadi langsung saja menyusul Dian, dia langsung saja tersenyum senang sekali.


Karena fikir Ava rencanya akan berjalan dengan mulus, bisa menyatukan Kakaknya dengan perempuan yang sudah dia kenal dan tentunya Dian adalah wanita baik-baik.


Derral yang melihat Ava tersenyum sendiri seperti itu, dia langsung saja bertanya kepada Ava.


" Sepertinya kamu senang sekali melihat Dian dan Kakak kamu bersatu Ava ",, kata Derral kepada Ava.


" Iya, karena memang itu tujuan aku, ingin menyatukan mereka berdua ",, jawab Ava kepada Dian.


" Kamu tidak tahu saja Derral, Dian dan Kak Aaric mereka berdua akan selalu bertengkar setiap kali bertemu dan itu dari dulu ketika Dian pertama kali berkunjung kemansion Papah ",, kata Ava lagi kepada Derral.


" Kak Aaric entah kenapa suka sekali menggoda Dian, bahkan kalau sama aku saja Kak Aaric tidak pernah seperti itu ",, lanjut lagi perkataan dari Ava kepada Derral.


" Dari pengalaman pribadi saya Nona, jika laki-laki sudah sering seperti itu kepada seorang perempuan, itu menandakan ada ketertarikan yang tidak disadari didalam dirinya kepada lain jenis ",, sahut dari Chico kepada Ava.


" Waaah sepertinya anda sangat pengalaman sekali Tuan brokoli ",, kata Via kepada Chico.


" Iya, dan pastinya dengan pengalamanku itu, akan aku buat kamu melayang tinggi keangkasa Nona Viaku tersayang ",, jawab Chico kepada Via sambil tersenyum menggoda kepada Via.


Derral langsung saja menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan sahabatnya itu, sebab sifat casanova dari Chico langsung muncul seketika ketika melihat wanita cantik seperti Via dan juga Ava.


Kembali keAaric dan juga Dian lagi.


Didalam perjalanan pulang pun masih sama seperti tadi ketika berangkat, saling pada diam dan dengan fikiran mereka masing-masing.


Untuk mengisi keheningan didalam mobil, Aaric mencoba mendengarkan radio yang ada didalam mobilnya.


Entah keberuntungan atau bagaimana??, karena ketika Aaric menyetel radio itu ternyata langsung pada saluran kisah cinta orang dewasa yang membuat jiwa mereka berdua langsung pada merinding sendiri-sendiri.


Dian dan Aaric reflek langsung saling pandang ketika penyiar radio sedang bercerita adegan yang membuat jiwa laki-laki didalam diri Aaric langsung menggelora.


Reflek juga Aaric langsung saja mematikan saluran radio itu, supaya suasana canggung antara dirinya dan juga Dian tidak semakin menjadi.


Entah kenapa setelah Aaric mematikan radio itu, suasana didalam mobil milik Aaric, tiba-tiba saja menjadi panas, padahal AC didalam mobil pun sudah besar derajatnya.


" Kenapa rasanya lama sekali mobil ini sampai dirumah sakitnya ",, kata batin Dian didalam hatinya.


" Kenapa badanku menjadi panas dingin seperti ini ",, kata batin dari Aaric juga.


" Si4l4n tadi siaran radionya!! ",, gerutu Aaric masih didalam hatinya.


Dan akhirnya setelah saling membatin dan juga menggerutu didalam hati mereka masing-masing, mobil yang disopiri oleh Aaric sampai juga diparkiran rumah sakit.


" Ayo Dian kita keluar ",, kata Aaric kepada Dian.


" Sebentar Kak, ini baju aku nyangkut dikunci seatbeltnya ",, kata Dian sambil berusaha membuka seatbelt yang dipakainya namun sedikit macet karena kain bajunya ikut masuk kelubang seatbelt.


" Sini aku bantu ",, kata Aaric kepada Dian.


Dan Aaric langsung saja mendekat untuk membukakan seatbelt yang dipakai oleh Dian.


Ketika dirasa sedikit kesusahan juga, Aaric langsung saja sedikit memiringkan sandaran kursinya Dian supaya dia bisa sedikit leluasa membuka seatbeltnya Dian.


Dian yang sedikit tiduran itu, posisi dia sangat intim sekali, karena tanpa sadar Aaric berada tepat diatas badannya untuk membantunya membuka seatbelt.


Dan Aaric yang baru sadar jika posisi dia dan Dian cukup dekat sekali seperti itu, dia langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Dian.


Aaric saling pandang dengan Dian dengan tatapan yang entah bagaimana mengartikannya.


Karena hanya Dian dan juga Aaric saja yang tahu, apa arti tatapan mereka berdua itu.


...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...


...***TBC***...