
Ava dan Aaric mereka bercanda dengan sangat gembira sekali, mereka berdua bahkan sampai lupa jika mereka sudah berada diatas lantai yang dingin itu dengan sambil saling berbalas menjewer atau menjapit hidung mereka masing-masing.
Walau sudah besar, tapi ya seperti itulah yang biasa dilakukan oleh Aaric dan juga Ava jika sudah bertemu setelah cukup lama tidak bertemu.
Dan disaat Ava serta Aaric sedang sibuk bercanda ria seperti itu, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan kepada orang yang baru saja masuk kedalam ruang keluarga.
Siapa lagi orangnya, jika bukan Papah Zohan yang sudah selesai menelfon Papi Alano tadi.
" Kita bahas lagi besok, Papah ada kerjaan penting yang malam ini harus Papah selesaikan ",, kata Papah Zohan kepada semua keluarganya dan setelah itu Papah Zohan langsung saja berlalu pergi dari dalam ruang keluarga menuju kedalam kamarnya sendiri.
Melihat Papah Zohan sang suami berlalu pergi menuju kedalam kamar, Mamah Gretl, dia langsung saja ikut beranjak pergi juga menyusul Papah Zohan.
Sedang Ava dan Aaric mereka berdua hanya terbengong saja sambil melihat kearahnya Papah Zohan dengan posisi masih duduk diatas lantai marmer yang dingin itu.
Setelah kepergian dari Papah Zohan Ava sebelum ikut berlalu pergi menuju kedalam kamarnya pun, dia langsung saja membalas perbuatan sang Kakak dengan cara menjambak rambut kepalanya Aaric dengan cukup kuat sekali.
Hingga membuat Aaric langsung saja mengaduh kesakitan sekali, namun Ava merasa sangat puas sekali karena sudah bisa membalas perbuatannya Aaric tadi.
" Awas ya kamu Ava, akan Kakak balas kamu nanti, sakit sekali ini kepala Kakak ",, kata Aaric kepada Ava yang sedang tertawa bahagia sekali sambil berlalu pergi menuju kedalam lift untuk menuju kedalam kamarnya.
" Tidak takut wleee ",, kata Ava kepada Aaric sambil memeletkan lidahnya.
Aaric langsung saja beranjak berdiri juga dari duduknya diatas lantai itu untuk berlalu juga kedalam kamarnya, ketika dia sudah melihat Ava masuk kedalam lift.
Sedangkan Papah Zohan dan Mamah Gretl yang sudah pada masuk kedalam kamar mereka sendiri, Mamah Gretl langsung saja bertanya kepada Papah Zohan, kenapa tidak jadi mengintrogasi Ava.
" Bukannya tidak jadi Mah, Papah tadi setelah menelfon Mirco Papah langsung saja menelfon Tuan Alano ",, kata Papah Zohan kepada Mamah Gretl.
" Terus Pah, apa yang kalian bicarakan?? ",, tanya Mamah Gretl kepada Papah Zohan.
Papah Zohan langsung saja bercerita semuanya kepada Mamah Gretl, dan Mamah Gretl mau tidak mau dia harus menyetujui semua keputusan mutlak yang sudah diambil oleh kepala keluarga, siapa lagi kalau bukan Papah Zohan.
Sedang kita geser keAva, Ava yang juga sudah sampai didalam kamarnya pun, dia langsung saja bertanda tanya kepada dirinya sendiri, kenapa Papah Zohan tidak jadi mengintrogasinya ketika sudah mendapatkan telefon dari Mirco.
" Firasatku mengatakan ada yang tidak enak ini??, karena aku sudah tahu betul bagaimana sifatnya Papah ",, kata Ava sambil berdiri disamping ranjangnya yang empuk itu sambil juga berbicara sendiri.
" Tapi opo?? aku malah dadi penasaran karo sing direncanakke Papah, yen aku nguping obrolane Papah karo Mamah, pasti yen ketahuan aku langsung dimarahi sama Papah, aaarrgghh, aku bakalan ora iso turu tanek tho bengi iki "
" ( Tapi apa??, aku malah jadi penasaran sama yang sudah direncanakan oleh Papah, jika aku menguping pembicaraannya Papah sama Mamah, pasti jika ketahuan aku langsung dimarahi sama Papah, aaarrghh aku bakal tidak bisa tidur nyenyak malam ini ) ",, kata Ava sambil berbicara sendiri menggunakan Bahasa Jawa.
Sedangkan kita berlalu keDerral.
Derral yang tadi sudah menghabiskan makannya, dia langsung saja membayar dan setelahnya dia langsung saja berlalu pergi dari dalam restoran mewah itu.
Derral mengendarai mobilnya untuk pulang kemansionnya sendiri.
Sekitar pukul enam sore lebih sedikit Derral akhirnya sampai juga dimansion pribadinya.
Derral yang sudah sampai didalam mansionnya, dia langsung saja berlalu menuju kedalam kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih badannya.
Derral langsung saja melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya, dan ketika sudah dibuka ternyata yang mengetuk adalah Egon sekretarisnya.
" Egon??, ada apa kamu malam-malam begini kemansion saya, apakah ada hal yang sangat penting sekali yang ingin kamu sampaikan kepada saya?? ",, tanya Derral kepada Egon dengan nada yang sedikit terkejut, pasalnya itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
" Maaf Tuan sebelumnya sudah mengganggu waktu istirahat anda malam ini ",, jawab Egon kepada Derral.
" Iya benar Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda, dan ini tidak bisa jika harus menunggu esok hari ",, lanjut lagi perkataannya Egon kepada Derral.
" Baiklah, tunggu saja diruang kerja saya, saya mau ganti baju dulu ",, kata Derral kepada Egon.
" Baik Tuan ",, jawab Egon kepada Derral.
Dan Egon langsung saja berlalu pergi dari depan kamarnya Derral untuk menuju keruang kerjanya Derral.
Sedangkan Derral dia langsung saja menutup pintu kamarnya lagi untuk berganti baju dengan baju rumahannya.
Ketika sudah selesai berganti baju, Derral langsung saja keluar dari dalam kamar, untuk menuju keruang kerjanya dan membicarakan hal yang menurut Egon sangat penting sekali itu.
Dan Egon sebetulnya, dia daritadi sudah datang kemansionnya Derral, namun Derral belum pulang, dan Egon lalu memutuskan untuk kembali pulang saja serta berpesan kepada kepala asisstan mansionnya Derral untuk menguhubunginya ketika Derral sudah pulang.
" Apa yang ingin kamu sampaikan kepada saya Egon?? ",, tanya Derral kepada Egon, ketika dia sudah duduk dishofa yang ada diruang kerjanya berseberangan dengan Egon.
" Ini Tuan?? ",, kata Egon kepada Derral sambil menyerahkan sebuah map yang dibawanya tadi kepada Derral.
Derral langsung saja menerima map tersebut, dan langsung saja membukanya.
Namun alangkah terkejutnya Derral ketika Derral sudah membaca keseluruhan dari isi map yang ada didepannya itu.
" No estΓ‘s bromeando conmigo, ΒΏverdad, Egon? "
" ( Kamu tidak sedang bercanda dengan saya kan Egon?? ) ",, kata Derral kepada Egon dengan menggunakan Bahasa mereka, yaitu Bahasa Spanyol.
" No seΓ±or, esa es la verdad seΓ±or " ( Tidak Tuan, memang itulah kenyataannya Tuan ) ",, jawab Egon kepada Derral.
" Data-data ini saya dapatkan dari sekretarisnya Tuan Alano yang tadi dia memberitahukan kepada saya, dan meeting sebentar dengan saya Tuan ",, lanjut lagi perkataannya Egon kepada Derral.
" Mampu5 aku jika Papi sampai tahu semua data-data ini, bisa dibunuh sama Papi aku ",, kata Derral berbicara sendiri sambil membolak balikkan kertas yang ada dihadapannya.
" Semua ini gara-gara gadis bernama Ava itu, setelah aku bertemu dengannya, nasibku menjadi si4l begini!! ",, kata Derral lagi untuk dirinya sendiri sambil menggebrak meja yang ada didepannya dengan cukup keras sekali.
Sedangkan Egon yang duduk berseberangan dengan Derral, dia hanya diam saja ketika melihat Derral marah-marah seperti itu, karena Egon sudah terbiasa dengan sikap Derral yang sedang seperti sekarang.
...πππππππππππππ...
...***TBC***...