Yes I'M Bojone

Yes I'M Bojone
AARIC - DIAN



Sungguh perkataan dari Via reflek membuat Chico langsung saja melototkan matanya kearah Via.


" Kamu sudah tahu ada kekasih kamu disebelah kamu ini, kenapa masih berani berbicara seperti itu Via?? ",, kata Ava kepada Via.


" Siapa yang menjadi kekasih aku Ava??......... dia?? ",, jawab Via kepada Ava sambil menunjuk Chico.


" Dianya saja yang kepedean ingin menjadi kekasih dari wanita yang tercantik ini ",, kata Via lagi kepada Ava dengan gayanya yang centil dan lucu itu.


" Sebenarnya Nona Via itu kekasih kamu apa bukan sih Chico?? ",, tanya Derral kepada Chico.


" Sebenarnya dia bukan kekasih aku Derral ",, jawab Chico kepada Derral.


" Nah akhirnya dia mengaku juga kan pada kalian ",, kata Via kepada Ava dan juga Derral.


Sedangkan Aaric yang masih ada disitu sambil duduk dishofa, dia hanya diam saja sambil terus mendengarkan keempat orang itu yang sedang pada asik berbincang.


" Tapi dia sebenarnya istri aku Derral ",, lanjut lagi perkataan dari Chico kepada Derral sambil mengangkat sebelah alisnya untuk Via.


Membuat Via reflek langsung membuka mulutnya sambil memukul lengannya Chico dengan sedikit gemas.


" Sembarangan saja ini si brokoli kalau berbicara ",, kata Via kepada Chico.


" Kamu mengataiku brokoli, mata kamu buta hah, orang setampan ini disamakan sama brokoli ",, kata Chico dengan nada yang tidak terima kepada Via.


Ava dan Derral yang melihat Chico dan Via bertengkar seperti itu, mereka berdua langsung saja tersenyum lucu.


Begitupun dengan Aaric yang menikmati saja pertunjukkan antara Chico dan juga Via.


" Iya sih tampan, tapi tidak setampan suami dari Ava ",, jawab Via kepada Chico.


Chico yang kebingungan ingin membalas perkataan dari Via, dia akhirnya mengepalkan kedua tangannya didepan wajah Via sambil menahan rasa gemasnya kepada Via.


Ketika mereka semua sedang pada asik memperhatikan Via dan Chico yang sedang seperti itu, tiba-tiba saja pintu ruang perawatan Ava diketuk lagi dari luar.


Dan suara ketukan pintu itu membuat Chico serta Via langsung saja menghentikan perdebatan mereka.


Aaric yang sedang menyantai, dia langsung saja berdiri untuk membukakan pintu tersebut.


Ternyata eh ternyata yang datang adalah Dian yang dari kantor langsung saja menuju kerumah sakit tempat Ava dirawat.


Aaric yang melihat Dian yang datang, dia langsung saja ingin menutup lagi pintunya, karena memang seperti itulah Aaric suka menggoda Dian.


Namun Dian yang melihat Aaric seperti itu, dia langsung saja menahan pintu itu supaya tidak tertutup lagi dari dalam.


" Suka sekali kamu ih menjahiliku ",, kata Dian kepada Aaric sambil menodorong pintu itu supaya tidak tertutup.


Namun Aaric sengaja masih menahannya, dan terjadinya adegan dorong mendorong pintu antara Aaric dan juga Dian.


Ava, Derral, Chico dan juga Via mereka berempat masih melihat apa yang sedang dilakukan oleh Aaric dipintu tersebut.


" Seperti suara Dian, apa Dian yang datang Kak?? ",, tanya Ava kepada Aaric.


" Ava iki masmu jengkelke " ( Ava ini Kakak kamu menjengkelkan ) ",, kata Dian kepada Ava sambil menggunakan Bahasa Jawa.


" Biar saja, biar Dian pulang ",, kata Aaric sambil tersenyum miring kepada Dian.


" Kebiasaan deh jika bertemu mereka pasti berantem seperti anak kecil seperti itu ",, kata Ava untuk Aaric dan juga Dian dan masih didengar oleh Derral, Chico maupun Via.


" Siapa sih yang datang Ava?? ",, tanya Via kepada Ava.


" Sahabat aku yang dari Indonesia, sekaligus sekretarisku Via ",, jawab Ava kepada Via.


Dan Via hanya beroh ria saja menjawab Ava.


Dian yang melihat wajah menyebalkan dari Aaric, dia langsung saja mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga.


Alhasil pintu itu bisa langsung terbuka dengan cukup lebar sekali.


Tapi sayang beribu sayang, entah keberuntungan atau kesialan bagi Dian maupun Aaric.


Ava dan Via mereka berdua langsung saja membuka mulutnya ketika melihat adegan mesra seperti itu didepan mereka.


Sedangkan Derral dan Chico mereka hanya menikmatinya saja sambil mengatakan sesuatu didalam hati mereka.


" Menang banyak itu Aaric ",, batin Derral sambil melihat kearah Aaric yang masih posisi seperti itu dengan Dian.


" Wah ada yang langsung On sepertinya ",, kata batin Chico juga untuk Aaric.


Aaric dan Dian mereka yang terkejut reflek langsung saling pandang dengan sangat lekat sekali.


Dan anak buah yang berjaga didepan pintu yang juga melihat adegan itu, mereka berpura-pura menjadi buta alias tidak mau melihat, karena mereka masih sayang dengan mata mereka.


Sebab kalau ketahuan melihat, bisa-bisa mata mereka langsung dicolok sama Aaric.


" Ternyata Dian kalau dilihat dari dekat seperti ini manis juga wajahnya, warna kulitnya khas orang Indonesia sana ",, kata batin dari Aaric sambil menatap wajah Dian yang sangat dekat sekali didepannya.


" Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini ",, kata batin dari Dian juga dengan posisi masih berada diatas badan Aaric.


" Ehem!! ",, Derral sengaja berdeham untuk menyadarkan Dian dan juga Aaric.


Dan Dian langsung saja tersadar dari posisi tersebut ketika mendengar suara dehaman dari Derral.


Dian yang sudah bangun dari atas tubuhnya Aaric, dia langsung saja berjalan menuju kebrankarnya Ava dengan wajah yang menahan rasa malu, sebab mereka semua sedang menatapnya dengan seperti itu.


Sedangkan Aaric sendiri, ketika sudah bangun dari atas lantai yang dingin itu, dia langsung saja melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruang perawatannya ava.


" Si4l, jantungku!! ",, kata Aaric sambil berbicara sendiri, ketika sudah sampai dipagar pembatas yang ada disitu.


" Kenapa aku malah menjadi seperti ini cuma gara-gara adegan tadi dengan Dian!! ",, kata Aaric lagi sambil masih berbicara sendiri.


" Bahkan aroma parfum milik Dian masih melekat diindra penciumanku, dan itupun membuat aku ingin melakukan lebih ditubuhnya ",, kata Aaric lagi dengan sedikit frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Sedang Dian sendiri, dia masih menetralisir rasa malunya itu, dengan berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu tadi dihadapannya Ava, Derra, Via dan juga Chico.


" Emm Ava, bagaimana keadaan kamu?? ",, kata Dian kepada Ava dengan sambil mencoba biasa saja.


" Bagaimana rasanya tidur diatas tubuh Kak Aaric Dian?? ",, goda Ava kepada Dian dan malah mengalihkan pertanyaan dari Dian tadi.


" Apaan sih Ava?? ",, jawab Dian kepada Ava dengan pipi yang semu merah alias pink karena malu.


" Ava kamu membuat teman kamu malu itu, lihat saja pipinya langsung memerah seperti itu ",, goda Via juga kepada Dian.


Dan membuat Ava langsung saja tertawa lucu ketika melihat wajah Dian yang seperti itu.


" Kalian jangan membuatku malu seperti ini kenapa sih??, dan kamu sendiri Ava, bagaimana rasanya tidur diatas tubuhnya Tuan Derral??, ya seperti itulah rasanya ",, jawab Dian dengan berusaha menahan rasa malunya itu.


Ava langsung saja terdiam dari tertawanya ketika mendengar perkataan dari Dian tadi, dan Ava langsung juga melototkan matanya kepada Dian.


Gantian Dianlah yang tertawa ketika melihat wajah Ava yang seperti itu.


" Ngomong-ngomong kalian berdua juga sudah belah duren belum Ava?? ",, goda Dian lagi semakin gencar saja kepada Ava.


" Belah duren itu apa Nona Dian?? ",, tanya Derral kepada Dian.


" Mak1n9 L0v3 Tuan Derral ",, jawab Dian kepada Derral.


Dan Chico semakin tertarik saja mendengarkan jawaban dari Dian tentang apa itu belah duren.


Sedangkan Derral dia sedikit terkejut ketika baru saja mendengar istilah aneh tentang berc1nt4 dari Dian.


Dan untuk Ava sendiri dia langsung saja memejamkan matanya karena malu, dan malunya Ava hanya untuk Derral seorang.


...🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊...


...***TBC***...