
“Pria? Siapa Serena? Di sini hanya ada aku.”
Daniel menatap wajah Serena dengan penuh kekhawatiran.
“Zeroun.”
Deg, jantung Daniel berhenti berdetak. Serena kembali mengingat nama Zeroun. Nama pria yang sempat mengisi masa lalunya. Nama pria yang sangat ia benci kehadirannya. Nama pria yang akan merusak masa depannya dengan Serena.
"Apa kau tidak mengingatnya, Serena?"
Daniel memberanikan diri, untuk menanyakan hal itu pada Serena. Meskipun ia tidak tahu, ini langkah yang benar atau tidak.
"Mengingat? Tentu saja aku ingat. Dia pria yang hampir saja membawaku pergi." Serena meletakkan tangannya di pipi Daniel, "Untuk pergi meninggalkanmu."
Daniel hanya diam mematung, menatap wajah Serena. Aliran darahnya terasa cepat, napasnya mulai tersengal. Ia tidak ingin Serena pergi meninggalkan dirinya.
Keduanya masih berada di dalam kolam renang. Saling menatap satu sama lain. Dalam diam dan kebisuan. Hingga pak Han datang, memecahkan suasana itu.
"Selamat siang tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda." Pak Han berdiri tidak jauh dari tepi kolam, dengan satu senyuman.
"Siapa?" Daniel menatap wajah pak Han dengan penuh keraguan.
"Tuan Aldi, beliau menunggu anda di ruang utama."
"Aldi?" Daniel kembali menatap wajah Serena, "Ayo kita keluar dari kolam ini, sayang."
Daniel mengangkat tubuh Serena, dan meletakkannya di tepi kolam. Daniel naik ke atas kolam dengan perlahan. Daniel dan Serena mengenakan handuk kimono, yang sudah di sediakan oleh pelayan rumah.
Serena melangkah pelan ke arah kursi, dengan tetesan air yang membasahi lantai. Mengambil segelas jus jeruk, dan meneguknya hingga habis.
"Siapa Aldi?" Serena kembali meletakkan gelas kosong itu, di atas meja.
"Kau tidak mengingatnya, sayang?"
Serena hanya menggeleng kepalanya. Mengambil handuk, untuk mengeringkan rambutnya.
"Dia salah tamu undangan di pesta kita. Sahabatku. Dia pergi ke luar negeri, sehari setelah pernikahan kita."
"Benarkah? Mungkin aku akan mengingatnya, ketika bertemu." Serena tersenyum manis, dan keduanya beranjak dari duduk untuk mengganti pakaian.
Di ruang utama, Aldi duduk dengan bersandar. Matanya terus mengelilingi isi rumah utama. Terlihat beberapa pengawal yang sedang berjaga.
Daniel dan Serena baru saja muncul di sana. Berjalan sambil bergandengan tangan. Dengan wajah bahagia dan senyum ceria.
"Aldi, apa kabar." Daniel mengulurkan tangannya, saat berada di hadapan Aldi.
Aldi beranjak dari duduknya, membalas uluran tangan Daniel.
"Aku baik, Daniel." Aldi tersenyum manis kepada Serena, "Anda terlihat bahagia, nona Serena." Mengulurkan tangan, "Perkenalkan, nama saya Aldi."
"Ya, saya pernah bertemu anda. Waktu di pesta pernikahan." Serena membalas uluran tangan Aldi.
"Silahkan duduk, Aldi." Daniel duduk berdampingan dengan Serena, "Kapan kau kembali ke sini? Bagaimana bisnismu di sana, Aldi."
"Semua berjalan lancar. Aku baru beberapa hari di sini." Aldi memandang Daniel dengan raut wajah bingung.
"Benarkah. Apa kau akan lama di sini." Memandang ke arah pelayan, yang berjalan mendekat.
Pelayan itu membawa nampan yang berisi teh dan roti. Meletakkannya secara perlahan, ke atas meja kaca.
"Terima kasih." Serena tersenyum kepada pelayan itu, sebelum mereka beranjak pergi.
"Aku hanya beberapa minggu di sini. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, Daniel." Raut wajah Aldi berubah seketika, "Ini tentang Sonia."
Serena kembali menatap wajah Aldi, saat pria itu menyebutkan nama Sonia. Nama wanita yang sempat melukai hatinya.
"Ada apa dengan Sonia? Apa yang dia ceritakan padamu, Aldi?"
Aldi memarik napas dalam, sebelum menceritakan semuanya.
Malam itu...
Di negara S, apartemen Q.
Suara bel terus berbunyi. Aldi yang masih lelap pada tidurnya, merasa terganggu dengan suara bel itu. Perlahan ia turun dari tempat tidurnya. Melangkah cepat ke arah pintu.
Memegang handle pintu secara perlahan, dan menarik pintu itu ke dalam. Matanya terbelalak kaget, saat melihat sosok wanita yang ada di hadapannya. Nama wanita itu sudah lama menghilang dari pikirannya.
"Sonia, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau datang malam-malam."
"Apa yang terjadi?" Aldi menghusap rambut pendek Sonia secara perlahan. Hatinya kembali luka, saat melihat Sonia sedih seperti itu.
Sonia hanya terus menangis, tanpa ingin menjawab. Aldi melepas pelukan Sonia, dan menarik tangan Sonia.
"Ayo masuk." Aldi menutup pintu secara perlahan.
Aldi terus menggenggam tangan Sonia. Membawanya ke sebuah sofa. Setelah Sonia duduk, Aldi ke dapur untuk membuat teh. Penampilan Sonia sangat berantakan, dia juga tampak kedinginan.
Di dapur Aldi terus bertanya-tanya. Sonia tidak akan menemuinya sejauh ini, jika tidak ada hal yang penting. Aldi membawa dua gelas teh ke depan. Meletakkannya secara perlahan di atas meja.
"Minumlah. Kau akan jauh lebih hangat, setelah meminumnya." Aldi duduk di samping Sonia, dan menatap wajahnya dengan khawatir.
Perlahan Sonia mengambil gelas itu, dan meminum tehnya secara perlahan. Sonia meletakkan gelas itu di atas meja, dan menghapus sisa air matanya.
"Daniel mengusirku dari kantornya. Dia memperlakukanku dengan begitu buruk." Buliran air mata kembali menetes, "Kenapa dia tidak pernah memandang wajahku. Aku sangat mencintainya."
Aldi tersenyum sesaat, sebelum menjawab pertanyaan sonia. Mengambil tangan Sonia, dan menggenggamnya dengan erat.
"Sonia, Daniel sudah menikah. Dia tidak mungkin mencintaimu. Dia pasti mencintai istrinya."
"Dia menikah karena perjodohan, Aldi."
"Iya, aku juga tahu. Tapi mereka sudah menikah Sonia, tidak sepantasnya kau mengganggu Daniel lagi."
"Aldi, aku sangat mencintainya. Bantu aku untuk bicara dengan Daniel. Dia harus menerimaku bekerja di S.G. Group."
Aldi melepas tangan Sonia, dan meletakannya perlahan di atas sofa.
"Maafkan aku Sonia, tapi kali ini aku tidak bisa membantumu."
Hati Sonia kembali luka. Aldi satu-satunya sahabat yang bisa membantunya. Namun saat ini, Aldi menolak permintaannya. Wajah Sonia kembali berubah penuh dengan amarah. Ia memang tidak pernah bisa menerima penolakan.
"Apa kau tidak ingat dengan persahabatan kita, Aldi?"
"Maafkan aku Sonia. Tapi kau harus belajar melupakan Daniel. Sudah ada Serena di sampingnya."
"Jangan pernah sebut nama wanita itu di hadapanku." Sonia berdiri dari duduknya, menatap Aldi dengan amarah.
Aldi beranjak dari duduknya, mencoba untuk meredakan amarah Sonia saat ini.
"Sonia, aku tidak bermaksud melukaimu. Tapi...."
"Cukup! Jika kau tidak bisa membantuku, aku akan melakukannya sendiri. Aku akan mendapatkan Daniel, dengan caraku sendiri."
Sonia melangkah gusar ke arah pintu. Ia berjalan meninggalkan Aldi yang masih berdiri mematung di sana.
"Maafkan aku Sonia. Tapi kau sudah sangat keterlaluan. Aku tidak bisa membantumu lagi."
***
Setelah menceritakan semuanya dengan Daniel, Aldi mengambil satu gelas teh. Aldi menyesapnya secara perlahan, dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Dia memang wanita licik. Aku menerimanya karena kau yang meminta. Sejak awal aku tidak memgukainya."
Daniel juga mengambil teh itu, memandang ke arah Serena yng terlihat diam melamun, "Sayang, apa kau baik-baik saja?"
Serena sadar dari lamunannya, dan tersenyum memandang Daniel.
"Aku baik-baik saja, sayang."
"Aku tahu, Sonia wanita yang seperti apa. Aku khawatir dengan Serena. Dia pasti punya niat jahat untukmu."
Aldi memandang wajah Serena yang terlihat khawatir, "Sebaiknya kalian selalu waspada."
"Aku selalu menjaga Serena dengan baik. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya." Daniel merangkul pinggang Serena.
"Aku juga baru tahu, kalau Sonia bukan orang biasa. Dia putri tunggal pemilik ALCO Group. Aku sudah tertipu selama bertahun-tahun." Aldi membuang napas dengan kesal.
"ALCO Group?" Daniel semangkin serius dengan perbincangannya pagi ini.
"Ya, ALCO Group. Perusahaan yang membuatmu hampir bangkrut, Daniel."
.
Sebelum Lanjut, like dan komen.
Biar Author semangat terus🤗