
Biao masih berpikir keras dengan pertanyaan Tama saat itu. Pria itu kembali mengingat sosok wanita pemilik nama. Ada senyum kecil di bibirnya saat ia berhasil mengingat wajah Anna. Wanita seksi dengan senyum yang cukup indah.
Biao memang sempat bertemu dengan Anna beberapa bulan yang lalu. Tapi, hubungan keduanya tidak berjalan cukup baik saat itu. Bahkan kini, Biao sendiri sudah tidak terlalu peduli dan melupakan nama Anna.
“Ada apa dengannya? kenapa kau tiba-tiba ingin membahas wanita itu?” Biao melanjutkan pekerjaannya. Tidak ada rasa curiga sama sekali saat melihat sikap Tama yang begitu penuh selidik.
Tama memandang ke arah lain, “Bukankah waktu itu kau bilang telah menghubunginya dan mengajaknya berkencan. Apa semua berjalan dengan baik?” Tama melirik sedikit.
“Aku tidak ingin menemuinya lagi. Kenapa kau menjodohkanku dengan wanita seperti itu. Bahkan mendengar suaranya saja Aku tidak mau.” Biao beranjak dari tempat duduknya. Merapikan berkas yang akan ia bawa untuk Daniel.
“Benarkah?” tanya Tama berseri.
Biao mengeryitkan dahi. Tidak seperti biasa wajah sahabatnya itu berubah ceria saat ia menolak seorang wanita. Tama selalu memasang wajah sedih saat mendengar kata penolakan yang terucap dari bibirnya. Tama menyadarai tatapan mencurigakan dari Biao. Pria itu mengatur posisi tubuhnya dengan wajah yang tidak lagi mencurigakan.
“Maksudku, mungkin Aku bisa mencarikan wanita lain jika kau tidak menyukai wanita yang bernama Anna.” Tama mengukir senyuman manis.
Biao menggeleng pelan sebelum pergi meninggalkan Tama di ruangan kerja miliknya. Sedangkan Tama terlihat kegirangan saat mendengar jawaban yang terucap dari bibir sahabatnya.
“Jika Kau tidak menyukainya, Aku akan tenang untuk mendekatinya. Nona Anna wanit ayang cukup menarik. Sangat disayangkan kalau harus dibiarkan pergi begitu saja.” Tama mengikuti langkah kaki Biao dari belakang dengan senyum bahagia.
Di ruangan Daniel. Pemimpin utama S.G.Group itu terlihat sibuk dengan layar laptopnya. Sesekali bibirnya tersenyum saat mendengar cerita Serena dan Pak Sam. Setelah di marah oleh Serena, Daniel tidak ingin banyak bicara lagi. Pria itu lebih memilih diam dan menjadi pendengar setia. Mendengar suara Serena yang kini berada di posisi aman sudah membuat hatinya tenang dalam bekerja.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya. Dua tangan kanannya muncul secara bersamaan ke dalam ruangan kerja miliknya. Daniel kembali fokus melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan kedatangan dua bawahannya itu.
“Tuan. Ini berkas yang tadi anda minta.” Biao meletakkan berkas-berkas itu tidak jauh dari laptop Daniel.
“Apa kita hari ini sibuk?” Daniel masih fokus pada layar laptopnya.
“Tidak, Tuan. Hari ini tidak terlalu banyak jadwal pertemuan yang harus kita datangai. Beberapa pertemuan selanjutnya masih bisa kami atasi sendiri.” Tama angkat bicara untuk menjelaskan jadwal atasannnya hri itu.
Daniel mengangguk pelan, “Siapkan sepeda motor yang ingin Aku naiki untuk membawa Serena jalan-jalan. Sore ini Aku ingin membawanya berkeliling kota Sapporo. Dia pasti akan sangat bahagia.” Daniel mengukir senyuman bahagia saat membayangkan senyuman indah milik istrinya.
“Baik, Tuan,” jawab Biao cepat. Berbeda dengan Tama. Pria itu terlihat sedikit bingung dengan rencana Daniel sore ini. Jika ia ikut mengawasi Daniel dan Serena maka ia tidak memiliki waktu unutk menemui Anna malam ini.
Biao mengerti wajah bingung sahabatnya itu. Pria itu duduk di samping Tama dengan senyuman kecil yang memandang curiga.
“Apa lagi sekarang?” bisik Biao pelan.
Tama memandang wajah Daniel yang terliat sibuk sebelum menjawab pertanyaan Biao.
“Aku ada jadwal cek kesehatan. Apa kau bisa mewakiliku menjaga Tuan Daniel dan Nona Serena? sepertinya Aku tidak bisa ikut.” Tama membalas pertanyaan Biao dengan bisikan.
“Bukankah jadwal cek kesehatan dua hari lagi?” Biao mengangkat alisnya dengan wajah semakin curiga.
“Temanku yang cek kesehatan. Aku hanya menemaninya,” ucap Tama cepat. Pria itu memejamkan matanya berharap Biao tidak lagi mencurigainya. Tama memang tidak pernah bisa berbohong, apalagi didepan Biao.
“Baik, Tuan,” jawab Biao dan Tama secara bersamaan.
Biao tidak lagi mau mengajukan pertanyaan kepada Tama. Sikap sahabatnya detik itu sudah cukup membuat Biao tahu kalau ada satu hal yang sedang disembunyikan.
Tama berpura-pura melanjutkan pekerjaannya walaupun kini pikirannya terasa bercabang dan takut.
Biao pasti sudah mencurigaiku. Apa dia marah jika ia tahu kalau Aku akan berkencan dengan wanita yang sempat Aku jodohkan untuknya?
***
Hari yang cerah berubah menjadi senja. Serena sudah selesai mandi dengan dres warna biru muda favoritnya. Wanita itu duduk dengan santai di ruang keluarga sambil menonton TV favoritnya. Wajahnya terlihat sangat berseri dengan senyuman yang begitu indah.
Ketenangan hidupnya saat ini merupakan hal yang paling membahagiakan untuknya. Tidak ada lagi terdengar suara tembakan yang memekakan telinga. Tidak ada lagi darah yang berserak dengan begitu mengerikan. Tidak ada lagi lari-lari untuk bersembunyi dari musuh. Semua kehidupan yang kini ia jalani sudah sama seperti kehidupan normal pada umunya. Duduk manis di rumah menunggu suami pulang kerja. Tanpa perlu kahwatir dengan masalah apapun.
Dari arah dapur, Pak Han muncul dengan satu nampan di tangannya. Pria itu membawa potongan buah dan jus segar untuk menemani waktu santai Nona mudanya. Bibirnya mengukir senyuman yang cukup bersahabat.
“Selamat sore, Nona Serena.” Pak Han meletakkan piring putih berisi potongan buah di atas meja. Satu gelas jus segar juga ia letakkan di samping potongan buah itu.
“Selamat sore Pak Han. Terima kasih.” Serena mengukir senyuman indah.
Pak Han masih berdiri di posisinya dengan wajah sedikit bingung. Bagaimana tidak, Daniel memberi perintah kepada Pak Han agar Serena ada di halaman depan rumah saat ia pulang bekerja nantinya. Tidak cukup hanya itu, Daniel meminta Pak Han untuk tidak memberi tahu Serena kalau dia memberi perintah seperti itu.
Serena memandang wajah Pak Han yang terlihat cukup bingung, “Pak Han apa ada yang ingin di sampaikan?” Serena mengambil piring buah itu dan melahapnya satu persatu.
“Nona, apa anda mau menemai Saya untuk mendekor ulang kolam ikan yang ada di halaman depan. Sudah lama kolam ikan itu tidak di perhatikan.” Pak Han mengukir senyuman untuk menutupi kebohongannya.
“Tentu saja, sebelum gelap mari kita pergi untuk melihatnya.” Tanpa curiga, Serena beranjak dari sofaitu dan berjalan ke arah pintu utama. Dari belakang Pak Han mengikuti langkah Serena.
Sebentar lagi Tuan Daniel akan tiba, Aku harap Tuan Daniel tiba sebelum Nona masuk ke dalam rumah.
Di taman depan. Serena terlihat bingung dengan perkataan Pak Han sebelumnya. Kolam ikan itu terlihat indah dan selalu terawat. Tidak ada hal apapun yang membuat tampilan kolam ikan itu dibilang jelek. Dengan wajah penuh tanya, Serena memandang wajah Pak Han.
“Pak Han, apa anda yakin dengan perkataan anda tadi?” Mengeryitkan dahi.
Bruuummm…. bruuuummmm…..
Dari kejauhan, terdengar suara sepeda motor milik Daniel. Ceo makanan ringan itu terlihat mengendarai sepeda motor gede dengan wajah penuh percaya diri. Di belakang Daniel telah ada mobil Tama dan Biao yang sejak tadi mengikutinya dari belakang.
Daniel memparkirkan sepeda motornya tepat di hadapan Serena berdiri. Pria itu membuka helm yang menutupi wajah tampannya sebelum mengukir senyum indah ciri khasnya.
“Kejutan, apa kau suka dengan kejutan soreku, Sayang?”