
Minggu yang cerah. Cahaya matahari sudah bersinar terang. Embun pagi yang melekat di dedaunan pohon sudah mengering. Serena membuka matanya perlahan. Ia melihat tangan Daniel yang melingkari tubuhnya. Hembusan napas Daniel terasa begitu dekat dengan dirinya. Serena tidur dalam pelukan Daniel.
Serena mengusap lembut wajah Daniel yang tampan. Ia tersenyum bahagia, saat melihat Daniel tidur dengan begitu tenang. Perlahan, ia memindahkan tangan Daniel ke atas tempat tidur. Ia bergerak pelan, untuk turun dari tempat tidur.
Serena membuka selimut, yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Menurunkan kakinya dari tempat tidur. Ia memutar tubuhnya untuk memandang wajah Daniel yang masih tertidur.
“Sayang … apa kau sangat lelah. Sampai tidak tahu, jika aku sudah bangun,” ucap Serena sambil tersenyum.
Serena melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Langkahya terhenti saat ia mendengar satu suara. Serena memutar lagi tubuhnya, ia melihat Daniel sudah duduk di tempat tidur dengan posisi bersandar.
“Sudah bangun?” tanya Serena tidak percaya.
Daniel turun dari tempat tidur. Ia belum menjawab pertanyaan Serena. Daniel mendekati tubuh Serena sambil tersenyum manis. Memeluknya dari belakang.
“Aku tidak bisa tidur, jika kau tidak lagi berada di sampingku.” Daniel mencium Serena dari belakang, memeluknya dengan erat.
“Aku mencintaimu, sayang,” bisik Daniel di telinga Serena, sambil tersenyum bahagia.
“Aku juga mencintaimu.” Serena memandang wajah Daniel yang ada di samping kepalanya.
“Mau kemana?” tanya Daniel dengan lembut.
“Ayo kita mandi.” Serena melepas pelukan Daniel, ia berputar dan merangkul tangan Daniel. Membawanya masuk ke kamar mandi.
Daniel tersenyum bahagia mendengar ajakan Serena, “Apa kau baik-baik saja, sayang?” Daniel memegang kening Serena.
Serena tertawa lepas, ia tahu kalau ajakannya seperti sebuah mimpi bagi Daniel. Belum sempat Daniel dan Serena masuk ke dalam kamar mandi. Suara ketukan pintu menghentikan langkah keduanya. Daniel mengalihkan pandangannya.
“Apa kita bangun terlalu siang, hingga Pak Han membangunkan kita untuk sarapan?” Serena menatap wajah Daniel.
Daniel tersenyum, “Masuk!” ucap Daniel singkat.
Pak Han masuk ke dalam kamar. Mengenakan pakaian yang sangat rapi. Ia membungkuk hormat, sebelum mengeluarkan kata.
“Ada apa?” tanya Daniel cepat.
“Tuan Kenzo sudah ada di bawah, Tuan.”
Daniel memandang wajah Serena, sebelum kembali memandang Pak Han. “Katakan padanya, untuk menunggu. Setelah mandi, kami akan menemuinya.”
“Baik, Tuan. Saya permisi dulu.” Pak Han membungkuk hormat, sebelum pergi meninggalkan kamar itu.
Serena hanya melamun, lagi-lagi detak jantungnya tidak normal. Daniel menyentuh pipi Serena dengan lembut.
“Semua akan baik-baik saja.” Daniel menarik tangan Serena masuk ke kamar mandi.
Keduanya berendam di dalam bak mandi, yang sudah di siram aroma terapi. Suhu air itu sudah di atur menjadi hangat. Serena hanya diam membelakangi tubuh Daniel. Ia terus saja memikirkan pertemuannya nanti dengan Kenzo.
“Sayang … masih memikirkan orang lain, saat kau bersamaku?” tanya Daniel dengan wajah tersenyum.
Serena menggeleng pelan, “Maafkan aku, apa dia ke sini untuk menanyakan Shabira?” Serena menunduk bingung.
Daniel memegang tangan Serena, “Aku tahu sifat Kenzo. Dia tidak akan setenang ini, jika menyangkut wanita itu. Aku yakin, dia belum mengetahuinya,” ucap Daniel dengan penuh keyakinan.
“Aku tidak tahu, harus bersikap bagaimana dengannya nanti. Kenapa dunia ini terasa begitu sempit.” Serena kembali diam.
“Jika tidak sempit, aku tidak akan bisa bersamamu seperti ini.” Daniel memeluk tubuh Serena dari belakang. Mengecup bibir Serena untuk beberapa saat.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Daniel dengan wajah serius.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Serena mengerutkan dahinya.
“Bekas ini ….” Daniel memegang bekas luka tembak, yang ada di tubuh Serena.
“Ini bekas tembakan, waktu aku melakukan satu misi berbahaya. Di sebuah kasino.” Serena tersenyum tipis, ia kembali mengingat aksi terakhirnya sebelum meninggalkan dunia mafia.
“Apa yang kau lakukan di kasino, sayang. Kau berjudi?” tanya Daniel dengan wajah serius.
“Jangan di bahas lagi, cepat mandi dan turun ke bawah.” Serena berdiri dari bak mandi, melangkah ke arah shower. Membasahi tubuhnya di bawah pancuran shower.
Daniel hanya diam memandang Serena mandi di bawah shower.
Kasino, bahkan aku belum pernah memasukinya.
Daniel tersenyum tipis, sebelum mengikuti Serena mandi di bawah pancuran shower.
Beberapa saat kemudian, Daniel dan Serena sudah selesai mandi. Serena mengenakan dres berwarna kuning muda, sedangkan Daniel hanya mengenakan tsirt hitam dengan celana panjang.
“Sayang ….” Daniel mendekati tubuh Serena yang hanya diam mematung di depan tempat tidur.
“Aku sedikit gugup.” Serena tertunduk.
“Percayakan padaku.” Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya keluar kamar.
“Selamat pagi, Kenzo.” Daniel melepas rangkulannya dari Serena, ia mengulurkan tangannya di depan Kenzo.
Kenzo tidak membalas uluran tangan Daniel. Ia memperhatikan tangan itu, dengan wajah tidak percaya.
“Kenzo adikku, apa kau tidak mau memeluk abangmu ini.” Daniel membuka kedua tangannya.
“Apa kau serius, Daniel?” tanya Kenzo dengan wajah tidak percaya.
“Maafkan aku,” jawab Daniel singkat.
Kenzo memeluk Daniel, “Aku tidak pernah menyangka, kau mau memaafkanku. Maafkan aku Daniel, aku ingin seperti dulu lagi.” Kenzo tersenyum bahagia, saat menerima sikap Daniel pagi ini.
“Sudahlah, kita lupakan yang berlalu.” Daniel menepuk pelan pundak Kenzo.
Serena hanya diam menyaksikan pemandangan yang kini ada di depannya. Ia semangkin merasa bersalah, jika harus merusak persaudaraan yang baru saja menyatu itu.
Kenzo melepas pelukannya, ia tersenyum bahagia. Setelah beberapa bulan jauh dari Daniel, hari ini ia bisa bersatu lagi.
“Kenzo, apa kau sudah sarapan? ayo kita sarapan, kau pasti sangat merindukan roti bakar buatan Pak Sam.” Daniel tersenyum ramah, mengajak Kenzo sarapan.
“Tentu, ayo kita makan. Aku tidak sabar untuk menghabiskan semua menu yang ada di meja.” Kenzo melirik sesaat ke arah Serena. Ia semangkin canggung untuk menyapa Serena.
Kenapa kau diam saja, Serena.
Serena tersenyum memandang Kenzo, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan rasa bersalah yang begitu besar.
Maafkan aku Kenzo. Andai saja aku tahu sejak awal, kalau kau pria baik. Semua ini tidak akan pernah terjadi.
“Ayo, sayang.” Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya ke arah meja makan.
Kenzo mengikuti langkah kakiDaniel dan Serena dari belakang. Ia masih belum berani mengeluarkan kata untuk Serena. Meskipun di dalam hati, ia sangat merindukan sosok sahabatnya itu.
Di meja makan, ketiganya sudah di sambut Pak Han, Biao dan Tama. Mereka menunduk hormat kepada Daniel dan Kenzo. Setelah itu mengulurkan tangan untuk menyambut Kedatangan Kenzo pagi ini.
“Selamat datang lagi di rumah ini, Tuan.” Pak Han tersenyum bahagia.
“Terima kasih. Aku sangat merindukan rumah ini dan kalian semua.” Kenzo memutar kepalanya, memperhatikan setiap sudut ruangan.
“Silahkan, Tuan.” Pak Han menarik kursi untuk Kenzo.
“Semua masih sama, tidak ada yang berani merubahnya,” ucap Daniel sambil tersenyum, ia tahu kalau Kenzo memperhatikan seluruh isi rumah.
Daniel duduk di kursi utama. Serena berada di sebelah kanan Daniel, sedangkan Kenzo di sebelah kiri. Serena dan Kenzo saling berhadapan, tapi Serena hanya tertunduk diam. Ia tidak berani untuk mengeluarkan kata sedikitpun.
“Serena ….” ucap Kenzo pelan, sambil memandang wajah Serena.
Daniel memperhatikan wajah Serena, ia memegang tangan Serena dengan senyuman, “Serena sedang tidak enak badan. Makanya dia terlihat tidak bersemangat,” jawab Daniel, mewakili jawaban Serena.
“Iya, kepalaku sedikit pusing,” jawab Serena dengan senyum terpaksa.
“Ayo kita sarapan,” ajak Daniel dengan semangat.
Kenzo masih menyimpan curiga, terhadap sikap serena pagi ini.
Ada sesuatu yang kau sembunyikan. Aku sangat mengenal dirimu Serena. Kau berubah dari yang pernah aku kenal.
Kenzo memakan roti bakar favorit miliknya.
“Daniel, dimana Ny. Edritz?” tanya Kenzo sambil mencari.
“Mama ada di luar negeri. Mengurus cabang di sana.”Daniel mengambil jus segar dan meneguknya perlahan.
“Apa semua baik-baik saja?”
Daniel terdiam, ia tahu kalau Kenzo adaah orang yang sangat teliti.
Pasti ia menyadari perubahan sikap Serena pagi ini.
“Semua baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu, Kenzo. Kau berlibur dalam waktu yang lama.”
“Aku tidakberlibur, tapi mencari Shabira.”
Serena tersedak, Daniel mengambil tisu dan berdiri dari duduknya, “Sayang, apa kau baik-baik saja.” Daniel menepuk pelan pundak Serena.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Serena pelan, ia memandang wajah Kenzo sebelum menunduk lagi.
“Kenzo, aku akan mengantarkan Serena ke dalam kamar. Ia butuh istirahat.”
“Baiklah.” Kenzo menatap Daniel dan Serena dengan wajah curiga.
Ada yang kalian sembunyikan dariku. Aku mengenalmu sejak lama, Daniel.