Mafia's In Love

Mafia's In Love
Musuh Masa Lalu



Di waktu yang sama, di rumah Zeroun Zein.


Zeroun duduk di sebuah sofa. Menatap tajam pemandangan yang ada di depan matanya. Semua barang berserakan, tidak pada tempatnya lagi. Beberapa pengawal, sibuk menolong pengawal yang lainnya.


Sudah lama ia meninggalkan dunia mafia. Sejak perginya sang kekasih, Zeroun beralih ke perusahaan. Dia meninggalkan masa-masa kejayaannya, di negara Z.


Penyerangan pagi ini, benar-benar satu hal yang mengejutkan. Zeroun baru bangun dari tidurnya, saat rombongan Wubin datang menyerang.


Zeroun mengepal kuat tangannya. Bendera perang sudah di tebar oleh Wubin. Ia tidak bisa menghindar lagi.


"Aku akan membunuhmu, Wubin."


Zeroun beranjak dari duduknya, melangkah gusar ke arah ruang pribadinya. Meninggalkan kekacauan yang masih tersisa.


***


Di tempat lain. Di markas White Tiger.


Wubin duduk dengan kaki di atas meja. Ia tersenyum dengan bahagia, saat berhasil menyerang dua musuh sekaligus. Meskipun semua bawahannya pulang dengan kekalahan. Tapi ia sudah berhasil, merusak ketenangan musuhnya.


Beberapa orang bertubuh tegab, sudah siap menerima perintah selanjutnya.


Wubin menurunkan kakinya dari meja, dan beranjak dari duduknya. Melangkah pelan ke arah pria tubuh tegab itu.


"Ini masih awal, kalian gagal di sasaran kedua."


Plakk..!


Wubin memukul satu pria yang berdiri di ujung.


"Seharusnya kalian bisa membawa wanita itu."


Plakk..!


Setelah melayangkan pukulannya yang terakhir, Wubin membelakangi pria itu.


"Aku tidak mau menerima kata gagal lagi. Bawa wanita itu, secepatnya. Aku sudah tidak sabar, untuk menyiksanya." Wubin mengepal kuat tangannya, sambil memandang simbol White Tiger, "Kau akan mati di tanganku, Erena!"


Wubin telah berhasil kabur dari sekapan Daniel dan Biao waktu itu. Namun, ia harus kehilangan Arion untuk selamanya.


Arion adalah bos yang sangat ia patuhi. Perginya Arion, bukan membuat satu kenyamanan bagi Daniel. Tapi satu undangan perang kepada White Tiger.


Wubin yang sudah lama menghilang telah muncul kembali. Ia menghilang, hanya untuk mengumpulkan pasukan. Membentuk kembali White Tiger, dengan kekuatan yang baru.


Zeroun memang target utamanya. Tapi ia tahu, tidak akan mudah mengalahkan Zeroun Zein. Meskipun sudah lama meninggalkan dunia mafia, kemampuan Zeroun tidak pernah bisa di remehkan.


Hari ini ia kehilangan banyak pengawal saat menyerang rumah Zeroun Zein. Pasukan Wubin mundur, karena sudah tidak memiliki harapan untuk menang.


Saat menyerang rumah utama milik Daniel, pasukan Wubin tidak kembali satu pun. Ia semangkin murkah, hatinya sudah terbakar api amarah.


"Pergi dari sini! Lakukan tugas kalian!"


Pria bertubuh tegab itu menunduk hormat, sebelum pergi meninggalkan Wubin. Memikirkan rencana selanjutnya, agar tidak kembali menerima kata kegagalan.


"Aku akan memenangkan pertarungan ini!"


Wubin memukulkan tangannya di atas meja. Bola matanya menghitam. Api amarah telah memenuhi jiwanya.


***


Di rumah utama, Daniel sudah berada di kamar. Daniel menarik napas lega, saat kembali melihat senyuman Serena yang manis.


Serena duduk dengan bersandar bantal. Dan menatap Daniel dengan wajah penuh bahagia.


"Kau meninggalkanku. Aku sangat khawatir, Daniel."


Daniel menggenggam tangan Serena, dan menciumnya dengan cinta.


"Aku tidak meninggalkanmu, Sayang. Apa masih terasa sakit?"


Serena menggeleng pelan, matanya tertuju pada Adit yang baru saja tiba. Adit tersenyum manis memandang Serena.


"Apa anda sudah baikan, Nona Serena?"


"Ya dokter, sudah tidak terasa sakit." Serena memegang kepalanya perlahan.


Daniel dan Serena hanya memandang kepergian Adit. Setelah pintu kembali tertutup, Serena memandang wajah Daniel dengan seksama.


"Daniel, apa yang terjadi? Kenapa mereka menembak semua pengawal kita?" Serena mengerutkan keningnya, menagih satu jawaban kepada Daniel.


Daniel kembali mencium tangan serena, mengusapnya perlahan. "Sayang, jangan pikirkan penyerangan tadi. Kau tidak boleh memikirkan itu semua. Biar aku yang menghadapi semuanya." Daniel tersenyum memandang wajah Serena.


"Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu, Daniel." Serena memegang pipi Daniel, "Aku takut Daniel."


"Aku akan baik-baik saja. Sekarang minum obatnya dan kembali istirahat." Daniel mengambil buliran obat dan segelas air dari atas meja.


Serena mengambil obat itu, dan meminumnya perlahan. Menghabiskan air di gelas itu dan kembali membaringkan tubuhnya.


Daniel mengambil gelas Serena, dan meletakkannya kembali di meja. Menarik selimut, hingga menutupi sebagian tubuh Serena.


"Jangan tinggalkan aku." Serena memegang tangan Daniel, untuk mencegahnya pergi.


"Tidak sayang, aku akan di sini untuk menemanimu."


Serena memandang langit-langit kamar. Pikirannya masih tertuju pada penyerangan siang tadi. Beberapa bayangan terasa dekat dengan hidupnya. Tapi Serena belum bisa mengingat semuanya, dengan mudah.


"Apa yang terjadi dengan masa laluku. Kenapa semua seperti pernah terjadi." Gumam Serena dalam hati.


"Aku masih belum siap, menerima semuanya Serena. Saat kau kembali mengingat semuanya." Gumam Daniel dalam hati.


Satu deringan handpone, memecahkan lamunan Daniel. Dahinya mengerut saat melihat nama seseorang muncul di handphonenya.


"Mama," ucap Daniel pelan.


Daniel mengangkat panggilannya, dan melekatkan handphone itu di telingannya.


"Mama, apa mama baik-baik saja?"


[Daniel, apa kalian baik-baik saja? Perasaan mama tidak enak. Mama kepikiran dengan Serena.]


"Mama, semua baik-baik saja. Apa mama sudah sampai?"


[Sudah, apa mama bisa bicara dengan Serena? Mama sangat merindukannya.]


Daniel memberikan handphone itu kepada Serena, "Mama ingin bicara, Sayang."


"Halo ma, ini Serena."


[Sayang, apa semua baik-baik saja?]


Serena menatap wajah Daniel sebelum menjawab pertanyaan itu. Daniel hanya menggeleng untuk memberi kode kepada Serena, agar menyembunyikan semuanya.


"Serena baik-baik saja ma. Mama jaga kesehatan di sana."


[Mama senang mendengarnya. Mama harus pergi dengan papa. Kabari mama jika terjadi sesuatu ya, Serena.]


"Iya ma." Jawab Serena dengan senyuman manis.


Serena memberikan handphone itu kepada Daniel. Panggilan masuk telah terputus. Serena memandang wajah Daniel, dengan penuh rasa curiga.


"Sayang, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa kau memiliki musuh?" Serena terus memandang wajah Daniel untuk menagih satu jawaban.


"Tidak Sayang, semua akan baik-baik saja."


Daniel terus menutupi kebenaran yang ada. Ia tidak ingin menceritakan semuanya pada Serena. Daniel tidak ingin menambah beban untuk Serena.


"Aku terlalu sering menyakiti hatimu, Serena. Mungkin ini hukuman untukku. Atas perbuatanku dulu. Tapi aku sangat mencintaimu, Serena. Aku akan menghadapi semuanya. Asalkan kau selalu ada di sampingku. Untuk menemaniku selamanya." Gumam Daniel dalam hati.


Serena mulai memejamkan matanya. Melupakan semua kekacauan yang terjadi. Menenangkan pikirannya. Serena terus memegang tangan Daniel, ia tidak ingin jauh dari Daniel.


Hatinya memang di penuhi rasa takut. Sejak ia sadar dari komanya dulu, ia tidak pernah dalam bahaya. Hanya kedamaian dan kasih sayang yang ia dapat. Perlakuan Tuan Wang, menjadikan Serena seperti seorang ratu di rumah sederhananya.


Tuan Wang tidak pernah membiarkan air mata Serena menetes, apa lagi bersedih. Sejak menikah dengan Daniel, Serena mulai merasakan semuanya.


Tapi rasa cintanya kepada Daniel, membuat Serena melupakan rasa sedih itu. Ia jauh lebih takut, jika Daniel berada dalam bahaya. Daniel adalah satu-satunya pria yang ada di sampingnya, setelah tuan Wang pergi. Serena tidak ingin, kehilangan yang kedua kalinya.


Like, Komen, Vote.