Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 47



Serena mematung beberapa saat. Kedua bola matanya menatap semua pasukan Heels Devils yang kini ingin menyerangnya. Sambil tersenyum, Serena menatap wajah kedua buah hatinya. Memasang sebuah headphone di telinga mungil babynya. Memutar musik klasik agar kedua buah hatinya tidak kaget saat mendengar suara tembakan yang memekakan telinga.


“Kalian harus jadi anak yang baik budi ya Sayang,” ucap Serena lembut.


Setelah itu. Serena berdiri dengan dua pistol di tangannya. Tatapan matanya terhenti pada sebuah lemari kayu. Dengan cepat, ia mendorong trolly twin baby ke arah depan. Wanita itu mengangkat kedua pistolnya dengan tatapan mata yang sangat tajam. Trolly Baby Twin berhenti di posisi yang sangat terlindung. Ada sebuah lemari besar yang menghalangi trolly itu dari tembakan Heels Devils.


Tembakan demi tembakan di keluarkan oleh Serena. Wanita tangguh itu tidak mau kalah hari ini. Kakinya menekan di lantai sebelum Serena mengambil posisi melompat untuk menghindari peluru-peluru yang kini mengincarnya. Lagi-lagi tembakan ia layangkan saat melihat musuhnya semakin bertambah.


“Waw, fantastis!” ucap Serena dengan girang.


Sudah lama ia tidak membantai habis orang-orang seperti musuhnya saat ini. Wanita itu terlihat semakin bersemangat. Salah satu pasukan Heels Devils mengeluarkan sebuah granat dan ingin melempar benda itu ke arah Serena. Tepat di saat tangan musuh Serena melambai, Satu tembakan di arahkan Serena untuk merusak keseimbangan tangan lawannya. Tidak cukup di situ. Serena menghadiahkan satu peluru ke arah dada musuhnya hingga membuat musuhnya kehilangan nyawa detik itu juga.


Dari kejauhan. Shabira dan Kenzo muncul. Sepasang suami istri itu melayangkan tembakan demi tembakan ke arah pasukan Heels Devils. Serena kembali ingat dengan suaminya. Sebelum ia berlari membawa buah hatinya, Daniel sedang menghadapi pimpinan musuh yang menyerangnya hari ini. Hanya ada beberapa pasukan S.G. Group yang kini menemani suaminya. Serena sangat yakin, kalau Daniel tidak akan menang melawan pria itu dengan pasukan S.G. Group di sampingnya.


“Shabira, Kakak titip anak Kakak. Kakak akan menolong Daniel.” Serena berlari tanpa menunggu jawaban dari Shabira. Wanita itu tidak ingin membiarkan suaminya kesulitan sendirian saat ini.


Shabira berlari untuk memegang trolly Baby Twin. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat benda lucu yang kini ada di telinga bayi itu.


“Kak Erena sudah mengajak kalian untuk bertarung. Apa alat ini ia gunakan untuk membujuk kalian agar tidak menangis?”ucap Shabira sebelum mendorong trolly baby twin dan membawanya ke tempat yang jauh lebih aman. Sedangkan Kenzo masih sibuk menembak untuk mengalahkan musuh yang tersisa di lokasi itu.


***


Serena muncul di lokasi pertempuran Daniel. Wanita itu muncul dengan tembakan yang tiada henti. Kedua tangan dan kedua tatapan matanya sama-sama terlihat sangat menakutkan. Satu kayu yang ia lihat tidak jauh di bawah kakinya. Ia tendang hingga mengenai pria yang menjadi pemimpin Heels Devils saat itu. Senjata api pria itu berhasil terlepas dari tangannya dan jatuh di bawah kaki.


“Apa hanya segini kemampuan Heels Devils? Apa kalian lupa kalau dulu kalian hanya seekor semut di mata Queen Star,” ucap Serena dengan tatapan tidak terbaca.


Pria itu mundur beberapa langkah. Dengan mata penuh kebencian, ia berusaha mengambil senjata apinya yang telah terjatuh.


Serena tidak lagi bisa memberi toleransi kepada pria itu. Bahkan ia tidak peduli dengan Daniel di situ. Rasa sakitnya atas luka yang di terima Ny. Edritz cukup membuat dendam di dalam hatinya. Kini wanita yang ia panggil Mama telah berbaring lemah di rumah sakit dan tidak sadarkan diri.


Serena melompat dengan tatapan yang dipenuhi kebencian. Kedua pistol yang ada di kedua tangannya ia arahkan ke pria berbadan besar itu. Setelah peluru-peluru itu menancap di dada musuhnya. Serena mengeluarkan sebuah belati yang entah sejak kapan ia bawa. Wanita itu menebas leher musuhnya dengan begitu keji.


Daniel yang menyaksikan aksi Serena saat itu terlihat sangat syok. Ini pertama kalinya Daniel melihat istrinya membantai musuhnya secara langsung. Pria itu merasa kalau kini Serena seakan kembali pada sifat Mafia yang selama ini telah hilang. Pria itu tidak bisa mengeluarkan kata selain menelan saliva dengan jantung berdebar. Pembantaian di depan matanya bahkan jauh lebih mengerikan dari pada film horror.


“Katakan pada Jesica Gigante. Dia akan mati jauh lebih mengenaskan daripada kau!” Serena melempar belatinya di samping tubuh pria yang sudah tidak bernyawa itu. Kedua tangannya terkepal kuat hingga memutih. Ada percikan darah di baju yang kini ia kenakan.


“Serena,” ucap Daniel hati-hati.


Serena mengalihkan tatapan matanya dari Daniel. Ia tidak lagi ingat dengan Daniel sejak tadi. Tanpa ia sadari ia telah kembali menguasai sikap terlarangnya itu. Napasnya beradu dengan debaran jantung yang tidak kalah cepat. Keringat berkucur deras membasahi tubuhnya yang kini mengenakan pakaian berwarna putih.


“Sayang ....” ucap Daniel sekali lagi saat Serena tidak kunjung memandang wajahnya.


Serena memutar tubuhnya untuk menatap wajah Daniel, “Aku ingin segera berangkat ke Brasil. Aku ingin membunuh wanita jal*ang itu sekarang juga.”


Daniel menghela napas, “Ok, kita akan berangkat. Setidaknya kita juga harus menyusun rencana dan memastikan kalau Heels Devils benar-benar bersih di kota ini. Kita tidak mungkin pergi meninggalkan anak kita di tempat yang berbahaya.”


Serena kembali ingat dengan seseorang yang masih berkeliaran saat ini,”Ya. Kau benar, Daniel. Satu orang lagi. Pria sial*an ini tidak pernah bertarung sendirian. Saat ini rekannya pasti ada di suatu tempat untuk menyusun rencana penyerangan terhadap kita.” Serena menatap tajam musuhnya yang kini sudah tidak bernyawa dan bersimbah darah.


“Mereka aman bersama Shabira,” ucap Serena sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Wanita tangguh itu benar-benar tidak sabar untuk membasmi seluruh musuhnya yang ada di kota itu.


Jesica Gigante. Tunggu saja kedatanganku. Kita akan bertemu secepatnya. Kau benar-benar wanita sial*an yang seharusnya aku musnahkan sejak dulu.


Daniel berdiri mematung memandang punggung istrinya yang tidak tahu entah kemana tujuannya. Wanita itu benar-benar telah kembali pada dunianya dulu.


Sayang, kau sangat marah karena mereka melukai Mama. Aku tidak pernah menyangka kalau Mama juga merupakan bagian yang penting dalam hidupmu. Terima kasih, Sayang. Karena telah mencintai Mama sebesar cintaku kepada Mama. Maafkan Aku yang tidak terlalu banyak berguna untuk membantumu saat ini. Kau bebas melakukan apapun saat ini sampai dendam di hatimu benar-benar hilang. Aku akan mendukungmu dan selalu ada di sampingmu. Aku tidak tahu, apa aku bisa menjadi pria yang berguna untuk menjagamu. Tetapi satu hal aku yakini sejak dulu. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu. Satu-satunya nyawa yang aku miliki juga rela aku korbankan untuk melindungimu dari bahaya.


Serena berjalan mendekati posisi Kenzo dan Shabira saat ini. Sepasang suami istri itu terlihat bermain-main dengan buah hatinya. Serena mengukir senyuman kecil. Wanita itu berjalan dengan hati-hati agar tidak mengganggu suasana indah yang ada di depan matanya.


“Kakak,” ucap Shabira sambil tersenyum, “Lihatlah, Kak. Kedua bayi mungil ini sangat suka tertawa. Mereka terlihat sangat menggemaskan.”


Serena mengukir senyuman saat melihat wajah buah hatinya, “Kau juga akan segera memiliki bayi yang imut seperti ini nantinya.”


Kenzo memperhatikan keadaan sekitar. Pria itu bingung dengan keberadaan sepupunya saat ini, “Dimana Daniel, Serena?”


“Ada di belakang,” ketus Serena.


“Kau meninggalkannya?” tanya Kenzo sambil mengeryitkan dahi.


“Aku hanya sedikit malu padanya. Tadi aku menebas leher pria sialan itu di hadapannya. Aku sedikit merasa bersalah kepada diriku sendiri,”ucap Serena dengan suara lirih.


“Aku tidak akan pernah menyalahkanmu, Sayang. Aksimu tadi sungguh hebat. Kapan-kapan, apakah kau mau mengajariku teknik bertarung seperti itu?”


Semua orang dibuat kaget dengan suara Daniel yang tiba-tiba. Serena memutar tubuhnya sambil mengukir senyuman indah yang biasa ia miliki.


Daniel membuka kedua tangannya, “Aku sangat merindukanmu. Beberapa menit yang lalu kau terlihat seperti bukan istriku. Apa sekarang kau mau berubah menjadi istriku lagi, Serena?”


Serena tersenyum lagi. Wanita itu berlari untuk memeluk tubuh suaminya. Hatinya bisa merasa sedikit lega saat ini karena Daniel tidak mempermasalahkan aksinya tadi, “Maafkan aku, Daniel.”


Daniel mengecup pucuk kepala Serena berulang kali, “Jangan minta maaf. Aku justru ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah membunuh orang yang telah mencelakai Mama dan Papa.”


“Mereka orang tuaku juga. Aku akan membalas setiap tetes darah yang mereka keluarkan dua kali lipat jauh lebih banyak.”Kedua bola mata Serena kembali berubah tajam.


“Aku tahu itu. Untuk saat ini, aku ingin kau kembali menjadi Serenaku. Lupakan sikap si Erena karena itu terlihat menakutkan. Aku tidak ingin dua buah hatiku tidak mengenalimu, Sayang.” Daniel mempererat pelukannya.


Shabira dan Kenzo tertawa saat mendengar kalimat yang dikatakan oleh Daniel. Ini bukan pertama kalinya Kenzo dan Shabira melihat aksi kejam Serena. Mereka juga tidak menyangka kalau Serena bisa kembali seperti dulu lagi saat rasa dendam itu memenuhi hatinya.


**Uda siap bacanya? mundur ke belakang. aku yakin like lupa tadi...😉


Ok..3 bab terakhir besok ya...