
Seperti sudah berpisah sekian lama, Ny. Edritz yang di temani oleh Pak Han dan Pak Sam sudah menyambut kedatangan Daniel dan Serena di pintu utama. Wajah Ny. Edritz berubah secerah sinar mentari saat melihat mobil yang membawa Daniel dan Serena memasuki gerbang.
“Mereka sudah tiba, Pak Han,” ucap Ny. Edritz penuh rasa bahagia.
“Mama,” sapa Serena saat pertama kali turun dari mobil.
“Serena, Mama sangat merindukanmu.” Ny. Edritz melangkah maju untuk memeluk tubuh Serena dengan bahagia.
“Ma, Serena hanya pergi selama satu hari. Bukan satu tahun,” ketus Daniel sambil melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Ny. Edritz dan Serena di sana.
“Apa kau baik-baik saja, Sayang.” Ny. Edritz menyimpan rasa curiga, saat melihat mata Serena yang membengkak.
“Iya, Ma. Serena baik-baik saja. Tadi malam Serena rindu sama Papa. Jadi .…”
Tanpa bertanya lagi, Ny. Edritz kembali memeluk Serena dengan penuh kasih sayang, “Kami ada di sini untuk selalu menyayangimu Serena. Ayo kita masuk.” Ny. Edritz menggenggam tangan Serena dan menarik tangan Serena untuk masuk ke dalam rumah.
“Ma, dimana Papa?” tanya Serena pelan, sambil mencari-cari sosok Tuan Edritz yang tidak kunjung muncul.
“Papa berada di kamar. Serena apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama,” tanya Ny. Edritz yang masih meragukan keadaan Serena.
“Tidak, Ma. Serena baik-baik saja.” Serena tersenyum manis, untuk menyakinkan Ny. Edritz.
Ny. Edritz membawa Serena duduk di sofa besar, yang ada di ruang utama.
“Daniel, kemarilah.”
“Ada apa, Ma?” jawab Daniel singkat.
“Daniel, kalian tidak lupakan. Kalau hari ini kalian akan berangkat bulan madu,” ucap Ny. Edritz dengan penuh kebahagiaan.
“Iya,” jawab Daniel tanpa membantah.
“Mama senang mendengarnya, sebaiknya sekarang kalian ke kamar untuk mempersiapkan keperluan yang akan kalian bawa saat bulan madu.”
“Mau pergi kemana, Ma?” tanya Serena yang mulai penasaran.
“Rahasia. Itu kejutan untuk kalian berdua. Kalian hanya tinggal naik mobil, naik pesawat dan tiba di tempat tujuan dengan penuh bahagia. Serta pulang dengan kabar gembira.” Ny. Edritz mencubit pipi Serena pelan. Senyuman terus saja melingkar di wajahnya.
Wajah Serena seketika berubah merona, Kalimat yang di ucapkan Ny. Edritz membuat dirinya sedikit salah tingkah di hadapan Daniel. Sementara Daniel yang melihat sikap Serena, hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Serena.
“Ayo, Sayang. Kita ke kamar,” ajak Daniel sambil menarik tangan Serena pelan.
“Ma, Serena ke kamar dulu,” pamit Serena sambil mengikuti langkah Daniel.
Meskipun hanya sebuah sandiwara yang memang sudah di ketahui oleh Ny. Edritz. Sikap Daniel di anggap sebuah nilai untuk mempererat hubungan antara Serena dan Daniel. Ny. Edritz hanya tersenyum penuh arti memandang kedua anak yang sangat ia cintai itu.
“Mama akan mengurus semua masalah yang telah terjadi di sini Serena, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi kebahagiaan kalian,” ucap Ny. Edritz pelan
Belum juga tiba di kamar, Daniel sudah melepas genggaman tangannya terhadap Serena.
“Apa kau bahagia?” tanya Daniel singkat.
“Aku? Kenapa kau menanyakan hal itu?” Serena menunjuk ke arah wajahnya.
“Kau terlihat bahagia saat Mama menceritakan tentang bulan madu itu.” Daniel membuka pintu kamar untuk masuk ke dalamnya.
“Jangan terlalu menuduh, aku tidak akan menyusahkanmu di sana. Aku hanya akan menikmati liburannya saja,” jawab Serena santai, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.
“Berlibur?” tanya Daniel bingung.
“Iya. Mama pasti membawa kita ke sebuah tempat yang indah. Mungkin sebuah pulau dengan pantai yang indah .…” Khayal Serena dengan senyuman di bibirnya.
“Tidak, karena pantai tempat yang penuh kenangan dengan Papa,” jawab Serena dengan nada lirih.
Jadi itu sebabnya, Serena mau di ajak pergi ke pantai olehnya.
Tok tok tok . . .
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan keduanya.
“Masuk,” ucap Daniel singkat.
“Tuan, keberangkatan Tuan dan Nona Muda 2 jam lagi, Tuan. Saya akan membantu anda bersiap-siap,” ucap Pak Han, sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
“Iya. Silahkan, Pak Han.” Daniel kembali menatap Serena.
“Jangan, Pak Han,” ucap Serena kaget.
“Jangan?” Daniel mengerutkan dahinya.
“Maksudnya, biar semua keperluan yang saya butuhkan, saya bereskan sendiri,” jawab Serena sambil tersenyum .
“Baik, Nona,” jawab Pak Han penuh hormat.
Serena beranjak dari tidurnya. Ia melangkah ke arah ruang ganti, mengikuti langkah Pak Han dari belakang. Ruangan berukuran sedang, yang di kelilingi lemari yang besar. Ruangan itu menghubungkan langsung, ke arah pintu kamar mandi.
Serena dan Pak Han kini berada di depan lemari yang besar. Pak Han telah menyiapkan beberapa barang yang akan diperlukan oleh Daniel selama perjalanan. Sedangkan Serena hanya diam mematung memandang lemari tanpa melakukan tindakan apapun.
“Nona Serena, Apa anda sedang memikirkan sesuatu?” tanya Pak Han memecah lamunan Serena.
“Tidak, Pak Han.” Serena mengambil sepotong baju, dan meletakkannya di atas kursi.
“Nona, sebaiknya anda tidak membawa baju. Anda hanya perlu membawa beberapa barang yang anda butuhkan selama perjalanan nanti,” ucap Pak Han sambil mengunci satu buah koper yang sudah berisi barang-barang penting Daniel.
“Jangan membawa baju? Apa maksud anda, Pak Han?” tanya Serena bingung.
“Ny. Edritz sudah menyiapkan semuanya, Nona. Jadi anda tidak perlu repot-repot membawa baju.”
“Aku tidak memiliki barang berharga. Hanya handphone ini.” Tunjuk Serena ke sebuah Handphone yang berada tidak jauh dari tempat Serena kini berada.
“Apa anda tidak ingin membawa yang lainnya, Nona?” tanya Pak Han lagi.
Serena hanya menggelengkan kepalanya, Serena bukan seorang pekerja seperti Daniel. Dan juga bukan seorang wanita karir saat ini. Tidak ada barang yang sangat ia butuhkan selain kenyamanan dan makanan pastinya.
Beberapa menit telah berlalu, Serena dan Pak Han telah selesai dengan tugas mereka. Pak Han juga sudah meninggalkan kamar Serena dan Daniel. Daniel juga terlihat sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan sebuah jas berwarna biru muda yang menambah kesan profesional di tubuhnya. Serena lebih memilih sebuah dres panjang hingga menutupi mata kakinya dengan corak bunga yang membuat tampilan Serena semakin menawan.
“Kalian sudah siap, Sayang," ucap Ny. Edritz yang telah menyambut Daniel dan Serena yang baru saja menuruni anak tangga.
“Ma, ada yang ingin Daniel tanyakan sama Mama.”
“Apa itu Daniel?” jawab Ny. Edritz penasaran.
Tatapan Daniel beralih ke arah Serena yang juga memasang wajah penasaran dengan pertanyaan yang akan di ajukan oleh Daniel.
“Saya duluan ke meja makan ya, Ma,” ucap Serena singkat, tatapan Daniel memang member kode kepadanya untuk tidak mengetahui apa yang ingin ia bicarakan dengan Ny. Edritz.
“Apa yang ingin kau tanyakan Daniel?” Wajah Ny. Edritz kini semakin serius.
“Serena putri tunggal dari Tuan Wang, Ma. Tapi, kenapa dia mengatakan kehidupannya selama ini sangat sederhana. Dia tidak pernah bersikap seperti seorang putri, yang terlahir dari keluarga kaya, Ma.” Daniel menatap wajah Ny. Edritz dengan serius. Ia menagih satu penjelasan, yang selama ini disembunyikan oleh Ny. Edritz.