Mafia's In Love

Mafia's In Love
Sonia Vs Biao



“Kenapa semua ini terjadi!” bentak Daniel sambil membuang semua barang yang ada di atas meja kerjanya, hingga semua jatuh berhamburan di lantai.


“Serena! Siapa kau sebenarnya!” gumamnya pelan sambil mencengkram kedua tangannya.


Daniel terus saja membuang semua barang yang ada di hadapannya, rasa kesal di hatinya saat ini benar-benar sudah tidak terkendali lagi. Perasaannya kini sudah di penuhi dengan amarah yang begitu menyala-nyala.


Pertikaian yang baru saja terjadi antara Biao dan Sonia justru membuat amarah dalam dirinya kembali muncul ke permukaan.


Rasa sakit hatinya ketika ia melihat prilaku Kenzo yang terus mengunjungi dan memberi Serena banyak perhatian. Ditambah lagi semua penyelidikan tentang masa lalu Serena yang tidak kunjung mendapat jawaban. Berbaur menjadi satu menjadi sebuah beban berat yang menetap dalam dirinya saat ini.


Isi kepalanya kali ini benar-benar di penuhi dengan masalah besar.


Sejak menikah dengan Serena, hidupnya memang tidak lagi pernah mendapat ketenangan. Wajah polos Serena justru selalu membuat masalah yang di luar dugaan menjadi terjadi.


Sonia dan Biao hanya bisa berdiri mematung di depan ruangan Daniel. Tatapan keduanya hanya sebuah tatapan saling menyalahkan. Masih terdengar beberapa barang jatuh dan pecah di dalam.


Sambil mengepal kuat tangannya, kini tatapan mata yang dipenuhi kekesalan yang dimiliki Biao ia tujukan di hadapan wajah Sonia.


“Apa kau puas sekarang!” bentak Biao sambil menatap tajam ke arah Sonia.


“Kenapa kau jadi menyalahkanku? Kau juga di usir keluar olehnya, berarti kau juga salah!” jawab Sonia membela diri.


Mendengar amukan Daniel dari dalam ruangan, membuat perasaan Biao terasa sakit. Usahanya yang tidak membuahkan hasil yang kini menjadi penyebab utamanya.


“Apa dia sedang sangat marah? Dia terdengar seperti membanting sesuatu!” gumam Sonia sambil menatap bingung ke arah Biao.


“Apa kau bisa pergi dari sini, kau sungguh menyusahkan”, sambil mencoba menarik gagang pintu ruangan Daniel.


“Kau mau masuk? Aku ikut…” ucap Sonia santai.


“Apa kau sudah gila nona! Tuan Daniel menjadi seperti ini karena perbuatan anda dan sekarang anda bilang mau masuk?” protes Biao yang tidak menyetujui keinginan Sonia.


“Kau juga bersalah Biao, jangan bertingkah seperti itu!” sindir Sonia sambil menatap ke arah tangan Biao yang masih memegang gagang pintu.


“Dia akan tetap ikut masuk, jika aku masuk sekarang juga”, batin Biao sambil melepas genggaman tangannya.


“Kau tidak jadi masuk?” ucap Sonia kecewa.


“Tidak! Jika kau ingin masuk, masuk saja sendiri”, sambil berlalu pergi meninggalkan Sonia sendiri di sana.


“Kenapa dia menyuruhku masuk, dia baru saja melarangku”, sambil menatap pintu ruangan Daniel.


“Lebih baik aku kembali ke ruanganku saja, sepertinya suasana hati Daniel sedang buruk hari ini”, sambil melangkah cepat menuju ke ruangannya.


“Kau tidak secerdas yang aku pikirkan”, batin Biao sambil tersenyum tipis menatap kepergian Sonia.


Dengan langkah cepat, Biao kembali masuk ke dalam ruang kerja Daniel. Biasanya dirinya selalu di temani oleh Tama tiap kali mendapat situasi seperti ini. Namun kali ini ia harus berdiri sendiri untuk meredam emosi yang di miliki oleh Daniel.


Perlahan ia menarik gagang pintu dan menarik pintu itu hingga terbuka. Terlihat sebuah ruangan yang sangat berantakan. Semua barang sudah tidak pada tempatnya lagi. Beberapa barang juga sudah pecah berserakan di lantai. Di sebuah sofa besar terlihat Daniel yang sedang duduk diam sambil menopang kepala dengan kedua tangannya.


“Tuan…” ucap Biao pelan sambil melangkah mendekat ke arah Daniel.


Satu-satunya cara saat menghadapi Daniel dalam kondisi seperti ini adalah berada di sampingnya. Biao selalu ada di samping Daniel untuk mendampinginya tiap kali Daniel bersikap seperti sekarang.


“Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menyelidiki semua ini tuan”, ucap Biao pelan mencoba untuk memberanikan diri.


“Kita tidak akan menang, Papa pasti ada di balik semua ini”, jawab Daniel dengan senyum tipis di bibirnya.


“Bukan hanya berhadapan dengan musuh! Tapi saat ini kita berhadapan langsung dengan Tuan Edritz Chen! Dia tidak akan membiarkan kita mudah memperoleh informasi itu”, sambil menggenggam kuat kedua tangannya.


“Kita tidak bisa menuduh tuan Edritz seperti itu tuan”, jawab Biao pelan.


“Apa kau sudah ada di pihaknya sekarang?” tanya Daniel dengan tatapan menuduh.


“Maaf tuan”, Biao hanya menunduk.


Daniel hanya menatap Biao beberapa saat dan kembali mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat berantakan.


“Bereskan semuanya!” sambil beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah handphone yang kini berdering.


“Baik tuan”, jawab Biao singkat, sambil memangil seorang pekerja untuk membereskan ruangan yang sudah di penuhi dengan kekacauan itu.


Langkah Biao terhenti saat Daniel menyebut satu nama yang menjadi judul dalam masalah ini.


“Serena!” ucap Daniel pelan.


Tatapan mata yang awalnya di penuhi amarah yang besar, berubah menjadi sebuah kekhawatiran. Dengan cepat Daniel mengambil sebuah jas yang tergantung dan melangkah cepat ke luar ruangan.


“Ikut denganku ke rumah sakit Biao”, satu kalimat perintah yang baru saja di layangkan oleh Daniel.


Tanpa banyak protes, Biao mengikuti langkah kaki Daniel dengan cepat.


Hatinya masih dipenuhi banyak pertanyaan tanpa berani untuk bertanya. Dengan cepat Biao membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Daniel masuk ke dalamnya. Kini keduanya sudah ada dalam satu mobil yang sama.


Namun belum ada yang memulai pebicaraan, suasana di dalam mobil sangat hening. Kata demi kata hanya ada di dalam pikiran mereka masing-masing.


“Kau akan baik-baik saja Serena, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada dirimu”, gumam Daniel dalam hati sambil membuang tatapannya ke arah luar jendela.


“Semoga tidak terjadi sesuatu pada nona muda…” batin Biao sambil terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sesekali Biao melirik ke arah spion untuk memastikan keadaan Daniel. Hanya ada wajah gusar yang terpancar di sana. Entah apa yang saat ini ada di pikiran sang majikan, Biao terus memfokuskan pandangan matanya ke arah jalan.


“Nona, siapa kau sebenarnya?” batinnya lagi.


Tidak butuh waktu yang lama, kini mobil yang di tumpangi Daniel dan Biao sudah tiba di rumah sakit.


Tanpa menunggu Biao membukakan pintu, Daniel keluar dari mobil dan berlari cepat menuju ruang rawat Serena. Debaran jantungnya semangkin cepat berdetak saat langkahnya semangkin dekat dengan kamar Serena.


Perlahan ia melangkah mendekat dan memegang gagang pintu. Daniel menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu agar mengetahui keadaan yang terjadi di dalamnya.


Perlahan kakinya ia langkahkan masuk ke dalam. Daniel hanya bisa diam mematung saat melihat pemandangan yang kini ada di depan matanya.


“Serena…” ucapnya singkat.