
“Aku akan membalasmu!” Menarik sebuah peluru yang tertancap ditangannya, dengan pisau yang saat ini ia genggam.
Di depan cermin, Arion berdiri memandang wajahnya sendiri. Rasa marah dan dendam yang selama ini ia simpan, harus kembali hadir di dalam pikirannya. Tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya saat ini. Semua pengawal setianya, lebih memilih untuk menjaganya dari depan pintu kamar tempat ia kini berada.
Seorang pria mengenakan jas berwarna putih, melangkah dengan langkah yang cepat. Pria itu menggenggam sebuah tas kecil . Pandangannya terus ia fokuskan, pada sebuah pintu kamar besar yang kini ada di hadapannya.
“Apa dia di dalam?” tanyanya singkat kepada beberapa pengawal, yang sedang berjaga di depan kamar Arion.
“Tuan ada di dalam, dia sudah menunggu anda sejak tadi,” jawab seorang pengawal singkat, sambil membuka pintu kamar Arion.
Langkah kaki yang tadi berdurasi cepat, kini ia perlambat. Pandangan matanya hanya ia arahkan ke wajah Arion yang kini sedang menahan amarah.
“Tuan, maafkan saya sudah datang terlambat,” ucapnya pelan sambil membungkukan tubuhnya.
“Dia masih hidup, aku yakin mereka memiliki rencana licik untuk menghancurkanku,” jawabnya sebelum membalikan tubuh untuk memandang seseorang yang kini berdiri dibelakangnya.
Wubin, seorang pria muda yang selalu berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Salah satu pria yang sudah lama bekerja dengan Arion. Jejaknya hilang saat ia berhasil menyelesaikan misinya membunuh seorang mafia yang sangat hebat. Dia pergi tanpa jejak. Semua rencananya juga sangat rapi hingga tidak mencurigakan sedikitpun.
“Dia masih hidup, Wubin,” ungkapnya singkat.
“Itu tidak mungkin, Tuan. Aku sudah berhasil membunuhnya. Bahkan dia menghilangkan napas terakhirnya, tepat di hadapanku.”
“Apa kau pikir aku sedang bercanda, Wubin! Dia hidup, dia ada di depan mataku. Dia berada di kota ini, Zeroun juga ada di sini,” teriakan Arion memecahkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Wubin diam membisu tanpa kata. Hatinya masih merasa yakin, kalau ia sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.
“Saya akan menyelesaikannya, Tuan.” Wubin menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah. Dirinya telah gagal, dalam tugas penting yang diperintahkan Arion.
“Aku ingin kau selidiki dia, dua kali pertemuanku dengannya ia sama sekali tidak melawan. Dia justru berlari dan menghindar dari pandanganku,” ucap Arion sambil kembali menenangkan pikirannya.
“Baik, Tuan. Saya akan selesaikan semuanya.”
“Kali ini aku ingin kau menghabisinya, tepat di depan mataku, Wubin,” perintah Arion dengan pandangan yang tidak terbaca lagi.
“Baik, Tuan.” Wubin melangkah mundur sebelum pergi meninggalkan Arion sendiri di dalam kamar.
Hanya wanita itu senjataku untuk menghancurkanmu, Zeroun. Aku sudah hampir berhasil menghabisimu, dalam titik lemah rasa kehilanganmu itu.
Arion menggenggam kedua tangannya dengan erat. Matanya menghitam. Dendamnya sungguh besar, kepada musuh yang tidak pernah bisa ia kalahkan.
Di luar kamar. Wubin masih terus memaksakan ingatannya, untuk kembali mengingat kejadian yang telah berlalu beberapa bulan yang lalu. Masih jelas terbayang di ingatannya, wajah seorang wanita yang berusaha keluar dari sebuah mobil yang sudah terbalik.
Merangkak meninggalkan mobil dan berada tepat di hadapan Wubin. Bukan hanya menembaknya hingga tewas, Wubin juga mendorongnya ke arah jurang yang sangat dalam.
“Erena, Kau memang wanita beruntung yang memiliki nyawa cadangan.”
Wubin tersenyum tipis, menghembuskan napasnya dengan kasar ke sembarang arah, “Kita lihat saja nanti, apa dewa keberuntungan masih berpihak kepadamu.”
Entah dendam apa yang pernah terjadi di antara Zeroun dan Arion. Tetapi saat ini orang yang saling membenci itu, sedang merencakan satu siasat untuk mengalahkan satu sama lain.
Kembali ke Apartemen. . .
Setelah selesai membersihkan diri. Daniel keluar dari kamar mandi, melihat Serena yang sudah duduk di tepi ranjang.
“Kau sudah bangun?” tanyanya singkat.
“Apa yang terjadi” ucap Serena pelan.
“Apa kau tidak mengingatnya?”
Serena hanya diam sambil kembali mengingat kejadian yang baru saja menimpahnya.
Bukannya selesai mandi, aku turun ke bawah untuk mencari makanan, dan suara tembakan.
“Untuk apa kau turun ke bawah? Bukannya Biao sudah bilang, kalau kau harus menungguku di sini.”
“Aku ingin mencari makan di bawah,” jawab Serena singkat.
“Kau lapar?” tanya Daniel cepat.
Serena hanya menjawab dengan anggukan cepat.
“Darimana saja kau seharian? Merepotkanku saja.” Daniel menjatuhkan tubuhnya, di atas ranjang empuk.
“Aku, hanya jalan-jalan sebentar,” ucap Serena gugup
“Sebentar kau bilang?” Daniel melirik ke arah Serena.
“Aku hanya sedikit lupa waktu.” Serena kembali menundukkan kepalanya.
“Apa kau tidak per…”
“Maaf….” potong Serena singkat.
“Kau! dasar menyebalkan!” Daniel memiringkan tubuhnya, ke arah yang berlawanan dari Serena.
Beraninya dia memotong perkataanku.
Umpat Daniel kesal dalam hati.
“Daniel…..” ucap Serena lembut.
Tidak ada jawaban, Daniel hanya diam sambil memejamkan matanya.
“Apa kau sudah tidur? Daniel.” Serena menggoyang tubuh Daniel, “Aku lapar, boleh aku pergi keluar sebentar mencari makanan,” pinta Serena lirih.
“Tidak!” jawab Daniel singkat.
Kenapa dia sangat kejam, dia bisa tidur karena sudah makan malam dengan rekan kerjanya. Sementara aku harus gagal makan malam, karena keributan itu.
Serena menatap punggung Daniel dengan kesal.
“Apa orang-orang itu datang, untuk menyerangmu Daniel?” tanya Serena yang terus saja mengganggu tidur Daniel.
“Apa kau bisa diam Serena! Jangan ganggu aku lagi. Kau memang wanita yang merepotkan. Apa kau ingin aku kembali membahas kesalahan yang kau lakukan tadi siang, dan menghukummu malam ini,” teriak Daniel kesal, dengan posisi duduk menatap Serena.
“Maafkan aku Daniel, aku tidak bermaksud merepotkanmu,” jawabnya lirih sambil menunduk ke bawah.
“Kau selalu saja membuat suasana hatiku menjadi buruk, Serena.” Daniel turun dari tempat tidur, menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Rasa bersalah yang tadi menghantui Serena, kini terus bertambah. Hatinya terasa sakit, saat mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Daniel, “Apa seburuk itu aku di matamu, Daniel.” Serena merasakan hati yang sangat sakit.
Suasana kamar kembali berubah, menjadi keheningan. Serena masih mematung, duduk di atas tempat tidur. Sementara Daniel, terlihat mulai memejamkan mata di atas sofa. Napasnya mulai teratur, menandakan kalau Daniel sudah terlelap dalam mimpinya.
Sedangkan Serena hanya diam membisu, matanya masih saja memandang ke arah Daniel. Ia mulai turun dari tempat tidur, mendekati pria yang baru beberapa minggu ini menjadi suaminya. Dengan membawa sebuah selimut, Serena menyelimuti tubuh Daniel yang terlihat kedinginan.
Maafkan aku yang sudah menyusahkanmu Daniel, tidak seharusnya aku hadir dikehidupanmu.
Serena melangkah mundur secara perlahan, Serena memberanikan diri untuk keluar dari ruang apartemen itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, semua orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Serena berjalan perlahan melewati lorong yang sepi. Kakinya melangkah ke sebuah lift, yang berada tidak jauh dari ruangan yang ia tinggalkan. Matanya berkaca-kaca. Rasa lapar yang tadi begitu menyiksanya, kini sudah sirna entah kemana.
Pikirannya mulai kosong, ia terus mengikuti langkah kakinya yang tidak tahu kemana akan membawa tubuhnya pergi.
“Nona Serena.”