
Hari kedua bulan madu antara Serena dan Daniel, masih berjalan seperti biasa. Tanpa cinta, tanpa kasih, tanpa sayang. Daniel beraktifitas layaknya di rumah, memeriksa beberapa email masuk dan laporan dari perusahaan. Tidak pernah ia menganggap liburannya saat ini, adalah momen bulan madunya dengan Serena.
Serena juga tidak kalah sibuk, dengan Daniel. Serena sibuk dengan aktifitas mengelilingi kebun teh yang ditemani beberapa pengawal. Ia sangat suka berpetualang. Serena berjalan sangat jauh dari vila, tanpa mengeluh lelah sedikitpun. Beberapa pengawal hanya menggeleng takjub, melihat kemampuan berjalan kaki Serena.
Embun pagi yang sejuk, matahari yang masih di tutupi kabut pekat dan awan mendung. Serena menemui beberapa pemetik teh di sana. Berbincang bincang dan bercanda tawa dengan beberapa pekerja. Kebun teh nan luas yang kini ada dihadapannya adalah milik dari keluarga Chen, kakek dari Daniel. Semua warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi perkebunan juga tidak asing dengan nama Daniel. Meskipun belum ada seorangpun yang pernah melihat wajah asli sang pemilik nama.
“Apa itu Nona muda dari keluarga Edritz Chen,” ucap pelan seorang wanita paruh baya.
“Mungkin dia hanya pengunjung biasa,” jawab salah satunya.
“Lihat pengawal itu, mereka menggunakan logo S.G. Group,” ungkap seorang pria yang masuk ke dalam pembicaraan dua orang wanita itu.
Senyum Serena tidak lagi hilang, kini hatinya sangat bahagia. Meskipun jauh dari harapannya untuk berlibur di sebuah pulau, kebun teh dan hamparan pemandangan gunung juga sudah berhasil membuat hatinya menjadi tenang.
Serena baru saja tiba di vila. Dengan senyum yang masih melekat indah di wajahnya. Serena berjalan cepat mendekati Daniel. Melirik sebentar ke arah Daniel, sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Serena menyandarkan tubuhnya dengan santai. Memejamkan matanya untuk sesaat.
“Darimana saja sejak pagi?” Daniel memandang Serena, yang kini ada di sampingnya. Meletakkan laptopnya di atas meja.
“Berkeliling. Daniel, pemandangan diluar sangat indah. Apa kau tidak ingin pergi keluar untuk menikmatinya.” Serena memandang wajah Daniel dengan sat senyuman indah.
“Aku tidak terlalu menyukainya.” Daniel mengambil laptopnya lagi, ia kembali fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya.
Kira-kira kalau aku memaksanya untuk keluar dia akan marah atau tidak ya.
Serena memandang ke arah Daniel, dengan penuh perhitungan. Ia tidak ingin sampai salah, dalam mengambil satu keputusan.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tidak akan mau menuruti permintaanmu itu,” jawab Daniel cepat, yang mengerti arti pandangan Serena saat ini.
“Aku tidak akan memaksamu, Daniel. Pengawal itu sudah cukup untuk menemaniku,” ucap Serena kesal, sambil beranjak dari kursi dan melangkah cepat ke arah kamar.
Daniel memandang punggung Serena, sambil mengerutkan dahinya. Berdecak kesal, melihat kelakuan Serena saat ini.
“Dasar gadis menyebalkan,” ucap Daniel pelan. Ia kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaan yang menumpuk.
Meskipun tidak berhasil membujuk Daniel untuk pergi menemaninya berkeliling kebun teh, namun kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Serena berhasil membuat Daniel menghentikan aktifitasnya. Ia menutup layar laptopnya dengan cepat, dan meletakkannya pelandi atas meja. Daniel memandang Serena, yang hampir masuk ke dalam kamar.
“Serena!” teriak Daniel dari kejauhan.
Dengan cepat, Serena menghentikan langkah kakinya. Serena memutar tubuhnya menghadap ke arah Daniel. Serena melipat kedua tangannya, karena kesal melihat Daniel.
Ada apa ini, apa dia marah karena akhir akhir ini aku mulai berani melawannya.
Serena masih bertahan pada posisinya, ia tidak ingin melangkah sejengkalpun.
“Serena!” ulang Daniel dengan nada yang semangkin tinggi.
Dengan langkah seribu, kini Serena sudah berada tepat di hadapan Daniel.
“Iya, ada apa, Daniel,” jawab Serena mulai gugup.
“Temani aku nanti sore untuk berkeliling,” ungkapnya singkat, sambil melangkah meninggalkan Serena sendiri yang masih dalam posisi mematung.
***
Di sebuah taman, kedatangan Ny. Edritz telah di sambut sosok pria berjas hitam yang di kelilingi beberapa pengawal. Dengan sopan dan menundukkan tubuhnya menyambut kedatangan Ny. Edritz di sana.
“Aku tidak suka menerima kegagalan, lakukan tugasmu dengan cepat dan tanpa jejak,” seru Nyonya Edritz.
“Baik, Nyonya. Saya akan segera melakukan penyerangan ke markas mafia itu.”
“Aku tidak ingin Biao dan Tama mengetahui hal ini, terutama Daniel,” pinta Ny. Edritz.
“Tuan Biao dan Tama sudah ada di pesawat untuk menuju vila, Nyonya.”
“Ingat, jangan tinggalkan jejak sedikitpun,” ucap Ny. Edritz yang kembali mengingatkan pria itu.
“Baik, Nyonya.”
Seorang pria yang menjadi kepercayaan Nyonya Edritz dalam melaksanakan tugas rahasia. Pria yang namanya hanya di ketahui oleh Nyonya Edritz seorang. Pria yang tidak pernah gagal dalam semua tugas yang diperintahkan oleh Ny. Edritz. Dengan senyum bahagia, Ny. Edritz pergi meninggalkan pria itu sendirian di tempat.
Langkah kaki Ny. Edritz di ikuti beberapa pengawal yang bertugas menjaganya dari segala bahaya yang mungkin akan terjadi. Dengan kekayaan yang kini ia miliki, Ny. Edritz selalu membayar orang untuk menyelesaikan sebuah masalah yang akan mengancam keluarganya.
***
Di Vila.
Balutan dres putih yang menjadi warna favorit bagi Serena, Sebuah jas berwarna putih juga dikenakan oleh Daniel sore itu. Tidak untuk janjian, pilihan warna Daniel dan Serena sore itu memang sama. Penampilan keduanya sore ini benar-benar serasi.
Dengan senyum manis dan dua buah lesung pipi yang menyempurnakan wajah tampan Daniel. Serta pipi tirus dengan rambut hitam bergelombang milik Serena. Semua mata yang memandang pasti setuju jika mereka memang berjodoh.
Daniel sudah berdiri tegap di ambang pintu, menghadap ke arah perkebunan teh yang terbentang luas. Vila yang hanya memiliki lantai dasar itu, kini sudah terpancar sinar matahari yang begitu cerah. Embun yang tadinya membasahi daun daun teh sudah hilang di serap daun.
“Kenapa dia terlihat begitu tampan sore ini,” ucap Serena dalam hati saat melangkah menghampiri Daniel yang sudah menunggunya sejak tadi.
“Apa kau sudah siap?” Seru Daniel sambil memandang tajam ke arah Serena.
“Daniel ….” ucap Serena pelan.
“Ada apa, Serena?” tanya Daniel sambil mengerutkan keningnya.
“Terima kasih,” jawabnya singkat.
“Kau tahu Serena. Semua ini ide Mama. Jadi, katakan terima kasihmu padanya.” Sambil memulai langkah kakinya menuju ke perkebunan teh yang sudah tidak di kunjungi para pekerja.
“Kau sudah mau menemaniku Daniel,” sambung Serena yang belum selesai mengucapkan kalimatnya.
Tatapan Daniel hanya ia alihkan ke sembarang penjuru, namun ada senyum bahagia tersirat dibibirnya.
Berjalan sore di dampingi oleh sosok pria yang berstatus menjadi suaminya. Membuat Serena merasa bahagia. Meskipun beberapa pengawal masih berada di posisi masing-masing, untuk melindungi Daniel dan Serena dari bahaya yang tidak diinginkan.