
Hari terus berganti. Pagi yang cerah dengan wajah yang cerah. Daniel sudah mengenakan kemeja kantornya pagi ini. Serena berdiri di hadapannya, untuk memasang dasi di kerah kemeja milik Daniel. Daniel mendongakkan kepalanya sedikit ke atas, untuk mempermudah Serena memasang dasi.
Serena memasang dasi dengan begitu serius. Ini pertama kalinya, ia harus memasang dasi di leher Daniel. Selama menikah, Daniel tidak pernah memintanya untuk melakukan hal itu. Pekerjaan ini, biasa dikerjakan Daniel seorang diri. Namun, akhir-akhir ini. Daniel bersikap manja pada Serena. Semua yang ia kerjakan, harus ada campur tangan Serena di dalamnya.
“Ok, uda selesai.” Serena melepas tangannya dari leher Daniel. Tersenyum ceria memandang simpul dasi yang baru saja ia buat.
“Kau bisa melakukannya, sayang. Ini sangat rapi.” Daniel memperhatikan dasi yang terpasang dari balik cermin.
“Ya, waktu SMA. Aku memakai dasi. Jadi sedikit tahu, cara memasangnya.”
Serena mengambil jas yang tergeletak di atas tempat tidur. membuka jas itu, dan membantu Daniel untuk memakainya.
“Baiklah, sudah selesai. Sekarang, ayo kita sarapan.” Daniel mencium pucuk kepala Serena, sebelum merangkul pinggangnya. Membawa Serena pergi meninggalkan kamar.
Di meja makan, beberapa pelayan sudah selesai menghidangkan aneka makanan. Pak Han membungkuk hormat saat menyambut kedatangan Daniel dan Serena. Biao dan Tama juga membungkuk hormat, sebelum mengucapkan salam.
“Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nona.”
“Pagi,” jawab Serena dengan senyuman manis. Sedangkan Daniel, hanya mengangguk pelan.
Pak Han membuka kursi, untuk Daniel dan Serena. Pak Han membungkuk hormat, sebelum berdiri di samping Tama dan Biao.
“Pak Han kemana tadi malam?” tanya Daniel cepat.
“Saya mengurus Rumah Sakit Diva, Tuan. Tadi malam, Diva sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.”
“Apa dia baik-baik saja?” Serena menatap wajah Pak Han dengan penuh tanda tanya.
“Diva sudah sehat, Nona. Ia hanya mengalami luka ringan.”
“Bagimana dengan Angel?”
“Angel juga baik-baik saja, Nona.”
“Pak Han, anda boleh pergi.”
“Permisi, Tuan.” Pak Han melangkah pergi dari meja makan, untuk mengatur pekerjaan lainnya.
Daniel meneguk susu hangat, sebelum memakan roti bakar. Serena memilih jus apel, dan mengambil beberapa buah segar.
“Kau tidak makan, sayang?” Daniel mengerutkan dahinya.
“Aku merindukan buah ini.” Serena memutar-mutar apel merah yang kini ada di genggaman tangannya.
“Kau menyukainya?” tanya Daniel dengan raut wajah penasaran.
Serena mengangguk cepat, dan menghabiskan apel merah yang kini ada di tangannya,”Ini buah favoritku.”
“Kau bisa memetiknya di kebun belakang. Semua milikmu.” Daniel mengedipkan sebelah matanya. Ia kembali melanjutkan sarapannya, menghabiskan roti bakar yang tersedia di piring. Membersihkan mulutnya dengan tisu. Tersenyum memandang Serena, sebelum mengalihkan pandangannya.
“Apa semua baik-baik saja?” Daniel menatap wajah Biao dan Tama.
“Semua masih dalam kendali, Tuan. S.G.Group berjalan lancar,” jawab Biao dengan cepat.
Serena menghabiskan jus yang ada di hadapannya. Menatap wajah Daniel, sebelum mengeluarkan isi hatinya.
“Daniel, bagaimana dengan Angel dan Diva? apa mereka tidak dalam bahaya lagi?” Serena memegang tangan Daniel yang ada di atas meja.
“Aku sudah menyuruh orang, untuk menjaga rumah Diva. Dia pasti akan baik-baik saja.” Daniel tersenyum memandang Serena.
“Boleh aku menemuinya? aku sangat merindukannya,” ucap Serena dengan penuh permohonan.
“Boleh sayang, pergilah. Biao dan Tama akan menemanimu,” jawab Daniel singkat.
Ketiganya terperanjat kaget. Daniel menyuruh Biao dan Tama untuk menjaga Serena. Itu pertanda, kalau Daniel akan pergi sendiri ke S.G.Group. Mengurus semua keperluannya sendiri di kantor.
“Aku tidak mau. Aku bisa pergi sendiri. Biao dan Tama harus membantumu mengurus pekerjaan di S.G. Group.” Serena melepas genggaman tangannya dari Daniel. Melipat kedua tangannya, sebagai tanda tidak setuju.
“Sayang, aku bisa mengurus semuanya sendiri. Aku tidak ingin kau dalam bahaya lagi.” Daniel berusaha membujuk Serena dengan penuh kesabaran.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Daniel. Apa kau lupa, siapa aku dulu. Kau hanya perlu meminjamkan beberapa senjata, dan semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku tidak mau, aku bisa pergi sendiri!” teriak Serena, menolak permintaan Daniel.
Tama berdehem pelan, untuk memecah perdebatan antara Daniel dan Serena. Keduanya menatap wajah Tama dengan penuh tanda tanya.
“Maaf, Tuan. Biar saya saja, yang menemani Nona ke rumah Diva. Biao menemani anda ke kantor,” ucap Tama memberi pendapat.
“Benar, Tuan. Saya setuju dengan perkataan Tama. Biar saya menemani anda, dan Tama menemani Nona Serena,” sambung Biao.
“Tidak, sebaiknya kau yang menemani Serena! dan Tama yang menemaniku ke kantor. Kau bisa di andalkan, untuk menjaga Serena.” Daniel menatap wajah Biao.
Tama dan Biao saling berhadapan. Biao menahan Tawa, saat mendengar perkataan Daniel.
“Itu karena kau hobi membunuh, jangan terlalu bangga dengan kemampuanmu itu, Biao!” bisik Tama di telinga Biao.
“Aku memang selalu bisa di andalkan. Terima kekalahanmu hari ini, Tama,” balas Biao dengan berbisik di telinga Tama.
“Kau salah Daniel! Sebaiknya Tama yang bersama denganku. Biao bisa melindungimu dari bahaya,” sambung Serena cepat.
Tama kembali tersenyum memandang wajah Biao. Pagi ini, ia mendapat pembelaan dari Serena.
Daniel menatap wajah Serena, “Aku juga bisa melindungi diriku, sayang.” Wajah Daniel sudah berubah, tapi ia masih bersabar menghadapi Serena pagi ini.
“Terserah kau saja.” Serena mengalah, ia tidak ingin menimbulkan perdebatan pagi ini.
“Baiklah, keputusannya tetap sama. Biao kau temani Serena ke rumah Diva. Tama, ayo kita berangkat ke kantor.”
Daniel beranjak dari duduknya, menatap wajah Serena yang masih duduk di kursi. Serena tidak memberikan tanda-tanda, kalau ia akan mengantarkan Daniel ke depan.
“Sayang, apa kau marah?” ucap Daniel dengan begitu lembut.
“Tidak ….” Serena beranjak dari duduknya. Mengukir senyum terpaksa memandang wajah Daniel.
“Ayo, kau harus mengantarku ke depan.”
Daniel merangkul pinggang Serena, dan membawanya pergi meninggalkan meja makan. Serena berjalan pelan, mengikuti langkah Daniel. Meskipun ia masih kesal dengan perdebatan tadi. Tapi Serena melupakan semuanya, ia kembali mengukir senyuman untuk Daniel.
“Seharusnya aku bersama dengan Tama,” bisik Serena pelan.
“Jangan berdebat lagi. Ini perintah!” Daniel melepas pelukannya, mencium pucuk kepala Serena.
Kini Daniel dan Serena sudah ada di pintu utama. Mobil hitam juga sudah terparkir di halaman. Beberapa pengawal yang menjaga di depan, membungkuk hormat saat melihat kedatangan Daniel dan Serena.
Serena kembali merapikan jas milik Daniel, “Hati-hati, sayang.”
“Kau juga hati-hati. Kabari aku jika terjadi sesuatu.” Daniel mencium pucuk kepala Serena, sebelum memutar badan.
Serena tersenyum manis memandang kepergian Daniel. Tama membuka pintu mobil sebelum masuk ke bangku depan. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan pekarangan rumah utama milik keluarga Edritz Chen.
Serena membalikkan tubuhnya, memandang wajah Biao yang masih berdiri tegab di depan pintu. Serena membuang napasnya dengan kasar, saat mengingat perdebatannya dengan Daniel di meja makan.
“Siapkan mobil, kita akan pergi sekarang. Aku ke kamar sebentar, untuk mengambil tas.”
“Baik, Nona.” Biao membungkuk hormat.
Serena melangkah pelan menuju kamar. Ia sungguh ingin pergi sendiri ke rumah Diva. Tapi ia tidak ingin mengecewakan Daniel untuk kesekian kalinya.
“Aku bisa saja kabur dari rumah ini. Tapi itu tidak mungkin aku laukan!”
Beberapa saat kemudian, Serena sudah kembali menuruni anak tangga. Ia masih mengenakan dres maroon yang sejak tadi ia kenakan. Biao membuka pintu mobil, untuk memberi jalan kepada Serena. Serena memandang ke tiga mobil yang berbaris, di belakang mobil yang akan ia tumpangi.
“Apa Daniel juga menyuruh pengawal menjagaku?” Serena menatap tajam wajah Biao.
“Maaf, Nona. Ini perintah Tuan Daniel. Untuk melindungi anda dari bahaya.” Biao tersenyum kepada Serena.
Serena menepuk kepalanya pelan, ia berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil, “Dia terlalu berlebihan.”
Biao menutup rapat pintu mobil. Ia berlari cepat ke arah depan mobil. Untuk mengemudikan mobil yang ditumpangi Serena. Ia bertekad, untuk melindungi Serena. Menjauhkan Serena dari bahaya.