Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 21



Rumah Utama.


Daniel dan Serena baru saja tiba di rumah. Sepasang suami istri itu berpisah dengan Kenzo sewaktu di jalan. Walau habis di serang oleh pihak musuh, tidak melunturkan wajah bahagia dari Daniel dan Serena siang itu. Sepasang suami istri masih tetap bisa mengukir senyuman bahagia saat ini.


“Sayang, kapan kiat menginap di hotel lagi?” bisik Daniel sambil menggandeng pinggang istrinya dengan cukup mesra.


“Aku tidak mau pergi-pergi lagi. Musuhmu sudah berkeliaran di luar sana.” Serena memegang perutnya dengan senyuman, “Aku tidak ingin mencelakai anak yang aku kandung lagi.”


“Di rumah saja juga bisa bukan?” ucap Daniel dengan tatapan penuh arti.


“Daniel ....” ucap Serena sambil mencubit perut suaminya dengan cukup keras.


Dari kejauhan, Pak Han berjalan mendekati Serena dan Daniel. Pria itu membungkuk hormat sebelum mengeluarkan kata.


“Selamat siang, Tuan, Nona. Apa anda mau saya siapkan makan siang?” tawar Pak Han yang memang tidak tahu, kalau kedua majikannya itu baru saja selesai makan siang.


“Kami ....”


“Antar ke kamar, Pak Han.” Sambung Serena cepat. Wanita itu mengukir senyuman yang seolah mengerti arti tatapan Daniel saat ini.


“Tadi yang makan anak kita, aku belum makan,” ucap Serena dengan wajah manjanya.


Daniel tersenyum mendengar jawaban istrinya itu, “Kau boleh makan sesukamu, Sayang. Sekarang, ayo kita ke kamar dan mandi.” Daniel membawa tubuh Serena untuk berjalan menaiki anak tangga. Sepasang suami istri itu memang selalu terlihat romantis setiap saat. Tawa mereka berdua selalu saja meramaikan suasana sunyi rumah utama Edritz Chen itu.


S.G Group.



Sharin dan Biao saling menatap satu sama lain dengan jarak yang cukup jauh. Hanya ada mereka berdua di ruangan yang tertata rapi itu. Sejak awal, keberadaan pantry itu memang dikhususkan untuk pengguna lantai tertinggi gedung itu. Karyawan biasa tidak akan berani memasuki pantry mewah itu kecuali sudah mendapat ijin dari Tama atau Biao.


Ruangan Pantry itu di kelilingi wallpaper dinding dengan corak yang cukup tegas. Di ujung Pantry, ada kaca berukuran luas dengan tatanan kursi yang cukup rapi. Kursi-kursi itu memang sengaja disiapkan untuk tempat makan setiap tamu yang datang ke S.G.Group.


Biao masih memikirkan perkataan Sharin yang menjulukinya sebagai Paman tampan. Ada rasa aneh dan lucu saat Biao mendengar julukan baru untuknya. Pria itu meletakkan cangkir tehnya di atas meja sebelum melangkahkan kakinya mendekati Sharin. Ini pertama kalinya, Biao mendengar seorang wanita memanggilnya Paman. Tetapi Sharin, tidak terlalu peduli dengan ekspresi bingung Biao saat itu.


“Aku tidak tahu nama anda. Kita juga belum kenalan. Anda juga temannya Paman Tama. Karena anda memiliki wajah yang tampan. Jadi aku menjuluki anda dengan kata itu,” jawab Sharin polos. Gadis berusia 20 tahun itu memang memiliki hobi yang unik. Sharin selalu saja bisa merangkai kata untuk menggoda pria tampan yang ia kagumi.


Biao menggangguk pelan saat mendengar penjelasan Sharin. Perkataan Sharin memang ada benarnya. Sejak tadi, Biao memang belum kenalan dengan keponakan sahabatnya itu.


“Nama saya, Biao,” ucap Biao sambil menjulurkan tangannya. Pria itu memang jarang bersikap ramah dengan wanita. Namun, untuk Sharin ada pengecualian. Pria berusia 30 tahun itu mau mengenal Sharin karena Sharin keluarga sahabatnya. Siapapun orang yang menjadi keluarga Tama, maka akan menjadi bagian dari keluarganya juga.


Sharin memasang senyuman bahagia saat melihat sambutan ramah Biao siang itu. Dengan cepat, gadis kecil itu membalas uluran tangan Biao, “Sharin.” Wajahnya memerah seperti tomat yang sudah matang. Lagi-lagi wanita itu menunduk sambil mengoyang-goyang tubuhnya di depan Biao.


“Aku permisi dulu,” sambung Biao sambil berlalu pergi meninggalkan pantry itu.


“Paman tampan, kau memang pria yang sangat mempesona.” Sharin membawa teh buatannya. Gadis itu sudah tidak sabar untuk memberikan teh terbaiknya untuk Tama.


***


“Dari mana saja kau, Biao.” Tama mengambil kotak nasinya dan membukanya secara hati-hati. Pria itu sudah tidak sabar untuk memulai ritual makan siangnya.


“Dari pantry,” jawab Biao yang juga mengambil kotak nasi yang ada di meja kerjanya.


“Apa kau bertemu dengan Sharin?” Tama mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Biao mengangguk tanpa menjawab. Pria itu juga memasukan makanan ke dalam mulutnya.


“Aku menyuruhnya untuk membuatkanku teh, tetapi ia tak kunjung kembali. Entah apa yang ia kerjakan di dalam pantry itu.” Tama meneguk jus yang ada di hadapannya.


“Kenapa kau tidak pernah cerita kalau masih punya keponakan sebesar itu.” Biao melirik Tama, “Aku bahkan berpikir, rekan yang selama ini menolongmu adalah seorang pria.” Biao menyudahi makan siangnya saat makanan di dalam kotak nasi itu sudah tidak tersisa.


“Aku hanya tidak ingin kau meledekku, karena selama ini aku meminta bantuan pada seorang wanita,” jawab Tama sambil tersenyum.


Biao mengangkat satu alisnya, “Jawaban yang cukup masuk akal.”


Setelah selesai melakukan ritual makan siang itu. Tama kembali ke ruang kerjanya. Di dalam ruangan itu ada Sharin yang terlihat memakan makanannya dengan lahap.


“Paman, apa makanan ini milikku?” tanya Sharin dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.


“Kau sudah memakannya, untuk apa bertanya lagi.” Tama tertarik dengan teh yang ada di atas meja kerjanya. Memang sejak tadi, pria itu ingin meminum teh buatan Sharin.


“Paman, tehnya sudah hampir dingin gara-gara Paman menghilang.” Sharin meneguk air mineral yang ada di hadapannya.


Tama meneguk teh hangat itu. Wajahnya berubah saat satu teguk teh itu memenuhi mulutnya,“Sharin, apa kau berniat mengerjai paman?” Tama mengernyitkan dahinya. Menatap wajah Sharin dengan penuh kesal.


“Mengerjai?” tanya Sharin dengan wajah bingung. Memang sejak awal gadis 20 tahun itu tidak memiliki niat untuk mengerjai pamannya.


“Minumlah,” ucap Tama kesal sambil menyodorkan cangkir teh itu di hadapan Sharin.


“Apa ada yang salah?” tanya Sharin bingung.


Dengan ragu, Sharin mengambil teh itu dan meneguknya secara perlahan. Dengan cepat ia kembali meletakan teh itu di atas meja.


“Kenapa bisa begini?” ucapnya tidak percaya saat merasakan teh buatannya asin.


“Sharin, kau masih satu hari di sini tapi sudah membuat tekanan darahku naik. Apa yang terjadi 3 bulan ke depan,” ucap Tama sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing.


“Maaf, Paman,” ucap Sharin sambil menunduk.


Ini semua karena Paman tampan. Pasti aku salah mengambil gula tadi.


Ucap Sharin dalam hati dengan penuh rasa bersalah.


Mohon maaf ya reader. Untuk Novel Moving On maupun Mafia's in Love, author belum bisa update banyak2.alias crazy up. Author masih sibuk revisi novel Mafia's in Love Sampek tgl 20 nanti. Mungkin kalau ada ide bnyk kira crazy up Senin ya akan datang. terima kasih pengertiannya😘