
Kabar kepulangan Serena, juga sudah sampai di telinga Biao. Senyum bahagia terlihat terukir di bibirnya. Setelah ia membaca satu pesan singkat, yang berisi kabar kepulangan Serena hari ini.
'Akhirnya, nona Serena bisa kembali pulang,' gumam Biao dalam hati.
Beberapa berkas yang terletak diatas meja, kini menjadi rutinitasnya sejak pagi. Satu ketukan pintu yang berasal dari tangan Sonia, lagi-lagi membuat suasana hatinya kembali berubah. Tatapan tidak suka selalu saja terpancar jelas, saat melihat wajah Sonia meskipun ia belum berkata satu katapun.
“Ini berkas yang kau minta,” ucap Sonia cepat.
Sonia meletakkan map biru itu di atas meja Biao dengan kasar. Lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Sebelum Biao kembali menghentikan langkah kakinya, dengan satu teriakan pasti.
“Sonia!”
“Ada apa? aku memiliki banyak pekerjaan saat ini!” jawab Sonia tidak peduli dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Apa hubunganmu dengan tuan muda Kenzo?” tanya Biao lagi yang kini sudah beranjak dari duduknya.
Sonia menghentikan langkah kakinya, tatapan matanya tidak lagi berani menantang ke arah wajah Biao saat ini. Hatinya mulai dipenuhi rasa takut yang begitu besar, saat ia harus masuk ke dalam rencana yang sudah di atur oleh Biao.
“Kenapa anda tidak bisa menjawabnya nona?” tanya Biao lagi, yang kini sudah ada di samping Sonia.
“Aku tidak kenal dengan pria yang baru saja kau sebutkan!” ucap Sonia penuh gerak-gerik mencurigakan.
“Apa kau yakin?” tatapan tajam sudah di tujukan tepat di wajah Sonia saat ini. Membuat Sonia semangkin bingung dan salah tingkah.
Sonia hanya diam tanpa bisa mengeluarkan kata pembelaan lagi untuk dirinya. Meskipun sudah tersusun rapi agar Biao tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi. Tapi tetap saja, semua rencananya harus kembali terbongkar di depan Biao saat ini.
“Apa yang kau inginkan, Biao!” tegas Sonia yang kini sudah berani untuk menantang Biao.
“Aku tidak tahu, serumit apa hubunganmu dengan tuan Kenzo!” Biao membuang nafasnya secara kasar, dan mengalihkan pandangan wajahnya ke sembarang arah, “Tapi yang ku tahu saat ini, kau mengincar tuan Daniel dan berencana buruk dengan rumah tangga yang telah ia jalani dengan nona Serena!”
“Aku hanya mencintai Daniel, aku tidak pernah mencintai Kenzo!” jawab Sonia cepat.
“Itu kesalahan besar, yang harus segera kau hapus dari ingatanmu Sonia!” kini wajah Biao sudah tepat berada di depan wajah Sonia, tatapan matanya yang tajam sudah membunuh aura cantik yang dimiliki oleh Sonia.
“Aku tidak pernah takut dengan ancamanmu!” ucap Sonia dan berlalu pergi meninggalkan Biao di sana.
Satu senyum kecil muncul di bibir Biao. Melihat hewan buruannya terlihat ketakutan, hatinya terasa bahagia.
'Baiklah, kita lihat saja. Usaha apa lagi yang akan kau lakukan untuk mendekati tuan muda Daniel!' gumam Biao dalam hati.
Matahari yang terik sudah berubah warna menjadi jingga. Awan biru juga sudah menjadi kemerahan. Burung-burung terlihat berterbangan untuk kembali ke dalam sangkar. Matahari mulai terbenam dan hari semangkin gelap. Beberapa aktifitas siang juga sudah dihentikan, menyambut waktu istirahat yang baru saja tiba.
Biao masih berada di dalam mobil menuju ke rumah utama. Biao sudah tidak sabar untuk menyampaikan satu informasi penting kepada Daniel. Satu informasi yang berisi tentang pertemuan Mr. X dan Kenzo, yang tadi pagi belum sempat ia ceritakan.
“Tuan Daniel tidak akan pernah menyangka, kalau Mr. X dan Kenzo memiliki hubungan yang begitu dekat. Sepertinya mereka bersahabat! dan siapa Shabira? Aku harus cepat menuntaskan penyelidikan ini!” ucap Biao pelan, yang kini pikirannya sudah di penuhi sejuta tanda tanya.
Biao mengambil sebuah handphone yang tersimpan rapi di dalam sakunya. Satu nama yang tidak asing lagi bagi dirinya, sudah ia tekan dan siap mendengar suara sang pemilik nama.
“Apa kau sudah berhasil menemukannya?” tanya Biao pelan.
“Aku tunggu kedatanganmu malam ini!”
“Aku akan datang dengan membaca sejuta cerita, Biao!”
Tanpa ingin berkata lagi, Biao memutuskan panggilan telepon itu. Senyum kemenangan sudah terpancar di wajahnya. Kali ini rencana besar yang sudah ia susun secara rapi akan membuahkan hasil. Satu rencana yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun.
Tidak butuh lama untuk Biao tiba di rumah utama, langkah kakinya langsung ia arahkan ke arah kamar Daniel untuk menyampaikan satu informasi penting yang kini ia miliki.
Tok..tok…
beberapa ketukan pintu sudah ia layangkan untuk memberi tanda pada sang pemilik kamar.
“Permisi tuan,” kata Biao.
Tanpa ada jawaban dari dalam kamar, kini pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.
“Ada apa Biao? kau sudah pulang, apa ada masalah?” tanya Daniel yang terlihat baru saja bangun dari tidurnya.
“Saya ingin memberikan ini tuan,” menyodorkan beberapa lembar foto yang sudah berhasil ia kumpulkan beberapa hari terakhir ini.
Wajah Daniel berubah seketika, ketika melihat lembaran demi lembaran foto yang kini ada di genggaan tangannya. Bibirnya tidak lagi bisa mengeluarkan satu katapun. Foto yang baru saja ia lihat sudah menjawab semua rasa penasarannya selama ini. Senyum kecewa telah terukir di wajah Daniel. Tatapan mata tajam kembali melekat di kedua bola mata yang ia miliki saat ini.
“Aku ingin bicara dengan mama dan papa! temui aku di ruang kerja!” ucap Daniel dengan ekspresi menahan marah.
Daniel melangkah cepat menuju ke satu ruangan yang tidak jauh dari posisinya kini berada. Meninggalkan Biao yang masih berdiri mematung memperhatikan punggung Daniel dari kejauhan.
'Semua akan segera tuntas tuan! kau tidak perlu lagi pusing memikirkan semua ini!' gumam Biao dalam hati.
Dengan langkah cepat, Biao menuju ke kamar tuan Edritz. Untuk memberi satu undangan lisan kepada keduanya. Kini Biao bisa bernafas dengan legah, ketika kini rahasia Serena yang sangat penuh misteri akan segera terbongkar di depan Daniel. Satu rahasia besar yang sudah di sembunyikan secara rapi oleh Tuan dan Ny. Edritz.
“Permisi tuan, tuan Daniel meminta anda dan Nyonya untuk datang ke ruang kerja. Ada hal penting yang ingin di bicarakan tuan Daniel saat ini.”
“Apa yang ingin ia katakan, Biao?” jawab Ny. Edritz yang kini telah berdiri di samping tuan Edritz.
“Sebaiknya anda segera datang Nyonya, tuan Daniel sudah menunggu,” jawab Biao pelan.
“Kami akan ke sana sebentar lagi!” sambung tuan Edritz.
“Baik tuan, saya permisi dulu,” hormat Biao dan berlalu pergi dari kamar itu.
Tuan dan Ny.Edritz hanya bisa saling memandang, rasa khawatir kini kembali menyelimuti isi hati keduanya. Entah masalah apa yang ingin di sampaikan Daniel saat ini. Namun keduanya merasa, kalau mereka tidak lagi ada di zona aman.
Ok, Like, komen, Vote.
Terima kasih sudah membaca...😘😘😘