
“Kau marah? Apa kau takut?” Arion kembali menatap Daniel dengan penuh kebencian.
“Kau tidak pernah tahu, siapa wanita yang kau sebut istri itu.” Arion membentuk sebuah senyuman licik.
“Dia adalah seorang wanita yang cerdik dan penuh dengan misteri. Dia bisa menghilang kapan saja ia ingin dan muncul di hadapanmu tiba-tiba. Wanita itu Seorang….”
Duarr…
Satu buah peluru mengenai Arion. Tidak lagi bisa untuk melanjutkan perkataannya. Matanya hanya memandang Daniel dengan penuh kebencian. Lagi-lagi dia harus gagal menghabisi wanita yang menjadi musuhnya sejak dulu.
“Kau akan menyesal Daniel,” ucap Arion dengan nada lemah dan mulai memejamkan matanya.
Tatapan semua orang tertuju pada sosok pria paruh baya yang baru saja tiba. Pengawal yang mendampinginya sudah berhasil membungkam mulut seseorang yang akan membongkar semua rahasia Serena. Senyum puas terpancar jelas di wajah penembak itu.
“Papa!” celetuk Daniel sambil melangkah mendekat.
“Apa dia yang menyebabkan kepergian Tama?” ungkapnya santai dan memandang ke arah Arion.
“Iya, Tapi aku masih membutuhkan informasi yang ia ketahui tentang Serena.” Perkataannya terhenti, sambil memandang tajam ke arah Tuan Edritz, “Sebelum papa datang dan menghancurkan semuanya!” sambungnya penuh kekesalan dan amarah.
“Tuan, dia sudah tidak terselamatkan lagi,” ucap Biao, sambil meletakkan tangan Arion kembali pada posisinya.
“Aku hanya tidak suka melihat wajahnya yang masih sanggup untuk tersenyum, atas semua yang sudah terjadi,” jawab Tuan Edritz sambil melirik sebentar ke arah Daniel.
“Apa rahasia tentang Serena yang sudah papa sembunyikan dariku! Apa pa!” teriak Daniel memekakan telinga.
“Apa maksudmu Daniel?” Dengan wajah yang sudah di penuhi kepanikan.
“Cukup! Aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi!” Membuang napas dengan kasar.
“Aku akan menyelidikinya sendiri.” Diikuti oleh Biao, Daniel pergi meninggalkan gudang.
“Entah kapan saat itu akan tiba Daniel. Tapi papa harap kau mau memaafkan kami.” Tuan Edritz hanya bisa memandang punggung Daniel dengan diam.
Wajah penuh kekecewaan terukir jelas di wajah Daniel dan Biao saat ini. Mobil terus melaju meninggalkan gudang tanpa membuahkan hasil.
“Apa sudah ada perkembangan tentang pria bernama Wubin itu, Biao?” tanya Daniel sambil kembali memikirkan perkataan Arion.
“Belum Tuan, Pria seperti dia akan sangat sulit untuk ditemui. Tapi kami akan segera menemukannya Tuan.” Terus fokus pada setir, “Apa kita ke rumah sakit Tuan?” Tanyanya lagi.
“Ya, Aku ingin melihat keadaan Serena.” Menyandarkan kepalanya dengan tenang.
Mobil terus melaju, perkataan Arion menambah teka-teki yang belum terpecahkan. Rahasia Serena yang sangat penuh dengan tanda tanya membuat Daniel tidak bisa hanya diam. Otaknya terus berfikir untuk menemukan semua rahasia tentang Serena.
“Kau begitu polos Serena. Bagaimana bisa aku memulai penyelidikan ini. Siapa kau sebenarnya.” Wajah lugu dan ketakutan Serena mulai terlintas di pikiran Daniel.
Keadaan Serena yang masih lupa ingatan saat ini, membuat dirinya tidak bisa menanyakan hal itu langsung pada Serena. Kini Daniel hanya bisa memejamkan matanya. Pikirannya mulai merangkai sebuah rencana yang harus segera ia terapkan.
“Sejak awal Nona Serena memang sangat berbeda, Tidak seperti wanita lain pada umumnya. Saat ia bisa menembak dengan mudah waktu itu .…” Kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Bulan madu yang berantakan dan sangat lekat dengan sebuah masalah yang tidak tahu kapan akan terselesaikan. Wajah ceria Serana dan tawa bahagianya menyimpan misteri besar di baliknya. Seperti sebuah takdir yang sudah di gariskan sama sang pencipta. Bulan madu kali ini memang membuat Daniel terus memikirkan Serena. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Semua isi kepalanya hanya ada nama Serena.
***
“Gadis bodoh yang menyebalkan. Apa kau tidak lapar? Kau sangat kuat makan,” ucap Daniel di hadapan Serena sambil menatap wajah Serena.
Sudah 3 hari setelah kejadian penembakan itu, Serena belum juga sadar. Matanya masih terpejam menikmati tidur panjangnya saat ini. Biao juga masih belum menemukan bukti yang mengarah dengan masa lalu Serena.
Semua yang pernah berhubungan dengan masa lalu Serena sudah lebih dulu di musnahkan oleh Tuan Wang. Menikah dengan Daniel juga tidak membuat hidup Serena akan selalu aman, hal itu jauh lebih dulu ada di pikiran Tuan Wang. Hingga ia memiliki ide licik untuk menghapus semua bukti yang berhubungan dengan Serena. Sau-satunya bukti yang bisa membongkar semua rahasia Serena adalah musuh yang masih menghirup udara segar saat ini.
Meletakkan tumpukan kertas itu pada sebuah meja. Daniel kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Serena.
“Apa aku mengganggu?” ucap Adit yang tiba-tiba muncul di dalam kamar.
“Kau benar-benar dokter yang tidak berguna. Sampai detik ini dia tidak kunjung membuka matanya.” Daniel melempar tatapan kesal kepada Adit.
“Ini sangat jarang terjadi, pengaruh tembakan itu bukan hanya merusak organ tubuhnya yang terkena peluru,” ucap Adit sambil melihat hasil scan yang ada di genggaman tangannya.
“Apa maksud mu?”
“Serena pernah kecelakaan dan menyebabkan dia seperti lupa ingatan!”
“Aku sudah mengetahuinya,” jawab Daniel pelan “Mama bilang Serena pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkannya lupa ingatan” Sambungnya lagi.
“Dan bekas luka tembak di lengan kirinya?”
“Luka tembak?” Daniel mengerutkan dahinya.
“Kau tidak mengetahuinya Daniel? Dia istrimu!” Decak Adit pelan dan duduk di kursi yang juga berada di samping Serena.
“Apa luka itu sudah lama.”
“Tidak terlalu lama,” jawab Adit yang kembali mengingat hasil pemeriksaannya.
“Apa kau belum menyelesaikan teka-teki ini Daniel?” Tanyanya singkat.
“Belum, Biao belum menemukan apapun dari hasil penyelidikannya.”
“Kenapa kau tidak menyelidiki pria yang bernama Mr. X itu Daniel.”
“Mr. X?”
“Ya, dia pria yang juga ada hubungannya dengan kasus ini bukan?”
“Tidak mudah untuk itu. Kerjasama kami baru saja berjalan. Jika ia tahu aku menyelidikinya ini akan berdampak buruk bagi perusahaan.”
Daniel menopang dagu dan menghentikan perkataannya sejenak, “Dia pasti bukan orang biasa yang mudah untuk ku selidiki secara diam-diam.” Daniel membuang napas dan kembali berpikir mencari solusi.
“Maafkan Aku Daniel, Aku hanya bisa membantumu untuk membuat Serena segera sadar. Aku juga tidak punya teman atahu saudara yang berhubungan dengan Mafia,” jawab Adit mencari alasan.
“Mafia?"
Tiba-tiba seseorang muncul dan tertawa terbahak-bahak hinggan tawanya mengisi seisi ruangan .
“Apa kau beralih pada bisnis terlarang, Daniel?” Berjalan ke arah Serena dan meletakkan Buket Lyli di samping Serena.
“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Daniel kesal.
“Aku hanya menjenguknya, Apa itu di larang?” jawab Kenzo dengan wajah tidak bersalah sedikitpun.
“Sepertinya aku harus memeriksa pasien lainnya,” ucap Adit untuk meninggalkan Daniel dan Kenzo di sana.
“Jadi, ada apa dengan Mafia?” tanya Kenzo sambil menatap ke arah Daniel