
Daniel menarik tubuh Serena agar wanita itu menjauh. Daniel tidak ingin Serena ikut bertarung. Sudah cukup pengawal yang ia miliki yang mengeluarkan tenaga. Daniel tidak ingin dirinya dan Serena ikut bertarung. Kecuali dalam keadaan mendesak.
Tetapi semua harapan Daniel hanya jadi harapan yang sia-sia. Serena tidak mau menuruti perintah Daniel untuk menjadi penonton,“Kita harus segera menemuinya,” ucap Serena sambil berjalan menuju ke arah pintu itu. Ia tidak lagi bisa untuk menunggu. Wanita itu sudah tidak sabar untuk menghabisi musuhnya hari ini.
Daniel juga ikut dalam pertarungan itu. Serena memukul lawannya dengan gerakan cepat dan begitu ahli. Wanita itu selalu melindungi bagian perutnya dari pukulan yang di tujukan untuknya. Bahkan, setiap kali ada musuh yang ingin memukul wajahnya, Serena mampu menahan tangan musuhnya dengan tenaga yang ia miliki.
Daniel juga melakukan hal yang sama. Pria itu terus-terusan melindungi istrinya dari bahaya. Setiap ada yang ingin mendekat dengan Serena. Dengan cepat Daniel memukul lawannya. Bahkan bukan hanya tangannya saja yang bergerak. Kaki kanannya juga ia naikan ke atas untuk membuat lawannya menjauh.
“Daniel, biar Biao yang mengurus sisanya. Kita harus segera menemui pria itu,” ucap Serena sambil menatap wajah Daniel. Wanita itu memegang handle pintu sebelum mendorongnya dengan kuat.
Di dalam ruangan itu. Ada Marcus yang sedang duduk dengan layar laptopnya. Pria itu kini sedang menghalangi Sharin untuk meretas sistem miliknya. Mendengar suara pintu terbuka paksa, pria itu beranjak dari duduknya. Satu pistol ia genggam untuk mengancam lawannya agar tidak berani untuk mendekat.
“Tuan Daniel. Aku tidak pernah menyangka, kalau hari ini kita bertemu lagi.” Marcus melirik laptopnya. Hatinya terus saja mengumpat kesal, karena saat ini operasinya ada yang mengganggu.
“Senang bertemu dengan anda lagi, Tuan Marcus.” Daniel mengukir senyuman dengan tatapan tajam.
“Untuk apa anda membawa istri anda, Tuan. Apa kalian memiliki rencana untuk menginap di hotel ini dan bersenang-senang?” ledek marcus dengan tawa renyahnya.
“Anggap saja seperti itu. Tapi, semua itu terjadi setelah kami berhasil membunuh anda,” sambung Daniel dengan senyuman kecil.
Marcus mulai menarik pelutuk pistolnya. Ia ingin segera mengeluarkan peluru pistolnya agar tertancap di bagian tubuh Daniel. Dengan cepat Serena menarik pelatuk pistolnya. Wanita itu menembak ke arah pistol yang di genggam Marcus. Satu tembakan yang dikeluarkan Serena, berhasil membuat pistol itu terpental hingga jauh.
“Kau!” umpat Marcus.
“Apa anda kaget melihat istri tangguh saya. Tuan?” Daniel menaikan satu alisnya. Wajahnya cukup meledek siang itu.
Sesuai dengan pemikiran Serena sejak awal. Lawannya kali ini tidak memiliki kemampuan apapun untuk berkelahi. Marcus terlihat panik saat melihat rekaman CCTV. Semua orang bayarannya tidak ada yang tersisa lagi. Kini, hanya dia yang masih bernapas. Pria itu mengeryitkan dahi saat sistem miliknya tidak lagi bisa ia kuasai.
“Beraninya kau merusak rencanaku, Wanita ja*lang!” umpat Marcus dengan wajah kesalnya. Satu tembakan dilayangkan Daniel hingga membuat lengan pria itu koyak. Darah mengalir dengan cukup deras membasahi bajunya.
“Jaga ucapanmu! Atau aku akan merobek mulutmu itu,” ucap Daniel dengan suara lantang. Pria itu tidak terima, jika ada orang lain yang mengatai istrinya.
“Apa kau pikir ide konyol seperti itu bisa mengalahkan kami?” Serena tertawa kecil sambil menatap Marcus. Pria itu cukup kesal saat melihat semua sistem yang ia ciptakan kini berhasil di kendalikan oleh Sharin. Secara diam-diam Marcus mengeluarkan belati kecil. Pria itu melayangkan benda tajam itu tepat ke arah dahi Serena. Daniel menangkis belati itu hingga tangannya mengalami goresan dan berdarah.
Serena menatap belati yang gagal menyentuh tubuhnya. Wanita itu mengangkat pistol miliknya ke arah tubuh Markus. Tanpa mau diskusi lagi, mantan bos mafia itu mengeluarkan beberapa tembakan tepat di dada musuhnya. Kedua bola matanya tidak lagi bersahabat.
“Sudah cukup basa-basinya. Seharusnya kau memang harus sudah mati sejak awal.”Serena menurunkan pistolnya sambil menatap tajam tubuh lawannya. Tatapannya masih sama seperti wanita itu membunuh lawannya dulu.
Marcus mematung beberapa detik sebelum cairan merah segar keluar dari dadanya. Pria itu merasakan sakit yang luar biasa saat itu. Dengan wajah takut-takut, ia berusaha untuk melihat dadanya yang baru saja tertembak. Ada senyum kecil di bibir pria itu sebelum ia memberanikan diri untuk menekan luka tembakan itu.
“Aku akan membalas semua perbuatan kalian,” ucap Marcus dengan lirih. Tubuhnya jatuh dengan posisi berlutut. Pria itu mulai merasakan pemandangan saat ini gelap. Hingga tidak beberapa lama kemudian. Marcus tergeletak di lantai dalam kondisi tidak bernyawa.
Serena mengangguk, “Aku baik-baik saja. Luka ini harus segera di obati.” Serena memegang tangan Daniel yang kini terluka.
“Hanya luka kecil. Yang terpenting saat ini, kau baik-baik saja.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Pria itu bisa bernapas dengan lega dengan ukiran senyuman yang indah, “Terima kasih, Sayang. Kau sudah menjaga anak kita dengan baik.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena berulang kali.
Shabira dan Kenzo muncul di ruangan itu. Mereka juga bernapas lega saat melihat sumber masalah hari ini telah tergeletak di lantai.
“Kakak, apa kakak baik-baik saja?” Shabira berlari untuk memeriksa kondisi Serena. Wanita itu mengeluarkan satu tembakan lagi ke arah tubuh Marcus agar pria itu benar-benar tiada.
“Dia sudah mati,” ucap Serena sambil mengeryitkan dahi.
“Aku biasa melihat yang seperti ini, Kak. Mereka pura-pura tidak sadarkan diri. Ketika kita lengah dia menarik pistolnya untuk membunuh kita.”Shabira memperhatikan wajah Marcus dengan seksama. Ia ingin memastikan kalau Marcus benar-benar telah mati.
“Bagaimana keadaan yang lainnya? Apa Sharin baik-baik saja?”tanya Serena penuh rasa khawatir.
“Sharin pingsan saat aku menembak seorang pria di hadapannya. Sepertinya ia takut melihat darah. Tapi, Tama sudah membawanya kembali pulang ke rumah,”jawab Kenzo.
“Kita juga harus segera pulang,” sambung Daniel. Pria itu memperhatikan wajah istrinya yang kini sedang sibuk melilitkan perban di tangannya. Serena mengembus luka itu dengan udara yang ada di mulutnya.
“Lukanya akan segera sembuh,” ucap Serena dengan suara lembut.
Shabira dan Kenzo tersenyum melihat sepasang suami istri itu. Tidak peduli dimana saja lokasinya, Daniel dan Serena selalu saja terlihat mesra.
“Ok, adegan mesra itu bisa kalian lanjut di rumah. Sekarang kita harus pulang sebelum salju turun di kota ini.” Kenzo menarik pinggang Shabira dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu. Di atap, Biao sendirian menunggu kehadiran Serena dan Daniel. Beberapa pengawal S.G. Group banyak yang tergeletak tidak bernyawa.
Serena mengeryitkan dahi melihat keadaan itu, “Daniel, masih melawan musuh kelas rendah seperti itu. Pengawal yang kau bilang tangguh itu kini juga tewas. Bagaimana cara kita menang kalau kita melawan musuh level tinggi.”
“Mereka yang terbaik di antara yang ada, Sayang. Berbeda dengan pasukan mafiamu dulu yang memang setiap hari bertugas untuk membunuh.”
“Kenzo, kenapa pasukanmu tidak kau turunkan?” Serena melirik Kenzo.
“Aku pikir ini hanya order kecil. Tidak perlu mengerahkan semua tenaga bukan?”Kenzo menatap wajah Serena dengan seksama.
“Kau benar, ini hanya order kecil. Bahkan, jika hanya aku dan Shabira yang menghadapinya. Kami juga akan tetap menang.”Serena tersenyum bahagia sambil menatap wajah Shabira.
“Serena,” ucap Daniel dan Kenzo bersamaan.
Shabira dan Biao melepas tawa saat itu. Suasana yang di awali dengan ketegangan itu lagi-lagi berakhir dengan canda tawa. Serena memang sangat suka menyombongkan dirinya. Bahkan sikapnya jauh lebih sombong dari kesombongan Daniel dulunya. Namun, di hatinya yang paling dalam. Wanita itu tetap menghargai suaminya. Apapun yang akan terjadi, Serena akan tetap melindungi keluarganya.
Likenya jangan lupa ya reader...😘