
Kenzo menepuk pelan pucuk kepalanya. Padahal semua akan baik-baik saja kalau Tama tidak masuk ke dalam detik itu. Dengan penuh hati-hati dan perhitungan, Kenzo berjalan mendekati posisi Shabira. Pria itu masih menyimpan harapan untuk menenangkan pikiran kekasihnya saat itu.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat Shabira memutar tatapan matanya sebagai kode agar Kenzo tidak ikut campur saat itu. Seperti seorang suami yang takut istri, Kenzo kembali menghentikan langkah kakinya sambil memejamkan mata dengan satu doa yang kini ia panjatkan.
Semoga Shabira tidak melakukan apapun kepada Sonia. Wanita ini sudah berubah menjadi lebih baik. Tapi, bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya kepada Shabira. Wanita itu akan membunuhku juga jika ia mendengar pembelaanku untuk Sonia.
“Maafkan saya Shabira, Saya ….” Sonia berusaha untuk mengutaran isi hatinya saat itu.
“Maaf kau bilang?” Dengan cepat Shabira mengeluarkan pistol yang tersimpan di sakunya. Entah kenapa wanita itu selalu saja menyimpan pistol kecil dan membawanya kemanapun ia berada.
“Shabira!” teriak semua pria yang ada di dalam ruangan itu. Teriakan itu memenuhi isi ruangan Serena.
“Sayang, ini rumah sakit. Jangan membuat keributan kepada pasien lain,” bujuk Kenzo sambil berjalan pelan mendekati tubuh Shabira.
“Berhenti di situ Kenzo! Aku harus memberi pelajaran pada wanita sialan ini. Karena dia Kakakku hampir saja kehilangan nyawanya. Karena dia juga semua masalah ini menjadi tidak pernah berakhir.” Shabira menodongkan pistol itu tepat di depan wajah Sonia.
Pistol itu membuat wajah Sonia semakin pucat karena ketakutan. Bahkan kakinya terasa gemetar dan tidak sanggup lagi berdiri saat itu. Tidak pernah ia bayangkan, setelah Lukas ia akan bertemu lagi dengan sosok pembunuh berdarah dingin seperti Shabira.
“Shabira ….” ucap Serena dengan suara yang sangat lirih. Perlahan Serena mengangkat tubuhnya agar ia bisa duduk di tempat tidur itu. Dengan susah Serena mengatur posisi duduknya yang nyaman, hingga membuat Shabira berlari untuk membantu Serena saat itu.
“Kakak, Kakak jangan banyak bergerak,” protes Shabira sambil memasukkan pistol itu kembali ke dalam saku. Perlahan, Shabira mengambil bantal dan meletakkannya di belakang tubuh Serena.
“Shabira, apa yang kau lakukan? apa kau ingin membunuh Sonia di kamar ini?” ucap Serena pelan.
Serena menatap wajah Sonia dengan tatapan mata yang tidak kalah menyeramkan dengan Shabira saat itu. Wanita itu juga menyimpan dendam dan sejuta kebencian atas perbuatan Sonia beberapa hari yang lalu. Karena wanita itu ia kehilangan Diva, sahabat terbaiknya. Bahkan hampir kehilangan dua pria yang sangat berharga dalam hidupnya.
“Pistol ini tidak akan mengeluarkan suara yang terlalu kuat. Kakak mau coba? aku akan memberi kesempatan terbaik ini untuk Kakak.” Shabira menatap Sonia lagi dengan senyum tipis.
Sonia tidak lagi mampu membela dirinya saat ini. Bahkan untuk menyebut nama Serena saja ia tidak memiliki keberanian lagi. Bibirnya terkunci saat ia kini berhadapan langsung dengan Serena.
“Serena, dengarkan dulu penjelasanku.” Aldi angkat bicara, hatinya tidak terima saat melihat wanita yang paling ia cintai kini menjadi bahan olokan kedua wanita yang ada di hadapannya.
“Apa yang ingin anda katakan, Tuan Aldi? apa anda ingin membela Sonia saat ini?” Serena menatap wajah Kenzo dan Tama secara bergantian. Wanita itu mengukir senyuman tipis saat melihat wajah khawatir dari kedua pria itu.
“Serena, Sonia memang orang yang seharusnya bertanggung jawab atas semua masalah ini. Tapi ia juga sudah mendapatkan balasannya. Seorang pria menusuknya dengan belati malam itu, hingga membuat dirinya melewati masa-masa kritis di ruang operasi. Bukan hanya itu, Sonia juga sudah berubah. Dia sudah menyesali semua perbuatannya.” Aldi menarik tubuh Sonia agar wanita itu berada di belakang tubuhnya saat itu.
“Kau benar, Aldi. Sonia sudah mendapat balasan dari semua perbuatannya. Aku harap, dia memang berubah seperti yang kau katakan.” Wajah Serena tidak lagi dipenuhi amarah. Dalam hitungan detik, wanita itu kembali mengukir satu senyuman manis di bibirnya.
“Kakak, apa yang Kakak katakan? apa kakak akan memaafkan wanita itu dengan begitu mudah? Kak, wanita ini tidak layak untuk hidup di dunia manapun.” Protes Shabira dengan wajah penuh kesal.
Shabira melipat kedua tangannya dan memutar tubuhnya untuk membelakangi Sonia saat itu. Ia lebih memilih memandang dinding daripada harus memandang wajah Sonia.
“Shabira, karena Sonia kau juga bisa bertemu dengan Kakak kandungmu. Karena Sonia, Daniel dan Zeroun bisa semakin dekat seperti tadi. Aku hanya tidak ingin menambah musuh lagi saat ini. Aku sudah lelah berada di dunia penuh dendam itu. Aku ingin membuangnya jauh-jauh dari hidupku saat ini.” Serena menatap ke sembarang arah dengan tatapan mata yang tidak terbaca.
“Kakak ….” ucap Shabira sambil memegang tangan Serena.
“Maafkan aku, Kakak. Jangan sedih lagi.” Shabira meletakkan tangan Serena di pipi kanannya.
Sonia mengintip dari balik tubuh Aldi saat mendengar perkataan Serena. Wanita itu membendung air mata yang sudah siap untuk membanjiri wajahnya. Bibirnya semakin gemetar, saat ia ingin mengucapkan kata terima kasih kepada Serena. Dengan penuh hati-hati, Sonia memajukan tubuhnya agar berada di samping tubuh Aldi saat itu.
Sonia menyelipkan rambut pendeknya di balik telinga sebelum mengeluarkan kata. Dengan mata penuh takut-takut, ia menatap wajah Serena dan Shabira bergantian.
“Serena ….” Bibir Sonia terlihat gemetar menahan tangis.
“Serena, Aku siap menerima hukuman apapun yang akan kau berikan padaku. Asalkan kau mau memaafkanku.” Sonia menunduk lagi dengan wajah penuh takut. Sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan aura wajah Sonia selama ini.
Serena menatap wajah Shabira sambil mengukir senyuman. Ia tahu, kalau Shabira akan semakin marah jika ia menerima Sonia dengan begitu ramah saat ini. Sambil merenung beberapa detik, Serena menatap ke arah Kenzo dan Tama yang kini membisu.
“Tama, apa kau bisa memanggilkan Daniel untukku?” pinta Serena dengan nada yang lembut.
Tama membungkuk hormat, “Baik, Nona. Saya akan mencari Tuan Daniel.”
“Daniel ada di ruangan Adit,” sambung Kenzo cepat.
Tama menganggukkan kepalanya sebelum memutar tubuhnya ke arah pintu. Dengan langkah cepat dan pasti, pria itu pergi meninggalkan ruangan rawat Serena.
“Sonia, duduklah. Kondisimu juga masih lemah. Jangan terlalu lama berdiri. Aku ingin membicarakan semua ini bersama Daniel.” Serena mengukir senyuman tipis di bibir pucatnya.
“Terima kasih, Serena.” Aldi menarik tangan Sonia, ke arah sofa.
Perlahan Aldi membantu Sonia untuk duduk di sofa yang empuk itu. Walaupun belum mendapat titik terang kalau Serena akan memaafkan Sonia, tapi Aldi yakin kalau Serena adalah wanita yang selalu memaafkan. Pria itu percaya, mereka semua pasti bisa menjadi sahabat yang saling menjaga dan menyayangi.
Shabira duduk di pinggiran tempat tidur Serena. Mengambil satu majalah yang terletak di atas nakas. Wanita itu membuka lembar demi lembar kertas majalah untuk membaca isinya. Tanpa peduli dengan keadaan Kenzo yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya.
“Shabira, jangan seperti itu.” Serena menarik majalah itu, meletakkannya di samping kanan.
Kenzo tersenyum saat Serena memandang wajahnya. Dengan penuh keraguan, pria itu berjalan pelan untuk mendekati Shabira. Ia tidak akan sanggup kalau Shabira akan menatapnya dengan tatapan benci seperti itu.
“Menyebalkan. Kenapa kita harus menerima musuh kita di sini. Seharusnya musuh itu kita habiskan hingga tak tersisa lagi. Kenapa kita harus menyisakan satu orang untuk hidup.” Shabira mengutarakan isi hatinya dengan nada yang cukup kuat. Perkataannya sudah cukup mewakili isi hatinya saat itu, sebagai ungkapan sindiran untuk Sonia.
“Sayang, ayo kita keluar untuk sarapan.” Kenzo berdiri di samping Shabira untuk membujuk wanita itu lagi.
“Aku tidak lapar! jangan paksa aku Kenzo. Aku masih ingin di sini bersama Kak Erena.” Shabira masih memalingkan wajahnya dari Kenzo karena kesal.
“Shabira, kenapa kau marah kepada Kenzo? dia tidak bersalah saat ini.” Serena berusaha untuk memperbaiki hubungan Kenzo dan Shabira saat itu.
“Kakak membelanya?” Shabira menunjuk ke arah Kenzo dengan satu tatapan penuh arti.
Serena menggeleng pelan, “Aku tidak membelanya. Kalian baru saja bermesraan beberapa detik yang lalu. Sangat disayangkan, kalau harus menjadi seperti ini sekarang.” Serena tersenyum memandang wajah Kenzo.
Perlahan Shabira menatap wajah Kenzo yang kini ada di samping tubuhnya. Perkataan Serena kembali meluluhkan hati Shabira saat itu.
“Kau menyebalkan,” ucap Shabira pelan.
“Maafkan aku, sayang.” Kenzo meraih tangan Shabira dengan begitu lembut.
Tiba-tiba handphone Shabira berdering. Wanita itu mengambil ponsel dari dalam sakunya. Memasang wajah kaget saat melihat nama yang terukir di layar ponselnya. Shabira menatap wajah Serena sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
“Kak, Aku angkat telepon bentar di luar.” Shabira turun dari tempat tidur Serena, berjalan cepat menuju ke arah pintu. Sekilas, ia memandang wajah Sonia yang masih duduk disofa sebelum melajukan langkah kakinya. Kenzo juga mengikuti langkah Shabira dari belakang. Pria itu juga dipenuhi rasa penasaran atas sikap Shabira yang tiba-tiba berubah.
Sementara Serena, tidak bisa mengeluarkan kata lagi. Walaupun ia juga menyimpan rasa cuirga yang sama seperti Kenzo saat itu. Wanita itu menarik napas dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Menatap punggung Shabira dan Kenzo yang sudah hilang dari balik pintu.
“Serena, apa terjadi sesuatu lagi?” tanya Sonia dengan penuh khawatir.
Serena menggeleng pelan, “Aku tidak tahu.”