
“Serena, Awas!” teriak Daniel sambil berlari cepat menuju ke arah Serena.
Serena hanya diam mematung. Kedua bola matanya melihat Daniel yang dengan cepat berlari ke arahnya. Pria itu menabrak dirinya hingga mereka berdua tergeletak di samping pepohonan teh yang rindang.
Duaarrr…
Suara tembakan itu benar-benar memekakan telinga. Semua burung-burung yang singgah di pepohonan berterbangan tidak karuan. Semua pengawal yang sudah berjaga sudah siap memegang pistol dan mengarahkan ke pria misterius yang menjadi penyebab keonaran ini.
“Daniel,” ucap Serena pelan ketika kini Daniel sudah ada di atas tubuhnya yang mungil.
Tanpa ingin menjawab pertanyaan Serena. Daniel segera mengeluarkan sebuah pistol yang sudah ia persiapkan. Baku tembak sudah tidak bisa terelakkan lagi. Entah di mana pihak musuh dan entah di mana pihak Daniel sudah membaur menjadi satu.
Serena diam menatap tindakan Daniel. Kini perasaan takut itu tidak mewakili dirinya. Hatinya jauh lebih besar mengkhawatirkan Daniel yang sedang bertarung dengan gerombolan musuh yang tidak tahu asalnya dari mana.
Daniel kembali menunduk dan menggenggam tangan Serena. Pria itu memberi isyarat kepada Serena untuk mengikutinya menjauhi kebun teh.
“Siapa mereka?” celetuk Serena sambil terus melangkah dengan cepat mengikuti tuntunan Daniel.
“Jangan banyak bicara, Serena. Kita harus segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi,” jawab Daniel sambil terus menarik tangan Serena dan menggenggamnya dengan kuat.
Entah berapa lama dan seberapa jauh perjalanan Daniel dan Serena. Kini mereka sudah memasuki sebuah hutan yang di tumbuhi pepohonan besar dan rerumputan. Merasa keadaan sudah aman dan terhindar dari gerombolan orang jahat itu. Kini Daniel menghentikan langkahnya untuk mengatur napasnya agar kembali normal.
“Apa kau lelah, Serena?” tanya Daniel sambil melepaskan genggaman tangannya.
“Tidak,” jawabnya singkat sambil terus memandang wajah Daniel.
“Jangan bercanda, Serena. Kita sudah berlari sejauh ini dan kau bilang tidak lelah?” balas Daniel sambil duduk di atas rumput dan bersandar di sebuah pohon besar.
“Mereka menggunakan seragam S.G. Group Daniel,” ucap Serena ketika kembali mengingat penyerang yang ingin menembak dirinya dan Daniel.
“Iya, aku sempat melihat wajahnya. Bagaimana bisa mereka seceroboh ini. Dasar tidak berguna,” keluhnya kesal sambil terus menormalkan napasnya yang tidak lagi beraturan.
Kini segerombolan orang yang tidak dikenali identitasnya itu, sudah ada di sekeliling Serena dan Daniel. Serena dan Daniel masih larut dalam pikiran mereka masing-masing. Tanpa menyadari kedatangan orang-orang itu.
“Tidak ada tempat untuk kalian bersembunyi lagi,” celetuk seseorang dari arah yang berlawanan dari Serena.
Daniel dan Serena memandang sekeliling mereka, “Siapa kau?” ucap Serena tegas. Matanya menatap tajam ke arah pria yang kini sedang tersenyum licik memandangnya.
Daniel langsung terperanjat dari duduknya. Kini posisinya sudah berada di samping Serena. Dengan memegang sebuah pistol yang siap untuk melindungi dirinya dari bahaya yang akan mengancam.
“Erena … senang bertemu denganmu lagi, Sayang,” ucap pria berjas hitam yang menjadi pimpinan utama pada gerombolan penyerangan itu.
“Kau mengenalnya, Serena?” bisik Daniel pelan di telinga Serena.
“Tidak Daniel, aku tidak mengenalnya,” jawabnya mantap.
Duarr…
Suara tembakan kembali terdengar. Beberapa penyerang itu jatuh tergeletak di tanah, terlihat Biao dan Tama sudah ada di sana. Dengan cepat Biao dan Tama menghampiri Daniel.
Daniel hanya mengangguk pelan tanpa mau mengeluarkan kata. Kini jumlah keduanya hampir seimbang. Namun kedua belah pihak masih belum melanjutkan penyerangan. Hanya ada tatapan kebencian di antara mereka.
“Beraninya kau menyerang Tuan kami,” ucap Biao dengan tatapan tajam.
“Tuan? Aku tidak memiliki urusan dengan pria yang kalian panggil Tuan itu,” jawabnya santai, sambil memandang Serena dengan penuh perhitungan.
“Aku pastikan kau akan menyesali perbuatan yang sudah kau mulai ini.” Biao mengarahkan sebuah pistol ke hadapan pria itu.
“Serahkan wanita itu padaku dan aku tidak akan mengganggu hidup kalian lagi.” Pria itu juga mengangkat sebuah pistol yang di arahkan ke arah Serena.
“Beraninya kau,” ucap Biao mulai kesal.
Tanpa perintah dari siapapun kini Daniel menarik tangan Serena untuk pergi meninggalkan mereka. Hal terpenting yang kini ada di isi kepalanya adalah keselamatan Serena.
Duarr…
Suara tembakan kembali menyeruh. Pertarungan kembali di mulai. Tama yang tadi berada di samping Biao kini melangkah maju melindungi Daniel dan Serena. Beberapa pengawal sudah berjatuhan ke permukaan tanah. Tidak puas dengan tembakan, kini Biao menghadiahkan pria misterius itu dengan sebuah pukulan yang mendarat tepat di pipi kanannya.
“Kau menginginkan Nona muda maka kau harus rela kehilangan nyawamu,” ucap Biao dengan kesal sambil terus memukulnya tanpa ampun.
Tetapi bukan hanya itu, segerombolan orang yang menjadi anggota geng mafia White Tiger juga sudah tiba di sana. Dengan santai mereka menodongkan pistol tepat di hadapan Biao dan Tama. Hinga akhirnya Biao dan Tama jatuh ke atas tanah dengan pandangan yang mulai gelap.
“Kau terlalu ceroboh, Wubin. Pernahkah kau berpikir apa yang akan terjadi pada dirimu? Jika aku tidak segera menemuimu,” ucap Arion sambil mengulurkan tangan untuk membantu Wubin berdiri.
“Dia berhasil kabur, Tuan,” jawabnya penuh penyesalan.
“Kita akan segera menemukannya,” ucap Arion sambil pergi meninggalkan kerumunan orang yang sudah tergeletak di atas tanah.
Tidak ingin ketahuan lagi, kini Daniel terus berlari masuk ke dalam hutan tanpa arah yang jelas. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika dia menyadari kalau misi pelarian dirinya sudah berhasil. Namun ia tidak tahu dimana kini dirinya dan Serena berada. Hanya ada pohon-pohon besar yang tidak memiliki tapak jalan lagi. Daniel dan Serena tersesat di dalam hutan.
Di Rumah Utama . . .
Ny. Edritz duduk dengan posisi tidak nyaman dan penuh dengan rasa khawatir. Hari ini semua orang kepercayaannya telah melakukan penyerangan ke markas White Tiger. Perasaan bingung bercampur takut tercampur baur di dalam hati Ny. Edritz. Matanya terpusat pada sebuah handphone yang kini telah berdering.
“Nyonya, kami sudah berhasil masuk ke dalam markas White tiger. Hanya ada beberapa gerombolan orang yang melawan. Kami tidak menemukan Arion di dalam. Sepertinya mereka sudah mengetahui rencana kita, Nyonya,” ucap seseorang dari sebrang telepon.
“Apa kau bilang? Bagaimana keadaan Daniel dan Serena sekarang,” ucap Ny. Edritz dengan wajah yang sangat panik.
“Baru saja salah seorang pengawal memberi kabar kepada saya. Kalau terjadi penyerangan di vila, Nyonya,” jawabnya penuh hati-hati.
Ny. Edritz jatuh ke lantai. Pikirannya sudah tidak dapat untuk mencerna perkataan yang baru saja ia dengar. Semua mulai gelap dan kini Ny. Edritz sudah tidak sadarkan diri.
“Nyonya, apa anda baik-baik saja.” Suara dari penelepon yang mulai panik dan segera memutuskan panggilan teleponnya.
Mengerti kalau sang majikan dalam bahaya, pria itu segera melajukan mobilnya menuju rumah utama untuk menemui Ny. Edritz secara langsung.