
Zeroun berlari kencang untuk menghindari Arion, yang sudah terlihat lemah tidak berdaya. Namun Arion tidak ingin menyerah sampai di situ. Arion terus mengejar Zeroun, untuk mengalahkannya saat ini juga.
“Sial! Kali ini ia kembali berhasil lolos!” umpat Arion dengan penuh kesal.
Zeroun terus berlari menembus keramaian kota. Hingga akhirnya, tubuhnya menabrak seorang wanita, hingga terjatuh di atas tanah dengan kaki terluka.
“Maaf, maafkan saya.” Zeroun menunduk menatap wanita itu.
Mata Zeroun terbelalak kaget, saat melihat wajah wanita yang baru saja ia tabrak. Hatinya terasa bahagia. Mengenakan dres biru. Rambut tergerai yang bergelombang, dengan mengenakan high heelz hitam yang sangat anggun.
Penampilan yang berbeda, saat pertama kali ia jumpa dengannya. Zeroun menatap dengan penuh takjub. Matanya tidak berkedip sedikitpun. Seperti bidadari yang turun dari langit, dan mendarat cantik di hadapannya.
Tapi berbeda dengan wanita yang ia tabrak. Wanita itu berdiri dari jatuhnya. Menunjuk ke arah Zeroun dengan wajah marah. Semua barangnya berserak.
“Kau lagi!” ucap Erena dengan penuh kesal, “Aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi, setelah kejadian semalam.”
Erena memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Zeroun. Dengan langkah tertatih-tatih, ia berjalan ke sebuah kursi di pinggir jalan.
“Hei, tunggu! Erena,” ucap Zeroun untuk menghentikan langkah Erena.
Erena tidak peduli, ia terus berjalan meninggalkan Zeroun di sana. Namun Zeroun kembali mengikuti langkah Erena. Erena duduk di sebuah kursi dan membersihkan lukanya, dengan selembar tisu basah yang tersimpan di dalam tasnya.
“Kau selalu saja membuat hariku menjadi sial,” ucap Erena penuh dengan rasa kesal.
“Maafkan aku.” Zeroun duduk di samping Erena.
“Kenapa kau selalu berlari? Apa pria itu mengejarmu lagi?” tanya Erena cepat.
Zeroun memandang ke arah Arion dari kejauhan. Arion berdiri di sebrang jalan, dari posisi Erena dan Zeroun saat ini. Zeroun mulai sadar dengan keberadaan Erena saat ini.
Arion, dia sudah menandai wajah wanita ini. Wanita ini akan dalam masalah karena kelakuanku!
Zeroun menatap Serena penuh khawatir.
Zeroun mengangkat tubuh Erena, dan membawanya pergi dari sana. Dengan kekuatan penuh, Erena menolak perlakuan Zeroun.
“Apa yang kau lakukan, beraninya kau!” ujar Erena dengan kesal.
Mobil Lukas sudah terparkir cepat di hadapan Zeroun saat ini. Tanpa pikir panjang, Zeroun membawa Erena masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi untuk pulang ke rumah. Lukas hanya melirik sebentar ke arah Erena, sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Kau! Apa yang kau inginkan dariku!” teriak Erena di dalam mobil.
“Aku hanya ingin menyelamatkanmu.”
“Kau membuat hidupku dalam masalah. Berhenti!” perintah Erena cepat.
Namun Lukas tidak memperdulikan perintah Erena.
Satu-satunya orang yang ia patuhi, hanya Zeroun.
“Apa pria ini punya telinga! Kenapa dia tidak mendengarku!” ucap Erena semangkin kesal.
Erena mengambil tas, dan mencari-cari handphone yang tersimpan di tasnya. Namun Erena tidak kunjung mendapatkan handphonenya di dalam sana.
“Di mana handphoneku!” Erena terus mencari-cari.
“Kau akan baik-baik saja bersamaku,” ucap Zeroun santai.
Erena hanya diam tanpa kata, matanya memandang ke arah luar jendela mobil. Tubuhya hampir terjatuh saat mobil yang kini ia tumpangi, berhenti secara mendadak.
“Ada apa, kau hampir mencelakaiku.” Protes Erena.
Erena menatap tajam ke arah luar, beberapa mobil mengepung mobil mereka saat ini. Beberapa pengawal yang berada di belakang mobil Zeroun, sudah turun untuk menyerang. Zeroun dan Lukas, hanya diam di dalam mobil menyaksikan perkelahian itu.
“Siapa mereka? Kenapa mereka menyerang kita?” Erena menatap wajah Zeroun, meminta satu jawaban.
“Erena, pergilah. Aku akan menyuruh beberapa pengawal, untuk membawamu pergi dari sini. Berlarilah dengan kencang, Erena.” Zeroun menatap wajah Erena dengan penuh khawatir, “Jangan pernah melihat ke belakang.”
Erena hanya mengangguk cepat, sebelum membuka pintu mobil. Kini ketiganya telah keluar dari dalam mobil. Lukas sudah menodongkan pistol ke arah lawan. Zeroun berlari kencang mendekat ke tubuh Erena yang masih berdiri mematung.
“Pakai ini, di sini anginnya sangat kencang.” Zeroun melepas jas hitam miliknya, dan memakaikannya di tubuh Erena yang langsing, “Ini saatnya, kau harus pergi Erena.”
Erena hanya diam membisu memandang wajah Zeroun. Langkahnya terasa berat saat ia harus pergi meninggalkan Zeroun saat ini.
“Apa kau akan baik-baik saja, Zeroun? Senang bertemu denganmu.”
Erena mulai membalikkan tubuhnya. Namun, dengan cepat Zeroun menarik tangan Erena dan mencium bibir Erena dengan penuh cinta. Hingga mata Erena terbelalak kaget, saat menerima ciuman Zeroun saat ini.
Zeroun melepas ciuman itu, dan berjalan maju ke depan mobil. Satu pengawal, menarik tangan Erena untuk segera pergi dari situ. Hati Erena berubah sedih, tiba-tiba rasa khawatir itu menyelimuti dirinya. Erena pergi meninggalkan Zeroun di sana.
Beberapa mobil kembali datang, Lukas dan Zeroun berlari ke belakang mobil untuk membuat suatu strategi.
“Jumlah mereka sangat banyak, Bos. Saya sudah menghubungi yang lainnya, tapi mereka masih dalam perjalanan.”
“Kita harus menghadapi mereka saat ini juga!” Zeroun kembali berdiri dan melepaskan pelurunya berkali-kali.
Satu peluru dari arah misterius mengenai dada Lukas, dan satu lainnya mengenai kaki Zeroun. Zeroun dan Lukas terjatuh, dengan cairan merah yang mengalir begitu deras. Satu pria bertopeng mendekat ke arah Zeroun, menodongkan pistol di hapannya.
“Ucapkan kata terakhirmu, Zeroun Zein!”
Satu suara tembakan membuat Zeroun membuka matanya secara perlahan. Pria bertopeng yang menodongkan pistol, jatuh ke tanah. Zeroun mencari sumber suara tembakan itu. Matanya terbelalak kaget, saat melihat sosok yang sangat ia kenali berdiri tegab di sana. Memegang dua buah pistol dengan begitu ahli. Diiringi beberapa orang berpakaian hitam-hitam.
“Erena!”
Erena berjalan cepat dan terus mengeluarkan tembakan. Hingga lawan Zeroun hari ini kembali menyerah. Satu pengawal Erena sudah membawa pergi tubuh Lukas yang tidak sadarkan diri. Erena mendekat ke arah Zeroun dan menjatuhkan satu pistol ke atas tanah. Erena mengulurkan tangannya untuk membantu Zeroun berdiri.
“Kau tidak baik-baik saja!” Erena menatap wajah Zeroun yang sudah berdiri.
Dengan mudahnya, Erena dan genk mengusir tamu yang tidak di undang itu. Erena menatap wajah Zeroun dan berbalik badan untuk meninggalkan Zeroun di sana.
“Erena, tunggu.”
Zeroun memegang tangan Erena dengan kuat, “Jangan pergi, aku ingin bicara padamu.”
Semua pengawal Erena, menodongkan pistol ke arah Zeroun. Mereka tidak membenarkan tangan Zeroun menyentuh tangan Erena.
Erena memberi satu kode, hingga semua pengawalnya pergi dari sana.
“Apa yang kau inginkan, Zeroun? Maaf, aku tidak bisa menemuimu. Dan tolong, jangan menemuiku.”
“Erena, aku selalu memikirkanmu. Setidaknya aku tahu, siapa dirimu. Kau sangat misterius Erena. Jelaskan padaku, apa pekerjaanmu.”
“Pekerjaan?”
“Ya, kau menembak dan mempunyai senjata. Kau memiliki banyak anak buah. Siapa kau sebenarnya Erena?”
Zeroun menatap wajah Erena untuk menagih satu jawaban.
“Mafia. Aku pemimpin mafia Queen Star. Apa kau puas, Zeroun Zein.” Erena menatap tajam wajah Zeroun yang tiba-tiba memucat.
Zeroun membisu untuk sesaat. Zeroun sangat tahu nama geng mafia Queen Star. Namun hingga detik ini, tidak pernah ada yang tahu siapa pemimpin geng itu. Geng yang sangat licin dan cepat. Menghilang dan muncul secara tiba-tiba. Membunuh tanpa belas kasih.
Misinya hanya terus saja membunuh, dan tidak pernah bisa untuk di hentikan oleh siapapun. Zeroun masih tidak menyangka, kalau geng membunuh berdarah dingin itu, di pimpin oleh seorang wanita. Wanita yang sangat cantik dan manis. Hingga semua orang tidak pernah menyangka, kalau dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Erena menatap wajah Zeroun dengan tajam. Identitas yang selama ini ia sembunyikan dengan begitu rapi. Hari ini, harus terbongkar dengan begitu mudahnya. Sosok pria yang kini ada di hadapanny, sudah membuat hidupnya menjadi berantakan.
“Erena, kau mafia? kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku?” Zeroun masih menggenggam tangan Erena. Ia tidak ingin Erena pergi meninggalkannya.
“Untuk apa aku menceritakan semuanya padamu? Apa kau pikir, aku gadis polos yang selalu ceria? tinggal di lingkungan damai tanpa kenal senjata?” Erena mulai memperlembut ucapannya.
“Erena, jika aku memaksamu lagi. Apa kali ini kau akan menembakku?”
Zeroun menatap wajah Erena dengan penuh kasih sayang. Ia sudah jatuh cinta pada Erena, sejak pertama kali melihatnya. Pertemuan ini membuat rasa cinta itu semangkin kuat dan tidak bisa di lupakan.
“Aku tidak suka di paksa. Jika kita bertemu lagi, aku tidak akan menghindarimu lagi, Zeroun Zein.”
Erena melepas paksa genggaman itu, berbalik badan dan melangkah pergi. Beberapa pengawal setianya, juga mengikuti langkah Erena dari belakang.
Zeroun masih berdiri membisu menatap kepergian Erena. Ia tidak pernah menyangka, kalau wanita polos yang selama ini ia sepelekan adalah pimpinan mafia berdarah dingin. Zeroun terus menatap kepergian Erena yang semangkin menghilang tertutup kabut malam.
***
Zeroun terbangun dari mimpi panjangnya. Sejak kepergian Serena, dia terus mengingat masa lalunya dengan Serena. Wanita yang sudah dua kali menyelamatkan nyawanya. Zeroun menurunkan kakinya dari tempat tidur.
Duduk menunduk sambil menggenggam erat tangannya. Hatinya masih terasa luka, saat mengingat kepergian Serena beberapa hari yang lalu.
“Kau menyelamatkan nyawaku Erena. Bahkan menembak pria itu. Aku yakin, kalau masih ada cinta di hatimu untukku. Aku akan merebutmu lagi, Erena.”
Suara ketukan pintu membuat lamunan Zeroun pecah.
“Masuk!”
Lukas masuk ke dalam kamar, dengan setelan jas yang sudah rapi. Membungkuk hormat, sebelum mengucapkan salam.
“Selamat pagi, Bos. Sarapan sudah siap.”
“Apa kau sudah mengatur semuanya?”
“Sudah Bos. Siang ini kita akan kembali ke negara X.”
Zeroun tersenyum tipis, dia akan kembali ke negara X. Negara yang menjadi tempat tinggal Serena saat ini.
“Maaf Bos. Kenapa anda melepas Nona Erena? Dia sudah mengingat semuanya.”
“Aku tidak pernah melepaskan wanitaku. Aku hanya membiarkan dia sedikit bermain-main dengan pria itu.” Zeroun menatap tajam wajah Lukas.
“Kita harus punya strategi untuk mendapatkannya lagi. Dia bukan wanita yang suka di paksa. Biarkan dia melakukan hal yang dia inginkan.”
“Baik bos. Selama itu membuat bos bahagia. Saya juga bahagia.”
Setelah beberapa hari berada di Negara Z. Hari ini Zeroun memutuskan untuk kembali ke negara X. Dia akan kembali memperjuangkan cintanya kepada Serena.
Wanita yang memang sudah mencuri hatinya sejak dulu. Wanita yng tidak akan dengan mudah, ia lepaskan untuk orang lain.
Like, Komen, Vote ya Readers 🤗🤗🤗