
Di ruang kerja. Daniel dan yang lainnya terlihat sibuk dengan masalah yang baru saja mereka hadapi. Di sofa dekat lemari buku, Sharin duduk dengan laptop miliknya. Wanita itu terlihat serius dengan tugas yang baru saja ia terima. Daniel memintanya untuk menghidupkan kembali segala jaringan yang terputus. Tentu saja itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kali ini, Sharin tidak mendapat bantuan dari jaringan internet untuk menguasahi keadaan. Bahkan, ia juga tidak bisa meminta bantuan temannya karena jaringan komunikasi terputus juga. Walaupun pekerjaan ini memang keahliannya sejak dulu. Mengalami hal sulit seperti ini perdana bagi hidupnya. Namun, gadis 20 tahun itu tidak mau menyerah. Ia terus berusaha agar bisa berhasil mengalahkan lawannya saat ini.
Daniel menatap ke arah pintu saat pintu itu terbuka. Kedua bola matanya terlihat bahagia saat melihat Serena kembali memasang wajah ceria. Sama halnya dengan Sharin, Biao dan Tama yang juga menatap ke arah pintu tempat Serena muncul.
Serena masuk ke dalam ruang kerja itu dengan segelas jus jeruk di tangannya. Wanita itu bahkan tidak mengetuk pintu sebelum masuk. Bibirnya mengukir senyuman indah saat memandang wajah suaminya pertama kali.
“Daniel, apa aku mengganggu,” ucap Serena dengan nada yang cukup lembut. Wanita itu melirik ke arah Sharin sebelum mendekati kursi yang diduduki oleh Daniel.
“Tidak, Sayang. Kau tidak pernah menggangguku. Apa ini untukku?” Daniel melirik jus jeruk yang ada di genggaman Serena.
Serena mengangguk sebelum meletakkan jus jeruk itu di atas meja, “Ini untukmu, Sayang.”
“Terima kasih, Sayang.” Daniel mengambil jus jeruk itu. Meneguknya dengan senyuman, “Sayang, apa kau sudah makan siang?” Daniel meletakkan gelas itu kembali ke atas meja.
“Sudah. Daniel, apa yang kalian bicarakan?” Serena terlihat penasaran dengan wajah serius penghuni ruang kerja itu. Di tambah lagi, Sharin juga ada di ruangan itu dan terlihat sibuk dengan layar laptopnya.
“Seluruh jaringan yang ada di kota Sapporo terputus.” Daniel menarik tangan Serena agar wanita itu duduk di atas pangkuannya, “Mungkin itu yang menyebabkan panggilan teleponmu terhadap Shabira gagal.”
Serena mengukir senyuman, “Aku sudah tahu.”
“Benarkah?” Daniel mengeryitkan dahi. Pria itu belum memberi tahu Serena sejak tadi. Bagaimana mungkin wanita berstatus istrinya itu tahu apa yang telah terjadi.
“Daniel, ijinkan aku untuk membantumu kali ini. Aku ingin menyerang pria sialan itu.” Serena beranjak dari pangkuan Daniel. Wanita itu berdiri di hadapan Daniel dengan wajah memohon.
“Sayang, biar aku yang menyelesaikan masalah ini.”Daniel meraih tangan Serena. Pria itu berusaha untuk membujuk istrinya agar tidak pergi bertarung lagi.
“Sekali ini saja. Aku janji akan menjaga anak kita dengan baik. Lagian, lawan kita kali ini tidak terlalu serius. Dia hanya jago dalam operasi jaringan. Belum tentu ia jago dalam bela diri.”Serena sudah mendapatkan ide untuk menyerang lawannya saat ini. Namun, semua rencana ini tidak akan berhasil saat dirinya tidak turun tangan langsung.
Daniel menghela napas, “Baiklah. kau boleh ikut. Tapi, kau harus tetap ada di sampingku.”
Serena mengukir senyuman, “Terima kasih. Aku akan mengajari Sharin apa-apa saja yang harus ia lakukan.”Serena berjalan menuju ke arah sofa yang di duduki Sharin. Wanita tangguh itu duduk di samping Sharin dengan senyuman. Daniel, Biao dan Tama memandang dua wanita itu dengan tatapan penuh tanya.
“Sharin. Pakai kode ini.” Serena mengeluarkan selembar kertas yang sejak tadi ia simpan.
“Apa ini, Nona?” Sharin menerima kertas itu. Memandang angka dan huruf yang berbentk acak dengan wajah penuh selidik.
“Kita akan mencuri jaringan dari kota lain. Kau hanya bisa menggunakannya selama lima menit. Aku mau, kau mengetahui alamat pria itu bersembunyi saat ini.” Serena menatap wajah Sharin dengan seksama,“Kita hanya punya waktu lima menit. Semua keberhasilan rencana ini kini ada di tanganmu.” Serena memegang kedua tangan Sharin dengan wajah penuh harap.
Sharin merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Wanita itu kini mendapat tugas yang cukup berat dan membebani pikirannya. Hanya lima menit waktu yang ia miliki. Bahkan selama ini, ia butuh waktu sekitar 10 menit untuk pencapaian tercepatnya.
“Apa kau sanggup melakukannya, Sharin?” Serena kembali memastikan kemampuan gadis 20 tahun itu.
“Saya akan mencobanya, Nona.” Sharin menatap serius layar laptopnya.
Daniel beranjak dari duduknya. Pria itu cukup tertarik dengan rencana istrinya siang itu. Sama halnya dengan Tama dan Biao yang juga menyimpan rasa kagum atas ide nona mudanya. Tidak pernah terpikirkan di dalam pikiran mereka untuk ide yang kini di miliki oleh Serena.
“Nona, saya sudah berhasil mendapatkan jaringan internet. Kode ini sungguh luar biasa. Dari mana anda mendapatkannya, Nona.”Sharin memasang wajah kegirangan.
“Sebaiknya jangan banyak bicara. Cepat kerjakan tugasmu!”ucap Tama dari kejauhan. Pria itu semakin tidak yakin dengan kemampuan keponakannya yang selalu ceroboh itu.
Sharin melirik Biao yang kini berdiri di sampingnya sebelum melanjutkan pelacakannya.
“Kita harus mendapat alamatnya bersembunyi saat ini. Kita juga harus menyerangnya detik ini juga,” ucap Serena penuh semangat.
Sharin terlihat fokus dengan tugasnya. Wanita itu terus meretas setiap camera CCTV yang ada di kota Sapporo. Satu hotel kini berhasil ia kuasai. Belum sempat wanita itu melihat nama hotelnya jaringan itu sudah hilang dan semua kegiatannya terhenti. Ada wajah kecewa di wajah wanita itu. Sharin merasa dirinya tidak dapat membantu Serena siang itu.
“Nona, maafkan saya.” Sharin menekuk kepalanya dengan wajah sedih. Dari kejauhan, Tama juga menutup wajahnya karena segan melihat dua majikannya itu.
“Tidak perlu minta maaf. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu.” Serena menepuk pelan pundak Sharin sambil tersenyum.
“Sayang, Jl. Shiroisi. Dia ada di hotel yang ada di jalan itu.”Serena membaca jalan yang di selidiki Sharin sebelum jaringan itu hilang.
“Sayang, kau sangat hebat.” Daniel tersenyum bahagia saat melihat ketangkasan istrinya siang itu.
“Nona, di jalan itu hanya ada satu hotel. Hotel Mookasi.”Biao turut membantu Daniel saat itu.
Serena mengukir senyuman bahagia, “Kita sudah tahu tempatnya. Sekarang saatnya berangkat untuk menyerang,” ucap wanita hamil itu penuh semangat.
“Sayang, apa kau yakin mau ikut?”Daniel menatap wajah Serena dengan seksama. Kini rasa khawatir itu kembali muncul memenuhi pikirannya.
“Daniel, kita sudah sepakat sejak awal,” ucap Serena sambil menyipitkan kedua bola matanya.
“Baiklah,” ucap Daniel kalah. Pria itu menatap wajah Biao, “Persiapkan semuanya. Kita akan berangkat secepatnya untuk memperbaiki jaringan ini.”
“Baik, Tuan.” Biao dan Tama menjawab secara bersamaan.
“Sharin, kau juga ikut. Setelah kami berhasil menemui pria itu. Kami masih butuh bantuanmu untuk menormalkan kembali jaringan di kota ini.”Serena menatap Sharin yang masih duduk tenang di sofa.
“Baik, Nona,” jawab Sharin sambil menunduk takut.
“Sayang, aku mau mengganti pakaianku. Aku tidak mungkin berkelahi dengan gaun ini.”
Serena berjalan ke arah pintu. Diikuti Daniel dari belakang. Wanita itu benar-benar bersemangat untuk mengalahkan musuh suaminya hari ini.
Likenya jangan lupa. Buat yang belum baca Novel Moving On dipersilahkan...ada kisah Zeroun Zein di cerita itu.
Sama Novel Permaisuri Modern juga sudah tamat.
Terima kasih...😘💗