
Rumah Sakit Adit, Malam hari.
Serena memeluk Angel dengan wajah bahagia. Semua orang ada di dalam ruangan Serena malam itu selain Zeroun. Daniel duduk di pinggiran tempat tidur Serena. Shabira, Kenzo, Tuan Edritz dan Ny. Edrizt duduk di sofa sambil berbincang-bincang ringan. Tama dan Biao berdiri di samping sofa yang di duduki Ny. Edritz.
“Angel, apa kau masih mengingat wajahku?” ucap Serena sebelum mengecup pipi chubby Angel.
“Sayang, Angel terlihat akrab denganmu.” Daniel memegang tangan mungil Angel dengan senyum manis.
“Apa Diva benar-benar sudah tiada?” Serena menatap wajah Daniel dengan mata berkaca-kaca.
“Sayang, Aku akan mengirim orang untuk mencarinya setelah keadaan aman.”
Daniel mengerti dengan rasa kehilangan Serena saat ini. Sehingga ia sudah menyiapkan orang-orang pilihan untuk mencari keberadaan Diva, sahabat Serena.
“Musuh kita pergi bersama kapal itu bukan?” Serena kembali ingat dengan kapal pesiar yang diceritakan Daniel.
“Ya, mereka pergi dengan kapal itu menuju ke Hongkong.” Daniel menatap wajah Serena dengan seksama.
“Setelah semua normal kembali, Aku akan menyelidiki keberadaan Diva. Jangan sedih lagi sayang, nanti Angel ikut sedih.” Daniel mengelus pelan pipi Serena.
“Aku merasa kalau Diva masih hidup.” Serena menatap wajah Angel yang sudah terlelap di pangkuannya. Wajahnya berubah serius saat ia kembali ingat dengan kata Hongkong.
“Musuh kita pergi ke Hongkong?” tanya Serena dengan ekspresi tidak terbaca.
“Dari info yang kami dapat seperti itu. Apa ada masalah?” Wajah Daniel berubah serius.
“Tidak ada, apa mereka ingin menguasai Hongkong?” Serena mengukir senyuman di bibirnya.
“Apa itu tindakan yang mustahil?” Daniel mengerutkan dahinya.
“Hongkong wilayah kekuasaan Gold Dragon, mereka bisa masuk dan tidak akan pernah bisa keluar dari Hongkong.” Serena tersenyum penuh kemenangan.
“Wilayah kekuasaan Zeroun?”
Serena mengangguk cepat, “Mereka pasti berpikir kalau Zeroun sudah tiada. Sehingga berusaha menguasai Hongkong.”
Daniel tertawa dengan begitu bahagia, “Aku juga akan membantu Zeroun untuk membalaskan dendam.”
Serena tersenyum mendengar perkataan Daniel, “Sayang, sebelum Diva di temukan apa Aku boleh merawat Angel?”
“Tentu saja boleh,” jawab Daniel sambil memandang wajah Angel yang terlihat begitu tenang.
Dari kejauhan, Ny, Edritz memandang keharmonisan Serena dan Daniel dengan mata berkaca-kaca. Hatinya kembali sedih saat mengingat cucu pertamanya yang tidak berhasil diselamatkan.
“Ma, apa yang mama pikirkan?” Tuan Edritz menyentuh tangan Ny. Edritz.
“Mama ingin menggendong cucu,” jawab Ny. Edritz sambil menghapus buliran air mata yang jatuh menetes.
Daniel dan Serena mendengar perkataan Ny. Edritz. Lagi-lagi Serena menunduk sedih saat mengingat anak pertama yang tidak berhasil ia lindungi. Daniel menatap wajah Ny. Edritz dan Serena secara bergantian. Kedua wanita yang sangat ia cintai kini lagi sedih hanya karena satu alasan yang sama. Daniel mengangkat tubuh Angel yang sejak tadi di pangku oleh Serena.
“Sayang, Angel sudah tidur. Sini, biar Aku letakkan di Stroller agar Angel bisa tidur dengan nyaman.”
Daniel menggendong tubuh Angel. Meletakkan Angel di dalam Stroller dengan hati-hati.
Shabira memperhatikan Daniel, wanita itu beranjak dari duduknya untuk membantu Daniel meletakkan Angel.
“Tuan, biar saya bantu.” Shabira menarik Stroller itu, menutupnya dengan kain tipis jaring-jaring.
Daniel berjalan ke arah tempat tidur Serena, mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya. Serena hanya diam mengikuti Daniel tanpa ingin membantah. Daniel berjalan perlahan menuju ke arah sofa, meletakkan tubuh Serena di sofa yang ada di samping Ny. Edritz.
“Ma, Daniel bawa Serena untuk menghilangkan kesedihan Mama.” Daniel duduk di samping Serena.
“Daniel ….” ucap Serena pelan.
“Serena, maafkan mama sayang. Semua ini satu kecelakaan, gak seharusnya mama membuatmu sedih. Mama sudah lama menginginkan seorang cucu.” Ny. Edritz menyentuh tangan Serena.
“Ma, Daniel dan Serena akan segera memberikan Mama cucu. Mama jangan sedih lagi,” jawab Daniel begitu tenang.
Serena menatap wajah Daniel dengan seksama tanpa ingin mengeluarkan kata.
“Tadinya Daniel mau buat di rumah sakit, tapi Serena masih ….”
“Daniel ….” ucap Tuan dan Ny. Edritz bersamaan.
Serena mencubit perut Daniel saat pria itu mengatakan satu kalimat yang membuat dirinya menjadi malu.
Daniel tertawa dengan bahagia saat mendapat cubitan dari Serena, “Kau sudah bisa mencubitku, apa kau sudah sembuh sayang?” tanya Daniel dengan tatapan penuh arti.
“Daniel, Serena belum sembuh total. Jangan sentuh putri kesayanganku.” Ny. Edritz memasang wajah mengancam.
“Mama yang minta cucu cepat, bagaiman bisa cepat kalau tidak segera, Ma.” Daniel mengalungkan satu tangannya di pinggang Serena.
“Daniel, apa yang kau katakan? kau menyebalkan.” Serena memasang wajah cemberut favoritnya.
“Sayang, Aku hanya ingin menghibur kalian berdua. Wanita yang sangat aku cintai. Aku gak akan sanggup melihat kau dan mama sedih.”
Ny. Edritz tersenyum mendengar perkataan Daniel, “Maafkan Mama, Daniel. Mama akan sabar menunggu cucu Mama datang lagi.”
“Itu jawaban yang sejak tadi Daniel inginkan, Ma.” Daniel tersenyum manis mendengar perkataan Ny. Edritz.
Serena juga tersenyum dengan bahagia, tatapannya ia alihkan ke arah Kenzo dan Shabira yang duduk berdampingan di sofa yang tidak jauh dari Tuan Edritz.
“Kenzo, kapan kalian menikah?” tanya Serena dengan lembut.
“Menunggu Aku sembuh?” Serena menunjuk wajahnya sendiri.
“Ya, Serena. Setelah kau sembuh dan pulang ke rumah. Aku harap Daniel bisa menjagamu dengan begitu baik. Hingga tidak membuat kekasihku ini terus mengkhawatirkanmu.” Kenzo menatap wajah Shabira.
“Kenzo, ini yang terakhir. Mulai detik ini, Aku akan selalu mengawasi gerak-gerik Serena langsung. Agar tidak ada yang berhasil menyentuhnya.” Daniel angkat bicara dengan begitu percaya diri.
“Kak, sudah malam. Aku pulang dulu, Aku bawa Angel pulang ke rumah Kak Zeroun ya.” Shabira memandang Serena dengan wajah penuh tanya.
Serena mengangguk pelan, “Hati-hati di jalan Shabira. Jaga Angel dengan baik,” jawab Serena dengan senyuman.
“Aku akan menjaga Angel dengan baik.” Shabira beranjak dari duduknya diikuti Kenzo.
“Aku pulang dulu, Kak. Cepat sembuh.” Shabira memeluk tubuh Serena dari belakang.
“Aku pulang dulu Daniel. Serena jaga kesehatanmu, karena pernikahanku ada di tanganmu saat ini,” ucap Kenzo dengan tatapan penuh arti.
“Aku akan segera sembuh,” jawab Serena dengan santai.
Shabira dan Kenzo membawa Angel pergi meninggalkan ruangan Serena. Suasana berubah kembali hening sebelum Tuan Edritz angkat bicara.
“Daniel, saham yang pernah di ambil oleh ALCO GROUP sudah di kembalikan oleh putri Tuan Ananta. Papa sudah menyuruh Tama mengurus semuanya.”
“Sonia mengembalikan semuanya?” tanya Daniel tidak percaya.
Tuan Edritz mengangguk setuju, “Papa rasa wanita itu banyak mendapat pelajaran.”
“Dimana Sonia? apa dia masih ada di rumah sakit ini?” tanya Serena kepada Tama yang ada di samping Ny. Edritz.
“Sonia sudah pergi bersama Aldi, Nona. Sore tadi mereka berangkat meninggalkan Jepang.” Tama menjawab pertanyaan Serena dengan wajah serius.
“Dia wanita yang baik,” ucap Serena pelan.
Tama hanya tersenyum mendengar perkataan Serena. Pria itu setuju dengan perkataan Serena, kalau Sonia memang wanita yang baik dan manis dulunya. Saat mereka masih berstatus sahabat.
“Apa kau membayangkan masa-masa mudamu bersama wanita licik itu?” bisik Biao di telinga Tama.
“Biao, Aku bukan tersenyum untuk Sonia.” Tama mengukir kebohongan di depan Biao. Pria itu masih takut, kalau Biao akan membencinya seperti tadi pagi.
“Lalu? apa kau ingin membohongiku?”
“Aku hanya berpikir, S.G. Group mendapatkan kembali saham yang hilang. Itu berarti, S.G.Group akan berkembang semakin pesat. Di tambah lagi, Sonia menjual seluruh saham milik ALCO Group kepada S.G. Group.” Tama mengukir senyum bahagia menatap wajah Biao.
Biao mulai percaya dengan kebohongan Tama, “Kau benar, Tama. S.G. Group akan semakin jaya.”
Daniel dan Serena tersenyum kecil mendengar perkataan Tama dan Biao.
Meskipun kedua pria itu berbicara dengan suara yang pelan, tapi dengan suasana ruangan yang begitu sunyi suara kedua pria itu masih dapat didengar dengan jelas.
“Biao, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Serena dengan tatapan serius.
“Silahkan, Nona.” Biao menundukkan kepalanya untuk mendengar pertanyaan Serena.
“Biao, Aku pernah mendengar satu janji persahabatan antara kalian berdua. Tama tidak akan pernah menikah kalau kau tidak menikah, apa itu benar?”
“Nona, itu …” ucapan Tama terhenti saat Biao membungkam mulutnya.
“Nona, itu tidak benar. Hanya satu lelucon di antara kami.” Biao memasang wajah penuh arti agar Tama tidak menceritakan semuanya.
“Apa kau pikir aku bisa percaya dengan mudah? Kau berbohong padaku, Biao.” Serena menatap wajah Tama dengan serius.
“Tama, apa kau tahu apa yang menyebabkan Biao membenci wanita?”
Tama mematung saat mendengar pertanyaan Serena. Sisi lain ada sahabat yang menatapnya dengan wajah menyeramkan. Sisi lain ada Nona mudanya yang menanti jawaban.
“Nona, apa anda ingin mengetahui alasan saya?” Biao mengerti dengan wajah bingung Tama saat itu.
“Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku, Biao?” Serena memandang wajah Biao dengan senyuman.
Tuan dan Ny. Edritz juga menatap wajah Biao dengan serius. Sejak awal mereka berdua tidak tahu, kalau kedua pengawal Daniel bisa membuat satu perjajian yang begitu tidak masuk akal.
“Nona, sejak kecil saya hidup di jalan dan selalu di siksa oleh wanita. Saya menyimpan dendam kepada semua wanita. Hingga saya bersumpah di dalam hati saya yang paling dalam untuk tidak mau mengenal wanita seumur hidup saya. Bahkan menikah, saya tidak ingin menikah. Saya ingin hidup seperti ini sampai maut menjemput saya.
Tapi, Tama ….” Biao memandang wajah sahabat terbaiknya itu.
“Tama mengancamku dengan perjanjian itu, agar Aku mau mengenal wanita dan menikah.”
“Tidak ada yang salah dengan wanita, Biao.” Daniel angkat bicara mendengar perkataan Biao.
“Wanita memang diciptakan untuk menemani hidup kita. Kau harus bisa melupakan trauma kecilmu itu. Karena itu sesuatu yang gak pantas untuk selalu diingat. Sekarang kau sudah menjadi pria hebat yang begitu tangguh.” Daniel menatap wajah Serena dengan seksama.
“Ketika kau jatuh cinta, kau akan tahu apa maksud perkataanku saat ini.”
Biao menunduk mendengarkan perkataan Daniel. Ia kembali mengingat traumanya dan berusaha untuk melupakan semua luka lama yang menyakitinya.
Tuan dan Ny. Edritz saling menatap satu sama lain mendengar perkataan Daniel.
Suasana ruangan itu kembali sunyi tanpa kata. Semua orang yang ada di dalamnya, kini larut dalam pikiran masing-masing. Biao juga melamun memikirkan perkataan Daniel sambil menunduk dalam.
Tuan, saya juga ingin merasakan jatuh cinta seperti anda. Jika saya bertemu dengan wanita yang spesial seperti Nona Serena. Wanita yang bisa membuat saya menjadi gila seperti anda. Memiliki hati yang lembut dan tulus. Mungkin saya akan belajar untuk mencintai.