Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 37



Kenzo dan Shabira baru saja keluar dari showroom mobil sport. Shabira memilih satu mobil dengan nilai yang lumayan fantastis. Kenzo membelikan mobil itu untuk Shabira. Kini keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah utama Daeshim Chen.



Kenzo mengemudikan mobil baru milik Shabira. Sesekali Kenzo memandang wajah Shabira yang kini duduk di sampingnya.


“Sayang, apa kau bahagia?” tanya Kenzo dengan senyuman.


“Tentu saja. Mobil ini sangat bagus, dan harganya mahal. Aku tadi cuma iseng memilihnya, kenapa kau membelikan mobil mahal ini untukku?” ucap Shabira dengan penuh tanda tanya.


“Sayang, sebentar lagi kita akan menikah. Hadiah ini tidak sebanding dengan rasa cintaku padamu.” Kenzo meraih tangan Shabira, menciumnya dengan penuh cinta.


Shabira hanya tersenyum manis, hatinya terasa bahagia. Mobil Kenzo melewati jalanan sunyi. Siang hari yang terik tidak membuat banyak orang berlalu lalang di jalan itu. Shabira mulai waspada dengan jalan yang kini mereka lalui.


“Apa kau merasakan sesuatu?” Shabira memandang wajah Kenzo.


“Tenang saja, ada aku. Kau akan selalu aman, sayang.” Sejak awal melewati jalan itu, Kenzo sudah tahu kalau ada yang mencurigakan.


Beberapa meter di depan, ada beberapa sepeda motor dan mobil yang menghadang jalan Kenzo dan Shabira. Kenzo memberhentikan mobil itu, menatap tajam ke arah jalan depan. Shabira meraih pistol yang ia simpan, mencengkramnya dengan waspada.


“Tunggu di sini, sayang.” Kenzo membuka pintu mobil. Ia keluar dari dalam mobil dengan wajah yang sangat tenang.


Shabira masih terus memperhatikan Kenzo. Mengikuti perkataan Kenzo untuk tidak keluar dari dalam mobil, meskipun ia sangat ingin membantu Kenzo saat ini.


Kenzo berjalan mendekati gerombolan pria itu. Gerombolan pria itu mengeluarkan senjata api dan menodong ke arah Kenzo. Memasang wajah menyeramkan untuk menakuti Kenzo saat ini.


“Serahkan mobil itu pada kami.” Salah satu pria yang menjadi pimpinan angkat bicara.


Kenzo tersenyum tipis, “Apa kalian perampok?” tanya Kenzo dengan santai.


Pria itu mulai marah, “Jangan banyak tanya. Serahkan mobil itu, jika kau masih sayang dengan nyawa yang kau miliki.”


Kenzo memutar kepalanya ke arah Shabira. Ia kembali memastikan, kalau Shabira masih patuh dengan ucapannya. Kenzo merapikan jas yang kini ia kenakan. Memandang pria yang kini ada di hadapannya satu persatu dengan tatapan membunuh.


“Apa kau tidak takut dengan nyawamu?” Satu pria melekatkan pistol di belakang kepala Kenzo.


Shabira mulai panik. Kakinya sudah tidak sabar, untuk turun dan membantu Kenzo saat ini. Tapi, ia kembali ingat perkataan Kenzo. Lagi-lagi Shabira menghapus keinginannya, dan tetap duduk manis di dalam mobil.


Dengan cepat, Kenzo menangkis senjata yang melekat di kepalaya. Pistol itu melayang ke udara, Kenzo lompat untuk mendapatkan senjata itu. Dalam waktu yang singkat, senjata api itu sudah berpindah tangan.


Kenzo menodongkan pistol, ke arah pimpinan genk itu dengan tenang, “Aku tidak takut dengan kalian, dan jangan pernah bermimpi untuk mengambil mobil itu dari tanganku.”


Duar!


Kenzo menembak satu kaki pria itu, hingga cairan merah berkucur deras. Dengan cepat, ia memukul gerombolan pria itu satu persatu. Tidak ada kesempatan bagi lawan untuk menang. Ilmu bela diri Kenzo memang selalu bisa di andalkan. Hanya dalam waktu 5 menit, semua lawannya terjatuh di jalan.


“Singkirkan penghalang ini!” teriak Kenzo dengan tatapan dingin.


Beberapa pria berdiri dengan cepat, untuk memindahkan sepeda motor yang menghalangi. Tidak banyak pilihan lagi saat ini. Gerombolan preman itu sudah menyerah.


Shabira tersenyum manis, melihat aksi Kenzo siang itu. Ia kembali meletakkan pistol yang sempat ia genggam.


“Kenzoku memang paling hebat dan selalu bisa di andalkan. Aku semangkin cinta padamu,” ucap Shabira pelan.


Kenzo berdiri di depan pria itu dengan wajah kemenangan. Melekatkan pucuk pistol pada dagu pimpinan genk, menarik pistol itu hingga wajah pria itu memandangnya.


“Apa kau perampok baru di sini?”


“Maaf, Tuan, maafkan saya. Jangan bunuh saya tolong.” Pria itu mengatupkan kedua tangannya sebagai wujud pemohonan maaf.


Kenzo memukul pria itu dengan pistol yang ia genggam, melempar pistol itu tepat di bawah kaki pria itu. Kenzo berdiri tegab, merapikan jas dengan senyum santai.


“Maafkan saya, Tuan.” Pria itu kembali memohon, wajahnya sudah dipenuhi luka. Cairan merah di kaki juga terus mengucur deras.


Kenzo tidak lagi memperdulikan perkataan pria itu, ia berjalan cepat ke arah mobil. Kenzo membuka pintu mobil, dan masuk dengan tenang.


Di dalam mobil, Kenzo memandang Shabira dengan senyuman, “Gadis yang penurut.” Kenzo mengelus lembut pucuk kepala Shabira.


“Siapa mereka?” tanya Shabira penasaran.


“Hanya perampok kecil.” Kenzo kembali melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.


“Kenapa menyerang? apa mereka tidak mengenalmu?” tanya Shabira penuh selidik.


“Sayang, mereka hanya perampok kecil. Meskipun kota ini adalah wilayahku, hal itu tidak menjamin, kalau semua orang kenal dengan wajahku.”


“Kau sama saja seperti Kak Erena. Sulit untuk dikenali.” Shabira kembali ingat dengan nama Erena.


“Sayang, apa kau sudah menelepon Kak Erena? dia harus tahu, kalau malam ini aku tidak pulang.”


“Baiklah, aku akan menelepon Daniel.” Kenzo mengambil handphone, yang tersimpan di dalam saku. Mengotak atik layar handphonenya, sebelum meletakkannya kembali. Kenzo memasang handsfree di telinga kirinya.


“Hallo, Daniel. Aku dan Shabira akan jalan-jalan malam ini. Shabira akan tidur dirumahku.”


Kenzo terdiam untuk mendengarkan perkataan Daniel. Ia tersenyum sambil memandang wajah Shabira.


“Tenang saja, aku tidak akan menyentuhnya sampai hari pernikahan kami tiba.” Kenzo melepas handsfree kembali ke tempatnya.


“Apa yang ia katakan?” Shabira memandang wajah Kenzo dengan seksama.


“Dia hanya bilang, untuk tidak menyentuhmu sampai kita sah menjadi suami istri.” Kenzo menjawab dengan nada yang menggoda.


Wajah Shabira memerah, ia mengalihkan pandangannya dari wajah Kenzo. Shabira memandang ke luar jendela sambil tersenyum malu.


Kenapa dia menjawab dengan perkataan seperti itu.


Kenzo tersenyum manis, ia tahu apa yang kini dipikirkan oleh Shabira, “Sayang, malam ini aku akan membawamu ke markas milikku. Mereka harus tahu, mulai detik ini ada wanita cantik yang harus mereka lindungi.”


“Markas?” Shabira mengerutkan dahinya.


“Ya. Kau pasti sangat menyukai tempatnya. Kita akan bersenang-senang di sana.”


“Markas mafia milikmu, Kenzo?”


“Aku tidak terikat mafia manapun. Hanya kerja sama dengan para mafia.” Kenzo mulai protes, ia membersihkan nama baiknya di depan Shabira.


“Kau tidak memiliki geng mafia?” Shabira semangkin tertarik.


“Tidak sayang. Ucapanku waktu itu hanya bercanda. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku membawamu dalam bahaya. Markas itu tempat semua anak muda mengekspresikan bakat mereka. Ada banyak kegiatan di sana. Tempat itu hanya untuk bersenang-senang. Kau pasti sangat menyukainya.”


“Kenzo, maafkan aku. Aku sudah berpikiran jelek tentangmu sejak kemarin.” Wajah Shabira sudah dipenuhi rasa bersalah.


“Aku tahu. Jangan di bahas lagi. Mulai sekarang kita fokus pada pernikahan kita. Tidak akan ada yang bisa mengahalngi pernikahan kita. Aku ingin, kau menjadi milikku seutuhnya, Shabira.” Kenzo meraih tangan Shabira mengecupnya berulang kali.



“Aku sangat mencintaimu,” ucap Kenzo dengan hati yang tulus.


“Aku juga mencintaimu.” Shabira mendekati tubuh Kenzo, menjatuhkan kepalanya di atas pundak Kenzo dengan manja.


Kenzo menambah kecepatan mobilnya. Wajahnya kembali berseri saat melihat sikap manja Shabira siang itu.