
Rumah Sakit
Daniel dan Serena tiba di rumah sakit dengan wajah yang sangat khawatir. Sepasang suami istri itu berjalan menuju ke ruang operasi. Di depan ruang operasi sudah ada Shabira dan Kenzo. Sepasang suami istri itu juga masih ada di rumah sakit saat Tuan dan Ny. Edritz di antar ke rumah sakit.
“Kakak,” ucap Shabira sambil berlari untuk mendekati Serena. Wanita tangguh itu membawa kedua buah hatinya. Daniel menggendong Baby Al sedangkan Serena menggendong Baby El. Satu Baby sister mendorong trolly jika nanti diperlukan.
“Dimana Mama sama Papa?” tanya Serena dengan wajah sangat sedih.
“Om dan Tante masih berada di dalam, Kak. Sebenarnya apa yang terjadi? Seorang suster menemukan benda ini di dalam saku jas milik Om.” Shabira mengeluarkan sebuah besi yang bertuliskan huruf H dan D.”
Serena mengambil besi itu sebelum mencengkramnya dengan sangat kuat, “Aku akan membunuh pria sialan itu!” Mata Serena menghitam dengan penuh dendam.
“Pria sialan siapa yang kakak maksud?” Wajah Shabira juga berubah panik.
“Rumah utama juga baru saja di serang,” sambung Daniel cepat.
“Apa?!” ucap Kenzo dengan wajah panik, “Apa kalian baik-baik saja?”
“Kami baik-baik saja,” jawab Daniel pelan.
“Kecelakaan Mama dan Papa juga mereka dalangnya,” sambung Serena dengan tatapan kebenciannya.
“Siapa Kak?” Shabira semakin penasaran yang musuh yang kini dipikirkan oleh Serena.
“Heels Devils, Shabira. Mereka sudah ada di kota Sapporo.” Serena melempar besi itu hingga terlempar jauh.
“Heels Devils? Bagaimana mungkin? Mereka ada di Inggris saat ini. Kak Zeroun sendiri yang bilang kalau kini lawannya adalah Jesica Gigante dan Pria bernama Damian.” Shabira memasang wajah kurang yakin. Bagaimanapun juga, Zeroun sudah berjuang keras selama ini agar mereka tidak hadir hingga ke Sapporo.
“Bukan Jesica yang turun tangan langsung untuk menyerang kita. Wanita itu mengirim orang kepercayaannya. Aku juga tidak tahu siapa nama pria itu. Yang aku ingat wajahnya yang cukup tidak asing.” Serena kembali memutar memori lamanya untuk membayangkan wajah pria yang kini menjadi buronannya. Serena ingin segera membalaskan perbuatan keji mereka.
“Mereka juga ingin menyerang kita? Tapi untuk tujuan apa? Mereka juga pasti akan kalah di buat Kak Zeroun di Inggris.” Shabira terlihat sangat yakin, kalau Kakak kandungnya pasti berhasil mengalahkan musuh yang kini mengunjungi mereka.
“Mungkin untuk membuat Zeroun tidak kosentrasi. Zeroun pasti akan terus-terusan memikirkan kita saat ini hingga ia tidak lagi kosentrasi memikirkan penyerangan di sana.” Daniel angkat bicara. Pria itu dengan hati-hati meletakkan buah hatinya kembali ke dalam trolly.
Serena juga meletakkan buah hatinya di dalam trolly. Wanita itu duduk dengan wajah menekuk ke bawah.
Suasana berubah hening. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan kata saat melihat wajah sedih Serena pagi itu. Daniel duduk di samping Serena sambil memeluk tubuh wanita itu, “Sayang, jangan sedih. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin, kita bisa menang melawan Heels Devils.”
“Dia datang ke rumah utama hanya untuk memberi peringatan kalau kini mereka telah tiba di kota ini.” Serena menatap wajah ke arah Kenzo, “Kenzo, apa kau bisa membantuku?”
“Aku ingin kau mengirim orangmu ke rumah sakit ini untuk menjaga Papa dan Mama. Aku yakin, mereka akan mencari titik lemah kita untuk mengancam kita agar segera menyerah.” Serena mengepal kedua tangannya.
Kenzo mengangguk pelan, “Tentu. Aku akan segera memberi mereka perintah untuk berjaga di rumah sakit ini.” Kenzo mengeluarkan ponsel sambil berjalan sedikit menjauh. Tidak ada lagi waktu untuk berpikir lama. Musuh mereka kini satu profesi dengan pekerjaan mereka dulunya. Serena dan yang lainnya harus segera memusnahkan tamu yang tidak di undang itu. Membersihkan setiap jejak yang di tinggalkan agar tidak ada lagi yang tersisa di kota itu.
Beberapa menit kemudian. Seorang Dokter keluar dari dalam ruang operasi. Dokter itu memasang wajah tidak terbaca yang membuat semua orang panik.
“Nyonya Edritz belum melewati masa kritisnya. Beliau harus tetap berada di ruang ICU. Kalau untuk Tuan Edritz, beliau tidak mengalami luka serius. Kami akan segera memindahkannya di ruang perawatan, Tuan.” Dokter itu menatap wajah Daniel dan Kenzo secara bergantian.
“Mama,” ucap Serena lirih dengan isakan tangis. Ia tidak pernah menyangka, kalau kecelakaan ini juga di sebabkan oleh Heels Devils. Andai saja ia tahu rencana musuhnya sejak awal, pasti akan dengan mudah Serena mencegah semuanya.
Selama ini Serena telah terbuai dengan ketenangan hidup yang ia miliki. Hingga akhirnya ia tidak lagi sadar, dengan cara musuhnya mengintai. Bahkan penyerangan di rumah utama tadi, Serena tidak memiliki persiapan sama sekali.
Dengan mata berkaca-kaca, Serena menatap dua bayi kembarnya yang kini tertidur pulas. Ia sangat yakin, kalau kedua bayi kembarnya itu juga akan menjadi target sasaran musuh mereka saat ini. Hanya orang-orang terdekat yang selalu menjadi kelemahan Serena sejak dulu. Sisanya, Serena tidak takut dengan apapun.
“Daniel, kita harus pulang untuk membicarakan ini semua di rumah.” Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.
Daniel menganguk pelan, “Ya, kita harus segera memikirkan cara untuk membereskan semua ini.” Daniel beranjak dari duduknya. Pria itu memandang wajah Shabira dan Kenz secara bergantian, “Kenzo, tolong jaga Mama dan Papa di sini sampai kami kembali lagi nanti.”
Kenzo mengangguk pelan, “Tentu.”
Serena menatap tajam ke arah perawat dan Dokter yang berlalu lalang. Wanita itu kembali ingat dengan pria yang dulu menyamar dan membunuh Tuan Wang.
“Shabira, sebaiknya kau lebih teliti memperhatikan wajah-wajah Dokter dan perawat yang keluar masuk ruangan ini. Aku takut mereka menggunakan rencana licik itu untuk mencelakai Mama dan Papa nantinya.”
“Baik, Kak. Kakak tenang saja. Aku akan menjaga ruangan ini dengan begitu baik.”
“Terima kasih, Shabira.” Serena berjalan pergi mengikuti langkah kaki Daniel dari belakang. Wanita itu berjalan dengan kedua bola mata waspada. Setiap orang yang berselisihan dengannya ia tatap dengan tatapa tajam saat itu.
Daniel memandang dua buah pistol yang kini tersimpan rapi di bagian paha istrinya. Lebih tepatnya dibalik gaun yang kini dikenakan oleh Serena. Pria itu sedikit bingung dengan startegi yang akan dilakukan oleh Serena nantinya. Beberapa pengawal S.G. Group terlihat berbaris menjaga Serena dan Daniel saat ini.
Suasana semakin terasa mengerikan saat Daniel dan Serena tiba di parkiran luas yang terlihat sunyi. Ditambah lagi, Serena tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Wanita tangguh itu meraih trolly bayinya dengan tatapan waspada.
“Mereka di sini,” ucap Serena pelan.
Tarik napas sebelum lanjut....😂