Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 109



Satu bulan setelah pernikahan Kenzo dan Shabira. Suasana rumah utama terasa sejuk dan menyenangkan. Serena Mengantar Daniel ke depan pintu rumah utama. Hal itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. mendapatkan satu kecupan di dahi sebelum suaminya masuk kedalam mobil.


“Sayang, Aku ingin kerumah Kenzo untuk menemui Shabira.” Serena menahan langkah Daniel saat pria itu ingin berjalan kearah mobil.


“Sayang, pergilah. Ingat, jangan lepaskan alat itu.” Daniel menyentuh wajah Serena sebelum masuk ke dalam mobil.


Serena melambaikan tangan untuk Daniel. Satu suara kelakson dihidupkan oleh Tama sebelum mobil itu melajuh meninggalkan rumah utama.


Serena memutar tubuhnya untuk masuk kedalam. Mengambil tas favoritnya sebelum pergi menemui Kenzo dan Shabira.


Didalam kamar.


Serena mengambil handponenya yang bergetar. Wajahnya berseri saat Sonia mengirim foto pernikahanya dengan Aldi. Diwaktu yang sama, Serena menerima undangan pernikahan Diva dan Adit. Wanita itu duduk di sofa. Membayangkan wajah-wajah orang yang ia kenali.


Matanya berkaca-kaca. Tidak ada lagi musuh yang ingin mencelakai dirinya. Semua musuh yang tersisa di Hongkong juga sudah diberantas habis oleh sahabatnya, Zeroun Zein. Serena meletakan handphonenya didada sambil menatap langit-langit kamar. Satu buliran air mata menetes sudut matanya.


“Papa ... Mama ... I miss you ….”


Serena memejamkan matanya untuk beberapa detik, sebelum kembali duduk dengan wajah berseri. Menghapus sisa air mata dan berjalan menuju ke arah lemari untuk mengambil kunci mobil miliknya. Wanita itu pergi meninggalkan kamarnya, menuruni anak tangga dengan wajah tersenyum.


Dengan langkah yang begitu tenang Serena berjalan ke arah garasi mobil.


[Sayang, apa kau baik-baik saja. Sejak tadi kau tidak mengaktifkan alat ini.”] Protes Daniel dari kejauhan.


“ Aku baru saja ingat kalau alat ini belum aktif,” jawab Serena membelah diri.


Wanita itu masuk kedalam mobil sport pemberian Zeroun. Mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Bibirnya tersenyum tipis memperhatikan sepuluh mobil pengawal yang ingin menjaganya. Tiga mobil sport berbaris di depan sedangkan sisanya berbaris di belakang mobil Serena. Setiap kali Serena ingin pergi meninggalkan rumah utama, wanita itu akan di jaga 40 pengawal terlatih.


“Daniel, terima kasih,” ucap Serena dengan suara yang lembut.


[Untuk apa sayang?] tanya Daniel bingung.


“Karena kau sudah menjagaku dengan puluhan pengawal ini,” jawab Serena pelan, dengan tatapan yang fokus ke jalan depan.


“Sayang, maafkan aku. Bukan tidak percaya, hanya saja ….”


“Daniel, aku senang dengan pengawal pengawal ini. Aku tidak lagi marah karena kau telah mengirim pengawal yang banyak.” Serena mengeluarkan satu tawa kecil.


[Serena, I love you.]


“I love you to, Daniel.”


[Aku akan masuk ke ruang rapat. Jaga dirimu dengan baik. Jangan buat suamimu ini tidak tenang saat bekerja.]


“Iya … iya … Aku tidak akan membuatmu khawatir.”


Serena menambah laju mobilnya. Lagi-lagi wanita itu berniat untuk melomba tiga mobil pengawal di depannya. Satu senyum tipis memulai aksinya untuk balapan di pagi hari. Tawanya pecah saat ia berhasil melomba pengawal-pengawal itu.


Serena memperhatikan lapangan golf yang terbentang luas. Jalan sunyi menuju rumah Kenzo itu, selalu ia manfaatkan sebagai arena balap.


Mobil yang ia kemudian tiba di depan gerbang rumah utama Daeshim Chen. Kedatangannya pagi itu mendapat sambutan hangat dari pemilik rumah.


“Kakak ….” Shabira berlari untuk memeluk Serena.


“Shabira, aku sangat merindukanmu,” jawab Serena dengan wajah berseri.


“Kak, ayo kita masuk.” Shabira menggandeng tangan Serena, menarik tubuh wanita itu untuk masuk kedalam rumah.


“Kak, Kakak tungguh disini dulu. Aku mau mengambil sesuatu untuk kakak.” Shabira memutar tubuhnya menuju ke arah tangga. Wanita itu terlihat berlari menaiki anak tangga.


Serena duduk di sofa yang ada di ruang utama. Mengambil majalah yang ada di bawah meja. Membuka lembar demi lembar majalah itu. Satu halaman yang berisi dunia bisnis menjadi pusat perhatiannya. Wajah Daniel dan Kenzo terpampang jelas di majalah itu. Pria sukses pewaris keluarga Chen.


Serena meletakan majalah itu pada tempatnya. Menatap wajah Shabira yang lagi turun dari tangga. Wanita itu membawa paper bag berwarna biru. Serena sangat tertarik dengan benda yang di bawah Shabira. Ia berdiri dengan wajah yang sangat berseri .


Tapi, semua tiba-tiba goyang. Wajah Shabira yang awalnya terlihat jelas juga terlihat mulai tidak jelas. Serena memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Kakinya mulai lemas, tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Serena tidak memiliki kekuatan untuk berdiri, Ia terjatuh diatas sofa. Matanya mulai terpejam, sebelum ia tidak lagi sadarkan diri.


“Kakak!” Teriak Shabira dengan penuh kekhawatiran. Paper bag biru itu ia campakan begitu saja. Langkanya ia percepat agar bisa menolong Serena.


“Kakak, bangun!” Shabira memanggil beberapa pelayan dan pengawal untuk membantu dirinya membawa tubuh Serena kedalam mobil.


Dengan wajah pucat pasih, Shabira memeluk tubuh Serena yang kini ada di pangkuanya. Supir milik Shabira mulai melajuhkan mobil dengan kecepatan tinggi. Beberapa mobil pengawal Serena juga mengikuti laju mobil Shabira dari belakang.


Shabira mencari cari ponsel miliknya, wanita itu baru saja tersadar kalau ia tidak sempat mengambil ponsel. Bahkan, tas milik Serena juga tertinggal dirumahnya.


“Apa anda punya hanphone? aku ingin menghubungi Kenzo.” Shabira memandang wajah supirnya dengan penuh harap.


“Ini Nona, anda bisa menggunakannya untuk menghubungi Tuan Kenzo.” Supir itu menyodorkan ponsel miliknya kepada Shabira. Dengan cepat Shabira mengambil ponsel itu. mengetik digit nomor telepon Kenzo, sebelum melekatkan ponsel itu di telinganya.


“Kenzo, Kak Erena pingsan. Aku akan membawah kak Erena kerumah sakit yang dekat dengan rumah kita,” suara Shabira terlihat sangat ketakutan. Hatinya diselimuti kekhawatiran terhadap keadaan Serena saat itu.


Suatu perkataan yang singkat, tepat dan jelas. Shabira memutuskan panggilan itu. Mengembalikan ponselnya pada sang supir.


“Kak, Kakak bangun. Jangan buat aku takut seperti ini.” Shabira meneteskan air mata karena sangat takut.


***


S.G.Group.


“Serena!” teriak Daniel sambil beranjak dari duduknya.


Semua orang yang ada di ruang rapat terlihat menatap wajahnya dengan penuh tanda tanya. Tama dan Biao juga menatap Daniel dengan wajah bingung.


Daniel mendengar jelas perkataan yang diucapkan oleh Shabira melalui handsfree yang terpasang di telinga Serena. Wajahnya terlihat pucat saat mendengar kabar bahwa istri tercintanya kini tidak sadarkan diri.


Tama yang saat itu berdiri tidak jauh dari posisi Daniel, berjalan perlahan untuk memeriksa keadaan Daniel. Belum sempat ia mengeluarkan kata, tatapan mata Daniel tertuju langsung pada wajahnya.


“Tama, lanjutkan rapat ini. Biao ikut denganku.” Tanpa banyak penjelasan lagi. CEO S.G.Group itu pergi meninggalkan ruang rapat. Biao mengikuti langkahnya dari belakang.


Tama hanya bisa mengukir senyuman kepada semua orang yang ada di ruang rapat. Pria itu terlihat berkeringat, saat diberi tanggung jawab untuk memimpin ruangan rapat sendirian.


Kenapa selalu aku yang terjebak dalam situasi seperti ini.