
Di rumah utama Edritz Chen.
Hari masih gelap. Baru saja Serena tertidur, tapi sudah terbangun lagi. Memandang keluar jendela yang masih gelap. Daniel masih terlelap dalam tidurnya. Tangannya melingkari tubuh Serena dengan erat. Serena membalikkan tubuhnya, menatap wajah Daniel. Mengecup bibir Daniel untuk sesaat. Hari ini ia bisa merasakan ketenangan. Ia sudah berhasil menghapus rasa bersalahnya pada Zeroun Zein.
Daniel terbangun dengan senyuman. Ia merasakan kecupan yang baru saja di berikan oleh Serena, “Sayang, kau semangkin romantis akhir-akhir ini.” Mempererat pelukan.
“Aku memang wanita yang romantis. Tidak sepertimu.” Serena meledek Daniel.
“Sayang, apa yang terjadi di sana? apa kau mau menceritakan semuanya padaku?” Daniel menatap wajah Serena dengan seksama. Wajah keduanya sangat dekat, hanya berjarak beberapa inci.
Serena tersenyum, mengusap rambut Daniel dengan lembut, “Aku melepaskannya Daniel. Aku ingin hidup denganmu selamanya. Melupakan namanya. Sekarang dia menganggapku musuh.” Wajah Serena berubah sedih.
Daniel mengerti isi hati Serena saat ini. Meskipun ia sangat bahagia mendengarnya, “Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku akan menjagamu untuk selamanya. Kita hadapi semuanya sama-sama. Jangan pernah sembunyikan apapun dariku lagi. Aku mohon.” Daniel mencium pucuk kepala Serena.
“Maafkan aku, karena sudah pergi secara diam-diam.”
“Apa kau sudah menyadari kesalahanmu? kau harus mendapatkan hukuman Serena.”
“Hukuman?” tapi ….” Belum sempat Serena mengeluarkan isi hatinya, Daniel lebih dulu mengunci bibirnya dengan ciuman.
Tidak berhenti sampai di situ. Daniel memiliki Serena sebagai istrinya. Melupakan hari yang sudah hampir siang. Menikmati kebersamaannya saat ini dengan serena. Dengan penuh cinta dan kerinduan.
.
.
Serena berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Daniel lebih dulu keluar dari kamar mandi untuk mengenakan pakaian. Serena membuka handuk kimono yang kini ia kenakan. Ia melihat banyak bekas kepemilikan Daniel di sana. Menarik napas dalam sebelum memakai kembali handuk itu.
“Apa ini yang dia maksud sebagai hukuman.” Serena tersenyum membayangkan kelakuan Daniel.
Serena keluar dari kamar mandi. Berjalan pelan ke lemari. Membukanya perlahan, dan memilih baju yang akan ia kenakan pagi ini. Serena kembali mengingat Shabira.
“Apa Shabira sudah bangun?
***
Di depan pintu utama. Tama keluar untuk menyiapkan mobil dan membawa beberapa berkas penting ke dalam mobil. Langkahnya terhenti saat melihat mobil yang gagal di dapatkan Daniel. Tama memanggil Biao yang berada tidak jauh dari posisinya.
Biao berjalan cepat mendekati Tama. Ia juga terbelalak kaget saat melihat mobil itu terparkir indah di depan.
“Apa Nona Serena membawa hadiah dari Zeroun?” Biao menatap wajah Tama.
“Aku tidak pernah menyangka, kalau Nona Serena memiliki keberanian seperti ini.” Tama memandang mobil itu. Ia membayangkan ekspresi Daniel, saat melihat mobil ini nanti.
Biao berjalan mendekati mobil. Ia memeriksa mobil itu dengan seksama. Memastikan kalau mobil itu benar mobil yang sama dengan permintaan Serena waktu itu.
“Selera Nona Serena sangat tinggi bukan?” Tama berjalan mendekati Biao.
“Bugatti Veyron Super Sport. Mobil ini belum berani ada yang menawar. Tapi di waktu yang bersamaan, pria itu membeli mobil ini untuk Nona Serena.” Biao tersenyum tipis, melipat kedua tangannya.
“Aku menyelidiki kecelakaan Nona Serena. Ia menggunakan mobil ini di negara Z, waktu kecelakaan. Sepertinya, Nona Serena satu-satunya pemilik mobil ini di sana.”
Biao dan Tama asyik membahas masalah mobil. Keduanya tidak menyadari. Kalau sejak awal, Shabira sudah berdiri di depan pintu memperhatikan keduanya.
“Apa yang kalian lakukan di situ!” Shabira menatap tajam wajah Biao dan Tama.
Tama dan Biao memutar tubuhnya bersamaan. Memandang Shabira dari ujung kaki hingga ujung kepala. Shabira masih mengenakan baju tidur. Ia bahkan belum mandi. Penampilannya terlihat sedikit berantakan.
“Siapa anda, Nona?” tanya Tama dengan lembut.
Tanpa ingin menjawab, Shabira berjalan mendekati Tama dan Biao, “Minggir!” Shabira mendorong Tama dan Biao dengan mudah. Hingga keduanya melangkah mundur. Shabira membuka pintu mobil dan mengambil beberapa barangnya yang tertinggal.
“Apa yang kau lakukan dengan mobil Nona Serena!” protes Biao tidak suka.
Shabira keluar dari mobil dengan membawa tas. Ia berdiri di depan Tama dan Biao dengan tatapan angkuh. Memandang wajah Biao dan Tama secara bergantian, dengan tatapan tajam.
“Ini mobilku, bukan milik wanita siapa tadi yang kalian bilang.”
“Beraninya kau!” Biao ingin memberi pelajaran kepada Shabira, dengan cepat Tama menghentikannya.
“Jangan buat keributan. Kita tidak tahu, siapa dia. Pasti seseorang membawanya ke sini,” bisik Tama di telinga Biao.
“Apa kau ingin memukulku? satu kebetulan, aku juga ingin berkelahi dengan pria. Sudah lama aku tidak olahraga.” Shabira menjatuhkan tasnya, menantang Biao dengan tatapan tajam.
“Aku tidak suka berkelahi dengan wanita,” jawab Biao santai, membutar tubuhnya ingin meningggalkan Shabira.
“Tunggu!” Shabira menahan pundak Biao.
Tama memandang wajah Shabira dengan penuh tanya. Ini pertama kalinya ia melihat wanita yang berani menantang Biao.
Biao mengepal kuat tangannya. Kesabarannya sudah hampir habis. Dengan cepat, Biao mengambil tangan Shabira dan melintir tangan itu dengan mudah.
“Au, kau curang!” protes Shabira.
Tama terbelalak kaget, melihat kelakuan Biao, “Apa yang kau lakukan, Biao. Dia hanya bercanda mengatakan itu.”
Belum selesai Tama menyelesaikan perkataannya, Shabira sudah membalas perbuatan Biao. Ia menendang perut Biao hingga Biao merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Tendangan Shabira memang cukup bagus, dalam menaklukan musuh.
Shabira tertawa bahagia, “Kau kalah,” ledeknya lagi.
“Sudah,” Tama memegang tangan Biao, menghentikan Biao dan Shabira untuk berkelahi.
“Tuan, siapa wanita yang bernama Serena? apa dia pemilik rumah ini?” tanya Shabira pada Tama. Ia tahu, kalau Tama adalah orang baik yang tidak akan mencelakainya.
“Nona Serena adalah istri Tuan Daniel. Pemilik rumah ini. Anda siapa? kenapa bisa ada di rumah ini?”
“Kakakku yang membawaku kemari,” jawab Shabira santai.
“Kakak?” tanya Biao dan Tama bersamaan.
“Ya, ada yang salah? apa kalian tidak mengenal kakakku?” tanya Shabira dengan wajah bingung.
“Siapa nama kakak anda, Nona?” tanya Tama lagi.
Belum sempat Shabira mengeluarkan kata. Serena dan Daniel sudah muncul di depan pintu utama.
“Shabira, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Serena dengan tatapan bingung. Serena melihat wajah Tama dan Biao dengan penuh tanya.
“Kakak.” Shabira mengambil tasnya, dan berjalan ke arah Serena.
“Kakak?” ucap Tama dan Biao dengan saling menatap satu sama lain.
“Kak, lihatlah pria itu. Dia melintir tanganku, sakit.”
Shabira melaporkan perbuatan Biao, kepada Serena.
Biao tertunduk dengan penuh rasa bersalah, “Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu, kalau anda adik Nona Serena.”
Daniel memandang wajah Biao, “Wanita ini Shabira. Kalian pasti mengenalnya.”
Biao mendongakkan kepalanya. Ia tidak pernah menyadari, kalau Serena sudah berhasil menemukan Shabira.
“Maafkan teman saya, Nona. Tapi anda sudah memberikan pelajaran padanya. Saya rasa itu sudah setimpal.” Tama angkat bicara, ia berusaha membela Biao.
“Shabira, apa yang kau lakukan pada Biao?” tanya Serena pelan.
“Aku menendang perutnya. Pria itu sangat menyebalkan,” jawab Shabira santai.
Shabira kembali mengingat perkataan Tama. Saat Tama memanggil Erena dengan ucapan Serena, “Serena itu Kakak?” Shabira memandang wajah Serena dengan penuh tanya.
Serena hanya tersenyum manis, “Sana mandi, kita akan sarapan.”
“Pria ini bernama Daniel?” Shabira menunjuk ke arah Daniel, dengan wajah penuh tanya.
“Ya, saya Daniel Edritz Chen. Suami Serena. Kau wanita yang bernama Shabira bukan.” Daniel menjawab pertanyaan Shabira dengan senyuman manis.
Shabira menjatuhkan tasnya, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kakinya terasa lemas. Ia baru saja mengetahui hubungan Serena dan Daniel. Ia kembali mengingat perubahan sikap Serena dan Zeroun waktu itu.
Serena tahu, apa yang saat ini dipikirkan oleh Shabira. Ia menyelipkan rambut Shabira yang berantakan ke belakang telinga, “Shabira, ingat perkataanku tadi malam. Kembali ke kamar, dan mandi. Aku akan menunggumu di meja makan.”
Serena memutar tubuhnya, meninggalkan Shabira sendiri di sana. Daniel mengikuti Serena dari belakang.
Buliran air mata menetes, ia baru saja mengetahui hubungan Serena dan Zeroun yang tidak lagi bersatu. Ia tahu, besar cintanya Serena kepada Zeroun. Begitupun sebaliknya. Pasangan yang sangat bahagia, yang membuat dirinya selalu iri.
Apa yang terjadi denganmu, Kak. Kenapa kau menikah dengan orang lain. Kau sangat mencintai Zeroun.
.
.
Jangan Lupa untuk Like, komen dan Vote ya readers.
Baca juga karya temen aku yang berjudul.
Menikah karena taruhan.
Semoga kalian suka...