
Matahari masih belum mau muncul, langit terlihat masih kelabu. Embun pagi yang dingin, sudah menetap di dedauanan. Udara segar sudah siap untuk dihirup. Burung-burung sudah terdengar bernyanyi. Kicauannya kembali menemani aktifitas setiap orang di pagi hari.
Daniel baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jas lengkap yang telah disiapkan oleh Biao. Datang di waktu yang tepat menjadi satu kedisiplinan yang dimiliki Biao selama ini. Daniel melangkah pelan ke arah tempat tidur Serena. Terlihat Serena yang masih lelap dalam tidurnya. Satu lembar selimut cokelat selalu setia menghangatkan tubuhnya yang mungil.
Daniel menarik kursi yang berada tidak jauh dari posisi Serena. Daniel terlihat duduk manis, dengan tatapan mata yang masih ia fokuskan pada wajah Serena yang sangat natural. Satu senyum indah melingkar di bibir Daniel saat memandang ketenangan yang ada di wajah Serena saat ini.
Seperti sudah waktunya untuk bangun, Serena membuka mata dengan pandangan yang masih belum terlihat jelas. Ia mengucek–ngucek kedua matanya untuk memperjelas wajah seseorang yang kini ada di depan matanya.
“Daniel!” celetuk Serena kaget, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.
Serena mengintip dari ujung selimut, untuk kembali memastikan wajah yang ia pandang benar Daniel adanya.
“Kenapa kau cepat sekali bangun?” melirik ke jam tangan yang melingkar di tangannya. “Kau masih punya waktu beberapa jam untuk tidur lagi Serena.” sambung Daniel yang kembali menatap wajah Serena.
Serena mulai melirik ke sebuah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 05.30.
“Aku tidak bisa tidur lagi.” jawabnya pelan yang masih menutupi dirinya dengan selimut.
“Kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?” tanya Daniel mulai curiga.
“Aku… aku kan belum mandi!” melirik sebentar ke arah Daniel yang sudah terlihat rapi.
Daniel hanya menghembuskan nafasnya kasar, sebelum akhirnya ia menarik selimut Serena secara cepat dan menjatuhkannya di atas lantai. “Ada masalah jika kau belum mandi?” tanya Daniel yang terlihat melipat kedua tangannya di dada.
“Dimana Diva?” ucap Serena mengalihkan pembicaraan, dan mencari-cari keberadaan Diva yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. “Apa dia belum juga datang?” sambung Serena lagi.
“Diva akan datang sebentar lagi. Diva menunggu Pak Sam untuk menyiapkan sarapan untuk kita.”
“Benarkah?” tanya Serena lagi yang masih dengan pandangan bingung untuk mencari sesuatu.
“Apa yang kau cari Serena?”
“Pakaian ganti, aku harus mandi.” menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur.
“Apa yang kau lakukan Serena!” menahan kedua kaki Serena untuk tidak turun ke lantai.
“Kenapa? Sudah tidak terasa sakit.” gumam Serena pelan dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan Daniel. 'Apa benar pria yang kini ada di hadapanku adalah suamiku. Oh tuhan, kenapa dia bisa memiliki wajah setampan ini.' batin Serena yang masih fokus memandang wajah Daniel.
“Apa kau sedang memperhatikanku Serena?” ucap Daniel angkuh.
“Tidak!” membuang tatapannya ke sembarang arah.
Daniel mulai mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya.
Serena kembali gugup saat ia berada di dalam gendongan Daniel untuk ke dua kalinya. Senyum indah mulai menghiasi bibir Serena. Berada di pelukan Daniel memang satu hal nyaman yang membuat Serena tidak ingin segera mengakhirinya. Perlahan Daniel mulai melangkahkan kakinya untuk membawa Serena masuk ke dalam kamar mandi.
“Biao sudah menyiapkan baju yang dikirimkan Diva untukmu Serena.” ucap Daniel pelan, sebelum ia kembali menurunkan Serena.
“Aku mau mandi dulu... sendirian!” satu kata sindiran agar Daniel segera keluar dari dalam kamar mandi.
Daniel yang mulai mengerti maksud Serena saat ini, langsung beranjak pergi meninggalkan Serena sendiri di kamar mandi. Tatapan matanya berubah menjadi penuh amarah saat kini ia melihat Adit sudah duduk manis di sofa.
“Apa pasienku kabur lagi?” melihat ke ranjang Serena yang terlihat kosong.
“Kau lupa Daniel? Aku dokter Serena. Semua yang terjadi pada Serena menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.” ucap Adit membela diri.
“Semuanya?” tanya Daniel lagi.
“Ya, maksudku soal semalam itu…” mulai berpikir atas kesalahan fatal yang ia lakukan semalam.
“Kau terlalu ceroboh Adit! aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya!” ancam Daniel dengan tatapan tajam kepada Adit.
“Maafkan aku Daniel…” gumam Adit pelan.
Daniel hanya diam tanpa ingin membahas masalah yang sama seperti semalam. Pandangan matanya kembali pada Biao yang baru saja masuk bersama Diva dengan membawa beberapa jenis makanan.
“Waktunya sarapan?” celetuk Adit dengan mata berbinar.
Daniel hanya membuang nafas kasar saat melihat kelakuan Adit saat ini. Matanya kembali memandang ke arah pintu kamar mandi yang sudah ada Serena di dalamnya.
‘Apa dia sudah selesai?’ gumam Daniel dalam hati.
“Dimana nona Serena tuan?” tanya Diva yang sedang mengganti sprey tempat tidur Serena saat ini.
“Di dalam kamar mandi!” jawab Daniel singkat.
“Tuan, Mr.X akan tiba pukul 07.30.” ucap Biao kepada Daniel.
Hati Daniel kembali berhenti untuk berdetak, rasa khawatir kembali menyelimuti isi pikirannya. Entah apa yang akan terjadi saat Serena dan Mr. X bertemu nantinya. Daniel hanya diam tanpa memberi respon apapun atas kabar yang baru saja di katakan oleh Biao.
“Mr. X? apa dia orang yang sama dengan masalah penyerangan itu?” tanya Adit menuntut penjelasan.
Tatapan mata Daniel dan Biao hanya mereka fokuskan pada Diva yang saat ini berstatus sebagai tangan kanan Serena. Mereka masih merahasiakan semuanya dari Serena. Daniel tidak ingin ada seorangpun yang menceritakan berita tentang masa lalu Serena yang sangat mencurigakan.
“Aku tidak ingin membahas hal itu saat ini!” jawab Daniel cepat.
Adit hanya bisa diam tanpa mau protes lagi. Daniel memang sosok sahabat yang sangat baik selama ini. Namun dia bisa berubah menjadi musuh yang sangat menakutkan jika sahabatnya membuat kesalahan besar pada dirinya.
Selesai membersihkan tempat tidur Serena, Diva beranjak ke arah meja yang sudah di kelilingi oleh Daniel, Adit dan Biao. Diva mengeluarkan beberapa jenis makanan yang sudah di siapkan oleh pak Sam untuk sarapan sang majikan. Serena juga terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Diva berlari cepat untuk menghampiri Serena dan membantunya berjalan.
“Hati-hati nona … “ ucap Diva pelan.
“Kau sudah datang Diva!” gumam Serena pelan.
“Iya nona, saya baru saja tiba. Apa nona mau duduk di sofa untuk sarapan?” tawar Diva yang masih membantu Serena berjalan.
“Sarapan?” melirik ke arah meja yang sudah dipenuhi aneka makanan. “Aku rasa aku sudah sangat rindu pada masakan pak Sam!” gumam Serena pelan dan melangkah ke arah sofa.
Beberapa jam sebelum kehadiran Mr. X. Kamar Serena di warnai canda tawa dari semua orang yang menyayanginya. Rasa bahagia sudah melekat kuat di dalam hati Serena. Impiannya selama ini untuk memiliki sahabat, sudah terwujud sejak ia menikah dengan Daniel. Bukan hanya satu sahabat, namun Serena mendapat bonus beberapa.
Meskipun isi hati Daniel saat ini sangat berbeda jauh dengan apa yang di rasakan oleh Serena. Sudah berkali-kali Daniel memandang ke arah jam dnding, untuk menundah waktu menuju ke angka 07.30.
Sebelum lanjut, like dan komen dulu…