Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 35



Hawa beku menyapu kehangatan mentari pagi. Warna hijau dan merah telah terganti. Kini yang tersisa warna putih dan biru langit yang begitu cerah. Walau matahari memberikan cahaya terang. Tapi, cahaya itu seakan tidak ada karena tertutup awan putih.


Hari kembali berganti. Shabira dan Kenzo telah kembali pulang ke rumah utama Daeshim Chen. Sharin, Tama dan Biao juga sudah berangkat kerja ke S.G. Group. Daniel hari ini memilih untuk berlibur dan menikmati musim dingin bersama Serena. Setelah selesai sarapan, Daniel membawa Serena untuk jalan-jalan ke taman belakang yang sudah dipenuhi banyak salju. Beberapa pelayan pria sudah selesai membersihkan tumpukan salju yang cukup menganggu jalan menuju ke arah taman.


Serena dan Daniel mengenakan setelan pakaian tebal berwara cokelat. Satu syal juga melilit di leher Serena agar wanita itu tidak terserang flu nantinya. Kepala mereka tertutup oleh topi berbahan rajut yang cukup tebal hingga menutupi bagian telinga.


“Sayang, pemandangan ini sungguh indah,” ucap Serena dengan wajah berseri.


Daniel mengukir senyuman sambil mengusap kepala Serena dengan lembut. Beberapa bulir salju yang sempat melekat di topi Serena terjatuh, “Aku sangat bahagia hari ini.”


Serena membalas senyuman Daniel sambil menatap wajah suaminya, “Aku juga sangat bahagia, Daniel.”


Daniel menyentuh wajah lembut Serena dengan jari-jarinya. Jari-jarinya ia pusatkan di pipi lalu menjalar ke bibir Serena yang merah. Dengan hati-hati, Daniel mendekatkan tubuhnya agar bisa menatap jelas wajah cantik istrinya. Jari-jari Daniel turun ke dagu Serena. Menarik dagu itu sebelum mengecup bibir merah yang sejak tadi menggodanya.


“Aku mencintaimu, Serena.” Daniel mengukir senyuman sambil menghentikan kecupan singkatnya.


“Aku juga mencintaimu, Daniel,” jawab Serena sambil memeluk leher suaminya dengan kedua tangan. Kali ini Serena yang mengambil alih ciuman mereka di pagi hari. Bibir Daniel yang awalnya sangat dingin juga sudah berubah hangat. Daniel melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Ada satu penghalang yang membatasinya saat ingin melekatkan tubuh Serena di dalam pelukannya.


“Sayang, perutmu sudah semakin buncit,” ucap Daniel. Pria itu berjongkok sebelum melekatkan telinganya di perut Serena, “Sayang, apa kau bisa mendengar semua perkataan, Papa? Jika kalian mendengar perkataan Papa, maka ingatlah kalimat ini. Saat kalian lahir nanti. Kalian harus tahu kalau Papa dan Mama sangat menyayangi kalian. Jangan menyusahkan Mama di dalam sana. Jadilah anak baik budi yang tidak pernah membuat Mama sedih.”


Serena tertawa kecil saat mendengar kalimat yang diucapkan Daniel,“Apa itu satu peringatan kepada buah hatiku?”


“Ya, anggap saja seperti itu. Aku akan menghukum siapa saja yang menyakitimu. Termasuk anak kita.” Daniel mengecup perut Serena berulang kali sebelum mengusap lembut perut buncit itu. Serena mengukir senyuman sambil mengusap pundak Daniel.


Beberapa pelayan wanita yang berada tidak jauh dari lokasi Daniel dan Serena berada kini memandang iri kepada sepasang suami istri itu. Sikap romantis Daniel membuat mereka berkhayal untuk bisa mendapatkan pria selembut Daniel. Bahkan pekerjaan yang mereka kerjakan sebelumnya mereka tinggalkan begitu saja. Satu adegan romantis yang kini ada di hadapan mereka. Sangat sayang untuk di lewatkan.


“Lihatlah Tuan muda dan Nona muda. Mereka pasangan yang sangat serasi.” Salah satu pelayan memegang kedua pipinya dengan wajah merona.


“Mereka sama-sama kaya. Jelas saja sangat cocok. Nona muda sangat cantik, dan Tuan muda juga sangat tampan.”


“Eh, apa kalian tidak tahu kalau dulu katanya mereka menikah karena dijodohkan,” ucap pelayan ketiga yang tidak mau kalah dengan gosip pagi itu.


“Benarkah?” tanya dua pelayan sebelumnya secara serempak.


“Lalu, kenapa sekarang Tuan dan Nona muda bisa terlihat saling mencintai seperti itu?”


“KARENA MEMANG MEREKA SALING MENCINTAI! TIDAK ADA ALASAN LAIN LAGI.”


“Oh, begitu,”ucap ketiga pelayan itu bersamaan. Mereka belum sadar dengan rekan barunya yang kini ikut bergosip. Hingga tiba-tiba, bulu kuduk mereka merasakan sesuatu yang salah.


Ketiga pelayan itu memberanikan diri untuk memutar tubuh mereka untuk melihat sosok yang berbicara sebelumnya. Kaki pelayan-pelayan itu seakan lemah dan tidak memiliki tenaga lagi. Dengan wajah takut, mereka berlutut untuk meminta maaf pada pria yang kini berdiri di hadapan mereka, “Maafkan kami, Pak Han. Kami tidak akan mengulang perbuatan kami ini.”


Pak Han melipat kedua tangannya di depan dada sambil menghela napas, “Pergi dari sini. Aku tidak mau melihat kejadian yang sama terjadi lagi. Kalian pasti tahu hukuman apa yang akan kalian dapatkan nantinya.”


“Kami tidak akan berani mengulanginya lagi, Pak Han.” Pelayan-pelayan itu berusaha bangkit dan mengambil alat-alat yang mereka gunakan untuk membereskan rumah.


Pak Han menggeleng kepalanya saat melihat tingkah laku pelayan-pelayan wanita itu. Hal seperti ini yang sangat tidak ia sukai saat mempekerjakan banyak wanita di rumah utama. Pelayan-pelayan wanita itu hanya bisa mengintip dan bergosip sesuai dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar.


“Sepertinya aku harus menyeleksi ulang pekerja-pekerja di rumah ini,” ucap Pak Han sambil memijat dahinya. Tatapan matanya terhenti saat melihat Daniel dan Serena yang kini sedang bermain di tengah-tengah salju yang ada di taman, “Tuan dan Nona Serena memang pasangan yang cukup membuat iri. Pantas saja mereka rela menghentikan aktifitasnya tadi.”Pak Han kembali memutar tubuhnya untuk memeriksa pekerjaan pelayan yang lainnya.


Tuan dan Ny. Edritz mengukir senyuman bahagia saat melihat tawa Daniel dan Serena pagi itu, “Pa, lihatlah Daniel dan Serena. Mereka terlihat sangat serasi bukan? Mama sudah tidak sabar untuk melihat cucu-cucu Mama bermain bersama mereka di taman itu.”Ny. Edritz membayangkan masa-masa indah itu dengan mata berkaca-kaca.


“Ma, cucu-cucu kita juga akan bermain-main dengan kita nantinya. Mereka pasti akan menjadi cucu yang paling menggemaskan.” Tuan Edrizt juga merasakan hal yang sama. Pria paruh baya itu juga sudah tidak sabar untuk melihat wajah cucu yang kini ada di dalam perut Serena.


“Mama harap, Kenzo dan Shabira juga segera memiliki keturunan. Sudah berbulan-bulan pernikahan mereka berlalu. Mama sangat khawatir dengan kesehatan mereka. Apa sebaiknya Mama membawa Kenzo dan Shabira periksa ke Dokter ya, Pa?” Wajah Ny. Edritz semakin serius pagi itu.


“Ma, Serena juga lama hamilnya. Kita lihat saja dulu perkembangannya beberapa bulan ini. Jika sampai Serena lahiran Shabira belum juga hamil, maka kita akan membawanya periksa.”


Ny. Edritz tidak lagi mau mengeluarkan kata. Wanita itu menatap ke arah Daniel dan Serena yang masih asyik bermain dengan mesra. Bibirnya mengukir senyuman bahagia.


Tuan Wang pasti akan sangat senang jika melihat senyuman bahagia putrinya seperti itu. Hanya senyuman itu yang dulu membuat Tuan Wang bersemangat untuk menjalani hidup.


Ucap Ny. Edritz di dalam hati.


Kalau like sampai 500 besok aku update lagi bab selanjutnya. Terima kasih.