
Serena mengangguk pelan, hatinya kembali di penuhi rasa takut. Tatapan mata Daniel yang tadi lembut, sudah berubah menjadi tatapan dingin.
Suasana yang tadi dingin karena AC, kini berubah menjadi panas. Serena menyelipkan rambutnya di belakang telinga, untuk mengurangi sedikit groginya saat ini. Kepalanya tertunduk dalam, dan tidak berani memandang ke arah Daniel.
“Jika aku bilang aku tidak mau pulang, apa yang akan kau lakukan?” Melirik sebentar ke arah Serena, sebelum menatap ke arah jendela.
“Daniel, aku mohon. Aku akan melakukan apa saja, agar kau mau pulang menemui mama,” pinta Serena dengan penuh harap, sambil menarik tangan Daniel.
“Serena, kau tidak tahu masalah besar yang terjadi antara aku dan mama,” ucap Daniel menahan marah.
“Masalah? kau sedang betengkar dengan mama, Daniel?” tanya Serena penasaran.
“Ya, kau tahu karena siapa?” ucap Daniel penuh arti.
Serena hanya diam, tatapan mata Daniel sudah menunjukkan satu tuduhan terhadap dirinya. Serena kembali berpikir, sebelum menjawab pertanyaan Daniel saat ini.
“Kau mau tahu jawabannya?” Wajah Daniel sudah semangkin dekat di hadapan Serena.
“Jika itu karena aku, aku minta maaf, Daniel,” jawab Serena terbata-bata, hatinya sudah di selimuti rasa putus asa.
“Kau terlalu percaya diri, Serena.” Beranjak, dan melangkah ke arah jendela. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, dan menatap tajam pemandangan kota.
Serena menatap punggung Daniel, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Harapan untuk membawa Daniel pulang, sepertinya semangkin kecil.
“Daniel, apa kau masih menganggapku sebagai seorang istri?” celetuk Serena tiba-tiba.
“Apa maksudmu, Serena?” Masih membelakangi Serena.
“Kau yang mengatakannya, waktu kita di vila. Kau tidak ingin menjadi temanku, kau ingin aku tetap menjadi istrimu, Daniel.” Menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan perkataannya, “Apa kau bisa memberi tahuku, Daniel. Apa yang harus aku lakukan, jika kau ada di posisiku saat ini.”
Daniel terbelalak kaget mendengar perkataan Serena. Hatinya kembali di penuhi rasa bersalah, saat mengingat perlakuan buruk yang ia berikan pada Serena.
Serena beranjak dari duduknya dan melangkah pelan. Mendekat ke arah tubuh Daniel, yang masih dalam posisi membelakanginya.
“Daniel ….” Memeluk Daniel dari belakang, “Aku tidak tahu kau suka atau tidak, tapi saat ini hanya kau, mama dan papa yang aku punya. Aku sudah kehilangan semuanya Daniel, bahkan aku juga tidak mengingat masa laluku. Jangan pernah membenciku Daniel,” ucap Serena lirih.
Serena memejamkan matanya saat memeluk Daniel. Saat yang paling nyaman dalam hidupnya, memang selalu ada di dekat Daniel. Matanya terasa perih, hingga buliran air mata jatuh menetes. Sifat Daniel yang berubah-ubah, membuat Serena bingung dalam mengambil langkah.
Meskipun Serena tahu, apa yang menyebabkan Daniel benci terhadap dirinya. Tapi Serena tidak pernah ingin, hidupnya selalu di benci oleh Daniel. Bahkan dianggap sebagai sosok musuh yang harus di jahui. Pernikahan yang terjadi karena paksaan ini, memang begitu banyak mengorbankan perasaan.
‘Apa aku harus melupakan semuanya. Aku sangat lelah dengan semua ini,’ gumam Daniel di dalam hati.
Sudah beberapa menit, Serena memeluk Daniel dari belakang. Daniel hanya diam menatap ke arah luar jendela. Tiap kali dia mengingat kebohongan mama, dan status Serena yang ternyata seorang mafia. Api amarah kembali muncul dan membara di dalam dirinya.
Tapi saat ini, dengan pelukan Serena semua terasa nyaman. Api yang sempat muncul, seperti padam. Daniel kembali menenangkan isi pikirannya, untuk menikmati momen berharga saat ini.
Daniel memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang sangat ia rindukan dari pelukan Serena. Rasa benci dan cinta tidak lagi bisa ia bedakan, emosi dan marah sudah melebur menjadi satu. Saat ini isi pikirannya, kembali dipenuhi dengan nama Serena.
Dengan mata terpejam, Serena mulai memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun ia tidak tahu, jawaban apa yang akan ia terima nanti. Serena mulai menguatkan hatinya, dengan sisa tenaga yang kini ia miliki. Serena mulai menarik nafasnya dalam.
“Katakan padaku Daniel. Apa aku yang menyebabkan semua ini? Apa aku yang menyebabkan kau dan mama bertengkar?” tanya Serena, dengan suara yang mulai serak.
Air matanya telah membasahi jas hitam milik Daniel. Serena mengunci tangannya memeluk erat tubuh Daniel, seakan tidak mau melepaskan Daniel. Daniel dapat merasakan hati Serena yang telah hancur, dan seakan ingin menyerahkan seluruh hidupnya kepada Daniel.
Perlahan Daniel membuka tangan Serena dan memutar tubuhnya menghadap Serena. Daniel menatap wajah tertunduk Serena, yang telah basah oleh air mata. Daniel mengangkat dagu Serena dan mengusap air matanya dengan lembut.
“Kenapa kau menangis, Serena?” Tanya Daniel lembut dan sudah dipenuhi rasa bersalah.
Serena terlihat sesenggukan menahan tangisnya.
“Karena kau tidak pernah menginginkan diriku, Daniel,” jawab Serena lirih.
Daniel tersenyum.
‘Ah, kenapa dia terlihat menggoda,’ gumam Daniel dalam hati.
Daniel meletakkan kedua tanganya di kiri dan kanan telinga Serena. Daniel mendekatkan bibirnya dan mencium lembut bibir Serena, menikmatinya penuh dengan hasrat. Melupakan semua gejolak yang terjadi di dalam hatinya.
Serena mulai memejamkan matanya, untuk menikmati momen berharga yang kini terjadi. Hatinya terasa tenang dan tubuhnya terasa nyaman. Semua beban berat yang sempat memenuhi pikirannya, kini terasa hilang.
Entah berapa lama momen berharga itu berlalu, hingga akhirnya Daniel mulai menjauhi wajahnya dari Serena. Daniel menatap Serena dengan seksama, hatinya benar-benar luluh karena air mata Serena saat ini. Rasa khawatir dan takut, kembali memenuhi pikiran Daniel saat ini.
‘Serena, apa yang akan kau lakukan. Jika kau kembali mengingat masa lalumu?’ gumam Daniel di dalam hati.
“Maafkan aku,” ucap Serena lirih, yang masih memandang Daniel dengan tatapan sendu.
“Tidak Serena, kau tidak perlu minta maaf.” Mengusap lembut pipi Serena yang basah, “Jangan pernah menangis lagi,” ucap Daniel penuh harap.
Serena hanya mengangguk pelan, kini ia bisa kembali bernafas lega. Bibirnya kembali tersenyum, untuk memancarkan aura wajahnya yang selalu ceria.
“Apa kau mau pulang, untuk menemui mama?” tanya Serena penuh dengan kekhawatiran.
“Hanya itu yang kau minta?” jawab Daniel yang masih memegang kedua pipi Serena.
Serena mengangguk cepat, memang tujuan utamanya saat ini adalah untuk menjemput Daniel pulang. Membawa Daniel pulang, tanpa harus menimbulkan masalah baru.
Menarik pelan tangan Serena ke sebuah sofa. “Duduklah, setelah menyelesaikan pekerjaan ini. Aku akan pulang bersamamu.” Melangkah ke arah meja, dan mengambil telepon, “Ke ruanganku sekarang!” perintah Daniel singkat.
Belum ada satu menit, dengan sigab Biao dan Tama sudah masuk ke dalam ruangan itu. Hanya melihat kemunculan Biao dan Tama di sana. Serena mulai mencari keberadaan Diva, yang memang sejak awal ikut bersamanya.
“Kita harus membahas masalah proyek yang tertunda itu,” ucap Daniel yang kini sudah mengambil beberapa map yang terletak di atas meja.
“Di mana Diva?” tanya Serena penuh khawatir.
“Diva sudah pulang nona,” jawab Tama sambil tersenyum.
“Pulang?” ujar Serena kaget.
“Benar nona,” jawab Tama singkat.
‘Kenapa dia meninggalkanku,’ gumam Serena dalam hati.
‘Apa yang terjadi pada nona Serena, kenapa ia seperti menangis,’ gumam Tama dalam hati.
‘Semua benda ini, masih pada posisinya. Aku rasa hal buruk tidak terjadi,’ gumam Biao dalam hati.
“Apa sudah bisa kita mulai,” ucap Daniel memecah keheningan, saat melihat Biao dan Tama hanya berdiri tegab memandang ke arah Serena.
“Baik tuan,” jawab Tama dan Biao bersamaan.
Keduanya kini sudah duduk di kursi yang berada di hadapan Daniel. Biao dan Tama mulai memeriksa beberapa draft yang sudah tersedia di atas meja.
Serena hanya memandang ketiganya dari kejauhan. Matanya kembali mengelilingi ruang kerja Daniel yang kini ada di hadapannya. Satu tempat yang nyaman dan tenang, yang kembali mengingatkan Serena pada momen masa lalunya.
‘Sepertinya aku pernah ada di ruangan seperti ini sebelumnya. Tempat ini mengingatkanku pada sesuatu, tapi apa?’ gumam Serena di dalam hati.
Tidak ingin lagi memaksa ingatan masa lalunya, Serena membuang ingatan singkat itu dari isi kepalanya. Pikirannya kembali memikirkan pertemuannya dengan Sonia di depan tadi, rasa curiga kembali muncul di dalam pikirannya.
Tatapan matanya kembali ia arahkan ke wajah Daniel yang terlihat fokus pada pekerjaannya saat ini.
‘Apa hubungan Daniel dengan Sonia, kenapa Sonia sangat membenciku. Sepertinya dia sangat mencintai Daniel, apa mereka dulunya sepasang kekasih,’ gumam Serena dalam hati, hatinya mulai dipenuh beribu pertanyaan tentang Sonia, ‘Aku akan mencari tahu tentang itu nanti’.
Dinginnya ruangan itu, membuat mata Serena terasa berat. Berulang kali ia menahan rasa kantuk yang kini ia rasakan. Hingga akhirnya, ia mengambil posisi paling nyaman, untuk beristirahat di atas sofa yang kini ia dudukin. Serena mulai melupakan masalah dalam hidupnya saat ini. Hingga matanya terpejam dan Serena tidur dengan nafas yang beraturan.
Sebelum lanjut, Like dan Komen.